GP Ansor Menyatakan bahwa Ahok dan Pengacaranya telah menabuh genderang perang dengan NU. (elshinta.com)


dakwatuna.com – Jakarta.  Sikap arogan Ahok dan kuasa hukumnya yang mengintimidasi dan mengancam Rais Aam Nahdlatul Ulama KH Ma’ruf Amin berbuntut panjang.

Ketua Bidang Antarlembaga PW GP Ansor DKI Redim Okto Fudin, di sela-sela acara Harlah NU ke-91 di Jakarta, Selasa (31/1/) malam, menilai sikap dan  perlakuan Ahok dan Tim Pengacaranya terhadap Kiai Ma’ruf tersebut sangat kasar, sarkastik,  melecehkan, dan mengina marwah NU.

Dia menegaskan pengacara Ahok telah menabuh genderang perang dengan NU. Bagaimanapun sosok Kiai Ma’ruf adalah pimpinan tertinggi NU dengan puluhan juta pengikut.

“Ente jual ane beli. Kami akan catat ini sebagai pelecehan tak terkira pada warga NU,” kata dia dengan nada geram, sebagaimana dilansir republika.co.id

Dia menilai pernyataan Ahok juga sangat kasar menunjukkan kelasnya. Pihaknya akan berkonsolidasi dengan seluruh kader muda NU termasuk Banser GP Ansor.

“Kami hormat pada ulama kami. Kami akan buat perhitungan,” katanya.

Dalam lanjutan sidang kasus penistaan agama yang digelar pada Selasa (31/1/2017), Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Tim Kuasa Hukumnya dengan tegas menyatakan bahwa  pihaknya mempunyai bukti jika Ketum MUI KH Ma’ruf Amin menerima telepon dari SBY pada tanggal 6 Oktober 2017, atau sehari sebelum Kyai Ma’ruf menerima kunjungan pasangan cagub-cawagub Agus-Sylvi di Kantor PBNU pada tanggal 7 Oktober 2016.

“Jadi jelas tanggal 7 Oktober saudara saksi saya berterima kasih ngotot bahwa saudara saksi tidak berbohong, tapi kalau berbohong kami akan proses secara hukum saudara saksi, untuk membuktikan bahwa kami memiliki bukti,” tegasnya di Gedung Kementan, Jakarta Selatan.

Ahok bahkan menilai, KH Ma’ruf Amin tidak pantas menjadi saksi dalam kasus yang menjeratnya karena sudah tidak objektif. Ahok pun menuding jika Ketum MUI itu sudah jelas mengarah mendukung pasangan cagub-cawagub Agus-Sylvi. (SaBah)

Sumber: dakwatuna.com

(nahimunkar.com)