Ajaran ESQ Mengandung Kemusyrikan

Hasil Wawancara Suara Islam dengan Ketua LPPI, H.M Amin Djamaluddin

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [الأعراف/180]

“Hanya milik Allah asmaul husna. Maka bermohonlah kepada Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. (Al Qur’an, surat Al A’raaf ayat 180)

Penjelasan dari Tafsir Al Qur’an Departemen Agama:

Pertama, Asmaul Husna maksudnya adalah nama-nama yang agung yang sesuai dengan sifat-sifat Allah. Kedua, “tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama Nya”, maksudnya adalah janganlah dihiraukan orang-orang yang menyembah Allah dengan nama-nama yang tidak sesuai dengan sifat-sifat dan keagungan Allah, atau dengan memakai asmaul husna, tetapi dengan maksud menodai nama Allah atau mempergunakan asmaul husna untuk nama-nama selain Allah.

Subhanallah, inilah salah satu mukjizat Al Qur’an. Meski Kitab Suci Al Qur’an diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam 15 abad lalu, ternyata Al Qur’an sudah mengabarkan bakal ada manusia di muka bumi ini yang memakai asmaul husna, tetapi dengan maksud menodai nama Allah atau mempergunakan asmaul husna untuk nama-nama selain Allah. Mereka itu nanti akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

Ternyata manusia yang mempermainkan dan mengolok-olok asmaul husna itu muncul di bumi Indonesia yang mayoritas umat Islam pada awal abad 21 ini. Ary Ginanjar Agustian menyebarkan ajaran sesatnya sejak tahun 2000 lalu melalui Training ESQ yang sudah diikuti hampir 1 juta orang, tidak hanya di Indonesia tetapi juga Malaysia, Australia, Belanda, AS dan negara lain.

Sebagai misal Ary Ginanjar dengan sangat beraninya sekaligus ngawur mengartikan 99 sifat Allah dalam asmaul husna sehingga dapat menjurus kepada kemusyrikan, karena menyamakan sifat Allah dengan manusia. Padahal Allah adalah al khaliq sedangkan manusia adalah makhluk. Itu adalah suatu bentuk arogansi yang luar biasa.

Misalnya Ar Rahmaan diartikan dengan (saya ingin menjadi orang yang pengasih), Ar Rahiim (saya ingin selalu bersifat penyayang), Al Maalik (saya ingin menguasai diri), Al Qudduus (saya ingin suci dalam berfikir dan bertindak), As Salaam (saya ingin hidup sejahtera), Al Mu’min (saya ingin selalu dipercaya), Al Muhaimin (saya ingin selalu memelihara dan merawat), Al Aziz (saya ingin selalu gagah dan terhormat), Al Jabbaar (saya ingin menjadi seorang yang perkasa), Al Mutakabbir (saya ingin memiliki kebesaran hati dan jiwa) dan seterusnya.

Buku ESQ Ary Ginanjar memang banyak penyimpangan dan kesesatannya. Dalam mentafsirkan asmaul husna, juga terjadi banyak penyimpangan. Sebab kalau ada perintah Allah dengan mengambil dari asmaul husna, biasanya berhubungan dengan umat manusia seperti perintah berbuat adil (Al Adl) dan kasih sayang (Ar Rahmaan dan Ar Rahiim). Namun adil dan kasih sayang Allah berbeda sekali dengan adil dan kasih sayang manusia. Tetapi kalau tidak ada, kita tidak boleh mengartikan asmaul husna sesuai dengan hawa nafsu dan pikiran kita. Dalam arti asmaul husna versi Ary, manusia ingin menyamai Allah. Padahal asmaul husna merupakan sifat-sifat Allah dan hanya khusus untuk Allah. Manusia boleh memakai kalimat asmaul husna dengan syarat kalau ada ayat atau hadis yang menjelaskannya, seperti Al Adl dengan diperintahkan manusia untuk berbuat adil. Keadilan manusia jelas berbeda dengan keadilan Allah. Kalau tidak ada penjelasan dari ayat ataupun hadis, manusia dilarang menggunakan asmaul husna. Dengan demikian, Ary Ginanjar mengartikan ayat Al Qur’an berdasarkan rasio dan tidak memiliki standar. Ary terlalu liberal dalam mengartikan ayat Al Qur’an dan Hadis.

Sementara itu kalau kita baca buku resmi ESQ karangan Ary Ginanjar Agustian yang berjudul “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual”, pada cetakan ke 19 (Maret 2005) yang diterbitkan oleh Penerbit PT Arga Bangun Bangsa, Jakarta, terdapat banyak penyimpangan yang merupakan penafsiran secara liberal dari Ary terhadap Al Qur’an dan As Sunnah.

Di situ disebutkan suara hati sebagai sumber kebenaran. Padahal sumber kebenaran adalah Al Qur’an dan As Sunnah. “Pergunakanlah suara hati anda yang terdalam sebagai sumber kebenaran, yang merupakan karunia Tuhan”, (hal iiv). Esa diartikan dengan terintegrasi. “Keputusan yang Esa (terintegrasi)”, (hal 36). Ary juga menolak mukjizat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi lainnya karena tidak bisa diterima oleh akal sehat. “Itulah tanda bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan Nabi penutup atau yang terakhir, yang begitu mengandalkan logika dan suara hati, bukan mukjizat-mukjizat ajaib semata yang tidak bisa diterima oleh akal sehat saat ini”, (hal 100).

Ary dengan beraninya mengartikan Hadis mengenai anak sholeh dan amal jariyah. “Menurut salah satu Hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal, bahwa ada tiga hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan tingkat ini: (1) Anak yang sholeh, artinya sumber daya manusia berkualitas. (2) Amal jariyah, artinya sarana dan prasarana. (3) Ilmu yang berguna”. (hal 106). Demikian pula mengartikan ayat Al Qur’an dengan sekenanya tanpa rujukan kitab-kitab tafsir. “Di dalam Al Qur’an, kecerdasan emosi itu dinamakan akhlakul karimah”, (hal 131).Ihdinash  shiraathal mustaqim. Tunjukilah kami ke jalan yang luas dan lurus,” (hal 133). Ary juga ngawur dalam menafsirkan Asmaul Husna.Di dalam Al Qur’an terdapat 99 sifat Allah, dimana sifat-sifat ini telah terekam di hati manusia dan terbukti bahwa suara-suara hati manusia itu sesuai dengan sifat-sifat Asmaul Husna (God Spot). maka dapat dipastikan bahwa seluk beluk emosi manusia dapat diidentifikasi melalui telaah dan pemahaman sifat Allah dalam teori Asmaul Husna,” (hal 245).

Berbicara mengenai zakat, Ary juga terkesan tidak faham dan tidak mampu membedakan antara Rukun Iman dan Rukun Islam. Sebab zakat disebutnya sebagai Rukun Iman, padahal Rukun Islam. (hal 244). Selain itu Ary juga menambahi zakat yang selama ini hanya ada zakat fitrah, zakat mal …… Tetapi oleh Ary ditambahi lagi dengan zakat sanubari (hal 246), zakat kepemimpinan (hal 251), zakat ilmu (hal 253), zakat suara hati (hal 254), zakat visi (hal 257) dan zakat kolaborasi (hal 259).

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana sikap umat Islam Indonesia mengenai kesesatan ajaran ESQ yang dikarang Ary Ginanjar ini ? Meski Ary menyatakan ESQ adalah lembaga training sumber daya manusia bukan lembaga agama, tetapi kenyataannya selalu menggunakan dan merujuk pada dalil-dalil agama yang dimaknai secara bebas sesuai dengan logika fikirannya. Kalau Ary juga menyatakan setelah mengikuti ESQ, para alumninya sama rajin sholat, rajin puasa, tepat membayar zakat dan pergi haji. Sekarang pertanyaannya adalah apa manfaatnya kalau ibadah rajin tetapi aqidah menyimpang ? Seluruh pahala ibadahnya akan hangus dan tidak dinilai Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai amal ibadah.

Untuk itu saya mengusulkan agar umat Islam jangan hanya menerima permintaan maaf Ary Ginanjar saja, tetapi dia harus bersedia mengumumkan penyimpangan dan kesesatannya yang ada dalam bukunya termasuk buku ESQ versi Malaysia yang ternyata berbeda isinya karena lebih lunak penyimpangannya daripada buku ESQ versi Indonesia ke berbagai media massa. Demikian pula mengumumkan penyimpangan yang terdapat dalam modul trainingnya ke media massa agar umat Islam mengetahuinya.

Selain itu saya juga meminta pemerintah melalui Jaksa Agung agar mengumumkan penarikan buku ESQ karangan Ary Ginanjar yang sudah mengalami cetak ulang kurang lebih 50 kali dan dicetak hampir 1 juta eksemplar. Sebab buku tersebut menjadi sumber penyimpangan dan menyesatkan aqidah umat Islam dan tentu saja meresahkan mayoritas umat Islam Indonesia. (Abdul Halim)

Kamis, 05 Aug 2010

Sumber: http://www.voa-islam.com/lintasberita/suaraislam/2010/08/05/8932/ajaran-esq-mengandung-kemusyrikan/

(nahimunkar.com)