Ajaran Tentang Bai’at


Bai’at ( الْبَيْعَة) artinya perjanjian, janji setia atau saling berjanji dan setia, karena dalam pelaksanaannya selalu melibatkan dua pihak secara sukarela. Bai’at juga berarti “berjabat tangan untuk bersedia menjawab akad transaksi barang atau hak dan kewajiban, saling setia dan taat”.

Menurut Istilah, sebagaimana dikemukakan Ibnu Manzur (630-711H, ahli fikih), Bai’at adalah “ungkapan perjanjian antara dua pihak yang seakan-akan satu pihak menjual apa yang dimilikinya, menyerahkan dirinya dan kesetiaannya kepada pihak kedua secara ikhlas dalam urusannya”.

Menurut Ensiklopedi Hukum Islam, secara umum dapat dikatakan bahwa bai’at merupakan suatu transaksi perjanjian antara pemimpin dan umat Islam dalam mendirikan daulah Islamiyah sasuai Al-Qur’an dan Sunnah Rasul shallalahu ‘alaihi wa sallam. Dengan kata lain bai’at merupakan perjanjian atas kepemimpinan berdasarkan sistem politik Islam. Dalam term politik Islam modern, bai’at merupakan pernyataan kecintaan khalayak ramai terhadap sistem politik Islam yang sedang berkuasa secara optimis, demikian disimpulkan oleh Ramli Kabi’, ahli fikih Siyasah Syar’iyyyah dari Sudan.[1]

Bai’at di Masa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam

Pada masa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, terjadi beberapa kali bai’at:

1. Bai’at Aqabah pertama (tahun ke-11 Kenabian/ 620M), merupakan kontrak (perjanjian) sosial dan janji setia untuk berperilaku Islami. Di dalamnya juga terdapat rambu-rambu bagi masyarakat Islam.

2. Bai’at Aqabah Kedua (tahun ke-13 kenabian/ Juni 622) merupakan kontrak politik antara umat Islam dan pemimpin. Dua bai’at ini merupakan proto sosial politik untuk hijrah ke Madinah dan dasar dalam pembinaan negara Islam yang pertama di negeri itu.

3. Bai’atur Ridhwan, yaitu kaum Muslimin sebanyak 1500 orang yang menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan ke Makkah untuk Umrah tahun 6 Hijriyah, mereka berbai’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah pohon Samurah. Para sahabat waktu itu berjanji kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka tidak akan lari dari medan pertempuran serta akan bertempur sampai titik darah yang penghabisan memerangi orang-orang musyrik Makkah, seandainya khabar yang disampaikan kepada mereka bahwa Utsman bin Affan yang diutus Rasulullah ke Makkah adalah benar telah mati dibunuh orang musyrik Makkah.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Qatadah, ia berkata kepada Said bin Musayyab, “Berapa jumlahnya orang yang ikut Bai’atur Ridhwan?” Said menjawab, “Seribu lima ratus orang”. Ada pula yang berpendapat jumlahnya 1400 orang.

Sekitar tahun keenam Hijriyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat telah memutuskan akan mengunjungi Makkah pada tahun itu juga, dengan maksud mengerjakan umrah serta melihat sanak keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Maka beliau beserta kaum muslimin berangkatlah. Sesampainya di Hudaibiyah, beliau bertemu dengan Basyar bin Sufyan Al-Ka’by. Basyar menerangkan kepada beliau bahwa orang-orang musyrik Makkah telah mengetahui kedatangan beliau beserta para sahabat, dan telah bersiap di Dzi Thuwa dengan persenjataan lengkap untuk menyerang kaum Muslimin.

Karena itu, beliau mengutus Utsman bin Affan lebih dahulu ke Makkah menemui pembesar-pembesar Quraisy untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau beserta kaum Muslimin. Maka berangkatlah Utsman. Kaum Muslimin menunggu-nunggu kembalinya Utsman, tetapi tidak juga kembali karena Utsman ditahan oleh pembesar-pembesar Quraisy. Kemudian tersiar berita di kalangan kaum Muslimin bahwa Utsman telah mati dibunuh oleh pembesar-pembesar Quraisy. Mendengar berita itu di antara kaum Muslimin ada yang telah habis batas kesabarannya sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar kaum Muslimin melakukan bai’at kepada beliau. Kaum Muslimin pun mengikuti anjuran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dan melakukan bai’at kecuali seorang (munafik) bernama Jadd bin Qois Al-Anshory. Isi bai’at itu ialah bahwa mereka akan memerangi kaum musyrikin bersama-sama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai tercapai kemenangan.

Bai’at para sahabat itu diridhai Allah SWT sebagai tersebut dalam ayat 18 Surat Al-Fath/48. Karena itu bai’at itu disebut Bai’atur Ridhwan, yang berarti bai’at yang diridhoi.

Bai’atur Ridhwan ini menggetarkan hati orang-orang musyrik Makkah karena mereka takut kaum Muslimin akan menuntut balas bagi kematian Ustman, sebagaimana yang diduga mereka. Karena itu mereka mengirimkan utusan yang menyatakan bahwa berita tentang pembunuhan Utsman itu bohong dan mereka datang untuk berunding dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perundingan itu menghasilkan perdamaian, yang disebut Perjanjian Hudaibiyah (Shulhul Hidaibiyah).[2]

4. Penduduk Makkah juga melaksanakan bai’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kota itu ditaklukkan ( Fathu Makkah, 630M, 8 H).

Ketika Allah menaklukkan Makkah bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang Muslim, maka penduduk Makkah sudah bisa membuka matanya, melihat suatu kebenaran. Mereka menyadari bahwa tidak ada jalan keselamatan kecuali Islam. Mereka pun menyatakan masuk Islam dan berkumpul untuk sumpah setia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di Shafa untuk membai’at mereka. Sementara Umar bin Al-Khatthab berada di bawah beliau, memegang tangan orang-orang yang berbai’at. Mereka menyatakan sumpah setia kepada beliau untuk taat dan tunduk menurut kesanggupan.

Di dalam Al-Madarik diriwayatkan bahwa setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai membai’at kaum laki-laki, beliau juga membai’at kaum wanita. Saat itu beliau ada di Shafa dan Umar ada di bawah beliau. Beliau membai’at para wanita itu untuk tunduk kepada perintah beliau dan menyampaikan apapun yang berasal dari beliau. Lalu muncul Hindun bin Utbah, isteri Abu Sufyan. Dia datang dengan cara sembunyi-sembunyi, takut kalau-kalau beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) memergokinya. Karena apa yang dulu pernah diperbuatnya terhadap jasad Hamzah (dalam perang Uhud, 3 H, Hindun membelah dada Hamzah dan mengunyah-kunyah jantungnya, pen).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku membai’at kalian, untuk tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah.” Lalu Umar bin Al-Khatthab membai’at mereka untuk tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah.

Beliau bersabda lagi: “Mereka tidak mencuri.”

Hindun berkata: “Sesungguhnya Abu Sufyan adalah orang yang kikir. Bagaimana jika aku mengambil sedikit dari hartanya?”

Abu Sufyan menyahut: “Apa yang engkau ambil, maka itu halal bagimu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum mendengar hal itu hingga beliau dapat mengenal Hindun. Beliau bertanya: “Benarkah engkau Hindun?”

“Ya”, jawab Hindun. Dia berkata lagi: “Ampunilah kesalahanku yang telah lampau wahai Nabi Allah, niscaya Allah akan mengampuni engkau pula.”

Beliau bersabda lagi: “Mereka tidak berzina.”

Hindun bertanya: “Adakah wanita merdeka yang berzina?”

Beliau bersabda: “Mereka tidak membunuh anak-anak mereka.”

Hindun berkata: “Kami mengasuh mereka sewaktu kecil lalu kalian membunuh mereka setelah besar.”

Sebagai yang sudah diketahui bersama, anak Hindun, Handhalah telah terbunuh pada waktu Perang Badr. Mendengar ucapan Hindun itu Umar tertawa hingga badannya telentang karena merasa geli. Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum. Beliau bersabda lagi;

“Mereka tidak membuat kedustaaan.”

Hindun berkata: “Demi Allah, kedustaan adalah perkara yang amat buruk, sementara engkau tidak menyuruh kami kecuali kepada petunjuk dan akhlaq yang mulia.”

Beliau bersabda lagi: “Mereka tidak mendurhakaiku dalam perkara yang ma’ruf.”

Hindun berkata: “Demi Allah, kami tidak duduk di tempat ini, sementara di dalam relung hati kami ada niat untuk mendurhakai engkau.”

Setelah Hindun kemabli ke rumahnya, dia merobohkan berhala di rumahnya, sambil berkata: “Dulu kami terpedaya olehmu.” [3]

Bai’at kepada wanita waktu Fathu Makkah itu isinya sama dengan bai’at penduduk Yatsrib/ Madinah ketika datang ke Makkah mereka berbai’at yang dikenal dengan Bai’at Aqabah Pertama, tahun 11 Kenabian/ 620M (point 1 tersebut di atas, isi bai’atnya sebagai berikut):

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit (salah seorang yang ikut berbai’at), bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kemarilah dan berbai’atlah kalian kepadaku untuk :

tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah

tidak mencuri

tidak berzina

tidak membunuh anak-anak sendiri

tidak akan berbuat dusta yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian

tidak mendurhakaiku dalam urusan yang baik.

Barangsiapa di antara kalian menetapinya, maka pahalanya ada pada Allah. Dan barangsiapa mengambil sesuatu dari yang demikian ini, lalu dia disiksa di dunia, maka itu merupakan ampunan dosa baginya, dan barangsiapa mengambil sesuatu dari yang demikian itu lalu Allah menutupinya, maka urusannya terserah Allah. Jika mengehendaki Dia menyiksanya dan jika menghendaki Dia akan mengampuninya.” Lalu aku (Ubadah bin As-Shamit) pun berbai’at kepada beliau. (HR Al-Bukhari).[4]

Pelaksanaan Bai’at

Pelaksanaan bai’at itu dengan cara berjabatan tangan. Menurut Ibnu Ishaq, (dalam bai’at Aqabah II), Bani An-Najjar menganggap Abu Umamah As’ad bin Zurarah adalah orang yang pertama kali mengulurkan tangannya untuk berbai’at.

Setelah itu barulah dilakukan bai’at secara umum. Jabir menuturkan, “Lalu kami yang laki-laki bangkit menghampiri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bergiliran, lalu beliau membai’at kami dan berjanji akan memberikan surga kepada kami.”

Sedangkan bai’at terhadap dua wanita yang ikut hadir pada saat itu hanya dengan perkataan semata, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah berjabat tangan dengan wanita lain mahram. (Lihat Shahih Muslim, kaifiyyatu bai’atin nisaa’, 2/131).[5]

Isi bai’at Aqabah II itu (point 2 di atas) diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Jabir, ia berkata: “Kami berkata, “Wahai Rasulullah, untuk hal apa kami berbai’at kepada engkau?”

Isi bai’at yang disampaikan Rasulullah:

1. Untuk mendengar dan taat tatkala bersemangat dan malas

2. Untuk menafkahkan harta tatkala sulit dan mudah

3. Untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar

4. Untuk tegak berdiri karena Allah dan tidak merisaukan celaan orang yang suka mencela karena Allah

5. Hendaklah kalian menolongku jika aku datang kepada kalian, melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri, istri dan anak-anak kalian, dan bagi kalian adalah surga.[6]

Dari bai’at-bai’at yang dilakukan Muslimin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut di atas intinya adalah janji setia, patuh dan ta’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (perintah agama), melaksanakan Islam dan membela/ melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan siap mati untuk berjuang/ berjihad melawan orang kafir dalam mempertahankan Islam.

Pembai’atan Abu Bakar

Uraian di atas adalah bai’at di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini bai’at untuk Abu Bakar sebagai Khalifah Rasulillah.

Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Tarikhul Khulafa’ menuturkan riwayat-riwayat tentang dibai’atnya Abu Bakar sebagai khalifah (pengganti) Rasulillah. Riwayat-riwayat itu yang dikemukakan paling depan adalah riwayat As-Syaikhani (Imam Al-Bukhari dan Muslim) sebagai berikut:

As-Syaikhani meriwayatkan bahwa Umar bin Al-Khatthab berpidato di depan manusia tatkala dia (Umar) pulang dari menunaikan ibadah haji. (Pidato ini pada bulan Dzulhijjah, sedang wafat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Rabi’ul Awwal 11H/ 8 Juni 632M, jadi sudah 8 bulan dalam pemerintahan Abu Bakar ra, pen). Dia berkata dalam khutbahnya itu: Telah sampai berita kepada saya bahwa seseorang di antara kalian ada yang berkata, seandainya Umar meninggal maka saya akan membai’at Fulan[7]. Jangan sampai ada di antara kamu yang tertipu dengan mengatakan: “Pembai’atan Abu Bakar itu adalah satu kekeliruan.” Ingatlah, jikapun yang terjadi demikian, namun Allah telah menjaga (dampak) buruknya. Dan di kalangan kamu sekalian sekarang ini tidak ada orang yang leher-leher mau dipotong untuknya seperti Abu Bakar. Karena dia adalah orang terbaik dari kita di kala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat. Dan sesungguhnya Ali dan Zubair serta orang-orang yang bersama mereka terlambat (datang untuk membai’at) karena mereka berada di rumah Fathimah. Dan orang-orang Anshor juga membai’at belakangan setelah kami ketika berkumpul di Saqifah Bani Saidah. Orang-orang Muhajirin berkumpul mengerumuni Abu Bakar, lalu aku katakan padanya: Wahai Abu Bakar, mari bersama kami pergi ke saudara-saudara kita dari kalangan Anshor. Lalu kami berangkat mewakili mereka (Muhajirin) hingga kami temui dua lelaki shalih, maka keduanya menyebutkan kepada kami apa yang diperbuat kaum (Anshor). Lalu keduanya berkata: Kemana kalian ingin pergi wahai orang-orang Muhajirin? Aku katakan: Aku ingin ke saudara-saudara kami kaum Anshor. Lalu keduanya berkata: Kalian jangan sampai mendekati mereka, dan selesaikanlah urusan kalian sendiri, wahai orang-orang Muhajirin. Lalu aku katakan: Wallahi kami pasti mendatangi mereka. Maka kami berangkat sampai menjumpai mereka di Saqifah Bani Sa’idah. Mereka saat itu sedang berkumpul dan di antara para hadirin ada yang berselimut.

Saya bertanya, “Siapakah orang ini?”

Mereka menjawab: “Sa’ad bin Ubadah.”

Saya tanya: “Kenapa dia?”

Mereka berkata: “Sakit”.

Ketika kami duduk, khathib mereka berdiri, lalu memuji Allah semestinya, dan ia berkata: Amma ba’du, kami adalah penolong-penolong Allah dan pasukan Islam. Kamu sekalian wahai orang Muhajirin adalah bagian dari kami. Kalian datang kepada kami dan kalian ingin memotong kami dari akar kami, dan mengerami kami untuk urusan itu.

Tatkala dia selesai mengucapkan khutbahnya, saya ingin menyampaikan ucapan balasan sesuai dengan apa yang saya siapkan dan saya anggap sangat baik. Saya ingin mengatakannya di hadapan Abu Bakar. Saya merasa bahwa saya lebih tahu darinya dalam batas tertentu, dan dia lebih sabar dariku dan lebih tenang penampilannya.

Abu Bakar berkata, “Jangan terburu-buru wahai Umar!” Dan saya (Umar) tidak ingin menjadikan dia (Abu Bakar) marah. Dia lebih tahu daripada saya. Demi Allah, ia (Abu Bakar) sama sekali tidak meninggalkan satu kalimat pun yang saya anggap sangat indah dalam persiapan balasan yang saya siapkan. Dia mengatakannya dengan terang sesuai dengan apa yang saya rencanakan, bahkan lebih baik lagi. Hingga akhirnya dia mengakhiri pidatonya. Kemudian dia (Abu Bakar) berkata, “Amma ba’du. Adapun apa yang engkau sebutkan tentang kebaikan-kebaikan yang ada pada kalian, maka itu memang hak kalian. Namun orang-orang Arab tidak mengakui kepemimpinan selain orang Quraisy, mereka adalah berasal dari keturunan yang terbaik dan dari tempat yang terbaik. Saya rela jika kalian memilih salah seorang dari dua orang ini. Maka bai’atlah ia sebagaimana kalian suka.”

Lalu ia (Abu Bakar) mengambil tanganku (Umar) dan tangan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, yang saat itu duduk di antara kami. Saya (Umar) sangat tidak senang dengan apa yang dia katakan terakhir. “Demi Allah, lebih baik leher saya dipenggal daripada saya maju menjadi pemimpin di saat masih ada Abu Bakar.”

Salah seorang dari Anshor berdiri dan berkata, “Dari kami ada pemimpin dan dari kalian ada satu pemimpin, wahai orang-orang Quraisy.”

Kemudian terjadi kegaduhan dan ada teriakan-teriakan, hingga saya (Umar) sangat khawatir terjadi persengketaan.

Saya berkata: “Angkat tanganmu, wahai Abu Bakar!” Dia angkat tangannya. Lalu saya bai’at Abu Bakar, dan kaum Muhajirin juga mengikuti, lalu kaum Anshor juga ikut membai’atnya. Maka ketahuilah bahwa kami tidak pernah menghadiri sama sekali satu majlis yang sangat genting yang lebih mendapatkan taufiq daripada pembai’atan Abu Bakar. Kami khawatir jika kami memecah belah umat, sedangkan saat itu belum dilakukan pembai’atan. Dengan demikian kita akan dihadapkan pada pembai’atan orang yang tidak kami sukai, atau kami berbeda pendapat dengan mereka, hingga akan timbul fitnah besar.[8]

Ibnu Ishaq dalam kitab Sierah-nya berkata, Az-Zuhry berkata pada saya, Anas bin Malik berkata pada saya, dia berkata: “Tatkala Abu Bakar dibai’at di Saqifah Bani Sa’idah, besoknya (malam berikutnya, pen) Abu Bakar duduk di atas mimbar. Lalu Umar berpidato sebelum Abu Bakar. Dia memuji Allah dan menyatakan syukurnya. Lalu (Umar) berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan orang terbaik di antara kalian, memangku jabatan khalifah. Ia adalah sahabat Rasulullah, orang yang menemaninya saat berada di dalam gua. Maka bangunlah kalian semua dan nyatakan bai’at kepadanya.”

Lalu para hadirin berdiri dan menyatakan bai’at secara umum setelah bai’at di Saqifah. Kemudian Abu Bakar berdiri dan memuji Allah dan menyatakan syukurnya. Kemudian dia berkata:

أما بعد أيها الناس فإني قد وليت عليكم و لست بخيركم فإن أحسنت فأعينوني و إن أسأت فقوموني الصدق أمانة و الكذب خيانة و الضعف فيكم قوي عندي حتى أريح عليه حقه إن شاء الله و القوي فيكم ضعيف حتى آخذ الحق منه إن شاء الله لا يدع قوم الجهاد في سبيل الله إلا ضربهم الله بالذل و لا تشيع الفاحشة في قوم قط إلا عمهم الله بالبلاء أطيعوني ما أطعت الله و رسوله فإذا عصيت الله و رسوله فلا طاعة لي عليكم قوموا إلى صلاتكم يرحمكم الله و هذا إسناد صحيح

)تاريخ الخلفاء – (ج 1 / ص 63) سيرة ابن كثير – (ج 4 / ص 491)

“ Amma ba’du. Wahai manusia! Sesungguhnya saya telah dipilih untuk memimpin kalian, dan bukanlah saya orang yang terbaik di antara kalian. Maka jika saya melakukan hal yang baik, bantulah saya. Dan jika saya melakukan tindakan yang menyeleweng maka luruskanlah saya. Sebab kebenaran itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian adalah kuat dalam pandangan saya, hingga saya ambilkan hak-haknya untuknya, sedangkan orang yang kuat di antara kalian adalah lemah di hadapanku, hingga saya ambil hak orang lain darinya, insya Allah. Dan tidak ada satu kaum pun yang meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali akan Allah timpakan padanya kehinaan. Dan tidak pula menyebar kemaksiatan pada suatu kaum kecuali Allah akan timpakan mala petaka. Taatlah kalian kepadaku selama saya taat kepada Allah, dan jika saya melakukan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban ta’at kalian kepadaku. Bangunlah untuk melakukan shalat (‘Isya’, pen) rahimakumullah.” [9]

Dalam riwayat Ibnu Sa’ad, Al-Hakim dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata: “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, kaum Muslimin berkumpul di rumah Sa’ad bin Ubadah. Hadir di tengah mereka Abu Bakar dan Umar. Khathib-khathib Anshor berdiri, dan seorang dari mereka mulai berkata: “Wahai orang-orang Muhajirin, sesungguhnya Rasulullah jika menempatkan seseorang dari kalian maka dia akan senantiasa mengambil dari kami sebagai teman. Maka kami melihat bahwa pemerintahan ini hendaknya diperintah oleh dua orang, seorang dari kami dan seorang dari kalian.” Orang-orang yang berpidato dari kalangan Anshor menekankan hal itu secara bergantian.

Zaid bin Tsabit berdiri dan berkata: “Tidakkah kalian tahu bahwa Rasulullah adalah dari kalangan Muhajirin, dan khalifahnya adalah dari kalangan Muhajirin, sedangkan kita adalah pembantu Rasulullah (Anshor), dengan begitu kita juga adalah pembantu khalifahnya. Kemudian ia mengambil tangan Abu Bakar dan berkata, “Inilah sahabat Anda sekalian.” Lalu Umar membai’atnya, diikuti oleh kaum Muhajirin, lalu kaum Anshor.

Kemudian Abu Bakar (lain waktu, pen) naik ke mimbar dan dia melihat ke wajah hadirin, namun tidak mendapatkan Zubair. Dia memerintahkan agar Zubair dipanggil, lalu dia datang memenuhi panggilan Abu Bakar. Abu Bakar berkata: “Kau adalah anak bibi Rasulullah dan seorang hawari (sahabat) Rasulullah. Apakah kamu ingin mengoyak-koyak persatuan kaum muslimin?” Zubair menjawab, “Tidak, wahai khalifah Rasulullah!” Lalu dia membai’at Abu Bakar.

Lalu Abu Bakar kembali melihat orang yang hadir, dia juga tidak mendapatkan Ali di tengah mereka. Dia kemudian mengutus orang untuk memanggil Ali, dan Ali pun datang memenuhi panggilan tersebut. Abu Bakar berkata, “Kau adalah anak paman Rasulullah, dan dia kawinkan engkau dengan anaknya. Apakah kau akan mengoyak-koyak persatuan kaum muslimin?” Ali menjawab, “Tidak, wahai khalifah Rasulullah.” Dan diapun lalu membai’atnya.[10]

Demikianlah bai’at di Saqifah dan bai’at umum kepada Abu Bakar, khalifah pertama dalam Islam. Intinya adalah janji setia untuk menta’ati Khalifah, kepemimpinan secara Islam selama sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya, dan menghindari perpecahan di kalangan umat Islam.

Adakah Bai’at Ketika Tak Ada Khalifah

Berikut ini pembahasan tentang adakah bai’at di kala tidak ada Khalifah. Pembahasan ini saya kutip dari tulisan Debby Murti Nasution seorang anggota Islam Jama’ah/ LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang kemudian keluar dari aliran sesat-menyesatkan itu, lantas membantah ajaran LDII yang mewajibkan pengikutnya berbai’at pada amir. Debby membantahnya dengan tulisan yang berjudul Islam Jama’ah dan Penyimpangannya, di dalam buku Bahaya Islam Jama’ah –Lemkari- LDII, terbitan LPPI Jakarta.. Saya kutip sanggahannya terhadap pembai’atan di kalangan LDII, dengan sub judul Konsep Bai’at dalam Syari’at Islam sebagai berikut:

Bai’at adalah perjanjian untuk taat, dimana orang yang berbai’at bersumpah setia kepada Imam atau Khalifahnya untuk mendengar dan taat kepada Imam atau Khalifah, baik dalam hal yang menyenangkan maupun pada hal yang tidak disukai, dalam keadaan mudah ataupun sulit.

Bai’at kepada Khalifah hukumnya wajib, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.:

فِي رِوَايَة خَالِد بْن سُبَيْعٍ عِنْدَ الطَّبَرَانِيِّ ” فَإِنْ رَأَيْت خَلِيفَة فَالْزَمْهُ وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرك ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ خَلِيفَة فَالْهَرَب ” .

Artinya: “Maka, apabila engkau melihat — adanya — Khalifah, menyatulah padanya, meskipun ia memukul punggunggmu. Dan jika Khalifah tidak ada, maka menghindar”. (H.R. Thabranie dari Khalid bin Subai’. Lihat Fathul-Barie juz XIII hal. 36).

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. menegaskan, bahwa wajibnya bai’at adalah kepada Khalifah, apabila ia ada atau terwujud di muka bumi. Meskipun ia (Khalifah) melakukkan tindakan-tindakan yang tidak terpuji, seperti: memukul, mengambil harta dan melakukan perbuatan fajir lainnya — seperti yang disebut oleh Ali bin Abi Thalib sebelumnya– kalian harus tetap bergabung padanya. Akan tetapi apabila Khalifah tidak ada, maka kaum Muslimin harus menghindar.

Thabranie mengatakan, bahwa yang dimaksud menghindar ialah menghindar dari kelompok-kelompok partai manusia, dan tidak mengikuti seorang pun dalam firqah (golongan) yang ada. (Lihat Fathul-Barie juz XIII hal. 37).

Dengan kata lain, apabila Khalifah atau Kekhalifahan sedang vakum, maka kewajiban bai’at pun tidak ada.

Begitu pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.:

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِى عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً . (رواه مسلم).

Artinya:

“Dan barang siapa yang mati tanpa bai’at di lehernya, maka matinya seperti mati jahiliyyah”. (H.R. Muslim nomor 4899)

Yang dimaksud bai’at di sini ialah bai’at kepada Khalifah, yaitu apabila ia ada di bumi.

Sedangkan H. Nur Hasan (pendiri Darul Hadits, kemudian diubah-ubah namanya menjadi Islam Jama’ah, Lemkari, dan terakhir LDII –Lembaga Dakwah Islam Indonesia, pen) menggunakan hadits ini untuk mengambil bai’at dari pengikutnya bagi dirinya. Dengan kata lain, H. Nur Hasan dan anaknya yang menjadi Imam I.J (Islam Jama’ah). sekarang ini telah menempatkan dirinya sebagai Khalifah, padahal ia dan juga anaknya sama sekali tidak sah untuk menduduki jabatan Khalifah.

Dan H. Nur Hasan mengatakan, bahwa mati jahiliyyah dalam hadits ini ialah sama dengan mati kafir.

Pendapat ini tidak bisa dibenarkan dan (bahkan) bertentangan dengan pendapat para Ulama Ahli Hadits, seperti disebutkan oleh Ibnu Hajar, bahwa mati jahiliyyah dalam hadits ini bukanlah mati kafir. Akan tetapi mati dalam keadaan menentang. (Lihat Fathul-Barie juz XIII hal.7).

Di samping itu, pendapat H. Nur Hasan itu mengandung konsekuensi pengkafiran terhadap sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam., yang tidak mau berbai’at kepada Khalifah. Seperti:

Mu’awiyyah bin Abi Sufyan yang tidak mau berbai’at kepada Khalifah Ali bin Thalib, bahkan ia mengangkat senjata memerangi Khalifah Ali. Namun, tidak ada seorang sahabat pun yang mengkafirkan Mu’awiyyah. Termasuk Khalifah Ali, beliau tidak mengkafirkan Mu’awiyyah yang tak mau berbai’at kepadanya. Begitu pula Husain bin Ali yang menolak berbai’at kepada Khalifah Yazid bin Mu’awiyyah, juga Abdullah bin Umar yang tidak mau bai’at kepada Khalifah Abdullah bin Zubair, padahal Khalifah-khalifah itu merupakan penguasa-penguasa kaum Muslimin yang sah, tidak seperti H. Nur Hasan atau (anaknya sebagai penggantinya, yang bernama) Abdul Dhohir.

Jadi, apabila meninggalkan bai’at kepada Khalifah yang sah (saja) tidak bisa dianggap kafir, masakan tidak mau berbai’at kepada H. Nur Hasan atau Abdul Dhohir yang merupakan Imam palsu alias batil dapat dikatakan kafir?

Dan mengkafirkan sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. termasuk perbuatan murtad.

Adapun sekarang ini, kaum Muslimin atau dunia Islam tidak mempunyai Khalifah yang memimpin mereka. Jadi, yang berlaku sekarang ialah ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.: “Apabila Khalifah tidak ada, maka menghindar”. Dan tidak ada kewajiban bai’at bagi kaum Muslimin. Bukan malah membuat-buat Imamah palsu model Islam Jama’ah, dll. yang seperti itu.

Imam Bukharie telah menyusun satu Bab khusus yang membicarakan masalah ini, yaitu Bab yang beliau beri judul:

باب كَيْفَ الأَمْرُ إِذَا لَمْ تَكُنْ جَمَاعَةٌ . ( 11 )

Artinya: Bab Bagaimana perintah — syariat — apabila Jama’ah tidak ada?

Ibnu Hajar berkata, bahwa yang dimaksud di sini ialah: Apa yang harus dilakukan oleh setiap Muslim dalam kondisi perpecahan diantara umat Islam, dan mereka belum bersatu di bawah pemerintahan seorang Khalifah.

Lalu Imam Bukharie menukilkan hadits Hudzaifah bin Yaman r.a. yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.:

« فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا ، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ » .

Artinya: “Maka, bagaimana jika mereka — kaum Muslimin — tidak memiliki Jama’ah dan tidak memiliki Imam? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. menjawab: “Maka tinggalkanlah olehmu semua golongan yang ada, meskipun engkau terpaksa makan akar pohon, sehingga engkau menjumpai kematian dan engkau tetap dalam keadaan seperti itu.”

Maksud hadits ini sama dengan hadits sebelumnya, yaitu: “Apabila Khalifah tidak ada, maka menghindar.”

Hanya saja dalam hadits ini ada tambahan: “Meskipun engkau terpaksa makan akar pohon….” dan seterusnya.

Menurut Baidhawie, kata-kata ini merupakan kinayah atau kiasan dari kondisi beratnya menanggung sakit.

Selanjutnya Baidhawie berkata: “Makna hadits ini ialah, apabila di bumi tidak ada Khalifah, maka wajib bagimu menghindar –dari berbagai golongan– dan bersabar untuk menanggung beratnya zaman“.. (Walluhu A’lam). Lihat Fathul-Barie juz XIII hal. 36).[11]

Dua Jenis Bai’at

Dr Mani’ bin Hamad Al-Johani dalam bukunya, al-Mausu’ah Al-Muyassarah fil Adyan wal Madzahib wal Ahzab al-Mu’ashirah, menyimpulkan adanya dua jenis bai’at, yaitu bai’at kubro (besar) dan bai’at sughro (kecil). Kesimpulannya sebagai berikut.

1. Bai’at Kubro (bai’at terhadap khalifah, untuk mengangkatnya, dan untuk tunduk padanya selama tidak dalam hal bermaksiat kepada Allah, pen) telah ada perintah padanya, dan ada hadits-hadits khusus yang mentahdzir (memperingatkan, warning) terhadap orang yang melanggarnya. Adapun bai’at sughro (saling berjanji setia bukan terhadap khalifah, dalam hal tertentu seperti untuk tetap berjihad membela agama Allah, amar ma’ruf nahi munkar dll, pen), maka menepati janji bai’at sughro ini masuk dalam wilayah nash-nash (teks ayat atau hadits) umum yang menganjurkan atas mutlaknya menepati janji.

2. Ketaatan dalam bai’at kubro itu mutlak, selama sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun ketaatan terhadap bai’at sughro maka terbatas pada hal apa jabat tangan dan aqad itu diadakan.

3. Menunaikan bai’at kubro itu wajib, dan meninggalkannya itu tidak ada ta’wil, dia mati dalam keadaan mati jahiliyyah. Adapun bai’at sughro maka menunaikannya itu adalah ijtihadi (kesimpulan dari hasil ijtihad, bukan ketentuan nash ayat atau hadits).

4. Bai’at kubro dilakukan oleh ahlul halli wal ‘aqdi (semacam DPR/MPR) dalam umat terhadap orang yang memenuhi syarat-syaratnya (untuk jadi khalifah, pen). Adapun bai’at sughro maka dilakukan oleh kelompok dari muslimin terhadap orang yang mereka ridhoi karena ilmunya atau kemampuannya untuk berbuat suatu atau beberapa amal yang baik.

5. Bai’at kubro wajib mengutamakan syari’at dan melibatkan seluruh muslimin. Adapun bai’at sughro maka tidak melibatkan selain orang yang masuk di dalamnya, dan tetap taat dalam batas-batas yang disepakatinya.[12]

Selanjutnya Dr Mani’ mengutip pendapat Dr Shalah As-Showi dalam kitabnya, Ats-Tsawaabit wal Mutaghoyyiroot, dengan berangkat dari pandangannya ke perkara bai’at sughro bahwasanya itu termasuk madhonnal ijtihad (wilayah perkiraan ijtihad) di antara para ulama, baik dinamai bai’at sughro ataupun saling berjanji dalam kebaikan dan tetap taat untuk melaksanakannya. Ia melihat hal ini bisa diadakan ikatan di suatu masa ataupun negeri manapun. Demikian pula bisa juga saling membatalkannya ketika ada tuntutan. Seperti halnya bisa juga bergabung antara beberapa kelompok untuk berbai’at jadi satu apabila tidak ada saling pertentangan, dan penggabungan itu tidak ada kerugian bagi salah satunya.

Sungguh telah terjadi keekstriman (ghuluw) sebagian jama’ah-jama’ah Islam masa kini dalam hal bai’at “sughro juz’yyah” (kecil parsial) ini, di mana bai’at sughro ini digunakan atas nama bai’at kubro dengan klaim bahwa jama’ah itu adalah sebagai (keseluruhan) jama’ah muslimin, dan amirnya adalah (diklaim sebagai) Imam Muslimin. Sebagaimana terjadi keekstriman di kalangan tarekat-tarekat shufiyah (tasawuf), menjadikan orang yang berbai’at itu adalah sebagai pengikut syaikhnya dalam hal kebenaran maupun kebatilan, dan pengikut dalam hal menyebarkan madzhabnya, tarekatnya, dan kepemimpinan mutlaknya kepada syaikhnya.

Dengan adanya gejala seperti itu, perlu pula disimak pendapat orang masa kini di antaranya Dr Bakr bin Abdullah Abu Zaid, ia berpendapat:

Sesungguhnya bai’at dalam Islam itu satu, yaitu dari dzawis syaukah (ahlul halli wal ‘aqdi/ semacam DPR/ MPR) untuk waliyul amril muslimin dan sultan mereka (Khalifah dan Sultan Muslimin). Dan adapun apa yang selain itu berupa bai’at-bai’at tarekat (tasawuf), hizbiyah (partai-partai, golongan-golongan) di dalam sebagian jama’ah Islam masa kini itu semua adalah bai’at-bai’at yang tidak ada asalnya (laa ashla laha) dalam syara’. Tidak dari Kitabullah dan tidak dari Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak dari amal/ perbuatan sahabat dan tabi’in. Maka dia itu adalah bai’at mubtada’ah (diada-adakan secara baru) padahal setiap bid’ah (pengadaan baru) itu adalah sesat. Dan setiap bai’at yang tidak ada asalnya dalam syara’ itu maka bukanlah ketetapan janji, maka tidak ada dosa dalam meninggalkannya dan mengkhianatinya.Bahkan berdosa dalam mengadakannya.” (Hukmul intimaa’ ilal firoq wal jamaa’aat al-Islamiyah, hal 163).[13]

Demikianlah, bai’at selain untuk khalifah itu adalah merupakan ijtihad. Dari hasil ijtihad itu ada yang membolehkan dengan syarat-syarat, dan ada yang menganggapnya bid’ah. Dalam kenyataan, banyak yang ghuluw/ ekstrim dan itu tak sesuai dengan Islam, bahkan menyeleweng jauh. Ada yang menjadikan bai’at sughro itu untuk memvonis kafir bagi orang lain yang tak ikut berbai’at, seperti faham Nur Hasan Ubaidah pendiri Islam Jama’ah yang kini bernama LDII. Ada yang menjadikan bai’at sughro itu sebagai alat untuk meniru-niru kerahiban seperti yang dilakukan di kalangan tarekat-tarekat tasawuf, hingga ketundukan kepada syekh secara total, dalam kebenaran maupun kebatilan. Ada yang menjadikan bai’at sughro itu sebagai alat untuk menakut-nakuti jama’ahnya, hingga harus setor uang tiap saat, tanpa bisa mengelak, hingga kadang sampai mencuri agar bisa setor uang kepada amirnya.

Penyelewengan-penyelewengan bai’at sughro itu punya dampak merusak pemahaman Islam dan merusak kehidupan berislam. Oleh karena itu pemahaman tentang bai’at ini perlu dimengerti oleh setiap Muslim, agar tidak terjerumus oleh para penyeleweng dan penyesat yang bergentayangan di sekitar kita setiap saat. Dan hendaknya para penyeleweng dan penyesat itu mengakhiri kejahatannya lantas bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar tidak menjadi wadyabala Iblis laknatullah.

Di antara yang menyelewengkan pengertian bai’at sughro ada yang sampai ke tingkat mengkafirkan selain golongannya. Contohnya, dalam Makalah LDII berjudul Peningnya Pembinaan Generasi Muda Jama’ah ditegaskan, Orang-orang Islam yang di luar jam’ahnya dinyatakan sebagai:

· Orang kafir

· musuh Alloh

· musuh orang iman

· calon ahli neraka

· tidak boleh dikasihani. Di antaranya ditulis:

Dalam Makalah LDII berjudul Pentingnya Pembinaan Generasi Muda Jama’ah dengan kode H/ 97, halaman 8, berbunyi:

Dan dalam nasehat supaya ditekankan bahwa bagaimanapun juga cantiknya dan gantengnya orang-orang di luar jama’ah, mereka itu adalah orang kafir, musuh Allah, musuh orang iman calon ahli neraka, yang tidak boleh dikasihi,”

Untuk menyikapi orang di luar jama’ah LDII yang telah dianggap kafir itu dikemukakan ayat yang sebenarnya memang untuk orang kafir, tetapi di makalah itu untuk menegaskan orang di luar jama’ah LDII adalah kafir, dan larangan menikah dengan orang selain jama’ah LDII. Maka ditulis di baris selanjutnya:

“…ingatlah firman Alloh:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ . سورة النساء 144

Hai orang orang iman jangan menjadikan kamu kekasih pada orang-orang kafir yakni selain orang iman.”

Dan diberi dorongan bahwa ternyata didalam jama’ah masih banyak sekali perawan-perawan, rondo-rondo yang cantik, yang barokah yang siap dinikahi dan banyak pula joko-joko, dudo-dudo yang ganteng dan tidak kalah gagahnya daripada orang-orang luar jama’ah. (Makalah LDII berjudul Pentingnya Pembinaan Generasi Muda Jama’ah, h/97, halaman 9).

Dari sini bisa difahami, LDII yang menyelewengkan bai’at sughro sampai ke tingkat mengkafirkan pihak lain itu makanya MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat. Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

(Dimodifikasi dari buku Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta).


[1] Abdul Aziz Dahlan (et al), Ensiklopedi Hukum Islam, PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, cetakan pertama, 1997, jilid 1/6 hal 179.

[2] Al-Qur’an dan Tafsirnya, Depag RI, 1985/1986, juz 26, hal 393-394.

[3] Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury, Ar-Rahiiqul Mahtuum, terjemahan Katur Suhardi, Sirah Nabawiyah, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, cetakan pertama, 1997, hal 537-538.

[4] Ibid, hal 199-200.

[5] Ibid, hal 207-208.

[6] Ibid, hal 206-207, mengutip Hadits Imam Ahmad dengan isnad hasan, sedang Al-Hakim dan Ibnu Hibban menshahihkannya.

[7] Perkataan itu perlu dikaitkan dengan riwayat selanjutnya bahwa Umar adalah pembai’at pertama untuk diangkatnya Abu Bakar sebagai Khalifah. Jadi orang yang berkata “seandainya Umar meninggal” itu maksudnya adalah seandainya Umar meninggal maka tidak ada yang ditakuti untuk membai’at orang lain, bukan membai’at Abu Bakar sebagaimana yang dilakukan Umar, pen.

[8] As-Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Darul Kutubil ‘Ilmiyah, cet 1, 1408H/ 1988M, hal 51, mengutip Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

[9] As-Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Darul Kutubil ‘Ilmiyah, cet 1, 1408H/ 1988M, hal 52-53.

[10] Ibid, hal 52.

[11] Debby Murti Nasution dalam Bahaya Islam Jama’ah –Lemkari- LDII, (Hartono Ahmad Jaiz, ed), LPPI, Jakarta, cetakan kesepuluh, 2001M, hal 32-34.

[12] Dr Mani’ bin Hamad Al-Johani dalam bukunya al-Mausu’ah Al-Muyassarah fil Adyan wal Madzahib wal Ahzab al-Mu’ashirah, WAMY, Riyadh, cetakan 3, hal1004-1005.

[13] Ibid, hal 10003.