Akibat Pelarangan Ahmadiyah Ditunda-tunda

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Sebenarnya sudah ada keputusan untuk melarang Ahmadiyah (Qodiyan dan Lahore) secara nasional tahun 1996, namun ditunda saat pelarangannya setelah pemilu (pemilihan Umum) 1997. Sampai pemilu telah selesai pun belum ada pelarangan, maka menurut sumber, MUI mengirimkan surat kepada Jaksa Agung RI, 6 Mei 1998, untuk melaksanakan keputusan 31 Oktober 1996 tentang pelarangan Ahmadiyah (Qodiyan dan Lahore) secara nasional.

Selama 12 tahun setelah adanya keputusan pelarangan Ahmadiyah (Qodiyan dan Lahore) secara nasional –tetapi kenyataannya tidak dilaksanakan dan yang dilaksanakan barulah penundaan keputusan itu, dari setahun menjadi bertahun-tahun; entah sudah berapa kali terjadi kasus bentrokan. Kasus-kasus itu kemudian menjadi amunisi bagi orang-orang tertentu untuk mengecam-ngecam umat Islam dengan garangnya.

Ada yang menulis dengan ngawur-ngawuran, misalnya Professor Ahmad Syafii Maarif dengan judul Kekerasan Atas Nama Agama (Republika Selasa 29 April 2008 halaman 12). Bekas ketua umum Muhammadiyah ini tanpa ilmu hadits sama sekali namun berani menulis: “jika Isa masih harus turun kembali, berarti misi Muhammad gagal.”

Ahmad Syafii Maarif perlu pula membaca hadits, di antaranya:


93
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ *

93 Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Demi Allah! Sesungguhnya telah hampir masanya Nabi Isa bin Mariam turun kepada kamu untuk menjadi hakim secara adil. Dia akan mematahkan salib, membunuh babi serta tidak menerima cukai dan harta akan melimpah, sehinggalah tidak ada seorang pun yang ingin menerimanya * (Hadits Muttafaq ‘alaih).

Hadits-hadits tentang turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam ini menurut ahli Hadits seperti Al-Albani, tingkatnya mutawatir. Kenapa Ahmad Syafii Maarif membantahnya tanpa dilandasi ilmu, cukup mengatakan: “jika Isa masih harus turun kembali, berarti misi Muhammad gagal.”

Klaim Ahmadiyah mengenai Isa alaihis salam yang dikaitkan dengan Mirza Ghulam Ahmad memang dusta, tetapi tidak berarti kita perlu membatalkan hadits, apalagi tanpa ilmu. Tulisan tanpa ilmu ini intinya pun membela Ahmadiyah, dianggapnya mereka itu dizalimi, dan seolah secara implicit dianggap sebagai masih tunduk pada UUD (Undang-undang Dasar). Di situlah curangnya Ahmad Syafii Maarif, tidak mau melihat bahwa Ahmadiyah itu telah menodai kitab suci Umat Islam namun mengaku Islam, sedang orang Muslim malah dinyatakan kafir lagi musuh. Lihat pernyataan Ahmadiyah:

Ketika Pahlawan Agama – Rasul Akhir Zaman tersebut datang (Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s.), tiba-tiba kaum-kaum yang tadinya saling mengkafirkan antara satu sama lainnyatiba-tiba bersatu kembali dan serempak memalingkan seluruh perhatian dan daya upayanya menyerang Pendiri Jemaat Ahmadiyah yang datang untuk memutuskan perselisihan mereka.

Benarlah Firman Allah subhanahu wata’ala: “Dan secara demikian telah Kami jadikan musuh bagi setiap nabi, orang-orang durhaka diantara manusia dan jin. Sebagian mereka membisikan kepada sebagian lainnya perkataan yang dibuat-buat untuk menipu; dan jika dikehendaki Tuhan engkau, sekali-kali mereka tidak akan mengerjakannya; maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka ada-adakan” (Al An’am, 113). (Majalah Bulanan resmi Ahmadiyah “Sinar Islam” edisi 1 September 1986 (Tabuk 1365 HS) Halaman 41.

Itulah contoh menodai agama Islam dengan cara membajak Al-Qur’an namun untuk mengkafirkan umat Islam sekaligus mengangkat Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Apakah itu tidak melanggar UUD, wahai Tuan Ahmad Syafii Maarif?

Yang tak kalah memalukannya, dalam kasus Ahmadiyah ini, tulisan A Mustofa Bisri yang dikenal sebagai mertua dedengkot JIL Ulil Abshar Abdalla. Mustofa Bisri menulis:

Yang Sesat dan Yang Ngamuk Oleh A. Mustofa Bisri

Karena melihat sepotong, tidak sejak awal, saya mengira massa yang ditayangkan TV itu adalah orang-orang yang sedang kesurupan masal. Soalnya, mereka seperti kalap. Ternyata, menurut istri saya yang menonton tayangan berita sejak awal, mereka itu adalah orang-orang yang ngamuk terhadap kelompok Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh MUI.

Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang dinyatakan- sesat harus diamuk seperti itu? Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta, tapi ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang tahu bahwa orang itu sesat- menempelenginya. Aneh dan lucu. (Indo Pos, Rabu, 23 April 2008)

Betapa anehnya A Mustofa Bisri yang dikenal sebagai tokoh atau bahkan kiyai di NU -Nahdlatul Ulama ini, membandingkan Ahmadiyah yang menjadi pengikut nabi palsu dan menodai Al-Qur’an, mengkafirkan dan menyatakan musuh terhadap semua yang bukan pengikut Ahmadiyah; kok diibaratkan orang yang tersesat jalan.

Kalau membela itu mestinya membela yang benar. Ini sudah membela yang sesat, masih pula memakai pemikiran yang membabi buta.

Apakah mereka itu sudah tidak punya malu ya? Yang satu membantah sabda Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam tanpa ilmu. Ditambah lagi dengan menyembunyikan dosa, dusta, dan penodaan Ahmadiyah terhadap Islam, sekaligus membelanya sebagai orang-orang yang dizalimi.

Yang satunya lagi membela Ahmadiyah dengan alasan yang direka-reka, tanpa ada juntrungannya.

Makin lama keputusan larangan itu tidak dikeluar-keluarkan dan tak dilaksana-laksanakan, makin bertambah pula masalah.