Dari maghrib aku sengaja tidak ke masjid karena dalam sepekan sekali ada orang yang ngusung sesuatu yang bagi saya sangat perlu dihindari. Maka saya ke masjid yang lain.

Giliran azan isya’, saya mau kembali ke masjid lain itu tadi. Tahu-tahu di sana adanya ibu-ibu jumlahnya banyak, lagi membaca entah apa. Saya tanya orang yang ada di luar, tidak tau juga apa yang dibaca. Hanya saya perkirakan, mereka lagi mempelajari tentang apa yang disebut Rebo Wekasan, atau Rebo Pungkasan, atau Rebo Kasan; suatu amalan dan keyakinan membuang sial yang sama sekali tidak diajarkan oleh Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya, dan para ulama penerusnya yang shalih-shalih. Sampai-sampai Kyai Hasyim Asy’ari pendiri NU pun melarang amalan Rebo Pungkasan itu. Lihat ini : Syaikh Hasyim Asya’ari Pendiri NU Melarang Shalat Rebo Wekasan dan Shalat Hadiah

(Sekarang ini, tengah saya tulis artikel ringan ini, terdengar ada ibu-ibu dari masjid itu mengumumkan agar para ibu hadir untuk shalat Rebo Kasan untuk menolak bala’).

Dengan adanya masjid ini dipakai oleh ibu-ibu waktu isya’ tersebut, maka kaum laki-laki tidak bisa shalat berjmaaah di situ, tidak memadai. Nah, benarlah. Nyata benar. Satu bid’ah dilakukan, satu sunnah hilang.

Saya pun berbalik arah menuju ke masjid yang sejatinya untuk malam ini saya hindari karena ada masalah itu tadi. Dalam perjalanan, saya teringat keadaan yang baru saja dan masih menimpa serta harus diselesaikan. Sebenarnya ini tidak enak pula dibilang, tapi ya tidak apalah, yaitu situs dakwah yang saya pimpin lagi diblokir.

Sampailah saya di masjid yang dituju. Benarlah, ya Allah, bagaimana lagi, saya ke masjid malam ini untuk ikut imam yang ini benar-benar terpaksa ya Allah. Karena kalau saya ke masjid yang lain lagi, saya juga tahu bahwa yang diusung pemukanya yang mengimami tidak lebih ringan. Bahkan pernah 25-an tahun yang lalu ada ayam disembelih di bawah kran pancuran air depan rumah saya tempat saya wudhu. Untuk apa, ayam disembelih di situ. Ternyata untuk memenuhi perintah setan lewat orang sakit yang sedang ngomnyang (berbicara ngaco tanpa sadar). Siapa penyembelihnya? Ya, ternyata yang jadi imam di masjid yang terakhir saya gambarkan ini (bukan yang saya terpaksa ikut shalat isya’ tadi malam). Hingga pernah ketika saya dan dua anak saya ke masjid yang biasa kami datangi ternyata dia jadi imam, maka buru-buru saya mengajak anak saya naik ke tingkat atas untuk tidak ikut.
Ya Allah, kejadian begini ini entah sudah berapa kali, aku lupa. Dan aku harus segera ke masjid lain. Tetapi yang malam Rabu ini rupanya yang lebih kompleks, karena ditambah dengan diblokirnya situs dakwah yang saya pimpin itu tadi.

Ya Allah, sebenarnya saya ini hidup di mana. Di Jakarta, yang ketika saya qadarullah pernah terbang dari Eropa pun diberi halal food karena Jakarta/ Indonesia ditengarai sebagai negeri Muslim, atau kini sudah beda?
Astaghfirullaahal ‘adhiim… laa haula walaa quwwata illaa billaaahil ‘aliyyil ‘adhiim.

Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)