Al-Haq Aliran Sesat, Disinyalir Nama Lain NII KW 9 Al-Zaytun

Kuat dugaan wanita-wanita yang hingga kemarin (8/4), belum pulang itu terlibat kelompok Al-Haq.

Pengajian Al-Haq dilaksanakan tertutup, mengajarkan Al-Qur’an hanya yang dianggap mendukung alirannya, tidak secara komplit, bahkan tidak percaya hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Para orang tua kehilangan gadisnya yang mengikuti pengajian Al-Haq itu di Sumatera Utara. Karean para gadis itu kemudian hilang dan tidak pulang.

Al Chaidar mantan aktivis NII dikutip situs harian sumut pos mengatakan, Al-Haq adalah nama lain dari NII KW 9 Al Zaitun. Selain Al-Haq, NII KW 9 ini punya berbagai nama seperti Islam Suci, Islam Kafah, atau Alquran Suci.

Inilah berita selengkapnya:

MUI Sumut: Al-Haq Menyimpang

07:49 | Friday, 9 April 2010

Wanita yang Kabur dari Rumah Bukan Teroris

MEDAN- Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut, Dr Ramlan Yusuf Rangkuti MA mengatakan, ajaran Al Haq ditemukan ada penyimpangan-penyimpangan.

“Salah satu ajaran yang kami anggap menyimpang adalah mereka mengajarkan ajaran-ajaran atau ilmu agama berupa pengajian-pengajiannya secara tertutup,” kata Rangkuti.

Menurutnya, pengajian itu tertutup antara jamaah satu ke yang lain. “Berdasarkan ajaran yang dikembangkan oleh Islam, bahwa ilmu yang diajarkan tidak boleh tertutup harus diajarkan pada orang,” tukasnya.

Aliran yang diajarkan  pengajian Al Haq itu tidak boleh dikembangkan pada orang lain, bahkan pada sesama pengajian. Pengajian ini juga melarang jamaahnya untuk menceritakan pada orang di dalam rumah (keluarga) baik pada saudara ataupun pada orangtua.

“Apabila orangtua atau keluarga jamaah mencoba menghalang-halangi pengajian ini wajib diperangi. Tentu ajaran ini bertentangan dengan aliran Islam. Aliran pengajian ini juga tidak mengajarkan ayat-ayat Al Quran secara kaffah atau keseluruhan,” katanya. Parahnya lagi pengajian Al Haq hanya percaya pada Al Quran, namun pada hadits tidak. MUI Sumut cukup kesulitan untuk melakukan pembinaan karena pengajian Al Haq tertutup. ‘’ Saat ini kita sudah melakukan koordinasi dengan pihak Polda Sumut. Saat ini kita belum ada menemukan data-data yang pasti tentang ajaran yang sama dengan pengajian Al Haq,”tukasnya.

Menurutnya, jamaah Al Haq pernah mendatangi MUI Sumut memperotes fatwa yang dikeluarkan oleh MUI. ‘’ Jemaah itu mendatangi kita sembari memukul-mukul meja.Bukan itu saja mereka juga menghina MUI,”paparnya.

Seperti diketahui, Bachtiar, salah satu orangtua yang melaporkan kehilangan anak perempuan sempat mengatakan sebelum menghilang anaknya bernama Nurhidayah pamit ke Langsa Aceh Timur untuk mengajar. Bachtiar sempat membawa pulang Nurhidayah, namun hanya satu bulan, Nurhidayah kembali pergi dari rumah dan hingga saat ini belum ditemukan. Saat di rumah, menurut Bachtiar, Nurhidayah pernah menceritakan aktivitasnya selama di Langsa, seperti berjualan dan ikut pengajian Al-Haq.

Sementara kaburnya wanita di Kota Medan dan Sumut kecil kemungkinan direkrut oleh kelompok teroris di Aceh. Kuat dugaan wanita-wanita yang hingga kemarin (8/4), belum pulang itu terlibat kelompok Al-Haq,

“Itu tidak terkait terorisme,” ujar pengamat terorisme Al Chaidar. Menurut mantan aktivis NII ini, Al-Haq adalah nama lain dari NII KW 9 Al Zaitun. Selain Al-Haq NII KW 9 ini punya berbagai nama seperti Islam Suci, Islam Kafah, atau Alquran Suci.

Al Chaidar menyatakan polisi sebenarnya bisa dengan mudah melacak mereka, namun gerakan ini tidak bisa diberangus karena dipelihara oleh pihak intelijen.

“Sebenarnya buatan pemerintah. Ini sebagai syok terapi saja, supaya orang yang mau negara Islam itu kapok, trauma, jera.Mereka (korban) kan kesal jadi supaya orang tidak ikut NII yang asli. Setiap ada dakwah negara Islam akhirnya mereka kapok,” kata Al Chaidar. Gerakan intelijen seperti itu menurut Al Chaidar adalah hak negara untuk mempertahankan NKRI.

Kelompok Al-Haq ini nampaknya sedang berkembang termasuk di Aceh dan Medan. Belum lama ini, kata Al Chaidar, dirinya dihubungi oleh orangtua korban kelompok ini yang mengeluh anaknya banyak mencuri perhiasan dan barang berharga lain di rumah, karena terlibat kelompok ini.

Sebab itu dia menduga, para remaja putri yang hilang ini juga hanya dijadikan alat untuk mengumpulkan dana bagi kelompok mereka. “Mereka dikumpulkan diindroktinasi. Ujung-ujungnya duit. Paling mereka dimintai uang, disuruh mencari dengan mencuri,” jelas Al Chaidar.
Demikian, menurut Al Chaidar bila korban berhasil ditemukan dan dibawa kembali oleh keluarga, maka mereka harus mendapat terapi dan konsultasi untuk disembuhkan. “Mereka pasti mengalami gangguan psikologi, bisa jadi sampai gila,” ujarnya. (rud/net/jpnn) http://www.hariansumutpos.com/2010/04/mui-sumut-al-haq-menyimpang.html

Masih ada pula penjelasan MUI Sumut tentang kasus wanita hilang, aliran sesat Al-Haq dan lainnya sebagaimana diberitakan berikut ini:

Perempuan Berjilbab Menghilang

MUI Sumut: Aliran Al Haq Sesat

Kamis, 8 April 201011:43 wib

MEDAN – Terkait kasus hilangnya sejumlah perempuan muda yang mengenakan jilbab di Medan, Sumatera Utara, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut telah menyatakan bahwa aliran Al Haq yang diduga diikuti 38 perempuan muda yang hilang dinilai sebagai aliran sesat.

“Fatwa MUI telah tegas menyebutkan, aliran Al Haq tidak diperbolehkan berkembang di Indonesia karena ajarannya tidak sesuai dengan hakikat Alquran sebenarnya. Pada 2007, MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa Al Haq sebagai aliran sesat,” ujar Ketua Komisi Fatwa MUI Sumut Ramlan Yusuf Rangkuti di Medan, Kamis (8/4/2010).

Aliran kepercayaan Al-Haq dinyatakan sesat karena tidak mengajarkan Alquran secara harfiah dan menyeluruh. Bahkan, aliran Al Haq menuntut pengikutnya untuk memutuskan hubungan dengan keluarga masing-masing yang tidak satu aliran.

Ditambahkan Ramlan, kasus serupa juga pernah ditemukan pada 2007 di Pematangsiantar untuk pertama kalinya. Saat itu, dua perempuan menjadi korban, yakni Novriani (23) dan Nurlia Sasti (21) yang merupakan warga Jalan Rajawali, Pematangsiantar. Sejak saat itu, MUI mengeluarkan fatwa Al Haq sebagai aliran sesat.

Selain itu, pihaknya juga mengeluarkan fatwa sesat terhadap aliran Soul Training di Kabupaten Deli Serdang dan aliran Babur Ridho di Marelan, Medan, pada 2006. Kedua aliran ini dinilai sesat karena melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad, rasul serta ulama.

Selain itu, aliran tersebut tidak percaya kepada hadits meskipun masih percaya kepada Alquran. Mereka juga mengurangi atau mengganti beberapa lafal ayat Alquran berdasarkan keinginan mereka.

“Aliran sesat memang sejak lama mengancam kehidupan beragama di tanah air. Karena itu, MUI mengimbau masyarakat agar berhati-hati dengan kelompok-kelompok yang menyimpang dari kebiasaan umum,” pungkasnya.

(teb) sumber: okezone

Kenapa aliran sesat muncul di sana-sini, agaknya apa yang dikemukakan Al Chaidar mantan NII perlu dicermati, apakah memang gejalanya seperti berita ini:

Al Chaidar menyatakan polisi sebenarnya bisa dengan mudah melacak mereka, namun gerakan ini tidak bisa diberangus karena dipelihara oleh pihak intelijen. (hariansumutpos.com, 07:49 | Friday, 9 April 2010). (nahimunkar.com).