Al-Qur’an Bilang Teladani Rasulullah, Zaenuddin MZ Bilang Teladani Mbah Maridjan

Masyarakat mungkin masih hafal sebagian ungkapan Zaenuddin MZ yang pernah dijuluki da’I sejuta umat dalam hal penyelisihan sikap orang terhadap Al-Qur’an, kurang lebihnya, ZMZ itu bilang; Al-Qur’an bilang ke utara, orang bilang ke selatan.

Pengibaratan itu mudah sekali difahami masyarakat, sehingga dia menjadi da’I yang terkenal. Tetapi apa hendak di kata, ketika apa yang dia tunjuki untuk masyarakat itu dia kacaukan sendiri. Di antaranya, Al-Qur’an jelas menegaskan uswah hasanah (teladan yang baik) itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan para pengikutnya yang setia. Namun ZMZ justru menyuara untuk meneladani Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi yang bertugas memimpin upacara labuh sesaji (upacara kemusyrikan, dosa paling besar dan dapat membatalkan keislaman) untuk roh Kyai Sapu jagat dan lainnya yang dipercayai secara batil sebagai penunggu Gunung merapi dan diyakini sebagai yang menjaga keselamatan Yogyakarta. Ini sangat-sangat batil.

Ini jelas-jelas lebih buruk dibanding ungkapan Al-Qur’an bilang ngalor, orang bilang ngidul. Karena Rasulullah adalah utusan Allah Ta’ala, bahkan sayyidul mursalin, penghulu para Rasul. Sedangkan Mbah Maridjan adalah pemimpin labuh sesaji untuk syetan.

Ayat tentang pentingnya meneladani Rasulullah dalam Al-Qur’an, sebagai berikut:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا [الأحزاب/21]

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al-Ahzab/ 33: 21).

Di samping itu Allah juga mengungkap Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sebagai teladan:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ [الممتحنة/4]

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”

[1470]. Nabi Ibrahim pernah memintakan ampunan bagi bapaknya yang musyrik kepada Allah : Ini tidak boleh ditiru, karena Allah tidak membenarkan orang mukmin memintakan ampunan untuk orang-orang kafir (lihat surat An Nisa ayat 48).

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salllam dan Nabi Ibrahim alaihis salam itulah yang dalam Al-Qur’an disebut suri tauladan yang baik bagimu. Tetapi tahu-tahu ada da’I kondang yang justru bersuara lain, yakni untuk meneladani Mbah Maridjan.

Inilah beritanya:

NASIONAL – TOKOH

Senin, 01 November 2010 , 06:17:00

Zainuddin M.Z. Teladani Mbah Marijan

DI mata KH Zainuddin M.Z., kuncen (juru kunci) Gunung Merapi almarhum Mbah Marijan merupakan sosok yang langka dan patut diteladani. Zainuddin beralasan, konsistensi dan keikhlasan Mbah Marijan dalam menjalani profesinya tergolong sangat jarang bisa dilakoni banyak orang.


“Saya salut dengan Mbah Marijan. Loyalitas dan integritasnya dalam menjalankan amanah patut diteladani. Sungguh mahluk yang langka di Indonesia,” kata mantan ketua umum DPP Partai Bintang Reformasi (PBR) tersebut ketika menunggu penerbangan ke Jogjakarta di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, kemarin (31/10).

Tokoh kelahiran Jakarta, 2 Maret 1951, itu mengatakan, sebenarnya dirinya ingin berceramah di masjid Mbah Marijan (masjid di seberang rumah Mbah Marijan di Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Red). Keinginan tersebut belum bisa terwujud selama ini.

Pemilik nama lengkap Zainuddin Muhammad Zein itu mengatakan, kedatangannya ke Jogja kali ini merupakan bentuk apresiasi kepada para korban Merapi dan almarhum Mbah Marijan. “Saya rela menunggu di bandara karena Garuda delay hingga lima jam. Sebab, bagaimanapun, ini dilakukan demi masyarakat Jogja yang sedang berduka,” ujar pria yang dijuluki dai sejuta umat itu.

Pria yang digosipkan pernah menjalin hubungan asmara dengan pedangdut Aida Zaskia tersebut mengatakan tidak masalah jika harus berceramah dengan menggunakan masker. Hal itu disebabkan abu vulkanis dalam volume besar menutupi daerah di sekitar kawasan Merapi. “Ini pengalaman pertama kalau harus ngasih ceramah pakai masker,” candanya. (dms/c8/dwi)

http://www.jpnn.com/read/2010/11/01/75964/Zainuddin-M.Z.-Teladani-Mbah-Marijan-

Demikianlah kekaguman ZMZ terhadap Mbah maridjan, hingga dia harapkan untuk diteladani. Padahal, apa kiprah Mbah Maridjan itu? Inilah kiprahnya:

Mbah Maridjan Tak Bisa Iringi Labuhan Ageng di Gunung Merapi

Selasa, 13 Juli 2010 09:00:00

SLEMAN (KRjogja.com) – Labuhan Gunung Merapi tahun ini bertepatan dengan Tahun Dal, sehingga pelaksanaannya pun berbeda dengan tahun-tahun lainnya. Sayangnya, pada Labuhan Ageng ini, juru kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo (Mbah Maridjan) tidak bisa mengiringi perjalanan Labuhan menuju Kendit 2, karena kondisinya belum pulih.

Pemimpin ritual labuhan yang juga putra ke-3 Mbah Maridjan, Asih mengatakan jika ayahnya sudah 2 tahun ini tidak mengikuti prosesi labuhan hingga usai. “Sejak operasi Hernia, bapak memang sudah tidak kuat untuk perjalanan jauh. Selain itu, usianya juga sudah sepuh,” terangnya sebelum prosesi upacara, Selasa (13/7) pagi.

Meski tanpa diikuti oleh juru kunci, namun prosesi labuhan sendiri tetap berjalan dengan khidmat. Asih menyatakan, labuhan ini merupakan hajat dari Ngarso Dalem HB X yang dilakukan tiap 1 Ruwah atau 30 Rajab. “Kami dari keluarga juru kunci Gunung Merapi serta para abdi dalem yang ada disini hanya menjalankan perintah kraton. Tujuannya tak lain untuk menjaga keselamatan warga Yogyakarta dan sekitarnya,” imbuhnya.

Karena pada tahun ini merupakan Labuhan Ageng, maka prosesinya pun juga berbeda pada tahun sebelumnya. Jika biasanya labuhan hanya dilakukan di Pantai Parangkusumo dan Gunung Merapi, maka kali ini juga dilakukan di perbukitan Ndlipih Wonogiri.

Pantai Parangkusumo dan perbukitan Ndlipih merupakan tempat pertemuan Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul. Sementarara Gunung Merapi merupakan salah satu unsur pengadeg atau kekuatan Mataram, yakni Laut Selatan-Keraton-Merapi.

Selain itu, yang membedakan pada Labuhan Ageng ini yakni pada uba rampe sesaji yang dilabuh. Pada labuhan biasanya sesaji tersebut berupa kain Sinjang Kawung, Semekan Gadung, Semekan Gadung Melati dan Destar Dara Muluk. Sedangkan pada Labuhan Ageng ditambah dengan pelana kuda.

“Asal mula labuhan ini juga sangat panjang. Terjadi pada masa Kerajaan Mataram dan berkaitan dengan Kyai Sapu Jagad, Empu Rama, Empu Ramadi, Krincing Wesi, dan para penjaga Gunung Merapi yang lain. Ini sudah menjadi budaya leluhur Kraton Ngayogyakarta untuk terus dilakukan,” papar Asih.

Sementara prosesinya sudah dimulai Senin (12/7) kemarin. Yakni penyerahan uba rampe dari Keraton menuju rumah Mbah Maridjan yang melewati Kecamatan Depok dan Cangkringan. Sesampainya di rumah juru kunci Gunung Merapi, uba rampe sesaji tersebut disambut dengan pawai oleh masyarakat setempat. Kemudian diinapkan selama satu malam dengan tirakatan, selamatan serta wayangan dengan lakon ‘Wahyu Makuto Romo’.

Baru pada pagi hari tadi sekitar pukul 06.00 WIB dilakukan doa yang dipimpin oleh Mbah Maridjan kemudian uba rampe sesaji dibawa menuju Kendit 2. Jarak dari rumah Mbah Maridjan menuju Kendit 2 kurang lebih 8 km dengan waktu tempuh selama 2 jam. Sesampai disana, sesaji digelar dan diberi doa-doa sebagai puncak labuhan. (Dhi)

http://www.krjogja.com/news/detail/41075/Mbah.Maridjan.Tak.Bisa.Iringi.Labuhan.Ageng.di.Gunung.Merapi.html

Ketika masih aktif, Mbah Maridjan yang langsung memimpin upacara sesaji untuk Thaghut (syetan, apa saja yang disembah selain Allah Ta’ala). Inilah beritanya yang lebih njelas:

16-Aug-2007

RAGAM

Mbah Marijan Pimpin Labuhan Jumenengan HB X

indosiar.com, Yogyakarta – Juru Kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan Rabu (15/08/07) kemarin, memimpin prosesi labuhan hajat dhalem Keraton Kasultanan Yogyakarta dikawasan lereng Gunung Merapi.

Labuhan tersebut digelar sebagai bentuk penghormatan kepada Kyai Sapu Jagat yang diyakini sebagai roh penunggu Gunung Merapi yang menjaga keselamatan dan ketentraman warga Yogyakarta.

Labuhan yang digelar Rabu kemarin atau bertepatan dengan tanggal 1 Ruwah, Tahun Komariah diawali dari kampung Juru Kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan di Dusun Kinah Rejo, Umbulharjo, Cangkringan.

Para peserta berjalan kaki menyusuri lereng Merapi dengan membawa berbagai perlengkapan sesaji. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, Mbah Maridjan beserta rombongan sampai di pos pendakian kedua atau Bukit Kendit sebagai tempat labuhan. Setelah melakukan doa bersama, prosesi dilanjutkan dengan acara selamatan yang kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat.

Ditempat ini mereka disuguhi tari-tarian. Tradisi Labuhan Merapi ini merupakan bentuk penghormatan kepada Kyai Sapu Jagat yang diyakini sebagai roh penunggu Gunung Merapi yang menjaga keselamatan dan ketentraman Kesultanan serta warga Yogyakarta. (Sudaryono/Sup)

Sumber: indosiar.com

Itu Upacara Kemusyrikan

Upacara dengan aneka rangkaiannya untuk menghormnati roh yang dianggap sebagai penjaga keselamatan itu adalah bentuk syirik atau kemusyrikan, dosa paling besar dan dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Pelakunya disebut musyrik. Berikut ini penjelasannya:

orang yang menyembah selain Allah adalah orang paling sesat sejagad raya. Allah ta’ala berfirman,


وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَومِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُ وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاء وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru kepada sesembahan-sesembahan selain Allah, sesuatu yang jelas-jelas tidak dapat mengabulkan doa hingga hari kiamat, dan sesembahan itu juga lalai dari doa yang mereka panjatkan. Dan apabila umat manusia nanti dikumupulkan (pada hari kiamat) maka sesembahan-sesembahan itu justru akan menjadi musuh serta mengingkari peribadatan yang dilakukan oleh para pemujanya.” (QS. Al Ahqaf: 5-6)

dosa kesyirikan akan menghapuskan semua pahala amal shalih, betapapun banyak amal tersebut. Allah ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada para Nabi sebelum engkau, ‘Jika kamu berbuat syirik maka pastilah seluruh amalmu akan lenyap terhapus dan kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)

Allah mengharamkan surga dimasuki oleh orang yang berbuat syirik. Allah ta’ala berfirman,


إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang zhalim tersebut.” (QS. Al Maa’idah: 72)

Apa Syirik Itu?

Syirik adalah bahaya yang sangat serius, bagaikan virus ganas yang bisa mengganggu kesehatan iman.Imam Ahmad bin Hajar Ali Buthami, seorang ulama dari kalangan madzhab Syafi’iyah, mengingatkan bahwa iman itu bercabang-cabang, demikian juga dengan kekafiran dan kemusyrikan. Orang yang menjalankan cabang-cabang iman sekaligus tersangkut cabang-cabang kemusyrikan, bisa disebut musyrik. Iman seseorang tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila hanya separuh-separuh; separuh iman, separuh kafir. Ia wajib tunduk seraya meyakini terhadap apa yang disebutkan dalam al-Qur’an dan dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengamalkannya. Orang yang beriman kepada sebagian ajaran al-Qur’an dan tidak beriman kepada sebagian yang lain, termasuk orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan tentang orang-orang seperti ini,

وَيَقُوْلُوْنَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيْدُوْنَ أَنْ يَتَّخِذُوْا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيْلاً

“Orang-orang kafir itu mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain), serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman dan kafir).” (An-Nisa: 150)

Sekadar mengucapkan dua kalimat syahadat, masih menurut Ahmad bin Hajar, tidak akan berguna hingga mau mengamalkan tuntutan yang terkandung dalam dua kalimat syahadat, yaitu melepaskan diri dari menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’alasaja. Namun, beliau mengingatkan, agar tidak terburu-buru menuduh seseorang yang melakukan tindakan syirik sebagai kafir atau musyrik, sebelum menjelaskan kepadanya tentang kekeliruannya tersebut. Barangkali orang tersebut tidak memahami masalah tersebut karena kebodohannya. Apabila sudah dijelaskan tentang masalah syirik, tetapi tetap menjalankannya, maka barulah bisa disebut sebagai musyrik. (Bayanu al-Syirk wa Wasa-iluhu ‘inda Ulama al-Syafi’iyah karya Dr. Muhammad Abdurrahman al-Khumais)

(nahimunkar.com).