Alhamdulillah, Tempat Hiburan Malam Wajib Tutup, yang Bandel Digaruk dan Disegel

(17 Agustus 2010 bertepatan dengan Bulan Ramadhan sebagaimana Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945).

Walikota Ambon Marcus Jacob Papilaja menginstruksikan agar tempat hiburan malam tutup total selama Ramadan.

Sementara itu sebelum memasuki bulan Ramadhan, Walikota Bekasi, Muchtar Mohamad, sudah mengeluarkan edaran Maklumat yang melarang tempat hiburan malam beroperasi selama bulan Ramadhan. Kenyataannya masih saja penyelenggara tempat maksiat itu membandel, maka diadakan razia dan penggarukan.

Inilah beritanya:

Tiga Karaoke Disegel, 26 Wanita Penghibur Digaruk

Sabtu, 14 Agustus 2010, 20:46 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI–Tiga tempat karaoke disegel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) karena tidak mematuhi aturan pelarangan buka selama bulan Ramadhan. Penyegelan itu dilakukan saat operasi gabungan antara Satpol PP, Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Kepariwisataan serta Polisi Militer Kota Bekasi, Sabtu (14/8) dinihari.

Operasi itu juga menjaring 26 wanita penghibur, serta mengamankan peralatan musik tempat hiburan yang tertangkap beroperasi di bulan Ramadhan. Razia dimulai dari Cafe dan Restoran Bekasi Soul yang berada di Kompleks Ruko Sentra Niaga Kalimas (SNK) Jalan A Yani Bekasi Selatan.

Sempat terjadi ketegangan antara petugas saat menanyakan alasan pihak pengelola masih beroperasi di bulan Ramadhan. Sebelum memasuki bulan Ramadhan, Walikota Bekasi, Muchtar Mohamad, sudah mengeluarkan edaran Maklumat yang melarang tempat hiburan malam beroperasi selama bulan Ramadhan.

Ketegangan antara petugas Satpol PP dan petugas keamanan tempat hiburan malam itu terjadi karena petugas Satpol PP berusaha memeriksa seluruh sudut ruangan yang ada di tempat hiburan itu. Karena ada dugaan pengelola mengumpulkan wanita pemandu lagu karoke di sebuah ruangan. Lalu Satpol PP melakukan penyegelan di karaoke itu.

Razia kemudian dilanjutkan ke tempat lain di karoke Casablanca di perempatan lampu merah Pekayon Bekasi Selatan. Dari tempat itu ada 13 wanita penghibur diamankan dan langsung dibawa petugas Satpol PP menggunakan truk ke kantor Pemkot Bekasi. Dan karaoke malam itu disegel dan diminta untuk tidak beroperasi sampai lebaran tiba.

Petugas bergerak ke arah Jalan Raya Alternatif tepatnya di Cafe Widia. Di tempat tersebut petugas berhasil kembali mengamankan 13 wanita penghibur yang sedang melayani para tamu. Bahkan ada salah satu dari mereka masih dalam keadaan mabuk alkohol.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bekasi, Dedi Djuanda mengatakan razia dilakukan sesuai dengan Perda dan maklumat yang dikeluarkan Wali Kota Bekasi. “Razia malam ini dilakukan di beberapa titik tempat hiburan malam dan jika ternyata ada yang belum melengkapi ijin maka bisa saja akan langsung kami tutup” ujarnya. Menurut salah satu wanita penghibur, Icha (19), hari pertama Ramadhan tempat karaoke itu sempat tutup.

Red: irf
Rep: c32

REPUBLIKA.CO.ID

Instruksi tutup total Tempat hiburan malam di Smbon, inilah beritanya:

Tempat Hiburan Malam di Ambon Tutup Total Selama Ramadan

M Hanafi Holle – detikRamadan

Jumat, 13/08/2010 13:10 WIB

Ambon – Pada tahun-tahun sebelumnya, tempat hiburan malam hanya ditutup saat siang hingga ba’da tarawih. Kali ini berbeda lantaran Walikota Ambon Marcus Jacob Papilaja menginstruksikan agar tempat hiburan malam tutup total selama Ramadan.

“Saya intruksikan semua pengelola tempat hiburan malam agar menutup usahanya ini untuk sementara menyusul bulan Ramadan. Dan ini harus diindahkan dan diwajibkan,” Kata Papilaja kepada wartawan diruang kerjanya, Jumat (14/8/2010).

Dikatakan dia, sikap saling menghormati antar umat dan saudara harus dilaksanakan. “Ini  kewajiban untuk menghormati umat Muslim yang sementara menjalankan ibadah puasa,” ujarnya.

Papilaja jua mengimbau rumah-rumah makan yang buka pada siang hari agar jangan sampai mengganggu umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. “Saya meminta pihak pengelola untuk menghormati masyarakat luas dengan bulan puasa ini,” katanya.

Pantauan detikcom di sejumlah lokasi, para pemilik tempat hiburan malam hingga hari ke-3 Ramadan memilih tutup. “Kami pilih tutup. Jangan cari gara-gara. Ini sudah kewajiban kita mematuhi aturan pemerintah. Suruh tutup,  kita tutup,” ujar pemilik tempat hiburan malam, Arsil Dg.

( han / vit ) detikRamadan

Ancaman Penyegelan bagi yang membandel di DKI Jakarta

Ancaman sanksi bagi yang membandel juga siap dilayangkan Pemda DKI Jakarta. Poskota memberitakan:

Memasuki hari pertama puasa, pembatasan operasi tempat hiburan malam diterapkan. Sediktinya 600 ribu pekerja menjadi pengangguran sementara.Sanksi tegas berupa penyegelan izin usaha siap dilayangkan bagi pengusaha yang membandel.

Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda)  No. 10 Tahun 2004 tentang Kepariwisataan  tentang penyelenggaran tempat hiburan di bulan Ramadhan, Perda No. 10 tahun 2008 tentang Perangkat Organisasi Pemerintah Daerah dan Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 98 tahun 2004 tentang Waktu Penyelenggaraan Industri Pariwisata di Jakarta, sejumlah tempat hiburan seperti diskotek, klab malam, bola tangkas dan sauna yang bukan merupakan fasilitas hotel diwajibkan tutup, sedangkan karaoke, bar dan musik hidup  diizinkan buka namun dibatasi waktunya mulai 20:30-01:30 Wib.

Kepala Dinas Pariwisata DKI, Arie Budhiman usai Rapat Muspida dalam rangka mengantisipasi situasi kamtibmas menjelang bulan Suci Ramadhan 1431 H di Balaikota DKI, Jakarta, Selasa (10/8), telah berkoordinasi pihak terkait seperti Satpol PP DKI, Polda Metro Jaya, asosiasi industri pariwisata dan ormas. “Langkah prefentif dan represif telah kami siapkan untuk mengantisipasi pelanggaran. Diantaranya dengan menyegel dan mencabut izin usaha bagi pengusaha yang melanggar aturan ini,” tegas Arie.

Dari data yang ada saat ini total industri hiburan di Jakarta terdapat 1.300 izin usaha hiburan dengan jumlah 400 lokasi di lima wilayah. Yang sebagian besar berpusat di wilayah Jakarta Barat. (poskota.co.id).

Merdeka dalam menabung dosa?

17 Agustus 2010 bertepatan dengan Bulan Ramadhan sebagaimana Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945 pada Bulan Ramadhan.

Upaya menutup tempat-tempat maksiat di Bulan Ramadhan itu tampaknya merupakan langkah yang baik. Dan lebih baik lagi bila upaya itu dilestarikan. Sehingga bait lagu wajib Indonesia Raya yang bunyinya bangunlah badannya dan bangunlah jiwanya yang selama ini disuarakan setiap 17-Agustusan di Indonesia dan seluruh kedutaan besar RI di seluruh dunia itu bukan sekadar nyanyian belaka. Kalau itu sekadar nyanyian seperti selama ini, maka pembangunan badan (fisik) dilakukan, tetapi perusakan pun dilakukan, di antaranya diizinkannya aneka tempat maksiat yang bahasanya saja dihalus-haluskan dengan nama Tempat Hiburan Malam.

Para pejabat dan para anggota dewan, baik pusat maupun daerah, mari kita ingat mati, dan menghitung-hitung dosa kita. Apa yang akan jadi bekal ketika menghadap Allah Ta’ala? Tidak lain adalah amal kita ketika masih hidup. Apabila amal itu baik, dilandasi iman yang benar, dan ikhlas lillahi Ta’ala, maka insya Allah akan bahagia kelak di akherat. Tetapi kalau amal itu kejahatan atau kemunkaran, bahkan kemunkaran yang kita adakan itu dipraktekkan dan dilanjutkan orang, maka dosanya akan tetap mengalir kepada perintisnya, misalnya yang menyetujui dan lebih-lebih yang bertanda tangan. Itu jelas. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

: “Barangsiapa yang memulai mengerjakan perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang memulai kebiasaan buruk, maka dia akan mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR Muslim – 1691).

Menyetujui ataupun menandatangani kebaikan misalnya tentang didirikannya masjid atau madrasah di sutu tempat, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Sedang yang buruk misalnya menyetujui ataupun menandatangani diizinkannya tempat maksiat misalnya panti pijat, tempat joget laki perempuan dan semacamnya yang bahasa maksiat itu diganti dengan sebutan THM (Tempat Hiburan Malam). Walaupun orang-orang yang menyetujui dan menandatangani itu sudah mati, misalnya, namun selama tempat maksiat itu masih dipakai untuk maksiat, maka dosanya tetap akan mengalir pula kepada mereka yang menyetujui dan menandatangani itu pula. Tanpa mengurangi sedikitpun dosa-dosa para pelakunya. Ini sesuai dengan ancaman hadits tersebut.

Betapa beratnya… maka berhati-hatilah wahai para manusia, hidup ini hendaknya digunakan untuk menabung pahala. Bukan malahan menabung dosa yang akan tetap mengalir sampai raga sudah di dalam kubur…

Secara penyelenggaraan Negara pun perlu diingat pula. Lagu wajib Indonesia Raya – yang di antara baitnya: bangunlah badannya dan bangunlah jiwanya– yang dilagukan secara resmi di Indonesia dan bahkan KBRI seluruh dunia pada hari ulang tahun kemerdekaan RI 17 Agustus itu apa hanya sekadar main-main, hingga diingkari sendiri setiap harinya? Ketika mereka menyetujui dan bahkan menandatangani tempat-tempat maksiat itu sebenarnya sudah mengingkar Lagu Wajib itu, karena bukan membangun jiwa bangsa tetapi justru merusaknya. Betapa hipokritnya para pengelola bangsa ini, kalau kenyataannya begitu!

Merdeka? Merdeka yang mana, kalau begitu? Merdeka dalam menabung dosa? (nahimunkar.com)