Aliran Sesat: Di Jember Mereka Bertobat, di Tangerang Muncul Baru

Aliran sesat dengan aneka bentuk dan coraknya belakangan ini bermunculan di mana-mana di wilayah Indonesia. Kadang-kadang dalam satu daerah muncul empat aliran sesat sekaligus dengan corak yang mirip-mirip. Aliran sesat yang muncul di mana-mana lebih sering terdengar dibanding yang bertobat. Namun demikian bukan berarti tidak ada yang bertobat.

Berikut ini berita tentang pengikut aliran sesat yang bertobat.

Berbodong-Bondong Pengikut Aliran Sesat di Jember Bertobat

Selasa, 02 Maret 2010 10:31

Jember (SuaraMedia News) – Sebanyak 18 pengikut aliran yang diduga sesat akhirnya bertobat dengan menandatangani surat pernyataan bersalah dan bersedia kembali ke jalan yang benar, sesuai dengan ajaran agama Islam di masjid Polres Jember, Senin siang.

Sebelum membubuhkan tanda tangan dalam surat pernyataan itu, sejumlah tokoh ulama dan pengurus organisasi masyarakat Islam seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), PCNU dan Muhammadiyah memberikan “siraman” rohani kepada pengikut aliran yang diduga sesat tersebut.

“Saya berharap, para pengikut aliran sesat sadar dan segera bertobat untuk mengikuti ajaran Islam sesuai dengan rukun Islam,” kata Ketua MUI Jember, Sahilun Nasir.

Ajaran yang dipimpin oleh Yusuf tersebut menyatakan orang Islam tidak perlu salat, puasa dan membaca kitab suci Al Quran seperti surat kabar, tidak perlu wudhu. Hal tersebut membuat masyarakat setempat resah.

Para pengikut ajaran “thoriqoh” (tarekat) itu, kata Sahilun, telah salah jalan dan tidak mengikuti ajaran agama Islam sesuai dengan rukun Islam.

“Kami sudah memberikan penjelasan terhadap para pengikut aliran sesat dan mereka bersedia untuk kembali ke jalan yang benar,” tuturnya.

Ia menjelaskan, para pengikut aliran sesat diminta untuk membaca dua kalimat syahadat secara bersama-sama dan disaksikan sejumlah perangkat desa dan ulama di masjid Polres Jember.

Secara terpisah, Kapolres Jember, AKBP Nasri, mengatakan, polisi akan mengawal kepulangan 18 orang pengikut aliran tersebut ke rumah masing-masing di Desa Lampeji, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember.

Kami ingin suasana Jember tetap kondusif dan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Sebelumnya belasan orang ini menjadi pengikut Yusuf yang menyatakan orang Islam tak perlu salat, puasa, membaca Alquran, dan berwudhu. Mereka acap menggelar pengajian di Masjid Jami Raudlatul Muttaqin, Desa Mumbulsari, Jember.

Warga yang resah kemudian mengepung Masjid Jami Raudlatul Muttaqin. Beruntung mereka lepas dari amuk massa karena polisi cepat datang ke lokasi kejadian.

“Polisi ingin memastikan 18 orang itu pulang dengan selamat karena mereka sudah bertobat dan bersedia meninggalkan ajaran sesat itu,” tuturnya. Dari berbagai sumber: www.suaramedia.com

Di wilayah lain ternyata muncul pula aliran sesat baru lagi. Inilah beritanya:

Aliran Diduga Sesat Kembali Muncul di Teluknaga Tanggerang

(wartaislam.com) TANGERANG- Polres Metro Tangerang, Banten, sedang melakukan kajian terhadap adanya aliran Perguruan Cakrabuana pimpinan H. Suhata yang diduga sesat di Kampung Kebon Cau, Kecamatan Teluknaga, Tangerang.

“Kami terus melakukan kajian terhadap pimpinan Perguruan Cakrabuana karena memang ada laporan dari warga Kebon Cau,” kata Kapolsek Teluknaga, Tangerang, AKP Amar, Selasa.

Dia mengatakan, petugas sudah meminta keterangan dari H. Suhata tentang kegiatan tersebut karena adanya laporan dari warga bahwa pimpinan perguruan itu dianggap menjalankan ajaran sesat.

Saat ini, katanya, H. Suhata masih dalam pemeriksaan petugas termasuk beberapa muridnya untuk diminta keterangan.

Pernyataan tersebut terkait adanya laporan dari Ketua Pront Umat Islam (PUI) Kecamatan Teluknaga, H. Wahyudin Toha bahwa Perguruan Cakrabuana diduga telah mengajarkan ajaran sesat kepada para pengikutnya.

Akibat laporan itu, maka polisi memanggil H. Suhata untuk diminta keterangan, namun dalam pemeriksaan diketahui bahwa Perguruan Candrabuana merupakan sebuah perkumpulan silat dan pengikutnya harus mendalami ilmu agama Islam.

Dalam pengaduan Ketua PUI itu bahwa H. Suhata diduga telah menghina umat Islam dengan cara memperlakukan kitab suci dengan cara tidak sopan.

Ketika dilakukan pemeriksaan, ratusan warga mendatangi Mapolsek setempat, namun petugas siaga untuk mengamankan H. Suhata agar tidak terjadi tindakan anarki.

Polisi juga memeriksa dua pengikut H. Suhata masing-masing Marsin (31) dan Uki (25) yang telah mengabarkan kepada Ketua PUI Teluknaga tentang adanya pelecehan terhadap agama.

Menurut Kapolsek, polisi akan menindaklanjuti masalah ini, jika memang ada unsur yang dapat membuktikan adanya pelecehan agama maka akan diproses sesuai hukum.

Namun, bila tidak pimpinan perguruan itu akan dibebaskan.

sumber : antara

http://www.wartaislam.com/2010/03/aliran-sesat-kemabli-muncul-di.html

Sejak aliran sesat yang sesatnya sangat nyata yakni Ahmadiyah diramaikan namun belum pernah ada larangan dari Pemerintah (Presiden), tampaknya justru aneka aliran sesat bermunculan di mana-mana. Nabi-nabi palsu pun bertebaran di berbagai tempat.

Apakah mereka itu menghina Islam atau menyepelekan pemerintah atau bahkan dua-duanya, perlu dikaji. Lebih dari itu, masalah aliran sesat ini kalau tidak diatasi secara tuntas maka dikhawatirkan justru semakin menggurita. (nahimunkar.com).