Aliran Sesat LDII, Ahmadiyah, dan Syi’ah Tidak Diundang Kongres Umat Islam

Tiga aliran sesat yakni LDII, Ahmadiyah, dan Syi’ah tidak diundang oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) dalam KUII (Kongres Umat Islam Indonesia) yang akan digelar di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, 7-9 Mei 2010.

Terhadap tiga aliran sesat itu MUI selama ini telah mengeluarkan fatwa ataupun rekomendasi tentang sesatnya ataupun menyimpangnya.

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat. Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Sementara itu tentang sesatnya Syi’ah, di samping ada fatwa dari MUI mengenai penyimpangannya, ada pula surat edaran Departemen Agama (kini Kementerian Agama) yaitu Surat Edaran Departemen Agama Nomor D/BA.01/4865/1983, tanggal 5 Desember 1983 perihal “Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah”

Pada poin ke-5 tentang Syi’ah Imamiyah (yang di Iran dan juga merembes ke Indonesia, red) disebutkan sejumlah perbedaannya dengan Islam. Lalu dalam Surat Edaran Departemen Agama itu dinyatakan sbb:

“Semua itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dalam ajaran Syi’ah Imamiyah pikiran tak dapat berkembang, ijtihad tidak boleh. Semuanya harus menunggu dan tergantung pada imam. Antara manusia biasa dan Imam ada gap atau jarak yang menganga lebar, yang merupakan tempat subur untuk segala macam khurafat dan takhayul yang menyimpang dari ajaran Islam.” (Surat Edaran Departemen Agama No: D/BA.01/4865/1983, Tanggal: 5 Desember 1983, Tentang: Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah, butir ke 5). (Selengkapnya dapat dilihat di nahimunkar.com, Surat Edaran Departemen Agama, 11:13 pm).

Adapun sesatnya Ahmadiyah, selain MUI telah memfatwakan sesat dan murtadnya sampai dua kali (fatwa tahun 1980 dan tahun 2005) masih pula ada SKB.

Senin 9 Juni 2008, SKB (Surat Keputusan Bersama) tentang Ahmadiyah diterbitkan. SKB itu ditandatangani Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung, memperingatkan agar JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) menghentikan penafsiran serta kegiatannya dan kembali ke ajaran Islam yang sesungguhnya, sebagaimana disampaikan Menterei Agama (yang saat itu tahun 2008) Maftuh Basyuni di hadapan wartawan.

Inilah beritanya:

Isi SKB Ahmadiyah

SKB No 3/2008, KEP-033/A/JA/6/2008, dan No 199/2008 tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota, dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat, selengkapnya berisi:

1. Memberi peringatan dan memerintahkan warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran itu.

2. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI sepanjang mengaku beragama Islam untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam, yaitu penyebaran paham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW.

3. Penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada diktum kesatu dan diktum kedua dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk organisasi dan badan hukumnya.

4. Memberi peringatan dan memerintahkan warga masyarakat untuk menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban kehidupan bermasyarakat dengan tidak melakukan perbuatan dan/atau tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI.

5. Warga masyarakat yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada diktum kesatu dan diktum keempat dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

6. Memerintahkan aparat pemerintah dan pemerintah daerah melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan Keputusan Bersama ini. (Republika online 10 Juni 2008).

Tiga aliran sesat itu tidak diundang MUI dalam KUII (Kongres Umat islam Indonesia) Mei 2010. Inilah beritanya:

LDII, Ahmadiyah, dan Syi’ah Tak Diundang Kongres Umat Islam

Tuesday, 27 April 2010 13:51

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengadakan Kongres Umat Islam. Tapi Syiah, LDII dan Ahmadiyah tak diikutserakan

Hidayatullah.com–Majelis Ulama Indonesia (MUI) memutuskan tidak mengundang sejumlah ormas bermasalah pada acara Kongres Umat Islam yang akan berlangsung 7 – 9 Mei 2010 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, nanti.

Ketua MUI, KH. Cholil Ridwan mengatakan, ormas yang tidak diundang adalah Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII), Ahmadiyah (JAI ataupun GAI), dan kalangan Syi’ah yang tergabung dalam IJABI atau organisasi serupa lainnya. Cholil Ridwan mengatakan, hal tersebut diputuskan dalam rapat pimpinan MUI yang berlangsung pada Selasa, (20/4) pekan kemarin.

Cholil menjelaskan, pada mulanya rapat steering committee Kongres Umat Islam-MUI juga tidak akan mengundang Hizbut Tahrir Indonesia, Majelis Mujahidin Indonesia, Front Pembela Islam, dan Jama’ah Ansharut Tauhid. Namun rapat pimpinan MUI memutuskan ormas-ormas tersebut jadi diundang dengan syarat mematuhi tata tertib kongres.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) memutuskan tidak mengundang sejumlah ormas bermasalah pada acara Kongres Umat Islam  “Tapi itu tidak berarti kita menyamakan ormas-ormas itu dengan LDII. (Awalnya) mereka sama-sama tidak diundang, tapi masalahnya beda, » kata Cholil Ridwan kepada  hidayatullah.com, Selasa, (27/4), pagi tadi.

Cholil mengatakan, alasan tidak diundangnya ormas-ormas tersebut bermacam-macam. Ada yang punya masalah tersendiri dengan MUI, ada yang karena dinilai terlalu keras, kepengurusan ganda, kontroversi, sampai pada masalah ajaran ormas tertentu yang menyimpang.

Menurut Cholil, ketiga ormas yang tak diundang yang tersebut di atas lebih karena adanya ajaran menyimpang dalam organisasi mereka. [sur/hidayatullah.com]

http://www.hidayatullah.com/berita/lokal/11523-ldii-ahmadiyah-dan-syiah-tak-diundang-kongres-umat-islam

Ummat Islam Indonesia yang sudah terlanjur tercebur ke aliran sesat namun kemudian belajar Islam kepada Ulama yang ahli, biasanya –dengan hidayah dari Allah Ta’ala— kemudian melepaskan diri dan keluar dari aliran sesat. Bahkan ada yang walau sudah puluhan tahun, malah sampai 26 tahun mengikuti aliran sesat, namun setelah belajar Islam kepada Ulama yang ahli, lalu faham betul kesesatannya kemudian keluar, di antara contohnya adalah Slamet bin Sandriya yang 26 tahun terperosok di kubangan aliran sesat kemudian keluar. (lihat nahimunkar.com, Keluar dari Kubangan Sesat Jamaah Galipat Burengan Kediri, 8:54 pm).

Kenyataan –bahwa bila seseorang belajar Islam kepada Ulama yang ahli kemudian faham tentang kesesatan hingga biasanya terus keluar dari aliran sesat– itu dianggap berbahaya bagi aliran sesat. Makanya sebelum hal itu terjadi, sejak semula sudah diantisipasi oleh aliran sesat. Sehingga di antara doktrin pokok aliran sesat yang ini adalah melarang jamaahnya belajar kepada Ulama atau siapa saja yang bukan dari golongannya. Bahkan membaca buku-buku selain dari golongannya pun dilarang. Doktrin itu pada dasarnya disamping penyesatan adalah sekaligus pembodohan.

Dengan demikian, keputusan MUI tidak mengundang aliran-aliran sesat dalam Kongres Umat Islam itu tepat. Karena kalau mereka diundang, maka sama dengan diberi peluang untuk menjadikan MUI sebagai tameng aliran sesat ketika memangsa Ummat Islam hingga mereka leluasa dalam aksi penyesatan dan pembodohan. (nahimunkar.com).