surya dharma

Ilustrasi: Menteri Agama Suryadharma Ali didampingi Ketua Umum DPP LDII Abdullah Syam/ foto antara

Kesesatan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang berusaha ditutup-tutupi oleh pengikutnya, terus dibongkar oleh mujahid dakwah anti kesesatan. Meski gerakan anti kesesatan khususnya kesesatan LDII terus digelindingkan, namun masih saja kita temukan fakta bahwa sejumlah orang penting runtang-runtung dengan LDII.

 Orang-orang penting ini, ada yang memang sengaja runtang-runtung dengan LDII karena ia pendukung aneka kesesatan akidah sekaligus dalam rangka menghimpun kekayaan ataupun kepentingan ambisinya, namun ada juga yang karena ketidak-tahuannya bahwa LDII adalah sesat.

 Salah satu orang penting yang diduga awam dengan kesesatan LDII adalah Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta. Pada hari Kamis tanggal 28 Maret 2013 lalu, Joko Widodo menghadiri pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi DKI.

 Dengan gaya pejabat yang khas, yaitu awam alias ora mudheng tapi punya naluri ingin memanfaatkan LDII mensosialisasikan program yang sedang dijalankan pemprov DKI, Joko Widodo mengatakan, LDII merupakan lembaga dakwah yang tersebar luas di wilayah Jakarta, sehingga akan sangat membantu dalam meyakinkan warga agar mau pindah dari bantaran sungai yang akan dinormalisasi.

 Keawaman Joko Widodo soal kesesatan LDII sepertinya telah dimanfaatkan oleh pentolan-pentolan LDII untuk menghadirkan sang Gubernur pada pembukaan Rakerwil LDII Provinsi DKI tadi.

 Hal ini mungkin saja terjadi, karena LDII gemar ‘menghargai’ dan ‘menyegani’ orang-orang yang dianggapnya penting dan bisa mempengaruhi orang-orang penting lainnya. Patut diduga yang berhasil dihargai dan disegani oleh LDII dalam kaitan ini adalah orang-orang di sekitar Gubernur DKI, sehingga mereka tutup mata terhadap kesesatan LDII, dan membiarkan atasannya menghadiri acara LDII yang dinyatakan sesat dan menyesatkan.

 Sosok penting lain yang diduga awam soal kesesatan LDII sehingga mudah dihadirkan dalam acara LDII adalah Wamenkum HAM  Denny Indrayana. Pada hari Selasa tanggal 6 Maret 2012, Denny menjadi salah satu pembicara dalam acara Diskusi Kebangsaan Menumbuhkan Kesadaran KAM dan Mewujudkan HAM yang Berkeadilan. Diskusi tersebut berlangsung di kantor DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Jalan Tentara Pelajar, Jakarta.

 Masih ada lagi, yaitu Wakil Presiden RI Boediono. Pada hari Kamis tanggal 12 April 2012, Boediono yang ora mudheng ini menghadiri penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LDII 2012 di Botani Square, Bogor, Jawa Barat.

 Dari sekelumit fakta di atas, terkesan bahwa praktik menghargai dan menyegani orang penting di Republik Indonesia yang dilakoni LDII, terbentang luas, dari tingkat Gubernur, Menteri, bahkan Presiden dan Wakil Presiden.

 LDII sebagai lembaga kesesatan juga cenderung proaktif mendekatkan diri kepada orang-orang penting, memanfaatkan momen-momen penting, sehingga keberadaan dan kiprahnya mendapat publisitas gratis dari media massa. Salah satunya, ketika media massa ramai membicarakan pengunduran diri Andi Mallarangeng dari jabatannya sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga.

 Pada Ahad sore tanggal 09 Desember 2012, Ketua DPP Umum LDII Abdullah Syam mendatangi kediaman pribadi Andi Mallarangeng di Jalan Raya Setu Gg Suralaya No.3 Cilangkap Jakarta Timur.

 Kedatangan gembong kesesatan LDII pasca pengunduran diri Andi Mallarangeng yang diduga terlibat kasus korupsi Hambalang ini, dikilahi dengan alasan untuk mendoakan Andi Mallarangeng agar tabah dan sabar menghadapi cobaan. Begitulah bila dua kebathilan berinteraksi, mereka saling menguatkan dan mendoakan.

 Disejajarkan dengan pelacur, doanya tidak diijabahi

Di dalam hadits ada yang disebut sebagai ’assyaar عَشَّارًا (pemungut persepuluhan harta orang tidak sesuai syari’at). Sebagaimana para pentolan Islam Jama’ah atau 354 (aliran sesat yang ganti-ganti nama didirikan oleh mendiang Nur Hasan Ubaidah Madigol), do’anya tidak diijabahi. Karena mereka adalah tergolong orang-orang yang ditolak doanya, karena sebagai ‘assyaar (pemungut persepuluhan harta orang tidak sesuai syari’at). Hal itu termasuk dalam ancaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ نِصْفَ اللَّيْلِ فَيُنَادِي مُنَادٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَهُ ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى ؟ هَلْ مِنْ مَكْرُوبٍ فَيُفَرَّجُ عَنْهُ ؟ فَلَا يَبْقَى مُسْلِمٌ يَدْعُو دَعْوَةً إلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ إلَّا زَانِيَةً تَسْعَى بِفَرْجِهَا أَوْ عَشَّارًا } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ صحيح الترغيب والترهيب – (ج 2 / ص 305) 2391 – ( صحيح)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pintu-pintu langit dibuka tengah malam maka pemanggil menyeru, adakah yang berdoa, maka (pasti) diijabahi baginya. Adakah yang meminta, maka (pasti) diberi. Adakah yang dirundung keruwetn, maka (pasti) dilapangkan darinya. Maka tidak tersisa seorang muslim pun yang berdoa dengan suatu doa kecuali Allah ‘Azza wa Jalla mengabulkan baginya kecuali wanita pezina (pelacur) yang berusaha dengan farjinya (kemaluannya) atau pemungut (harta orang) persepuluhan. (HR Ahmad dan At-Thabarani, lafal ini bagi At-Thabrani, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib nomor 2391).

Nah, para pentolan Islam Jama’ah atau kode kelompok itu 354 (lihat kalau ada warung-warung dan sebagainya ada kode 354 berarti kelompok mereka) dengan jajarannya itu tiap bulannya memungut “persenan” sepersepuluh harta tiap orang yang dianggap sebagai jamaahnya. Bahkan kalau waktu-waktu tertentu seperti menjelang lebaran, khabarnya pemungutan pun bertambah tinggi. Apakah bukan عَشَّارًا yang doanya tertolak dan disejajarkan dengan pelacur, mereka itu?

Pihak yang lain, memungutnya mungkin sampai 15 persenan. Lebih mantap lagi dhalimnya. Dan itulah sumber utama (70-an persen) uang belanja negeri yang banyak koruptornya ini. Makanya sumber itu dari mana, perlu kita sadari benar karena memang dari sana, yaitu dari yang telah sangat dikecam dan diancam oleh Allah Ta’ala lewat Nabi-Nya yang mulia.

Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecam sedemikian, tidak lain karena harta orang Muslim itu dilindungi, dan tidak boleh diambil tanpa hak. Dalilnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil….”[An-Nisa : 29]

Dalam ayat diatas Allah melarang hamba-Nya saling memakan harta sesamanya dengan jalan yang tidak dibenarkan. Dan pajak adalah salah satu jalan yang batil untuk memakan harta sesamanya.

Dalam sebuah hadits yang shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

“Tidak halal harta seseorang muslim kecuali dengan kerelaan dari pemiliknya” (HR Abu Daud dan Al-Baihaqi, Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Jami’ush Shagir 7662, dan dalam Irwa’al Ghalil 1761 dan 1459. (lihat Abu Ibrahim Muhammad Ali, Pajak dalam Islam, Majalah Al-Furqon, Edisi I, Tahun VI/Sya’ban 1427/2006.)

Ketika kita menyadari bahwa negeri ini untuk menggaji pelaksananya terutama para orang pentingnya adalah disedot dari penduduk yang mayoritas Muslim. Hingga 70 persen belanja negeri ini dari uang yang dalam hadits dikecam itu.

Secara jalur perhitungan habitat, orang-orang penting itu ketika makannya memang dari uang sedotan, sebagaimana para pentolan aliran sesat LDII itu juga makannya dari uang sedotan dari jamaahnya yang disebut persenan, yang dalam hadits tersebut sampai diancam doanya tidak dikabulkan dan disejajarkan dengan pelacur; maka bila saling bertemu ya memang bisa klop, karena seakan sejalur. Maka sampai yang tertuduh korupsi pun tetap didatangi bahkan didoakan. Kalau demikian, dapatkah diibaratkan lalat mendatangi bangkai bukannya risih tapi malah merasa nikmat? Wallahu a’lam.

(haji/tede/nahimunkar.com)