Aliran Sesat Sabdo Kusumo di Kudus Masih “Dibiarkan”?

(Di Indonesia, yang sesat-sesat bertemu dengan yang tidak dipercaya masyarakat)

Aliran sesat Sabdo Kusumo di Kudus Jawa Tengah masih “dibiarkan”? Walau sudah difatwakan sesat oleh MUI Kudus, namun tampaknya belum ada kejelasan tindakan terhadap pengaku Rasul dan pengganti syahadat itu. Hingga masyarakat tampaknya seolah “biar dulu” ramai, tersebar sms (pesan singkat lewat telepon genggam) dan sebagainya.

Cara-cara usang semacam ini rupanya menjadi salah satu trik dalam “memelihara” aliran-aliran sesat di Indonesia. Kapan-kapan kalau ada isu yang dipandang gawat, maka “peliharaan” semacam itu bisa dijadikan bahan untuk mengalihkan berita dan sebagainya, agar perhatian ummat Islam tergeser kepadanya.

Dugaan semacam ini karena kenyataan yang ada selama ini, sampai MUI dan Ormas-ormas Islam meminta kepada pemerintah untuk membubarkan aliran sesat Ahmadiyah yang memalsu Islam dengan memiliki nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad, ternyata tuntutan itu kandas. Tapi kadang kemudian ada berita-berita tentang masjid Ahmadiyah dibakar, rumah warga Ahmadiyah dirusak, dan sebagainya.

Negeri-negeri Muslim sebenarnya telah banyak yang melarang Ahmadiyah, dan tidak ada resiko dan tak takut resiko. Sedang dari pusat peribadahan Islam sedunia, Makkah, telah ditegaskan bahwa Ahmadiyah itu kafir, di luar Islam, dan pengikutnya murtad. Itu sebagaimana fatwa MUI 1981 dan 2005. (Lihat buku Kyai Kok Bergelimang Kemusyrikan, Pustaka Nahi Munkar, Jakarta, 2008). Tetapi sikap Indonesia? Tidak menggubris tuntutan MUI, ulama, dan para tokoh Ormas Islam.Padahal masalah ini adalah tentang pemalsuan yang sangat besar, memalsu Islam. Yakni mengaku Islam tetapi punya nabi baru tersendiri. Ini masalah sangat besar. Sedangkan orang hanya memalsu merk dagang saja, misalnya, ketika dituntut maka diadili dan dikenai hukuman, bisa dihukum, didenda, dan barang palsuannya disita dan dibredel.

Ini membuktikan, bahwa di negeri ini, Islam yang menjadi agama mayoritas penduduk negeri ini justru dipandang lebih kecil nilainya dibanding merk dagang.

Dari kenyataan tidak adanya tindakan hukum terhadap pemalsu Islam, maka wajarlah kalau ada dugaan, memang sengaja pemalsu-pemalsu Islam dan aliran-aliran sesat itu dipelihara, seperti dugaan di atas.

Sikap mereka yang seperti itu telah dikecam oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an:

يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ ﴿٩﴾ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ ﴿١٠﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ﴿١١﴾ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـكِن لاَّ يَشْعُرُونَ ﴿١٢﴾

009. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.010. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.011. Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”012. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-baqarah: 9, 10, 11, 12).

Kasus aliran sesat Sabdo Kusumo

Dalam kasus aliran sesat Sabdo Kusumo di Kudus, Rumah Sabdo (pemimpin aliran sesat yang mengaku Rasul) yang ada di Kauman Menara RT 01 RW I, Kecamatan Kota, Kudus, sejak Sabtu (12/13) siang hingga malam terus didatangi massa. Selain karena menganggap Sabdo sebagai penyebar aliran sesat, juga karena ada intimidasi dari jamaah Sabdo terhadap warga sekitar.

Kesesatan paling menonjol, pemimpin aliran sesat itu mengaku sebagi Rasul, hingga Syahadat yang seharusnya berbunyi `asyhadu anla ilaaha illallah waasyhadu anna Muhammadan Rasulullah`, diganti dengan “asyhadu anla ilaaha illallah waasyhadu anna Sabda Kusuma Rasululullah”.

“Selama tiga tahun mengikuti pengajian mereka, saya belum menemukan hal aneh atau ajaran yang menyimpang. Tetapi, setelah dibaiat dengan membaca kalimat syahadat yang berbeda dari ajaran Islam, saya mulai merenung dan menyesali diri hingga akhirnya menyatakan tobat,” ujar Margono yang kini bertobat dari aliran yang dinyatakan sesat oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kudus Jawa Tengah ini.

Inilah berita-beritanya:

Ganti Kalimat Syahadat, Rumah Diserbu Warga

13/12/2009 – 03:12

INILAH.COM, Kudus – Rumah Sabdo Kusumo alias Kusmanto diserbu ratusan warga. Lelaki yang nama aslinya Kusmanto itu telah menyebarkan aliran sesat. Dia mengganti kalimat kedua syahadat dan mengaku sebagai Rasul.

Rumah Sabdo yang ada di Kauman Menara RT 01 RW I, Kecamatan Kota, Kudus, sejak Sabtu (12/13) siang hingga malam terus didatangi massa. Selain karena menganggap Sabdo sebagai penyebar aliran sesat, juga karena ada intimidasi dari jamaah Sabdo terhadap warga sekitar.

Sabdo sendiri sudah dilaporkan ke Polres Kudus terkait penyebaran aliran sesat. Tapi, sampai saat ini pihak Kepolisian belum memproses kasus itu.

Hingga kemudian, warga marah karena ada SMS berbahasa Jawa, yang menyebutkan bahwa jamaah Sabdo akan menyerang orang-orang yang melaporkan Sabdo ke polisi.

Sabdo akhirnya menemui warga yang diwakili oleh beberapa orang didampingi aparat kepolisian setempat. Pada kesempatan tersebut, Sabdo Kusumo menyangkal tuduhan telah melakukan intimidasi terhadap sejumlah orang.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kudus telah mengeluarkan fatwa terhadap aliran Sabda Kusuma sebagai aliran yang sesat, karena menyimpang dari ajaran Islam.

Alasan utama dikeluarkannya fatwa yang menyatakan bahwa aliran Sabdo Kusumo sesat, karena Sabdo mengubah kalimat syahadat yang kedua menjadi: Wa asyhadu anna Sabdo Kusuma Rasulullah.[*/ims] (inilah.com)

Pengakuan orang yang bertobat. Inilah beritanya:

Pengikut Sabdo Kusumo Bertobat

By Republika Newsroom

Senin, 07 Desember 2009 pukul 05:14:00

KUDUS–Belasan pengikut aliran Sabdo Kusumo menyatakan bertobat menyusul Margono (40) salah seorang pengikut Sabdo asal Desa Karanganyar, Kabupaten Demak yang pada Jumat (4/12) menyatakan tobat secara terbuka di hadapan umum.

“Hingga pekan ini, kami mencatat ada belasan pengikut Sabdo Kusumo yang menyatakan pertobatannya,” kata perwakilan masyarakat Desa Kauman yang juga menjadi perwakilan dari tim Menara Kudus, Maesah Anggni, Minggu.

Pertobatan para pengikut Sabdo tersebut, katanya, ada yang dilakukan secara terang-terangan di hadapan masyarakat umum dan ada juga yang dilakukan secara tersembunyi dan hanya diketahui oleh beberapa orang saja.

Banyaknya pengikut Sabdo yang bertobat, memperkuat dugaan aliran Sabda Kusumo memang menyimpang dari ajaran Islam. “Selama ini, Sabdo memang menolak tuduhan tersebut, tetapi kami mulai menemukan fakta-fakta baru,” ujarnya.

Beberapa fakta baru yang diperoleh tim Menara dari beberapa pengikut Sabda yang tobat, yakni munculnya kesaksian pembaiatan dilakukan langsung oleh Sabdo Kusumo antara tahun 2000 hingga 2004.

“Pada periode tersebut, para pengikut aliran Sabdo dibaiat langsung oleh Sabdo,” ujarnya.

Pembaiatan dilakukan dengan cara menuliskan kalimat syahadat makrifat (syahadat versi Sabda yang telah diubah) di atas secarik kertas, setelah dihafalkan kemudian ditelan.

“Kami juga memiliki saksi yang menyatakan fakta tersebut, meskipun Sabdo selalu membantah tidak pernah melakukan pembaiatan dan yang memimpin setiap acara adalah Abdul Kholiq,” ujarnya.

Dalam pembaiatan yang dipimpin Sabdo, katanya, kalimat syahadat tauhid dan syahadat rasul diubah menjadi syahadat versi kelompok ini. “Syahadat yang seharusnya berbunyi `asyhadu anla ilaaha illallah waasyhadu anna Muhammadan Rasulullah`, diganti `asyhadu anla ilaaha illallah waasyhadu anna Suma Rasulullah,” ujarnya.

Setelah Suma meninggal, pembaiatan dipimpin oleh Abdul Khalik, dengan bacaan kalimat syahadat yang diganti dengan “asyhadu anla ilaaha illallah waasyhadu anna Sabda Kusuma Rasululullah”.

Sebelumnya, Margono mengatakan, jumlah pengikut Sabdo cukup banyak. “Jumlahnya bisa mencapai puluhan, tetapi banyak pula yang keluar masuk,” ujarnya.

Sedangkan jumlah pengikut dari Desa Karanganyar, katanya, ada sekitar empat orang. “Empat orang ini memang saya kenal. Kalaupun ada warga lain yang pernah menjadi pengikut Sabdo saya belum mengetahuinya,” ujarnya.

Ia mengaku, pertama kali mengenal aliran Sabdo ketika mendapat pesanan lukisan kereta dari Kusmanto alias Sabdo Kusumo.

“Dia pesan lukisan melalui Abdul Latif, selanjutnya saya diperkenalkan dan ditawari untuk mengikuti pengajian kelompok mereka,” ujarnya.

“Selama tiga tahun mengikuti pengajian mereka, saya belum menemukan hal aneh atau ajaran yang menyimpang. Tetapi, setelah dibaiat dengan membaca kalimat syahadat yang berbeda dari ajaran Islam, saya mulai merenung dan menyesali diri hingga akhirnya menyatakan tobat,” ujar Margono yang berprofesi sebagai perajin seni kaligrafi.

Terhadap sejumlah warga yang pernah menjadi pengikut aliran Sabdo Kusumo, dia berharap, segera bertobat, karena ajaran Sabdo jelas-jelas tidak sesuai ajaran Islam. ant/ahi

http://www.republika.co.id/berita/93923

Yang sesat-sesat bertemu dengan yang tidak dipercaya masyarakat

Antara orang yang sudah bertobat dari aliran sesat dengan yang masih menjajakan aliran sesat biasanya saling bermusuhan. Sebagai sesuatu yang dipelihara, aliran sesat itu juga bisa jadi semacam proyek. Kapan-kapan dari aliran sesat itu berkesempatan memperkarakan orang yang sudah tobat, maka pihak polisi dan penegak hukum tampaknya dengan sigapnya untuk menanganinya. Seakan mereka bagai “pahlawan”. Contohnya, tampak begitu sigapnya polisi dan penegak hukum dalam menangani kasus Bambang Irawan Hafiluddin, tokoh yang telah bertobat dari aliran sesat Islam Jama’ah, dalam kasus ceramahnya di Bekasi tentang aliran LDII. Padahal MUI (Majelis Ulama Indonesia) telah mengeluarkan rekomendasi mengenai aliran sesat LDII:

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat. Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Dengan kenyataan seperti itu dan kenyataan-kenyataan lain yang banyak, alhamdulillah, sekarang masyarakat sudah faham betul bahwa kinerja polisi dan penegak hukum memang sangat diragukan profesionalismenya. Jadi ketika mereka tampak kurang sigap dalam menghadapi aliran-aliran sesat (tetapi justru sebaliknya), seakan antara polisi, penegak hukum dan aliran-aliran sesat itu bagai tumbu oleh tutup (bakul ketemu tutup). Yaitu, yang sesat-sesat bertemu dengan yang tidak dipercaya masyarakat. (nahimunkar.com)