Allahu Akbar, Nenek 120 Tahun Lancar Baca Al-Quran

إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا (9) وَأَنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآَخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا [الإسراء/9، 10]

Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,

dan sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab yang pedih. (QS Al-Israa’: 9, 10).

Di saat banyak orang yang lalai dan membelakangi Al-Qur’an padahal dalam keadaan sehat segar bugar, ternyata ada nenek berumur 120 tahun dikaruniai kemampuan lancar membaca Al-Qur’an tanpa kacamata.

Ini pantas jadi pelajaran bagi kita semua.

Inilah beritanya:

Nenek Minah, Usia 120 Tahun Masih Bisa Baca Tanpa Kacamata

Rabu, 12 Mei 2010 | 20:40 WIB

SIAPA sangka, Nenek Minah yang masih bisa membaca Al Quran dengan jarak 25 cm tanpa menggunakan kacamata pembantu, sudah berusia sekitar 120 tahun.

Saat memperlihatkan kemampuannya itu, sejumlah petugas Badan Pusat Statistik (BPS) serta wartawan yang menyaksikan hanya bisa berdecak kagum.

Minah salah satu warga tertua di Jabar. Ia tinggal di Kampung/Desa Cogreg, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya. Sempat menikah dua kali, ia hanya memiliki seorang anak, Nenek Sukaesih (80). Dari anaknya ini, ia kini memiliki tiga cucu, 12 cicit serta sembilan bao.

“Nini mah kieu we sapopoe teh. Mun teu ngaji, jalan-jalan ngalongok buyut jeung bao (Kebiasaan nenek tiap hari, kalau tidak mengaji paling lihat-lihat cicit dan anak cicit, Red),” tutur Nenek Minah dengan suara masih nyaring dan jelas, saat ditemui di rumah Lilis (29), salah seorang cicitnya, Rabu  (12/5).

Kondisi fisik Nenek Minah tampak sehat. Kerutan di wajahnya tidak memperlihatkan ia sebagai manusia yang berusia lebih dari 100 tahun. Tidak hanya matanya yang masih tajam, telinga dan bicaranya masih jelas. Yang memperlihatkan bahwa ia sudah uzur adalah saat berjalan. Posisi tubuhnya sudah bongkok.

Menurut Nenek Sukaesih yang juga tampak masih sehat, ibu kandungnya ini jarang sekali sakit. Kalau sakit paling hanya demam dan cukup memanggil mantri. “Pernah diinfus di rumah tapi tidak lama sehat kembali. Yang agak sering sakit malah saya. Sampai-sampai pernah dirawat di Puskesmas,” tuturnya sambil terkekeh.

Makannya pun biasa saja, tak ada yang dipantang. “Semua makanan masuk. Kecuali seperti super mie karena harus dibeli. Dari mana kami punya uang. Tiap hari bisa sampai empat kali makan, tapi sedikit-sedikit ibu saya pun masih bisa hidup sendiri tanpa memerlukan bantuan orang lain. Mulai dari mandi hingga berjalan,” tuturnya.

Nenek Minah pun masih bisa bersosialisasi dengan warga sekitar. Termasuk pergi ke pengajian di madrasah sekitar 50 meter dari rumahnya.

Nenek Minah sempat mengaku sebagai warga paling tua di kampungnya. Dua nenek lainnya, Nenek Suki dan Nenek Kalsem yang juga usianya di atas 100 tahun, menurut Nenek Minah, usianya masih jauh di bawah dirinya. “Suki jeung Kalsem mah anak kamari. Basa Ema geus sakola SR, maranehannana mah barudak kene pisan (Saat saya sudah masuk SR, Suki dan Kalsem masih anak-anak, Red),” tuturnya. (*)

sumber : .tribunjabar.co.id