Umat Islam Ambon perlu mencermati gejala serangan dari kaum salibis yang telah berlangsung tahun 1999.

Kala itu, modus baru serangan kaum Merah (Kristen), nampaknya dengan memanfaatkan hari sayyidul ayyam (hari Jum’at) tiba. Beberapa kejadian terakhir dilakukan pada saat kaum Muslim akan atau sudah melaksanakan shalat Jum’at. Boleh jadi suasana saat itu dianggap sebagai saat-saat lengah karena konsentrasi ummat Islam pada ibadah tersebut. “Namun tidak ada alasan bagi kami untuk tidak melakukan shalat Jum’at, karena teror mereka itu,” kata Haris yang bertugas menjaga Masjid Al-Fatah Ambon saat Muslimin diserang kaum salibis tahun 1999.

Insiden Poka Jum’at akhir September lalu (24/9 1999), kata Malik Selang, sekretaris eksekutif MUI Kodya Ambon menunjukkan bukti itu. Pada pukul 11.00

WIT terdengar bunyi lonceng Gereja menggema di seantero Desa Poka. Bunyi lonceng itu disusul dengan bunyi-bunyian tiang listrik yang dipukul Kaum Merah (Kristen). Tidak berapa lama kemudian terdengar ledakan keras bom yang memekakkan telinga, tanda serangan dimulai.

Syukurlah, kaum Muslimin selalu bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Tiga orang saksi Muslim yakni Soleman Tatupono, Lilif dan Aziz Hentihu pada saat itu menyaksikan anggota Brimob bernama Boby Pattiwael memimpin massa Merah (Kristen) melewati Pos Polisi dan Kostrad 14. (Suara Hidayatullah : Oktober 1999 / Jumadil Akhir-Rajab 1420).

Dalam kenyataan sekarang tahun 2011/ 1432H, kampong Muslim di Ambon di antaranya Kampung Waringin dibakar lagi oleh para musuh Islam itu.  Sehingga rumah-rumah penduduk Muslim sudah hangus dibakar kaum salibis. Namun masjid kampong itu, Masjid Al-Mukhlisin yang dibakar orang kafir Nasrani pembenci Islam ternyata masih tersisa ruang utamanya. Maka digunakanlah untuk shalat berjama’ah Jum’at untuk pertama kalinya sesudah peristiwa kerusuhan Ambon yang bersamaan dengan kasus 11 September 2011 yang diulangtahuni Amerika yang disebut peristiwa 9/11 terbakarnya gedung kembar.

Inilah berita shalat jum’at pertama di Ambon setelah kerusuhan, dan bagian bawah kami tampilkan kembali liputan Majalah Hidayatullah tentang terror Kristen Ambon terhadap Muslimin setiap Jum’at tahun 1999.

 

Shalat Jum’at pertama Muslim Ambon di kampung Waringin

M. Fachry

Sabtu, 17 September 2011 12:00:17

AMBON– Kampung Waringin, Ambon, adalah kampung Muslim yang ludes terbakar diserbu perusuh Kristen, Ahad (11/09/2011). Pada hari Jum’at (16/09/2011) kemarin, untuk pertama kalinya kaum Muslimin Ambon yang berada di kampung Waringin melaksanakan sholat Jum’at di Masjid Al-Mukhlisin, masjid yang Alhamdulillah masih tegak berdiri di sana. Diwarnai isak tangis, dan suasana yang mengharukan kaum Muslimin Ambon tegar menghadapi ujian yang menimpa mereka. Berikut liputannya.

Sejak  azan bekumandang, terdengar nafas berat dan isak tangis para jamaah yang  hadir di Masjid Al-Mukhlisin kampung Waringin. Duaratusan warga Kampung Waringin dan sekitarnya. Jama’ah yang terdiri dari para lansia, dewasa, remaja dan anak-anak dan beberapa orang aparat keamanan.

Suasana terasa sangat mengharukan, karena ibadah di gelar di masjid yang beberapa bagiannya menjadi puing-puing dibakar perusuh Kristen.

Sebagian warga meyakini ada keajaiban dan penjagaan Allah di masjid ini. Pasalnya, sejak kerusuhan pertama, meski bangunan di samping kiri, kanan, bagian depan dan belakang  luluhlantak dimakan jago merah, tapi ruang utama masjid yang biasa dipakai shalat dan taklim tidak mengalami kerusakan.

Dalam khotbahnya, Ustadz Tawil, tokoh Muslim Kampung Waringin, memotivasi warga agar tetap optimis, dengan menekankan pentingnya iman, takwa, tawakkal dan kesabaran.

“Meski dalam kondisi yang memprihatinkan, umat Islam harus tetap memiliki keimanan dan ketakwaan sehingga bisa berbakti kepada Allah SWT dengan melaksanakan kewajiban yang  diperintahkan,” paparnya.

Ustadz Tawil sangat memahami kepiluan warga, karena  rumahnya juga rusak parah jadi sasaran keberingasan perusuh Kristen.

Mengutip Al-Qur’an surat Al-Insan ayat 1, Ustadz Tawil menekankan pentingnya tawakkal dalam menghadapi ujian hidup. “Segala sesuatu adalah milik Allah  SWT dan hanya sementara berada dalam genggaman kita,” jelasnya.

Ustadz Tawil mengajak umat Islam agar menghadapi musibah insiden 9/11 dengan sikap positive thinking, dengan menyitir Al-Qur’an surat Al-Ankabut ayat 2:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ  [العنكبوت/2]

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan ditinggalkan saja dianggap beriman setelah mereka mengatakan kami beriman padahal mereka belum diuji?”

“Apa yang menimpa kita umat Islam ini adalah merupakan ujian keimanan, yang  akan menaikkan derajat kita jika kita tetap beriman,” tandasnya.

Karenanya, Ustadz Tawil mengajak semua jamaah untuk tahan uji dalam menghadapi setiap cobaan ketabahan. “Kita harus meyakini bahwa apa yang menimpa kita adalah sebuah ujian yang  akan diganti Allah dengan sesuatu yang  lebih baik dan lebih banyak jika kita bersabar,”

Dalam penutup khutbahnya, Ustadz Tawil menggarisbawahi pentingnya ukhuwah Islamiyah. Ia menyerukan umat Islam agar  terus memperkuat persatuan dan menghindari perpecahan.

“Tidak ada kemenangan tanpa kekuatan, tidak ada kekuatan tanpa persatuan, tidak ada persatuan tanpa keutamaan, dan tidak ada keutamaan tanpa kesucian jiwa. Dan kesucian jiwa inilah yang  harus umat Islam miliki,” tutupnya.

(voa-islam/arrahmah.com)

***

Berikut ini berita tentang pembantaian terhadap Umat Islam di Ambon 1999 dilanjutkan dengan terror modus baru:

 

Membongkar Praktek  666 (6old – 6lory – 6ospel) The Moslem Cleansing di Ambon

Suara Hidayatullah : Oktober 1999 / Jumadil Akhir-Rajab 1420

Modus Baru, Teror Setiap Jum’at

Pembantaian umat Islam di Ambon belum berhenti.

Kali ini dilakukan setiap Jum’at ketika melakukan shalat. Umat Islam di Ambon terus menerus didera kecemasan. Pasalnya, setiap saat serangan bisa datang seketika. Sekalipun saat umat Islam sedang shalat Jum’at. Buktinya, September (10/9) lalu. Puluhan umat Islam pun bermandi darah dan meninggal.

Serangan itu dilanjutkan di wilayah Ahuru (20 September), Kecamatan Sirimau, Kodya Ambon. Akibat serangan ini, sedikitnya 7 orang dinyatakan tewas. Peristiwa ini merupakan insiden kedua yang meletus di kawasan Ahuru setelah insiden pertama 27 Februari-1 Maret yang menelan belasan korban tewas.

Dalam insiden kedua di Ahuru ini terdapat 3 orang Muslim meninggal dan 25 orang lainnya luka-luka berat dan ringan. Sejumlah rumah penduduk dibakar dan dirusak. Para korban yang tewas dan luka sebagian besar terkena tembakan. Selain itu, juga terkena serpihan bom maupun senjata rakitan oleh dua kelompok massa dari arah kawasan Galunggung dan Karang Panjang.

Mereka yang tewas di TKP, langsung dibawa sanak keluarga ke rumah dan dimakamkan. Menurut data dari Rumah Sakit Al-Fatah, korban yang meninggal yang teridentifikasikan adalah La Bobi dan Nurdin Luhulima.

Sebelum kejadian itu, teror terus berlangsung di kampung kampung berpenduduk Muslim. Di Daerah Poka-Rumah Tiga, sebuah pasar dibakar habis. Ini sangat mengundang marah kaum Muslimin di daerah itu. Sebuah masjid yang terdapat di Poka Rumah Tiga (masjid At-Taqwa) juga dilempari bom. Alhamdulillah, bom tidak meledak sehingga masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Muslim Poka itu tetap utuh sampai sekarang.

Penampungan Para Pengungsi

Sementara itu di Masjid Al-Fatah, menurut Haris (30 tahun), bendahara masjid, sejak kejadian penembakan 10 September, tidak ada lagi pengungsi. Sebanyak 13.059 pengungsi sekarang ditempatkan di puluhan tempat yang tersebar di kota Ambon, seperti di Penginapan Sakura, Penginapan Berlian, SDN 68 Waihaong, Satain, Pelabuhan, THR, Navigasi, Halong/Lanal, Zipur, Waiharu/Kompi A/B dan di Poka Perumnas. Sebanyak 3000 orang menempati rumah-rumah penduduk yang eksodus ke daerahnya masing-masing di Bugis, Buton atau Makassar. Sebagian lagi ditempatkan di Air Kuning, tepatnya di sebuah komplek perumahan BTN. Di komplek ini mayoritas menghuninya ummat Islam.

Masjid Al-Fatah sebagai basis sekaligus simbol pertahanan dan perlawanan kaum Muslim Ambon, terus-menerus dijaga ketat oleh tentara dan pasukan jihad. Para tentara itu berjaga-jaga di depan masjid, sedang pasukan jihad secara bergiliran berjaga di lokasi yang sama. “Kita pergilirkan pasukan jihad untuk menjaga kemungkinan kejadian yang tidak diinginkan.” kata Haris, pria kelahiran Leihitu, 60 km dari pusat kota Ambon kepada Sahid.

Ada 25 anggota pasukan jihad setiap hari yang siap siaga dengan segala kemungkinan. Mereka dibagi di sudut-sudut masjid, depan dan belakangnya. Menurut Haris, yang juga sebagai penjaga gudang Logistik Al-Fatah, sudah ada kode-kode tertentu yang disepakati bila tiba-tiba datang serangan. Dan bila suasana sampai pada tingkat sangat gawat, maka mereka sepakat mengumandangkan takbir “Allahu Akbar” lewat corong-corong menara masjid. “Insya Allah, kaum Muslim di Ambon sudah siap menghadapi segala kemungkinan bersama pasukan jihadnya,” kata haris.

Modus baru serangan kaum Merah (Kristen), nampaknya dengan memanfaatkan hari sayyidul ayyam (hari Jum’at) tiba. Beberapa kejadian terakhir dilakukan pada saat kaum Muslim akan atau sudah melaksanakan shalat Jum’at. Boleh jadi suasana saat itu dianggap sebagai saat-saat lengah karena konsentrasi ummat Islam pada ibadah tersebut. “Namun tidak ada alasan bagi kami untuk tidak melakukan shalat Jum’at, karena teror mereka itu,” tambah Haris.

Insiden Poka Jum’at akhir September lalu (24/9), kata Malik Selang, sekretaris eksekutif MUI Kodya Ambon menunjukkan bukti itu. Pada pukul 11.00 WIT terdengar bunyi lonceng Gereja menggema di seantero Desa Poka. Bunyi lonceng itu disusul dengan bunyi-bunyian tiang listrik yang dipukul Kaum

Merah (Kristen). Tidak berapa lama kemudian terdengar ledakan keras bom yang memekakkan telinga, tanda serangan dimulai.

Syukurlah, kaum Muslimin selalu bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Tiga orang saksi Muslim yakni Soleman Tatupono, Lilif dan Aziz Hentihu pada saat itu menyaksikan anggota Brimob bernama Boby Pattiwael memimpin massa Merah (Kristen) melewati Pos Polisi dan Kostrad 14.

Ternyata, kendati Ambon sekarang relatif lebih tenang, tapi sangat mencekam. “Kaum Nasrani, di balik diamnya itu, terus menerus menyusun kekuatan untuk mengusir kaum Muslimin dari kawasan ini,” kata Malik Selang, ketua Pokjja Dati I Maluku kepada Sahid.

Fitnah dan Media

Hal yang sangat tidak masuk akal, kata Malik, saat ini di Ambon berkembang fitnah, bahwa pemicu kerusuhan di kawasan tersebut adalah Ummat Islam. Tuduhan itu disampaikan oleh Tim Advokasi Kristen yang menunjuk keberadaan Tim Advokasi Islam yang didirikan tanggal 26 Januari 1999 sebagai biang semua persoalan yang melanda di kawasan itu.

“Mereka menyebut Tim Advokasi kami didirikan pada tanggal 6 Januari bukan 26 januari. Mereka juga menyebut Tim kami sebagai pangkal memicu semua pertumpahan darah,” katanya kesal. Dengan kata lain, jelas Malik, mereka hendak mengatakan bahwa banyak peristiwa berdarah di Ambon, pengusiran dan penyiksaan dilakukan tidak lain adalah oleh ummat Islam sendiri.

“Mereka hendak cuci tangan sambil terus mencari dukungan dan pembenaran tindakannya.” jelas Malik. Celakanya, “Fitnah mereka didukung oleh media lokal yang menjadi corongnya pula.”

Pendidikan Terlantar

Bagaimana nasib pendidikan anak-anak Muslim di Ambon? Sangat memperihatinkan! Dari data Sentra Informasi dan Gerakan Mahasiswa Muslim (SIGMA) dan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Univ. Pattimura (Unpatti), sejak Agustus hingga hari ini, telah lebih dari 1000 mahasiswa Muslim tidak bias kuliah. Karena Unpatti telah dikuasi dan dijadikan basis Nasrani. Praktis sudah tidak ada lagi mahasiswa Muslim yang kuliah di perguruan tinggi negeri satu-satunya di Ambon itu.

Padahal sebelumnya, jumlah mahasiswa Muslim hampir 3000 orang dari 9000 mahasiswa Unpatti. Hal serupa juga dilakukan oleh dosen Muslim. Beberapa dosen Muslim menyatakan, mereka sudah tidak mungkin kembali ke kampus Unpatti.

Aktifitas di perguruan tinggi juga macet. Universitas Darussalam (Universitas Islam) misalnya, hingga hari ini belum melaksanakan aktifitas kuliah. Kampus yang berada di desa Tulehu (23 km) dari pusat kota Ambon ini sunyi. Tidak ada aktifitas apa-apa. Sebagian besar mahasiswa yang tinggal di Ambon, tidak dapat menuju ke kampus ini. Dari pusat kota Ambon untuk sampai ke Univ Darussalam, harus melewati daerah-daerah basis Kristen seperti Galala, Lateri, Passo dan Suli. Dan itu sangat membahayakan. Telah terjadi beberapa kasus, mobil milik Muslim dihadang dan dilempari oleh massa Kristen di desa Passo.

Sebagian besar SMU dan SMK di Kodya Ambon, juga berada di daerah-daerah basis Kristen. Akibatnya, tidak ada seorangpun siswa muslim yang mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah tsb.

Terpaksa, gedung SD digunakan untuk tempat belajar siswa SMU yang Muslim. Dua gedung SD yang berlokasi di Galunggung Desa Batu Merah dimanfaatkan. Seluruh siswa Muslim yang masih berada di Ambon ditampung untuk belajar di sana. Siswa kelas II dan Kelas III yang berasal dari berbagai sekolah (SMU dan SMK) disatukan di SMU alternatif ini. Kelas I terdiri atas 5 kelas, kelas II; 5 kelas dan kelas III 5 kelas.

Kumpulan Artikel

Mengenai Peristiwa Ambon

ISNET Homepage | MEDIA Homepage

Sumber: Suara Hidayatullah : Oktober 1999 / Jumadil Akhir-Rajab 1420

http://media.isnet.org/ambon/Hidayatullah01.html

(nahimunkar.com)