Analisis Sidney Jones Gunakan Nalar “IQ Jongkok”

“Saya melihat dia (Sidney Jones) seorang pengamat asing yang membawa misi tertentu, sekaligus, dia seorang pengamat sosial yang menggunakan nalar ‘IQ jongkok’, “ ujar Irfan S. Awwas,  Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia kepada hidayatullah.com, Senin (25/4).

Menurut Irfan, pengamatan masalah terorisme yang digunakan Sidney, acap  memojokkan umat Islam dan Islam.

***

Hidayatullah.com—Pernyataan peneliti International Crisis Group (ICG), Sidney Jones, baru-baru ini yang mendesak pemerintah mengawasi dunia pendidikan mendapat kecaman berbagai pihak. Salah satunya adalah Irfan S. Awwas,  Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).

Mengaku sudah kenal semenjak tahun 1987, Irfan yang pernah menjadi tahanan politik era Orde Baru ini tidak merasa kaget.

“Saya sudah kenal dia sejak masih di penjara Nusakambangan sekitar 1987. Dari perkenalan semacam itu, saya melihat dia seorang pengamat asing yang membawa misi tertentu, sekaligus, dia seorang pengamat sosial yang menggunakan nalar ‘IQ jongkok’, “ ujarnya kepada hidayatullah.com, Senin (25/4).

Menurut Irfan, pengamatan masalah terorisme yang digunakan Sidney, acap  memojokkan umat Islam dan Islam.  Irfan tak mau dianggap asal tuduh, ia menyebut beberapa indikasi.

Pertama, bagi Irfan, tidak layak seorang Sidney mengomentari masalah-masalah agama, karena dianggap itu bukanlah otoritasnya.

“Masalah anak-anak nanti jadi teroris atau bukan, apa otoritas dia? Dia bukan ahli agama dan bukan ahli pendidikan.”

Kedua, ia khawatir, Sidney sedang berusaha mempengaruhi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang saat ini sedang menyusun kurikulum pendidikan nasional.

Menurutnya, ini pernah dia usulkan saat memberi rekomendasi agar melarang kaum radikal berbicara di depan publik.

“Dan itu menjadi kebijakan aparat keamanan.”

Menurut Irfan, saat ini orang-orang yang dituduh ‘kelompok radikal’ tidak diberi kesempatan berbicara di media massa, sementara yang mendominasi bicara adalah mereka atau yang dianggap sudah mampu melakukan de-radikalisasi untuk kepentingan kampanye perang melawan terorisme.

Ketiga, kalau pertanyaan Sidney Jones sekolah-sekolah bisa dijadikan tempat lahirnya pemikiran radikal, maka, bagaimana dengan sekolah-sekolah seminari dan kepasturan yang banyak menghasilkan tokoh pembenci dan memusuhi Islam?

“Dan itu fakta. Tokoh-tokoh di Barat yang dikenal pembenci Islam itu lahir dari pendidikan seperti itu,” ujar Irfan.

Ia menyebut contoh Obama, salah satu mantan murid sekolah gereja di Amerika yang dinilainya justru menjadi “otak” gejolak di Timur Tengah dan Libya.

Meski demikian, tidak semua pengamat asing setuju dengan pemikirannya. Irfan menyebut salah seorang pengamat asing yang pernah mengatakan, ‘jangan-jangan ia (Sidney Jones, red) sengaja dipasang untuk menginteli umat Islam Indonesia’.

“Nah, kalau sekarang banyak gerakan-gerakan Islam sedang dekat dengan dia, jangan-jangan mereka sedang terpengaruh oleh propaganda yang dibawa Sidney Jones ini, “ ujarnya.

Sebagaimana diketahui, dalam dialog kenegaraan dengan tema “Modus Baru Teror Bom dan Stablitas Daerah”, di gedung DPD RI, Jakarta baru-baru ini ia menuduh gerakkan “teroris” sudah  bisa tumbuh lewat studi-studi kajian Islam di kalangan pemuda, seperti rohis (rohani Islam) di sekolah menengah atas. Ia bahkan mengajak  Kepala sekolah berperan untuk mematikan bibit bibit teroris di sekolah,” imbuhnya. Sidney juga meminta sekolah mendata dan mengawasi kegiatan ekstrakurikuler.

“Termasuk mengganti guru pengawas atau pun menghentikan kegiatan itu,” ujarnya dikutip TEMPO Interaktif,  Rabu, (20/4).*

Rep: CR-3

Red: Cholis Akbar

Hidayatullah.com— Senin, 25 April 2011

(nahimunkar.com)