Anand Kreshna Menohok Islam & Menyesatkan Ummat

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

CONTOH NYATA BAHAYA PEMAHAMAN
YANG INTINYA PLURALISME DAN TASAWUF

Anand Kreshna keturunan India kelahiran Solo Jawa Tengah, sangat produktif menulis buku (sekitar 30-an buku) dan diterbitkan oleh Gramedia –kelompok Kompas yang dikenal dengan kelompok Katolik terkemuka. Dengan buku-bukunya itu Anand yang tak jelas agamanya (tampaknya Hindu) ini menyebarkan faham yang sangat menohok Islam, menyesatkan Ummat Islam, dan bahkan menyeret ke pemahaman model  pluralisme (semua agama sama dan paralel), diaduk dengan ajaran tasawuf sesat wihdatul wujud (manunggaling kawula Gusti, menyatunya makhluk dengan Tuhan). Hanya saja anehnya, dalam buku-bukunya itu dia satu sisi mengingkari Tuhan itu sendiri dengan berbagai aturan-Nya atau Syari’at-Nya.

Anehnya, pemikiran yang sangat berbahaya bagi Ummat Islam itu justru didukung oleh orang-orang dari Yayasan yang disebut Yayasan Wakaf Paramadina di Jakarta  yang dirintis oleh Nurcholish Madjid alumni Chicago Amerika Serikat 1985 dan Utomo Dananjaya, serta sebagian orang IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta. Sehingga ketika salah satu buku Anand Kreshna dibedah di lingkungan IAIN Jakarta oleh DR Komaruddin Hidayat serta Dr Kautsar Azhari  Noer, keduanya dosen di kampus itu –menurut sumber terpercaya yang hadir di acara itu— dua dosen ini menyatakan bahwa di dalam Islam, faham reinkarnasi (nyawa orang meninggal balik lagi ke bumi dan berpindah ke jasad yang baru lagi) adalah dibenarkan. Bahkan disebut sebagai bukti keadilan Tuhan. Lalu Lia Aminuddin tokoh (wanita) sesat yang memproklamirkan agama baru bernama Salamullah dan mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi pun dalam majelis bedah buku itu  mengemukakan bahwa faham reinkarnasi itu adalah benar. Maka ditantanglah oleh seorang yang hadir, agar acara itu segera dibubarkan. Karena, kalau tidak, maka jelas akan menyesatkan Ummat Islam. Terjadilah semacam keributan, kemudian terpaksa acara bedah buku itu dibubarkan. Peristiwa tahun 2000 ini hampir tak terdengar di masyarakat, namun buku Anand Kreshna telah beredar di mana-mana, sehingga koran harian Republika yang edisi mingguannya pernah menampilkan hasil wawancara dengan Anand Kreshna sehalaman penuh, lantas didatangi ramai-ramai oleh  16 tokoh dari DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia), LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam), dan KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) untuk mempersoalkan masalah Anand Kreshna yang fahamnya menyesatkan Ummat Islam itu. Ternyata  peristiwa pada Agustus 2000M itu mendapatkan tanggapan positif dari pihak Republika, sehingga koran yang kadang menampilkan hal yang sesat dan tak sesuai dengan Islam ini menampilkan tulisan tentang sesatnya Anand Kreshna dalam edisi Dialog Jum’at. Akibatnya, konon pihak Gramedia menarik buku-buku Anand Kreshna dari peredaran (sementara?), namun yang jelas telah berpuluh-puluh ribu buku Anand Kreshna berisi penyesatan terhadap Ummat Islam itu beredar dan dibaca oleh masyarakat luas selama ini.

Sementara itu pihak pemerintahan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang oleh kelompok-kelompok sesat diucapi dengan kata-kata: “Mumpung Gus Dur jadi Presiden” (yang menandakan masa emas bagi kelompok-kelompok sesat), tampaknya sangat jauh dari menyetop masalah-masalah yang berbahaya bagi aqidah Ummat Islam, karena bekas ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) itu dikenal aqidah dia sendiri adalah amburadul, yaitu belepotan dengan kepercayaan klenik (tathoyyur, satu jenis kemusyrikan) dan wisik (wangsit) kuburan keramat. Hingga acara  kemusyrikan yang jelas-jelas nyata yaitu ruwatan pun dia hadiri dengan sukarela, bahkan sebelumnya dia dikhabarkan akan diruwat. (Baca tentang ruwatan dan do’a bersama antar agama, dalam buku ini).

Berikut ini beberapa contoh kesesatan faham yang dipasarkan Anand Kreshna lewat buku-bukunya serta faham para pendukungnya yang memberi kata pengantar di buku itu. Kami kutip ungkapan Anand Kreshna ataupun pemberi kata pengantarnya, kemudian kami beri tanggapan, komentar, atau bahkan bantahan, agar para pembaca bisa membandingkan antara sesatnya faham mereka itu dan terangnya dalil yang berlawanan dengan mereka.

Buku Anand Kreshna berjudul

Surah-Surah Terakhir Al-Quranul Karim bagi Orang Modern,

sebuah apresiasi,

terbitan PT Gramedia  Pustaka Utama, Jakarta .

Buku ini mengandung berbagai masalah yang mengaburkan aqidah Islam.
Berikut ini beberapa masalah yang perlu dipersoalkan dalam buku itu:

Kutipan dari halaman XII :

Keseimbangan sifat-sifat maskulinitas dan feminitas Tuhan     terungkap secara elegan di ketiga surah ini. (tulisan  Dr Nasaruddin Umar, MA, pembantu rektor IV IAIN Jakarta).

Tanggapan: Manusia tidak berhak memberikan sifat-sifat kepada Allah, dan hanya Allah lah yang berhak memberikan sifat-sifat-Nya. Karena, manusia sama sekali tidak punya pengetahuan tentang Allah, kecuali yang Allah khabarkan. Sedangkan Allah SWT telah menegaskan larangan mengikuti apa-apa yang kita tidak ada ilmu.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai  pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al-Israa’/ 17:36).

Alah SWT juga berfirman, yang artinya:

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri…” (QS Al-An’aam/ 6:59).

Lantas, dari mana Dr Nasruddin Umar MA bisa mengungkapkan sifat-sifat yang ia sebut sifat-sifat maskulinitas dan feminitas Tuhan, bahkan ia bisa menimbangnya sehingga dia nilai seimbang itu?

Kutipan dari halaman XII pula:

Ini membuktikan bahwa pemahaman Al-Qur’an bukan hanya hak prerogatif sekelompok umat Islam tetapi Al-Quran betul-betul sebagai rahmat bagi semua (rahmatan lil ‘alamin). (tulisan Dr Nasruddin).

Tanggapan: Bagaimana ini? Satu kasus, yaitu adanya orang non Muslim yang memahami Al-Qur’an semaunya (sebagaimana akan diungkap sebentar lagi, insya Allah) lalu dijadikan alat untuk mengabsahkan hak bagi siapa saja untuk memahami Islam, dengan dalih rahmatan lil’alamin. Sedangkan pemahaman ummat Islam sendiri terhadap Al-Qur’an pun tidak sah kecuali memenuhi syarat, yaitu sesuai dengan kaidah-kaidah. Kaidahnya yaitu di antaranya telah ditegaskan oleh Nabi SAW:

من قال فى القرأن برأيه أو بما لا يعلم فليتبوأ مقعده فى النار.

Barang siapa berkata mengenai Al-Qur’an dengan pendapatnya atau dengan apa-apa yang ia tidak tahu, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknnya di dalam neraka.” [1]

Dengan demikian, betapa beraninya doktor yang memegang jabatan di IAIN Jakarta itu memberikan hak keabsahan kepada orang non Muslim untuk memahami Al-Qur’an sebegitu saja.

Kutipan dari halaman XVII:

Buku ini akan mengajarkan dan menuntun pikiran dan tingkah laku manusia untuk dapat mengekspresikan dirinya sebagai “kebaikan”. (Dr Nasruddin Umar MA).

Tanggapan: Dalam buku ini, apa yang disebut “kebaikan” itu maksudnya adalah Tuhan. Jadi buku ini mengajarkan dan menuntun pembacanya untuk mengekspresikan dirinya sebagai Tuhan. Kenapa seorang doktor di IAIN memberi apresiasi atau semacam penghargaan terhadap buku yang menuntun pada kemusyrikan dan kesesatan seperti ini?

Kutipan dari halaman XVII:

Ketiga surah ini mengingatkan manusia akan fungsinya sebagai hamba (‘abid) dan sebagai representasi Tuhan di bumi (khalifatun fi al –ardh).

Sanggahan: Manusia bukanlah representasi atau wakil Tuhan, tetapi hamba Allah. Justru dalam do’a safar/ bepergian, Allah lah sebagai khalifatuna, yang artinya pengganti atau wakil orang yang sedang bepergian.

Kutipan dari halaman XVIII:

Dalam buku ini Pak Anand Kreshna ingin mengingatkan kepada kita semua bahwa bukan aspek mistisnya surah-surah ini yang perlu ditonjolkan, melainkan penghayatan maknanya yang begitu dalam dan komprehensif. (Dr Nasruddin Umar MA).

Sanggahan: Pujian itu sangat jauh dari kenyataan, isi buku ini sesat menyesatkan, dan kebohongan besar atas nama Nabi Muhammad SAW, karena Nabi disebut sebagai orang yang mengatakan: Aku adalah Ahmad tanpa mim”. Berarti, Akulah Ahad, Ia Yang maha Esa! Juga, “Aku adalah Arab tanpa ‘ain”.  Berarti, Akulah Rabb –Ia Yang Maha mencipta, Maha Melindungi, Maha menguasai! (hal. 43).

Ini adalah ungkapan kemusyrikan, diatas-namakan Nabi Muhammad SAW.

Kutipan dari halaman 8:

Baik dan buruk, dua-duanya berada dalam pikiran kita. Lalu, kita pula yang menghubung-hubungkan kebaikan dengan apa yang kita sebut “Tuhan” dan kejahatan dengan apa yang kita sebut “Setan”.

Tanggapan: Anand Kreshna sudah memulai untuk meniadakan Tuhan, dengan cara mengaburkan tentang pengertian baik dan buruk. Ini arahnya adalah ibahiyah, serba boleh, karena baik dan buruk dianggap hanya ada dalam pikiran kita. Padahal, ukuran baik dan buruk dalam Islam itu landasannya adalah wahyu dari Allah SWT. Singkatnya, inilah contoh dari orang yang menuhankan nafsu, maka nafsunya (yang di sini disebut pikiran) mengadakan baik dan buruk sekaligus menimbangnya, lalu dikaitkan dengan Tuhan dan Setan yang diadakan oleh pikiran itu sendiri. Jadi, Anand Kreshna ini meniadakan Tuhan, lantas mengangkat nafsu/ pikirannya sebagai Tuhan.

Kutipan dari halaman 10:

Saya seorang penyelam. Apa salahnya jika saya menyelami lautan Luas Al-Qur’an? Saya bukan seorang ulama, bukan seorang sastrawan, bukan pula seorang cendekiawan atau ahli filsafat. Kemampuan selam saya pun sangat terbatas. Namun dengan segala keterbatasan itu, saya menemukan betapa indahnya perut laut. Betapa indahnya “kandungan”  Al-Qur’an. Saya ingin berbagi rasa, “Begini lho pengalamanku selama menyelami Al-Qur’an.” Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang.

Sanggahan untuk Anand Kreshna: Al-Qur’an memerintahkan, agar orang yang tidak mengerti itu bertanya kepada ahludz dzikr yaitu ahli Al-Qur’an. Bukannya orang tidak tahu, bahkan agamanya Islam atau bukan saja tidak jelas, lalu mengaku-ngaku menyelami Al-Qur’an, kemudian membeberkan aneka macam, diatas-namakan hasil penyelamannnya di Al-Qur’an lewat buku yang disebar luaskan dengan dalih berbagi rasa. Ini diancam oleh Nabi Muhammad SAW:

َمنْ قالَ ِفى الْقرأن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار.

Barangsiapa berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di nereka.”[2]

Rasulullah SAW bersabda:

” Takutlah kamu pada hadits dariku kecuali apa-apa yang kamu ketahui. Maka barangsiapa yang dusta atasku dengan sengaja maka hendaklah menempati tempat duduknya di neraka, dan barangsiapa yang mengatakan tentang Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”  (HR At-Tirmidzi, juz 4, halaman 268).

Ancaman keras dari Nabi Muhammad SAW itu cukup jelas maknanya, tidak bisa dikilahi dengan “sebagai penyelam Al-Qur’an yang ingin berbagi rasa”, atau dikilahi seperti ucapan Dr Nasruddin Umar bahwa “pemahaman Al-Qur’an bukan hanya hak prerogatif  sekelompok umat Islam tetapi Al-Qur’an betul-betul sebagai rahmat bagi semua (rahmatan lil ‘alamin)”. Kilah itu menabrak hadits tersebut.

Kutipan dari halaman 12:

“…  Menurut pendeta itu, dia pun mulai menghormati ajaran Islam setelah membaca buku-buku Bapak (Anand Kreshna –Ed).”

“Bapak harus menulis lebih banyak tentang ajaran-ajaran Islam. Biar banyak lagi buku-buku yang bersifat universal.”

Kutipan dari halaman 12-13: “Hari ini, saya bisa mengatakan, saya mencintai Islam sebagaimana saya mencintai agama saya sendiri. Saya tidak perlu meninggalkan agama saya. Saya tidak perlu masuk agama Islam. Untuk menghormati nabi Muhammad, saya juga tidak perlu melepaskan keyakinan saya pada Yesus…”

Sanggahan untuk Anand Kreshna: Ungkapan-ungkapan itu –karena ditulis dalam buku yang berjudul Surah-surah terakhir Al-Qur’anul Kariem–, maka mengandung pengertian: Arah dan isi surah-surah terakhir dalam Al-Qur’an itu agar manusia menjadi seperti itu, tidak perlu Islam. Ini sangat menyesatkan. Bahkan karena ungkapan itu berupa komentar terhadap buku-buku tentang Islam, berarti mengandung pengertian bahwa ajaran Islam yang sebenarnya itu hanyalah menjadikan orang agar tidak perlu Islam. Inilah salah satu cara pemurtadan yang dilancarkan oleh pihak non Islam (Anand Kreshna tampaknya beragama Hindu) dan kelompok Katolik yang dalam hal ini Kompas Grup yakni Gramedia. Tampaknya lunak, tidak apa-apa, namun sebenarnya lebih jahat ketimbang pembunuhan, karena Muslimin yang dibunuh tanpa bersalah insya Allah akan masuk surga, sedang kalau dimurtadkan maka akan masuk neraka selama-lamanya.

Kutipan dari halaman 13: Bagi para pengkritik, saya hanya ingin menyampaikan satu hal. Jika lewat buku-buku yang anda anggap sangat “pop” dan “tidak cukup bermutu” ini, kita berhasil mempersatukan bangsa kita, jika kita berhasil membuat seorang Kristen mulai menghargai Islam dan seorang Muslim mulai menghargai Buddha dan seorang Buddhis mulai menghargai Hindu, lalau apa salahnya?

Sanggahan untuk Anand Kreshna: Salahnya, tujuan yang diandai-andaikan itu belum tentu terwujud, dan kalau toh terwujud pun belum tentu Islam menginginkan seperti yang Anand andaikan, sedang ajaran Islam, bahkan ayat-ayat Al-Qur’an telah diacak-acak pengertiannya, secara semaunya, tanpa landasan dan dalil yang benar. Jadi, justru telah merusak Islam secara sengaja dan sistematis, berdalih pengandaian yang tampaknya indah, namun sebenarnya bertentangan dengan Islam. Dalam Al-Qur’an ditegaskan, ummat Islam berlepas diri dari kekafiran dan penyembahan berhala yang dilakukan oleh musyrikin, dan tegas-tegas ada pernyataan tentang permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya. Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Ibrahim As dan pengikutnya terhadap kaum kafir-musyrik:

Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekufuran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” ( QS Al-Mumtahanah/ 60: 4).

Apakah pantas, seorang yang menulis buku dengan mengaku menyelami Al-Qur’an namun isi dan tujuannya menentang Al-Qur’an seperti itu?

Kutipan dari halaman 14. Buku-buku saya adalah hasil “kegelisahan” saya, “kekecewaan” saya terhadap bangsa kita yang sedang dilanda fanatisme kelompok dan agama.

Sanggahan untuk Anand Kreshna: Kalau gelisah, lalu tidak menjadikan al-Qur’an sebagai sarana melampiaskan kegelisahan, barangkali masih bisa dimaklumi. Tetapi, kenapa gelisah lalu menjadikan Al-Qur’an dan Islam sebagai alat melampiaskan kegelisahan? Padahal, kegelisahannya itu sendiri bertabrakan dengan Al-Qur’an, karena fanatisme agama (Islam) itu justru wajib dalam Islam, sebagaimana pernyataan Nabi Ibrahim tersebut di atas. (lihat QS 60:4). Kenapa gelisah? Dan kenapa menggunakan Al-Qur’an untuk menohok Al-Qur’an pula?

Kutipan dari halaman 16:    Dalam empat surah ini, Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas, tersimpan rahasia Al-Qur’an. Inilah pesan Sufi, pesan Injil, pesan Zabur, pesan Taurat, pesan Vedanta dan pesan Buddha. Ini pula pesan Islam!

Sanggahan untuk Anand Kreshna: Astaghfirullaahal ‘Adhiem. Empat surat itu adalah Kalamullah, ayat-ayat Allah. Bukan pesan Sufi. Bukan pesan Vedanta, dan juga bukan pesan Buddha. Ini benar-benar melecehkan Al-Qur’an. Kalau memang Anand Kreshna bertanggung jawab, ayat mana yang pesan Sufi, lalu ayat mana yang pesan Vedanta, ayat mana pula yang pesan Buddha? Jikalau benar klaim Anand, beranikah menunjuk bahwa salah satu ayat dari empat surat itu yang benar-benar pesan Taurat, lalu pesan Injil, dan pesan Zabur?  Kalau sudah bisa menunjuknya, dari mana pula keterangan itu didapatkan? Bukankah itu artinya mengacak-acak Al-Qur’an dengan kata-kata yang sama sekali tidak bertanggung jawab? Dan benarkah Sufi (orang yang melakukan atau menganut ajaran tasawuf) itu ajarannya sesuai dengan Al-Qur’an sehingga Anand Kreshna bisa mengatakan bahwa “Inilah  pesan Sufi”?

Kutipan dari halaman 21: Bagi Sheikh baba  (guru selam Anand Kreshna, pen), Malaikat Jibril adalah “Kesadaran Tinggi” dalam diri Sang Nabi, sewaktu-waktu, ia bisa berkontak dengan “Kesadaran Tinggi” dalam dirinya dan memperoleh tuntunan serta bimbingan” yang dibutuhkannya.                         Beliau (Sheikh Baba, guru selam Anand Kreshna, pen) pernah menjelaskan: “Kesadaran Tinggi” dalam diri manusia adalah pancaran Kesadaran Murni yang disebut Allah, Tuhan, Ishwara, Ahura Mazda, atau Satnaam…”

Sanggahan untuk Anand Kreshna: Na’udzubillaahi min dzaalik. Di situlah Anand Kreshna menyuntikkan racun-racun faham beruapa Pluralisme, wihdatul Adyan (penyatuan agama-agama), dan tasawuf yang berbahaya bagi aqidah Islam. Sebegitu beraninya Anand Kreshna melandasi uraiannya tentang Surat Al-Ikhlas dengan aqidah kemusyrikan, yaitu Malaikat Jibril itu “Kesadaran Tinggi” dalam diri Sang Nabi. “Kesadaran Tinggi” dalam diri manusia adalah Pancaran Kesadaran Murni yang disebut Allah, Tuhan, Ishwara, Ahura Mazda, atau Satnaam….

Di Dalam Islam, Malaikat Jibril adalah  malaikat yang ditugaskan Allah untuk menyampaikan   wahyu kepada para  Nabi dan Rasul. Tugas itu dijelaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an:

رفيع الدرجات……..  التلاق.

(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki –Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (qiyamat).” (QS Al-Mu’min/ 40:15).

Dalam ayat itu jelas, Malaikat Jibril adalah utusan Allah untuk membawa wahyu kepada para Nabi dan Rasul agar para Nabi dan Rasul itu memberi peringatan kepada manusia tentang hari qiyamat. Malaikat Jibril bukan “Kesadaran Tinggi” dalam diri Nabi yang sewaktu-waktu bisa dikontak seperti yang dikemukakan Anand Kreshna itu. Jibril hanya datang kalau diutus oleh Allah. Demikian pula Jibril bukan di dalam diri manusia ataupun pancaran Allah yang ada di dalam diri manusia seperti yang dikemukakan oleh guru selam Anand. Kenapa bukan? Karena tidak ada ayat maupun hadits yang menjelaskan seperti itu. Bahkan Nabi SAW sendiri pernah gelisah karena lama tidak turun wahyu, berarti Malaikat Jibril tidak datang, yang dalam tarikh Islam dikenal dengan masa fatrotil wahyi, masa jeda tidak turun wahyu. Jadi ungkapan Anand Kreshna dan gurunya itu jelas bukan dari ajaran Islam, namun kenapa untuk memberikan apresiasi terhadap surah-surah Al-Qur’an? Ini namanya merusak pemahaman isi Al-Qur’an, yang hal itu sangat tercela dan berhadapan dengan Ummat Islam sedunia.

Dengan kesesatan seperti itu maka Ummat Islam perlu waspada. Lebih dari itu, bahkan ada ajaran yang lebih sesat lagi disebarkan oleh Anand Kreshna, dengan mengutip perkataan orang Sufi/ tasawuf bahwa Nabi Muhammad saw berkata:

Aku adalah Ahmad tanpa mim”. Berarti, Akulah Ahad, Ia Yang maha Esa! Juga, “Aku adalah Arab tanpa ‘ain”. Berarti, Akulah Rabb –Ia Yang Maha mencipta, Maha Melindungi, Maha menguasai. (halaman 43).

Inilah puncak kesesatan yang disebarkan Anand Kreshna, dengan mengutip perkataan orang sufi/ tasawuf, Anand menyebarkan faham wihdatul wujud (manunggaling kawula dengan Gusti, menyatunya hamba dengan Tuhan) satu faham kemusyrikan, dan kemusyrikan itu justru ditimpakan kepada Nabi Muhammad saw. Betapa beraninya orang itu menuduh Nabi Muhammad saw pembawa aqidah tauhid justru dituduh sebagai penganjur kemusyrikan. Na’udzubillahi min dzalik!

Anehnya, ketika kesesatan Anand Kreshna itu dipersoalkan tokoh-tokoh Islam (seperti tersebut di atas), serta merta para pembela Anand Kreshna yang dirinyapun mengaku beragama Islam masih berani membuka mulut dengan berdalih bahwa Anand Kreshna bukan menafsiri Al-Qur’an tetapi memberikan apresiasi. Terhadap mereka itu, mari kita ajukan pertanyaan: Pantaskah pemberian apresiasi semacam tersebut di atas? Tentu sangat tidak pantas, karena justru sangat menyesatkan Ummat Islam! Di samping itu, melecehkan Al-Qur’an itu sendiri, karena apresiasinya itu mengandung tuduhan-tuduhan yang jauh dari isi dan misi Al-Qur’an.