Anand Kreshna Penipu Berkedok Guru Spiritual!

Akhir-akhir ini masyarakat dihebohkan oleh dua kasus menarik yang berkenaan dengan kemampuan hipnotis. Pertama, kasus pelecehan seksual yang dilakukan Anand Kreshna terhadap sejumlah muridnya. Kedua, kasus penipuan yang dilakukan perempuan cantik bernama Selly. Keduanya diduga menggunakan kemampuan hipnotis yang mereka miliki untuk memperdaya korban-korbannya.

Kemampuan hipnotis seseorang bisa diperoleh karena bakat alami atau melalui proses belajar (pelatihan). Sebenarnya, selain kedua kasus heboh di atas, sejumlah kasus kriminal yang menggunakan kemampuan hipnotis bukan sekali ini saja terjadi. Bahkan, kemampuan hipnotis sudah ‘disosialisasikan’ atas nama hiburan oleh sejumlah tukang sulap yang kini lebih senang disebut ilusionis, mentalist dan sebagainya.

Salah satu diantaranya adalah Uya Kuya. Pada acara bertajuk Uya Memang Kuya di sebuah TV swasta, Uya Kuya menampilkan kemampuan hipnotisnya untuk mengendalikan seseorang. Kemudian, di bawah kendali Uya sang ‘korban’ menjawab secara jujur rahasia pribadinya. Bila dilihat dari prosesnya yang amat sangat sederhana, patut diduga siapa pun bisa menguasai ngilmu ini.

Di dunia kriminal, penggunaan kemampuan hipnotis sudah sejak lama dilakukan sejumlah orang. Misalnya, dalam bentuk “tepuk bahu dari belakang” yang dilakukan seseorang terhadap korbannya. Setelah sang korban ditepuk, ia serta-merta berada di bawah kendali sang penepuk. Maka apapun bisa terjadi, mulai dari meguras isi dompet si korban hingga menguras isi tabungan di Bank melalui pengambilan tunai via ATM. Biasanya, korban baru sadar setelah beberapa saat kemudian.

Di kawasan pemukiman, pernah terjadi tindak kriminal yang juga menggunakan kemampuan hipnotis, dengan cover job sebagai pedagang beras keliling. Pelaku biasanya berkelompok, terdiri dari tiga hingga empat orang, masing-masing bersepeda onthel. Di bagian belakang (boncengan) sepeda onthel tadi teronggok sebuah karung yang berisi sedikit beras kira-kira 10-20 kilogram.

Pedagang beras palsu ini biasanya menjadikan ibu-ibu rumah tangga sebagai korbannya. Ia berpura-pura menawarkan beras kualitas tinggi yang merupakan hasil panen dari kampung dengan harga murah. Untuk meyakinkan calon korban, sang penipu ini menyodorkan contoh beras pada genggamannya. Ketika interaksi terjadi, pada saat itulah proses hipnotis berlangsung.

Ketika korban sudah berada dalam pengaruh, si pedagang beras palsu ini menanamkan sugesti kepada korban, bahwa seolah-olah ia sudah membeli beras kualitas tinggi yang jumlahnya sudah ‘dilihatnya sendiri’ melalui proses penakaran atau penimbangan yang benar. Pelaku dalam operasinya memang melengkapi diri dengan timbangan gantung yang biasa digunakan para pedagang di pasar.

Dalam keadaan tersugesti telah membeli beras, maka si korban pun membayar sejumlah uang yang sesuai dengan perjanjian sebelumnya. Korban baru sadar setelah beberapa saat si pelaku pergi dari tempat kejadian. Ketika sadar, ia tidak lagi bisa menemui si pedang beras palsu tadi, bahkan beras yang dibelinya pun sama sekali tidak ada.

Tindak kriminal lain yang terjadi di pemukiman, yang menggunakan kemampuan hipnotis adalah kasus pencurian yang menjadikan target rumah-rumah mewah yang ditinggal pemiliknya untuk bekerja atau berlibur.

Di kawasan pemukiman tertentu, tidak jarang ditemui sejumlah rumah yang anggota keluarganya sibuk. Bapak ke kantor, demikian juga sang ibu, pergi ke kantor atau kegiatan lain. Sementara itu, anak-anak berangkat ke sekolah. Sehingga hanya ada pembantu. Pelaku kejahatan hipnotis kemudian memanfaatkan kelemahan ini dengan berpura-pura sebagai petugas PAM, Listrik atau Telkom. Ketika sang pembantu sudah berada dalam pengaruhnya, maka dengan leluasa si pelaku kejahatan ini memerintah sang pembantu untuk membuka pintu pagar, menunjukkan kamar majikan, dan sebagainya. Dalam tempo singkat, pelaku kejahatan berhasil menggondol barang berharga termasuk perhiasan dan uang tunai yang ada di rumah tersebut.

Sampai sejauh ini, pelaku kejahatan yang mengandalkan kemampuan hipnotis tersebut, tidak pernah bisa ditangkap, apalagi diproses hokum, karena memang pelakunya tidak bisa dikenali oleh korban. Selain itu, pelaku juga tidak beroperasi di daerah yang sama pada waktu berdekatan. Ia akan pindah ke daerah operasi yang relatif tidak berdekatan dengan operasi sebelumnya.

Kasus Selly

Kemungkinan Selly punya ‘bakat alami’ hipnotis. Ditambah lagi dengan sikapnya yang sopan dan ramah. Selain itu, yang paling penting, ia menyadari ‘kelebihan’ yang ada pada dirinya itu, sebagai sesuatu yang bisa memperdaya orang lain. Apalagi, ia juga punya bakat kriminal. Maka kombinasi itu semua yang membuat ia terjun menjadi pelaku kejahatan berbasis hipnotis.

Menurut Isywara Mahendratto, hipnotis tidak selalu –bahkan sama sekali tidak– berkaitan dengan mistik, tetapi merupakan peristiwa komunikasi biasa, dengan dasar “kepercayaan”. Menurut Perdana Akhmad S.Psi (pengamat sekaligus mantan praktisi tenaga dalam dan ilmu metafisika), hipnotis merupakan suatu tindakan yang membuat seseorang berada dalam keadaan hipnosis, yaitu suatu keadaan seperti tertidur karena berada dalam pengaruh orang yang memberikan sugesti kepadanya.

Selly Yustiawati (kini 26 tahun) sudah menjalani ‘profesi’ sebagai penipu sejak tahun 2006. Namun, sejak SMP bakat jahatnya sudah mulai kelihatan. Ketika SMP, Selly sudah mampu meyakinkan teman-temannya sehingga mereka mau meminjamkan ponselnya, namun tidak pernah dikembalikan. Lulus SMA, Selly hamil di luar nikah (dihamili pacarnya), dan menikah dengan laki-laki yang menghamilinya.

Namun, sang suami, yang pernah sama-sama mendirikan group band ini, tidak punya pekerjaan. Maka sejak 2005, Selly mulai bekerja. Di tempat kerja, ia berhasil meyakinkan atasannya sehingga diberi pinjaman uang perusahaan sebesar Rp 40 juta. Uang itu digunakan untuk hura-hura bersama suaminya yang pengangguran.

Karena bermasalah, akhirnya Selly dipecat. Selama menganggur, Selly berhasil memperdaya sejumlah orang dengan janji diberi pekerjaan sebagai sales promotion girl asal memberi imbalan tigaratus ribu sampai limaratus ribu rupiah per orang. Korbannya mencapai 18 orang (2006).

Perkawinan Selly berantakan. Selly pun sempat mendekam di dalam tahanan. Tahun 2008, ia bebas dan bekerja di Hotel Grand Mahakam. Di tempat kerjanya, Selly kembali mampu meyakinkan atasannya sehinga diberi pinjaman Rp 20 juta. Usai bekerja di Grand Mahakam, Selly bekerja di Harian Kompas. Kemampuannya mempengaruhi orang menyebabkan Selly mendapat bantuan seorang wartawan setempat untuk mempekerjakannya sebagai operator.

Hanya perlu waktu satu bulan bekerja di Harian Kompas, Selly sudah berhasil menipu sembilan karyawan. Bahkan, wartawan yang memberinya pekerjaan kena tipu sebesar Rp 4,5 juta. Berhenti dari Harian Kompas, Selly sempat menipu sejumlah orang dengan dalih bisnis voucher. Korban percaya, karena Selly antara lain membawa atribut Kompas dan mengaku-aku sebagai wartawan harian tekemuka itu.

Anand Kreshna Menipu

Selly boleh jadi penipu berbasis hipnotis dengan bakat alami. Kalau saja ia sempat belajar lebih mendalam tentang hipnotis, bukan mustahil ia akan sehebat Anand Kreshna, yang oleh pengikutnya disebut guru spiritual. Kehebatan Anand, ia berhasil melakukan penipuan namun tidak dapat diterjemahkan oleh perangkat hukum yang ada. Begitu juga dengan tindakan pelecehan seksual yang dilakukannya, tidak terjangkau perangkat hukum yang ada.

Bukan sekali ini Anand Kreshna terlibat tindak penipuan. Beberapa tahun sebelumnya, 2006, Anand Kreshna pernah dilaporkan salah seorang muridnya, Krisna Wardana. Menurut Krisna, “Lima tahun menjadi siswa Anand, kami banyak diajarkan tentang kejujuran, kepercayaan, kesadaran, kepasrahan diri, dan bagaimana mengantar diri kepada kebaikan. Beliau selalu mengajarkan kami untuk bisnis yang jujur. Tapi, saya malah ditipu olehnya. Saya merasa kecewa dan tertipu…” (Tabloid NOVA edisi online 30 April 2006).

Berdasarkan wawancara tabloid Nova pada Jum’at malam tanggal 9 Desember 2005, Krisna Wardana menuturkan, sekitar September 2004 Anand Kreshna menawarkan sebidang tanah berikut pembangunan rumah seharga Rp 153 juta per kavling di Padepokan One Earth One Sky One Humankind, yang diakui Anand sebagai miliknya.

Sebidang tanah itu terletak di Jalan Bojong Honje, Desa Gunung Geulis, Sukaraja, Bogor. Di atas tanah yang dibeli dari pengusaha Peter Nawilis ini, Anand ketika itu mengatakan ingin membentuk sebuah padepokan yang diisi komunitas meditator. Tawaran membeli kavling tidak hanya ditujukan kepada Krisna namun kepada beberapa siswa Anand lainnya.

Krisna tertarik selain karena ia telah mengenal lokasi tersebut, juga tergiur oleh janji manis yang diumbar Anand. Antara lain dikatakan, akan dibangunkan rumah di dalam lingkungan padepokan yang letaknya berdekatan dengan beberapa temannya, ada garasi khusus, taman untuk zen, ruang meditasi, patung-patung yang akan diletakkan di sudut-sudut tertentu, dan sebagainya.

Ketika rumah sudah jadi (awal 2005), Krisna diberi kesempatan meninjau ke lokasi. Saat melihat kondisi rumahnya, Krisna terkejut: rumahnya terletak paling bawah dan pojok, luasnya hanya sekitar 80 meter persegi (tidak sesusai dengan luas yang dijanjikan sebelumnya), keramik yang terpasang berbeda dengan keramik yang dipilihnya. Bahkan, bangunan rumah itu hanya terdiri dari sebuah ruang tamu, kamar tidur, dan kamar mandi.

Dan yang membuat Krisna kian terkejut, bagian depan rumah menghadap tembok tinggi yang jaraknya hanya satu meter, sehingga mengesankan bagai gang kumuh tanpa mendapat sinar matahari. Ketika masuk ruangan, Krisna melihat kualitas material bangunan benar-benar jelek. Antara lain, kayu-kayu lapuk yang sudah dimakan rayap dipakai untuk menyangga kuda-kuda di atap.

Hingga kini, kasus penipuan ini tidak terlihat berujung ke proses hukum. Mungkin Anand dengan kemampuannya berhasil menyelesaikan persoalan ini di luar proses hukum. Lagi pula, tidak banyak korban Anand yang punya keberanian melaporkan guru spiritual mereka ke polisi. Selain tidak berani, kemungkinan mereka juga malu. Dua faktor ini yang membuat aparat penegak hukum sulit memproses Anand dengan tuduhan penipuan. Apalagi, bila kesepakatan yang dirumuskan sebelumnya –antara Anand dengan korbannya– tidak didokumentasikan secara tertulis.

Tidak Sekedar Pelecehan Seksual

Penipuan dalam bentuk fisik saja tidak bisa dijaring proses hukum, apalagi berupa pelecehan seksual. Perlu keberanian luar biasa dari para korban untuk melaporkan Anand Kreshna. Salah satu korban yang punya keberanian luar biasa itu bernama Tara Pradipta Laksmi yang kini berusia 19 tahun.

Kepada berbagai media, Tara mengakui sudah mengenal Anand sejak 2008, dikenalkan oleh oleh ibu kandungnya, Wijarningsing. Sang ibu sudah menjadi pengikut Anand sejak lima tahun sebelumnya. Selama menjadi pengikut Anand, Wijarningsih memang tidak pernah mendapat perlakuan tak senonoh dari Anand. Ia keluar karena suatu konflik.

Selama menjadi pengikut Anand, Tara seperti terhipnotis. Tara bagai terpedaya sedemikian rupa sehinga mau mengikuti apa yang dititahkan oleh Anand. Tara sang murid bagai robot, sedangkan Anand sang guru bagaikan tuhan.

Pelecehan seksual yang dilakukan Anand Kreshna terhadap Tara terungkap setelah sang Ibu (Wijarningsih, 49 tahun), menemukan SMS berisi rayuan di handphone milik Tara seperti I Love You, You Are My Angel. Wijarningsih semakin curiga karena sejak bergabung ke Anand Ashram Tara lebih memilih mogok kuliah.

Selain Tara, ada Sumidah yang sejak 1998 sudah bergabung dengan Anand Ashram. Bahkan Sumidah pernah menjadi terapis di Layurveda, di Jakarta dan juga Bali. Begitu hebatnya daya hipnotis yang dipancarkan Anand kepada Sumidah (kini 38 tahun), hingga ia begitu mencintai Anand yang disebutnya sebagai sang guru. Menurut Sumidah, sebagaimana pernah dipublikasikan vivanews, wajah Anand Kreshna selalu terbayang. Bahkan, saat Sumidah sedang berhubungan dengan suaminya, yang ia bayangkan adalah wajah Anand Kreshna. Ketika pengaruh hipnotis Anand mulai pudar, kini Sumidah bersama Tara berani menentang Anand Kreshna.

Menurut pengakuan Sumidah kepada vivanews, ia banyak membuat banyak puisi untuk Anand Kreshna yang sering dibacakannya di dalam forum belajar. Puisi-puisi itu, menurut Sumidah, benar-benar keluar dari dalam hatinya. Hubungan Sumidah dan Anand pun kian dekat, sehingga ia sering diminta memijit, bahkan diajak Anand Kreshna untuk menginap di Layurveda. Dalam hal meminta dipijit, menurut Sumidah, waktunya bisa kapan saja, pagi, siang atau sore. Pernah waktu di Bali Sumidah memijit Anand Kreshna dari jam dua dini hari sampai jam lima pagi. Hal itu dilakukannya untuk menunjukkan bakti kepada Anand.

Selama 10 tahun bergabung dan memijit Anand Kreshna. Sumidah tidak mengalami kejadian yang aneh. Tapi belakangan, Anand Kreshna mulai menyentuh bagian-bagian sensitif tubuh Sumidah. Misalnya, memegang daerah samping payudara dan menusuk-nusuk payudara Sumidah saat ia memijat Anand dalam posisi telentang. Bahkan, sejak September-Oktober 2009, Anand Kreshna sering minta pijit di daerah-daerah sensitif, di atas kemaluan, di atas anus dan selangkangan.

Menurut Sumidah, setiap kali dipijat, Anand Kreshna sering hanya menggunakan celana dalam atau kolor saja. Ketika hal itu terjadi, sebenarnya batin Sumidah mulai menolak, tapi secara fisik ia mengaku tidak bisa menolak. Bahkan di Bali, menurut Sumidah, setiap minta dipijit, Anand selalu memastikan pintu kamar dalam keadaan terkunci.

Ajaran spiritual Anand Kreshna ternyata mengarah kepada seks bebas (free sex). Hal ini bisa disimpulkan dari pengakuan Titi, mantan pengikut Anand (1998-2003) yang bersimpati kepada Tara dan Sumidah.

Menurut Titi, kasus pelecehan seksual yang menimpa Tara dan Sumidah merupakan realisasi dari ajaran Anand yang disampaikan berulang-ulang kepada murid-muridnya. Sejak dulu, menurut Titi, para murid diperkenalkan dengan ajaran agama dari India, dengan Tuhannya, Kreshna. Dan Anand Kreshna mengidentikkan dirinya dengan Kreshna.

Salah satu ajaran Anand yang diperkenalkan keada murid-muridnya, menurut Titi, antara lain berupa: jika mau merasakan hubungan dengan tuhan harus lewat seks. Kalau wanita, harus dilakukan dengan guru. Sedangkan kalau pria, dia melakukannya dengan wanita yang dikenalkan guru.

Titi akhirnya keluar dari ajaran Anand pada 2003. Alasannya, sangat mendasar. Menurut Titi, saat itu di salah satu kelas Jumat, Anand Kreshna menyebutkan bahwa ada satu orang murid yang telah belajar selama lima tahun tetapi belum juga meninggalkan agamanya. Titi merasa, orang yang disebut Anand adalah dirinya, karena selama menjadi murid Anand, Titi tidak pernah meninggalkan shalat.

Terbukti, Anand tidak sekedar menipu dan melakukan pelecehan seksual, tetapi ia justru sedang merealisasikan ajaran agamanya yang bermuatan free sex dengan kedok menjadi guru sipritual yang mengusung pluralisme agama. Lebih jauh Anand juga membawa murid-muridnya untuk murtad, tidak sekedar memberikan kesegaran rohani dengan nilai-nilai universal berbagai agama.

Mengidentikkan diri sebagai tuhan (Kreshna), kemudian melakukan penipuan dan menganjurkan seks bebas, menunjukkan bahwa Anand Kreshna memang iblis musuh manusia. Bangsa iblis biasanya mendapat dukungan dari para pengikut iblis juga, walau bertitel doctor seperti pemberi kata pengantar buku-buku Anand Kreshna yang melecehkan Islam di antaranya Komaruddin Hidayat (kini rector UIN Jakarta), dan Nasaruddin Umar dari UIN Jakarta yang kini Dirjen Bimas Islam Kemeterian Agama yang sangat bersemangat untuk memidanakan orang yang berpoligami ataupun nikah siri. (lihat artikel Anand Kreshna Memurtadkan Ummat Bersama IAIN/ UIN Jakarta, nahimunkar.com, 10:07 pm, dan lebih komplitnya bisa dibaca di buku Hartono Ahmad Jaiz, Tasawuf, Pluralisme dan Pemurtadan, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2001). Dan para pengikutnya adalah manusia-manusia yang lemah iman, lemah daya nalar, sehingga mudah terpedaya.

Kalau dari kasus ini aparat dan perangkat hukum tidak bisa menjerat Anand Kreshna, maka ada yang mengkhawatirkan Anand Kreshna dan ajarannya akan dihabisi oleh kekuatan massa yang marah. Sebagaimana penerbit terkemuka yang menerbitkan buku-buku Anand Kreshna lebih pilih menarik dari peredaran 30-an judul buku Anand Kreshna dari pada diamuk massa yang marah akibat pelecehan terhadap Islam yang dilancarkan Anand Kreshna lewat buku-bukunya. (haji/tede)