Guan Yu atau Kwan Kong patung yang dibangun di Tuban Jawa Timur / foto srwjyapost


Patung Dewa Perang Cina Kwan Sing Tee Koen setinggi 30,4 meter di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban Jawa Timur

Bertolak dari penolakan-penolakan warga setempat dan warga keturunan Tionghoa yang beragama Konghucu, maka sangat aneh dengan sikap Istana yang meminta aparat untuk bertindak tegas.

Alasan penolakan warga tersebut lebih didasari pada rasa nasionalisme dan bukan unsur SARA. Itu dipertegas dengan pernyataan warga Tionghoa yang beragama Konghucu bahwa patung itu tak ada kaitannya dengan ajaran agama yang dianut. Maka warga keturunan Cina pemeluk agama Konghucu justru mendukung agar patung tersebut dirobohkan.

Pertanyaannya, siapa yang toleran dan intoleran?[]

Simak berita berikut ini.

***

Aneh Sikap Istana Soal Patung Cina di Tuban

Jakarta – Pihak Istana akhirnya angkat bicara soal pembangunan patung raksasa Kongco Kwan Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, Jawa Timur. Istana meminta aparat tidak tinggal diam menyikapi aksi penolakan oleh warga yang dianggap bentuk intoleransi.

“Jadi setiap ada tindakan intoleransi atau tindakan semena-mena, misalnya menghancurkan patung, benda seni dan sebagainya, harus dilakukan tindakan hukum,” kata Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki 8/2017di Jakarta, Selasa (9/8/2017).

Pernyataan Teten itu menyikapi aksi protes 50 elemen masyarakat di depan Gedung DPRD Jatim, beberapa waktu lalu.  Massa yang tergabung dalam Gerakan Boemi Poetra Menggoegat menilai simbol patung Dewa Perang China itu tidak menghargai semangat kebangsaan Indonesia. Sebab, masih banyak sosok pahlawan nasional yang pantas dibuatkan patung sebagai bentuk penghargaan. Untuk itu, massa mendesak pemerintah untuk membongkar patung tersebut.

Patung setinggi lebih dari 30 meter dibangun menghadap ke laut tersebut diresmikan pada 17 Juli 2017 lalu oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hasan. Patung tersebut diklaim sebagai patung dewa terbesar se-Asia Tenggara.

Namun, Teten menilai aksi penolakan itu sebagai bentuk intoleran. Keberadaan patung itu sebagai bentuk keberagaman. Karena itu, negara tidak boleh diam  meresponnya.

Anehnya, sikap berbeda ditunjukkan oleh warga keturunan Cina pemeluk agama Konghucu. Mereka justru mendukung agar patung tersebut dirobohkan. Alasannya, pembangunan patung itu sebagai bentuk ketidakpekaan terhadap keutuhan berbangsa dan bernegara.

Ketua Presidium Generasi Muda Khonghucu Indonesia (gemaku.org) Kris Tan juga menegaskan bahwa pembangunan patung itu tidak diprakarsai oleh Umat Konghucu.

Kris menegaskan, leluhur Tionghoa sama sekali tidak mengenal doktrin ikon patung yang megah dan absurd. Sebab itu bisa menuju pada praktik-praktik menduakan Tuhan Yang Maha Esa.

Begitupun dalam tradisi Khonghucu yang menjadi substansi religiusitas dan spiritualitas seseorang adalah bukan pada penyembahan terhadap benda-benda mati. Pengkultusan yang berlebihan justru telah menodai doktrin utama ajaran leluhur Tionghoa yang menyatakan “Tiada tempat lain meminta doa kecuali kepada Tian Tuhan Yang Maha Esa.”

“Diejawantahkan dalam mencontoh prilaku dan meneladani sikap yang ditunjukan oleh Kwan Seng Tee Koen (Kwan Kong) yang memang figur yang dianggap sebagai tokoh yang menjunjung tinggi Zhi, Ren, dan Yong yaitu Kebijaksanaan, Cinta kasih, dan Kebenaran,” jelasnya.

Bertolak dari penolakan-penolakan warga setempat dan warga keturunan Tionghoa yang beragama Konghucu, maka sangat aneh dengan sikap Istana yang meminta aparat untuk bertindak tegas.

Alasan penolakan warga tersebut lebih didasari pada rasa nasionalisme dan bukan unsur SARA. Itu dipertegas dengan pernyataan warga Tionghoa yang beragama Konghucu bahwa patung itu tak ada kaitannya dengan ajaran agama yang dianut.

Pertanyaannya, siapa yang toleran dan intoleran?[]

Penulis Ridwan Umar / nusantara.news

(nahimunkar.com)