Aneka Praktek Batil Menjijikkan Demi Uang

 

Peringatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang akan datangnya zaman, di mana orang tidak lagi perduli, apakah dalam mencari uang itu dari jalan halal atau haram:

عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ  (البخارى  وأبو يعلى)

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pasti akan datang pada manusia suatu zaman dimana orang tidak perduli lagi dengan apa dia mengambil harta, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram. (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari dan Abu Ya’la).

Berbagai cara haram dalam mencari uang telah terjadi di mana-mana. Dari yang namanya ngentit kecil-kecilan sampai suap dan korupsi besar-besaran sudah merajalela. Tetapi di balik itu ada aneka macam bentuk pengentitan, penipuan, dan pendhaliman yang lebih kasar dan menjijikkan, namun dilakukan orang pula di mana-mana. Berikut ini kami beberkan contoh-contoh kongkretnya.

 

Malak

Di Pasar Tanah Abang Jakarta pada hari ke-7 atau ke-5 menjelang Idul Fithri sudah banyak pedagang yang menghentikan kegiatan berniaganya, bukan karena mau mudik, tetapi diperkirakan dalam rangka menghindari adanya pungutan liar dari sejumlah oknum, dengan dalih minta THR (Tunjangan Hari Raya).

Peminta-minta THR ini bisa juga terdiri dari aparat resmi namun pungutannya tidak resmi, karena aktivitasnya meminta-minta THR kepada pedagang bukan tugas resmi dari lembaga tempat ia bekerja. Ada juga preman ‘penjaga keamanan’ yang keberadaannya tidak resmi namun sepertinya kok ‘resmi’ karena tidak pernah ditindak oleh aparat penjaga keamanan yang benar-benar resmi. Meski tidak resmi, namun daya desaknya luar biasa tak terelakkan.

Keberadaan dan kiprah para peminta-minta THR ini jelas merugikan pedagang dan konsumen. Pedagang dirugikan karena harus mengeluarkan uang ekstra untuk hal-hal yang sebenarnya bukan kewajiban dia. Maka dalam rangka menghindari pungutan sejenis itu, sebagian pedagang pun meliburkan diri lebih awal. Karena mereka libur, maka sejumlah konsumen yang biasa berniaga dengan pedagang tadi, menjadi terrugikan.

Para peminta-minta THR ini belum tentu tergolong orang beriman yang menjalankan ibadah shaum Ramadhan dengan benar. Bahkan ada kemungkinan mereka tidak menjalankan ibadah shaum Ramadhan sama sekali, namun ketika sudah sampai kepada urusan meminta-minta THR, mereka sangat bersemangat tanpa mengenal malu bahwa dirinya sama sekali tidak menjalankan kewajiban agama.

Kejadian seperti ini tidak hanya berlangsung di Pasar Tanah Abang Jakarta, tetapi hampir di seluruh pusat perdagangan di seluruh Jakarta (dan bahkan mungkin Indonesia).

Peringatan dari Allah Ta’ala telah tegas:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا(29)وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا(30)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS An-Nisaa’: 29, 30).

 

Ayam Tiren

Masih ada berbagai cara batil dalam memperoleh uang, misalnya menjual ayam tiren. Tiren adalah singkatan dari mati kemaren. Jadi, yang dimaksud dengan ayam tiren adalah ayam yang sebelum dijual, keadaannya sudah mati (kemaren), namun tetap dijual setelah sebelumnya disembelih dan diproses sebagaimana layaknya ayam bukan tiren. Meski sudah disembelih dan diproses sedemikian rupa, ayam tiren tetap saja masuk kategori bangkai ayam yang haram diperjual-belikan.

Di Solo Jawa Tengah setiap hari sekitar 1,5 ton daging ayam tiren beredar, dalam kondisi mentah maupun matang, dengan harga Rp 4.000-Rp 6.000 per kilogram. Pembelinya sebagian besar merupakan pedagang ayam olahan atau ayam yang sudah dimasak. Ayam tiren itu selain dipasarkan ke wilayah Solo, juga Karanganyar dan Sukoharjo. Agar tidak mencolok, daging ayam biasanya ditempatkan dalam karung beras atau tas plastik hitam ukuran besar. (http://www.solopos.net/zindex _menu.asp? kodehalaman=h01&id=80731)

Petugas Dinas Perikanan Kelautan dan Peternakan Kabupaten Tegal menemukan pedagang yang menjual daging bangkai ayam (ayam tiren), di pasar tradisional. Temuan itu diperoleh dari hasil operasi daging di Pasar Trayeman, Kabupaten Tegal, Kamis (18 Sep 2008), sekitar pukul 06.00. Daging bangkai ayam ditemukan dalam bentuk gorengan, dan siap dikonsumsi. Satu potong daging bangkai ayam, seperti paha dijual Rp 1.500. Harga tersebut lebih murah bila dibandingkan dengan harga daging ayam segar. Diduga, terdapat beberapa pedagang lainnya yang juga menjual daging serupa. (http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/18/2107000/ayam.tiren.dijual.di.pasar.tegal)

Selain ayam tiren, ada juga pedagang nakal yang menjual ayam suntikan, yaitu ayam broiler atau ayam negeri yang sebelum dijual di pasar terlebih dahulu diberi suntikan berisi air atau udara, agar terlihat segar dan montok ketika dipasarkan. Praktek curang ini ditemukan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.. Salah satu pelakunya adalah Kosim (dari Jakarta Timur) yang sudah menjual ayam suntikan sejak lima belas tahun lalu.

Larangan berbuat seperti itu telah jelas di dalam Islam. Di antaranya:

1026 حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانٍ  

1026 Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Setiap pengkhianat/ penipu akan diberikan sebuah bendera sebagai tanda pada Hari Kiamat kelak yang bertulis: Ini adalah tanda pengkhianatannya terhadap Si Polan (Muttafaq ‘alaih).

1025 حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَمَعَ اللَّهُ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ فَقِيلَ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ 

1025 Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Ketika Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian pada Hari Kiamat kelak, maka setiap orang yang melakukan pengkhianatan akan diberikan tanda sebuah bendera yang bertulis: Ini adalah bukti tanda pengkhiatannya kepada Polan bin Polan (Muttafaq ‘alaih).

 

Bakso Daging Tikus

Di tahun 2006 lalu, Trans TV menurunkan laporan investigasinya tentang keberadaan sejumlah penjual bakso nakal yang mencampur bahan baku bakso (daging sapi) dengan daging tikus. Tayangan tersebut sempat membuat pedagang bakso mengalami penurunan omset secara drastis, bahkan kantor Trans TV sempat didemo sejumlah pedagang bakso yang merasa dirugikan oleh tayangan bakso tikus tersebut.

Menurut Ishadi, Presiden Direktur Trans TV, persoalan bakso tikus ini sudah lama terjadi, sekitar sepuluh tahunan, dan banyak tukang bakso tahu siapa yang menjajakan bakso tikus ini. Tudingan adanya rekayasa dalam tayangan yang mengungkap pembuatan bakso dengan bahan mentah tikus mati, adalah suatu hal yang tidak benar. Ishadi menyatakan, fakta pembuatan bakso tikus itu ada, dan pihaknya hanya sebatas menyiarkan fakta tersebut.

Selain bakso tikus, sejumlah pedagang nakal juga mencampurkan borax dan formalin ke dalam adonan baksonya, agar bakso tersebut menjadi lebih awet. Formalin dan Borax dalam jangka waktu singkat belum menampakkan efek samping. Tetapi dalam jangka waktu 5 – 10 tahun akan menyebabkan penyakit kanker hati bagi yang sering mengkonsumsinya.

Formalin merupakan antiseptic untuk membunuh bakteri kapang. Sering digunakan untuk mencuci peralatan kedokteran atau mengawetkan mayat.. Namun adakalanya formalin disalahgunakan untuk mengawetkan bakso, mie basah, kerupuk, ayam potong, tahu, ikan, dan lain-lain. Sedangkan Borax biasanya digunakan oleh industri farmasi sebagai ramuan obat seperti salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut, dan obat pencuci mata. Borax adakalanya disalahgunakan untuk bahan tambahan pembuatan mie basah, lontong, bakso, kerupuk, dan lain-lain.

Itu jelas penipuan yang merusak dan merugikan, jelas dilarang dalam Islam.

889 حَدِيثُ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : ذَكَرَ رَجُلٌ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يُخْدَعُ فِي الْبُيُوعِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَايَعْتَ فَقُلْ لَا خِلَابَةَ فَكَانَ إِذَا بَايَعَ يَقُولُ لَا خِيَابَةَ * 

889 Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Ada seorang lelaki memberitahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia ditipu dalam jual belinya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang akan berjual beli dengan kamu katakan kepadanya: Tiada penipuan! Semenjak itu, apabila berjual beli, dia berkata: Tiada penipuan! (Muttafaq ‘alaih).

Ibnu Bathal dalam syarah Shahih Bukhari menjelaskan, Tiada penipuan artinya jangan kamu menipuku, karena sesungguhnya menipu itu tidak halal. (Syarah Ibnu Bathal juz 11 halaman 251).

 

Daging Sapi Glonggongan

Daging glonggongan diperoleh dari hewan semisal sapi yang sebelum disembelih terlebih dulu dipakasa minum air sebanyak-banyaknya (diglonggong), sehingga lambung dan seluruh sistem pencernaan sapi tadi benar-benar penuh dengan air. Pada proses pengglonggongan ini biasanya digunakan mesin bertekanan besar sejenis jet-pump. Pengglonggongan adalah bentuk penyiksaan terhadap hewan yang dilarang dalam ajaran Islam. Selain itu, juga merupkan praktek curang yang merugikan konsumen dan dilarang dalam Islam, karena sapi yang diglonggong kelihatan gemuk karena telah menyerap air cukup banyak, namun dapat merusak kadar protein dan zat lain dalam daging. Akibatnya, kualitas daging jadi buruk dan mudah terjadi pembusukan.

Di bulan Ramadhan lalu, Polres Tulungagung Jawa Timur menggerebek praktik pemrosesan daging sapi glonggong di sebuah rumah jagal hewan Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Penggerebekan dilakukan setelah petugas Polresta Kediri membekuk Komarudin (37) alias Markum, warga Desa Gedangsewu yang tertangkap tangan menjual satu mobil pikap daging sapi glonggong di Pasar Kediri. Komarudin langsung ditetapkan sebagai tersangka dan dijebloskan ke dalam sel tahanan polresta Kediri. Komarudin mengaku sebagai ”bos” rumah jagal hewan di Desa Gedangsewu, Kabupaten Tulungagung.

Dari sini polisi Tulungagung kemudian menelusuri “rumah produksi” daging glonggong yang berjarak sedepa dari tempat tinggal Komarudin. Dalam penggerebekan itu, satuan reserse dan kriminal (reskrim) Polres Tulungagung memeriksa Slamet, 38, warga Dukuh Banyusodoh, Kelurahan Tanduh, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Menurut keterangan KBO Reskrim Polres Tulungagung Iptu M Khoiril, Slamet adalah kaki tangan Komarudin untuk urusan daging sapi, ia merupakan “tenaga ahli” yang mengerjakan proses “pengglonggongan” sapi sebelum disembelih. Slamet  dibayar Komarudin Rp100.000 per hari. Selain memeriksa Slamet, petugas juga menemukan delapan ekor sapi hidup yang diduga sudah diglonggong.

Mengglonggong sapi itu sendiri adalah perbuatan kedhaliman. Sedang hasilnya adalah untuk menipu pembeli daging sapi yang telah diglonggong itu. ini kjelas dilarang dalam Islam.

Dalam hadits diancam keras:

وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – : أنَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : (( مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلاَحَ فَلَيْسَ مِنَّا ، وَمَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا )) . رواه مسلم .

Riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa menghadangkan senjata kepada kami maka dia tidak termasuk golongan kami. Dan barangsiapa menipu kami maka tidak termasuk golongan kami. (HR Muslim).

وفي رواية لَهُ : أنَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ، مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أصابِعُهُ بَلَلاً ، فَقَالَ : (( مَا هذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ ؟ )) قَالَ : أصَابَتهُ السَّمَاءُ يَا رسول الله . قَالَ : (( أفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوقَ الطَّعَامِ حَتَّى يرَاهُ النَّاسُ ! مَنْ غشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا )) . أخرجه : مسلم 1/69 (101) (164) و1/69 (102) .

Dalam riwayat Abu Hurairah juga, suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat di depan seorang penjual bahan makanan. Lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan bahan makanan itu, hingga jari-jari beliau merasakan adanya basah-basah di dalamnya. Kemudian Rasulullah bersabda: Hai penjual bahan makanan, apakah basah-basah yang terdapat di dalam tumpukan bahan makanan yang kamu jual ini? Jawabnya: Terkena hujan ya Rasulullah. Lalu beliau bersabda: “Mengapa barang itu tidak kamu taruh di atas hingga para pembeli bisa mengetahui! Barangsiapa menipu kami maka tidak termasuk golongan kami” (HR Muslim dan Ibnu Majah).

 

Tahu Berformalin

Liputan 6 SCTV edisi 10 September 2008 melaporkan, Polda Metro Jaya menggerebek dua pabrik tahu berformalin. Selain menggunakan formalin, juga digunakan bahan pengawet lainnya. Lokasi pabrik tahu yang digerebek petugas gabungan Polda Metro Jaya, Balai POM, Disperindag DKI, Dinas Kesehatan DKI, dan BNP DKI berada di wilayah Mampang (Jakarta Selatan) dan Cipinangmuara (Jakarta Timur).

Enam orang yang diduga pembuat tahu berformalin, ditangkap berikut sejumlah barang bukti seperti tahu, cairan formalin, cetakan, dan kacang kedelai. Keenam pembuat tahu itu adalah Wardi, Mundopar, Siman, Sutarno, Tukino, dan Jecky Mulyawan. Lima orang diamankan dari pabrik tahu yang berlokasi di Jalan Mampangprapatan VII, Tegalparang, Jakarta Selatan. Sedangkan satu tersangka pembuat tahu berformalin di Jalan Cipinangmuara III, Jaktim.

Pabrik tahu berformalin tersebut telah beroperasi selama belasan tahun dengan omzet mencapai puluhan juta rupiah per hari. Dalam sehari, tahu yang diproduksi mencapai 3 ton, dan dijual ke berbagai pasar tradisional. Menurut Supeno, Wakil Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DKI, tahu yang mengandung formalin lebih kenyal dan bisa bertahan lebih dari satu hari. Kalau tanpa formalin, paling kekuatannya hanya sehari.

Supeno mengatakan, izin penggunaan formalin harus dari Disperindag. Penjualan formalin diatur dan tidak dijual sembarangan. Berkali-kali aparat melakukan penggerebekan di pabrik tersebut, tetapi setelah itu mereka beroperasi lagi. Bagi masyarakat muslim, dari kasus ini sebenarnya bisa dijadikan ladang amal mempraktekkan nahi munkar. Masyarakat secara swadaya bisa mencegah pabrik itu beroperasi lagi. Bila masyarakat bersikap tak acuh, maka kemunkaran seperti itu akan terus berlangsung yang selanjutnya akan menghancurkan masyarakat itu sendiri.

 

Karena, formalin memiliki efek buruk bagi kesehatan. Pada dosis rendah formalin menyebabkan sakit perut disertai muntah-muntah, menimbulkan gangguan pada susunan syaraf (depresi), kegagalan peredaran darah, iritasi lambung, alergi, memicu terjadinya kanker (karsinogenik). Pada dosis tinggi formalin menyebabkan tubuh kejang-kejang, kencing darah, sulit kencing, muntah darah, dan akhirnya kematian. Penggunaan formalin dalam jangka panjang mengakibatkan kerusakan hati dan ginjal.

 

Daging Sampah Restoran

Ada lagi yang lebih menjijikkan sekaligus membuat kita miris, yaitu pedagang daging sampah bekas restoran atau hotel. Menurut Chaidir Taufik, Kasudin Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat, usaha pengolahan daging dari sampah restoran atau hotel itu ternyata masih banyak terdapat di Kecamatan Cengkareng.. Sedikitnya ditemukan tiga tempat produksi daging sisa sampah itu dan dua tempat penampungan sampah sebagai sumber bahan baku. Semuanya ditemukan di RT 07 RW 04 Kelurahan Kapuk.

Salah satu pelaku pendaur ulang sekaligus penjual daging sampah ini adalah Darno, berusia 50 tahun. Biasanya, ada orang yang datang langsung ke rumahnya membeli daging-daging sampah yang telah direkondisi itu. Selain itu, melalui perantaraan istrinya Yatmi (40 tahun), daging-daging sampah itu dijualnya langsung ke Pasar Kampung Duri, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, yang berjarak lima kilometer dari rumahnya di Jl Peternakan I, RT 04/07, Cengkareng, Jakarta Barat.

Darno sendiri lebih berkonsentrasi mencari bahan baku. Kebetulan, sekitar 20 meter dari rumahnya, ada tempat pembuangan sampah sementara berukuran dua kali lapangan basket. Di situlah sampah dari restoran dan hotel dibuang. Setelah memilah, dia menggoreng. Agar kelihatan menarik, dia mewarnainya dengan pewarna tekstil.. Selain mencari sendiri, Darno juga membeli daging-daging bekas itu dari sejumlah orang. Setiap hari, ada saja orang yang menawarkan berkilogram daging sampah itu dengan harga tetap Rp 100 ribu, dengan berat bervariasi.

Kamis (11 Sep 2008) sekitar pukul 16.00 WIB, rumah Darno digerebek dan diberi peringatan agar menghentikan perbuatan munkarnya. Namun pada hari yang sama, malam hari, secara diam-diam Darno kembali melanjutkan kegiatannya, tanpa menyadari ada personel polisi yang sedang mengintipnya. Pukul 22.00 WIB, petugas pun memasuki rumah Darno, membawanya ke kantor polisi. Di ruang pemeriksaan, Darno mengaku terpaksa melakukan hal itu karena tidak punya pilihan lain untuk mencari uang. Dia mengaku sudah melakoni usaha itu selama bertahun-tahun, warisan dari ibunya yang sudah meninggal.

Dalam satu hari, Darno mengaku bisa memasak daging sampah sekitar 50 hingga 100 kilogram, dengan keuntungan sekitar Rp 100.000 per hari. Tetangga Darno tak tahu jika daging yang dijual Darno berasal dari tempat sampah. Mereka hanya melihat setiap hari Yatmi, istri Darno berjualan daging di Pasar Pos Duri, Tambora dalam wadah baskom. Karena murah, para tetangga Darno juga suka ikut membeli. Dengan uang seribu rupiah, bisa memperoleh lima potong daging goreng.

Masih banyak cara-cara batil yang dilakukan pedagang dalam mencari untung, misalnya mendaur ulang makanan ringan yang sudah kedaluwarsa, kemudian direkondisi, dikemas dan dijual kembali.termasuk, berbagai jenis dan merek roti yang sudah berjamur, dijual kembali setelah direkondisi. Bahkan sosis kedaluwarsa dari merek terkenal juga dipasarkan oleh sekelompok orang, tentunya setelah direkondisi, kepada kaum marginal.

 

Resiko makan haram

Cara-cara batil dalam mencari uang terbukti ada beraneka macam. Ini baru sedikit contoh dari aneka kebatilan. Semuanya itu menghasilkan keharaman. Sedangkan yang haram itu tidak akan diterima oleh Allah, bahkan jurusannya ke neraka.

 

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال : قال رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – : (( أيُّهَا النَّاسُ ، إنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إلاَّ طَيِّباً ، وإنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِينَ . فقالَ تعالى :

{ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً } [ المؤمنون : 51 ] ، وقال تعالى : { يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } [ البقرة : 172 ] . ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أشْعثَ أغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إلَى السَّمَاءِ : يَا رَبِّ يَا رَبِّ ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، ومَلبسُهُ حرامٌ ، وَغُذِّيَ بالْحَرَامِ ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ؟ رواه مسلم .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shalllahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya Allah Maha Baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkan oleh para rasul. Maka Allah Ta’ala berfirman:

{ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً } [ المؤمنون : 51 ]

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. (QS Al-Mukminun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman:

{ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } [ البقرة : 172 ] .

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu (QS Al-Baqarah: 172).

Lalu Rasulullah menuturkan tentang seorang lelaki yang pergi mengembara hingga rambutnya kusut berdebu, lalu dia mengangkat tangan ke arah langit sambil berdo’a: Ya Rabbi, ya Rabbi, berilah aku sesuatu, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram, dan dimakani dengan yang haram pula. Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan terhadap yang demikian. (HR Muslim).

عن كعب بن عجرة ، قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم :{يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ وَدَمٌ نَبَتَا عَلَى سُحْتٍ , النَّارُ أَوْلَى بِهِ . يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ النَّاسُ غَادِيَانِ فَغَادٍ فِي فِكَاكِ نَفْسِهِ فَمُعْتِقُهَا وَغَادٍ مُوبِقُهَا . يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ الصَّلَاةُ قُرُبَاتٌ وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يَذْهَبُ الْجَلِيدُ عَلَى الصَّفَا } صحيح ابن حبان – (ج 12 / ص 378) قال شعيب الأرنؤوط : حديث صحيح

 Sahabat Ka`ab bin Ajrah berkata, bahwa Rasulullah shalallah `alaihi wa sallam telah bersabda: “Ya Ka`ab bin Ajrah, tidak masuk surga daging dan darah yang tumbuh dari makanan yang haram. Dan api neraka adalah lebih pantas buat dirinya.. Ya Ka`ab bin Ajrah, di setiap pagi umat manusia pergi menuju dua tujuan: Ada yang pergi menyelamatkan diri (dari barang haram), dan ada yang pergi menghancurkan diri (mencari barang haram).”(HR.Ibnu Hibban, berkata Syu`aib Al-Arnauth: Hadist Shohih).

 

Berbagai tipuan yang menghasilkan keharaman itu masih pula ada jenis yang telah diketahui secara umum yaitu mengurangi atau mencurangi takaran dan timbangan. Allah Ta’ala mengancam:

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ(1)الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ(2)وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ(3)أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ(4)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ(5)يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ(6)

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang,

(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,

dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.

Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,

pada suatu hari yang besar,

(yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? (QS Al-Muthaffifin: 1, 2, 3, 4, 5, 6).

Curang dalam takaran dan timbangan termasuk perbuatan yang adzabnya bukan hanya di akherat tetapi diancam adzab pula di dunia.

عَنْ { ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ : أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسُ خِصَالٍ إذَا اُبْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاَللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ فَيُعْلِنُوا بِهَا إلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي  أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا , وَلَمْ يَنْقُصُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ إلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ , أَيْ جَمْعُ سَنَةٍ وَهِيَ الْعَامُ الْمُقْحِطُ الَّذِي لَا تُنْبِتُ الْأَرْضُ فِيهِ شَيْئًا وَقَعَ مَطَرٌ أَوْ لَا وَشِدَّةُ الْمُؤْنَةِ وَجَوْرُ السُّلْطَانِ , وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا , وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ , وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا فِيمَا أَنْزَلَ اللَّهُ إلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ } . (ابن ماجه ، وأبو نعيم ، والحاكم ، والبيهقى فى شعب الإيمان ، وابن عساكر عن ابن عمر)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang kepadaku seraya bersabda:  “Hai orang-orang Muhajirin, ada lima perkara yang apabila kamu diuji dengannya, maka sangat berat akibatnya. Aku memohon perlindungan kepada Allah, agar kamu tidak menemuinya: (1) Tidaklah merajalela kekejian di suatu kaum sama sekali,  lantas mereka melakukan kemaksiatan secara terang-terangan kecuali mereka akan dilanda penyakit wabah dan penyakit yang belum pernah terjadi pada umat dahulu-dahulunya yang telah lalu. (2) Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka akan ditimpa paceklik panjang, biaya hidup sangat tinggi, dan dikuasai penguasa yang dhalim. (3) Tidaklah mereka enggan membayar zakat kecuali mereka akan ditimpa kemarau panjang, dan sekiranya tidak ada binatang-binatang ternak, tentu tidak akan turun hujan untuk selamanya. (4) Tidaklah mereka merusak janji-janji Allah dan janji Rasul-Nya kecuali Allah akan  menguasakan musuh yang berlaku sewenang-wenang dalam merampas hak-hak mereka. (5) Tidaklah pemimpin-pemimpin mereka tak berhukum dengan kitab Allah dan mereka tidak memilih (wahyu) yang Allah turunkan kecuali Allah akan menjadikan saling bermusuhan di antara mereka. (HR Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu ‘Asakir, hasan-shahih menurut Syaikh Al-Albani).

Masyarakat muslim sudah seharusnya lebih waspada terhadap praktik-praktik kemunkaran seperti ini. Tidak sekedar waspada, tetapi juga sebisa mungkin berpartisipasi aktif mencegah timbulnya praktik batil di dalam mencari uang, di lingkungannya masing-masing.

Ancaman yang dihadapi masyarakat Muslim di Indonesia, ternyata tidak hanya berupa ancaman akidah tetapi juga datang dari praktik batil sebagaimana dicontohkan di atas. Masyarakat Muslim Indonesia tidak saja diracuni akidahnya melalui paham-paham sesat seperti liberalisme, sekularisme, dan pluralisme, serta aneka aliran sesat lain berupa Islam Jamaah (LDII), Syi’ah, Ahmadiyah, dan sebagainya; tetapi juga diracuni melalui berbagai makanan yang tidak halal bahkan mengandung racun. Kalau hal ini berlangsung terus, dan tidak diberantas oleh kaum Muslimin itu sendiri niscaya masyarakat Muslim Indonesia akan menuju bahaya bahkan mungkin kepunahan. Na’udzubillahi min dzalik! Kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian. (haji/tede)