Antara Hanung Bramantyo dan Muhammad Syarif

Dua perusak beda gaya

antara antara02

niponk.blogspot.com

Boleh jadi Hanung merasa sedang menggarap tema kerukunan lewat film, namun yang ia hasilkan justru merusak kerukunan, sekaligus memberi stereotype yang buruk tentang Islam… Kerusakan yang dikemas begitu indah, syahdu dan melenakan, biasanya lebih dahsyat hasil akhirnya. Siapa yang membiayai Hanung memproduksi kerusakan tadi, terlihat begitu jelas dan tegas.

Sementara itu Muhammad Syarif (32 tahun) di akhir hayatnya menorehkan ‘karya’ yang juga kontroversial, berupa bom bunuh diri di mesjid Mapolresta Cirebon, Jawa Barat (Jum’at, 15 April 2011).

Waktu-waktu sebelumnya, ketika GAPAS melakukan aksi pembubaran Ahmadiyah di Kuningan, Muhammad Syarif sudah lebih dulu berada di lokasi, padahal ia tidak diajak serta. Begitu juga ketika GAPAS terlibat dalam aksi demo persidangan terdakwa aliran sesat, Muhammad Syarif nimbrung ke dalam barisan aksi tanpa undangan. Tidak sekedar nimbrung, bahkan Syarif melakukan aksi vandalistis (perusakan) yang membuat peserta lainnya kesal.

Siapa yang telah ‘mendidik’ Syarif sehingga ia menjadi sedemikian radikal, dan siapa pula yang membiayai Syarif? Itu semua tidak jelas.

***

Kedua sosok ini berada di dalam dua dunia yang berbeda. Bahkan tidak saling kenal satu sama lain. Hanung Bramantyo (35 tahun) adalah sutradara populer yang sejumlah karya sinematografinya akhir-akhir ini mengundang kontroversi, seperti film Perempuan Berkalung Sorban dan film “?” (tandatanya). Sedangkan Muhammad Syarif (32 tahun), sama sekali tidak terkenal, namun di akhir hayatnya menorehkan ‘karya’ yang juga kontroversial, berupa bom bunuh diri di mesjid Mapolresta Cirebon, Jawa Barat (Jum’at, 15 April 2011).

Akibat tingkah bom di masjid itu, stigmatisasi atau cap buruk Islam teroris pun ada yang buru-buru melontarkannya lewat media, dan itu sangat menyinggung perasaan Ummat Islam. (lihat nahimunkar.con, Stigma Islam Teroris dalam Kasus Bom Cirebon, Telah menyinggung perasaan Umat Islam Indonesia, April 19, 2011 9:50 pm , https://www.nahimunkar.com/stigma-islam-teroris-dalam-kasus-bom-cirebon/#more-4751)

Kesamaannya, kedua orang muda ini lahir di tengah-tengah keluarga Islam yang baik dan taat. Hanung lahir di Yogyakarta pada tanggal 1 Oktober 1975. Ayahnya aktivis Muhammadiyah. Sejak Taman Kanak-kanak hingga SMA, Hanung bersekolah di lembaga pendidikan yang dikelola Muhammadiyah. Bahkan sempat nyantri di salah satu pondok pesantren NU yang dimpimpin Kyai Siraj, di Klaten, Jawa Tengah.

Orangtua Muhammad Syarif, adalah seorang pemuka agama lokal yang sangat dikenal berbagai kalangan dan etnis yang ada di kawasan Cirebon dan sekitarnya. Pendidikan formal Syarif dari SD hingga SMA ditempuh di Cirebon. Selain itu, Syarif juga pernah nyantri di beberapa pondok pesantren, meski tidak lama. Menurut Abdul Ghafur (66 tahun), orangtua Syarif, anaknya itu pernah nyantri di sebuah ponpes di Cirebon, Kediri (Jawa Timur), dan Solo (Jawa Tengah).

Hanung Bramantyo

Sejak kelas 4 sekolah dasar, Hanung sudah gandrung dengan seni teater. Dunia teater yang dimasukinya pertama kali adalah Teater Al-Kautsar yang berbasis di mesjid. Minat berteater Hanung terus berlanjut, hingga ia menduduki bangku SMP dan SMA. Ketika di SMA, minat berteaternya tidak mendapat dukungan kondusif dari pihak sekolah. Bahkan seni teater dianggap kegiatan yang tidak syar’i oleh pihak sekolah. Puncaknya Hanung patah arang. Karena minat berteaternya tidak terakomodasi, maka sejak saat itu ia menjadi sekuler, nakal, menolak Islam, tidak suka dengan Muhammadiyah. “…Itulah awal karir saya menjadi ‘murtad’…” Kata Hanung.

Kondisi itu terus berlanjut hingga Hanung menduduki bangku pendidikan di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Minat berteaternya bagai fondasi yang kuat untuk menjadi sineas. Tentu bukan IKJ yang mengarahkan Hanung menjadi sineas yang cenderung mempromosikan syirik modern (pluralisme), sebagai mana dituduhkan oleh KH A. Cholil Ridwan (Ketua MUI Bidang Budaya). Boleh jadi, itu pilihan Hanung sendiri.

Tentu bukan IKJ yang mengajarkan Hanung untuk mempropagandakan paham liberalisme, budaya jahiliyah, bahkan nilai-nilai Kristiani melalui film Perempuan Berkalung Sorban, sebagaimana dituduhkan sineas Chaerul Umam, senior Hanung sendiri. Tentu bukan Kyai Siraj yang mengajarkan Hanung untuk mendiskreditkan pesantren melalui film garapannya, sebagaimana dituduhkan KH. Prof Dr Ali Mustafa Yakub (Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI). Boleh jadi, itu pilihan Hanung sendiri.

Tentu bukan ayahanda Hanung yang memilihkan sosok murtad seperti Lukman Sardi memerankan tokoh KH Ahmad Dahlan (pendiri ormas Muhammadiyah), dalam film berjudul Sang Pencerah. Tentu bukan ibunda Hanung –mualaf keturunan Cina– yang memilihkan cuplikan kisah dari Injil tentang pelacur Magdalena yang dilempari batu, untuk diadopsi ke dalam salah satu adegan dalam film hammadiyah). rangtua Hanung yang memilihkan sosok murtad seperti Lukman Sardi memerankan tokoh KH Ahmad Dahlan (pendiri Perempuan Berkalung Sorban. Boleh jadi, itu pilihan Hanung sendiri.

Meski Hanung dari keluarga Islam, bahkan bersekolah di lembaga pendidikan yang dikelola ormas Islam, tidak serta-merta menjadikannya sebagai sosok yang punya ghirah terhadap Islam. Bisa saja kebalikannya yang terjadi, disadari atau tidak. Boleh jadi Hanung merasa sedang menggarap tema kerukunan, namun yang ia hasilkan justru merusak kerukunan, sekaligus memberi stereotype yang buruk tentang Islam, sebagaimana dituduhkan Adian Husaini.

Itu semua adalah pilihan Hanung. Ia mau menjadi kafir, murtad, menjajakan marxisme, komunisme, liberalisme, dan sebagainya, belum tentu ada kaitan dengan orangtua yang mengasuhnya dan lembaga pendidikan yang pernah dimasukinya. Hanung yang percaya kepada kekuatan akal, bisa memilih mana yang dia suka dan tidak suka. Namun yang jelas, dalam menggarap sebuah karya sinematografi, Hanung tidak sendiri. Ada sejumlah orang yang terlibat. Produser penyandang dana, penulis skenario, dan sejumlah pihak lainnya. Semuanya bermuara kepada keuntungan, baik materi maupun non materi. Keuntungan non materi bisa berupa propaganda ideologis.

Muhammad Syarif

Sementara itu, Muhammad Syarif selain menempuh pendidikan formal dan keagamaan, juga membekali dirinya dengan kursus keterampilan komputer. Yang jelas, bukan keterampilan merakit bom low explossive. Menurut dugaan pengamat terorisme Mardigu WP, Muhammad Syarif membuat bom itu sendiri. Tehnik pembuatan bom seperti itu, mudah diperoleh di internet, demikian juga bahan-bahannya mudah diperoleh. Yang jelas, menurut Mardigu, pembuat bom bukan orang stres, karena memerlukan ketelatenan.

Menurut keterangan Abdul Ghafur, ayahanda Muhammad Syarif, anaknya itu punya persentuhan dengan gerakan-gerakan yang disebut Islam garis keras. Muhammad Syarif ikut menjadi bagian dari massa yang memerangi aliran dan paham sesat serta pemurtadan. Ketika berada di rumah, ia bersikap keras terhadap orangtuanya. Bahkan ayahandanya sendiri pernah disebut kafir. Ini menunjukkan bahwa sikap radikal dan ekstrem seperti itu bukan berasal dari didikan orangtuanya yang tenang dan konvensional. Apalagi, selama 13 tahun Muhammad Syarif terpisah dari keluarganya.

Boleh jadi, Muhamamd Syarif memang punya kecenderungan ekstrem dan radikal, kemudian menjadi aktual ketika mendapat stimulasi dari lingkungan pergaulannya. Menurut Abdul Ghafur, sejak 2009 Muhammad Syarif terlihat ikut pengajian Ba’asyir, dan sejak itu pula sikap Syarif berubah. Abu Bakar Ba’asyir adalah pimpinan JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid). Sementara itu, JAT sendiri menyangkal punya anggota bernama Muhammad Syarif. Bahkan JAT menyatakan bahwa “…serangan bom ke dalam masjid dan jama’ah yang sedang atau hendak shalat adalah perbuatan haram…”

Selain bersentuhan dengan komunitas Ba’syir, Muhammad Syarif juga bersentuhan dengan komunitas GAPAS (Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat) Cirebon, yang diketuai oleh Andi Mulya. Namun menurut Andi Mulya, Muhammad Syarif bukan anggota GAPAS atau FUI (Forum Umat Islam), meski kerap terlibat di dalam aksi yang digelar keduanya.

Andi Mulya pertama kali mengenal Muhammad Syarif sekitar tiga tahun lalu. Namun sekitar satu setengah tahun belakangan ini, Syarif tidak terlihat mengikuti pengajian di Masjid At-Taqwa. Menurut Andi Mulya, Muhammad Syarif adalah sosok yang tempramental dan keras. Andi Mulya yang sempat menjadi kepala keamanan Masjid At-Taqwa, Cirebon, pernah mendapat laporan dari jama’ah berkenaan sikap keras Syarif. Antara lain, Syarif membangunkan jama’ah yang tidur di Masjid At-Taqwa dengan cara menendang orang bersangkutan. Ia memang tidak senang bila masjid dijadikan tempat tidur.

Muhammad Syarif ternyata juga masuk ke dalam DPO (daftar pencarian orang) polresta Cirebon, karena terlibat perusakan Alfamart saat melakukan razia minuman keras. Saat itu, menurut Andi Mulya, Syarif mengatasnamakan Gabungan Remaja Masjid Kota Cirebon. Sama sekali tidak terkait dengan GAPAS. Saat itu selain Syarif yang juga terlibat perusakan Alfamart Cirebon adalah Agung. Menurut keterangan aparat, Agung adalah anak dari Tatang, koordinator JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid) Wilayah III, yang membawahi kawasan Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.

Begitu juga ketika GAPAS melakukan aksi pembubaran Ahmadiyah di Kuningan, Muhammad Syarif sudah lebih dulu berada di lokasi, padahal ia tidak diajak serta. Begitu juga ketika GAPAS terlibat dalam aksi demo persidangan terdakwa aliran sesat, Muhammad Syarif nimbrung ke dalam barisan aksi tanpa undangan. Tidak sekedar nimbrung, bahkan Syarif melakukan aksi vandalistis (perusakan) yang membuat peserta lainnya kesal.

Dua pekan sebelum Syarif melakukan aksi bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon, ia terlibat pembunuhan terhadap Kopka Sutejo, anggota Kodim Sumber, Cirebon. Pembunuhan itu berlangsung sekitar 2 April 2011, di Desa Cempaka, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Selain menewaskan Kopka Sutejo, Syarif juga melakukan percobaan pembunuhan terhadap warga sipil bernama Ali. Namun Ali selamat dengan luka di bagian leher.

Saat itu Syarif sedang berada di sebuah warung milik Ali. Pembicaraan Syarif dan rekannya soal bom terdengar oleh Ali. Maka, Ali pun melaporkan hal itu kepada Kopka Sutejo (anggota Kodim 0620 Sumber). Kopka Sutejo menindaklanjuti laporan tersebut dengan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Syarif. Karena tersudut, Syarif dan rekannya mengambil tindakan nekat, menghabisi nyawa Kopka Sutejo.

Aksi bom bunuh diri Muhammad Syarif di Masjid Mapolresta Cirebon yang disebut haram dan bukan jihad itu, ternyata memang diniatkan sebagai jihad oleh Syarif sendiri, sebagaimana bisa ditangkap melalui surat pernyataan yang ditulisnya sendiri. Surat pernyataan itu ditemukan aparat saat menggeledah kediaman mertua Syarif di Majalengka. Surat pernyataan itu terselip dalam sebuah buku berjudul “Jihad di Asia Tengah, (Perang Akhir Zaman)” karangan Syekh Abu Mus’ab As Suri. Isinya:

Bahwa saya: Muhammad Syarif

Insya Allah / atas izin Allah, sangat, sangat !!!!!!

“Meninggal Syahid” Bukan karena ingin disebut Mujahid tetapi kemuliaan Syahid telah melekat berat di hati. Dengan janji dari yang menciptakan saya dan yang akan mensucikan saya Yaitu janji Allah…….Allah…….Allah.

Pesan saya: “Sungguh kehidupan dunia hanya menipu. Wass

Apa yang membuat Muhammad Syarif begitu yakin dengan aksi bom bunuh dirinya sebagai sebuah langkah jihad? Padahal, ormas-ormas yang namanya terkait dengan aksi Syarif justru menyatakan tindakan itu haram, bukan jihad, bahkan pengecut. Hanya Syarif dan rekan-rekannya yang tahu.

***

Yang jelas, dalam pandangan Abdul Ghafur, ayahanda Muhammad Syarif, tindakan sang anak sangat memalukan keluarga, sangat membebani keluarga. Begitu juga kiranya yang dirasakan umat Islam pada umumnya. Tingkat kerusakan yang dihasilkan oleh ‘karya’ kontroversial Muhammad Syarif sangat bisa dirasakan dengan jelas dan tegas. Namun, yang masih abstrak adalah siapa yang telah ‘mendidik’ Syarif sehingga ia menjadi sedemikian radikal, dan siapa pula yang membiayai Syarif? Itu semua tidak jelas.

Berbeda dengan Muhammad Syarif, karya kontroversial Hanung Bramantyo tidak begitu bisa dirasakan dengan jelas dan tegas sebagai sebuah kerusakan. Karena kerusakan yang diproduksi Hanung begitu indah dan syahdu. Bahkan melenakan. Namun, siapa yang membiayai Hanung memproduksi kerusakan tadi, terlihat begitu jelas dan tegas.

Kerusakan yang dikemas begitu indah, syahdu dan melenakan, biasanya lebih dahsyat hasil akhirnya. Hanya Allah yang berwenang memberi hidayah atau melaknat mereka yang terlibat di dalam upaya merusak akidah umat, merusak agama Allah. (haji/tede)

(nahimunkar.com)