Apakah Iblis Tidak Sesat, Wahai Pak Menteri Agama?


Pesantren Al-Zaytun pimpinan Panji Gumilang yang juga pemimpin NII KW IX khabarnya dikatakan oleh Menteri Agama SDA (Surya Dharma Ali) bahwa kurikulumnya tidak menyimpang.

Malahan Menteri ini berjanji untuk “sowan” ke pentolan NII itu dan mengajak para wartawan untuk berdialog dengan Panji Gumilang.

Gagasan itu tentu saja aneh. Karena MUI pun telah meneliti adanya penyimpangan-penyimpangan di Ma’had Al-Zaytun. Bahkan apa yang dikembangkan di Al-Zaytun berupa apa yang diklaim sebagai toleransi dikhabarkan telah menghasilkan satu ustadz di Al-Zaytun yang kemudian pilih murtad dan jadi penginjil setelah terpengaruh oleh apa yang diberlakukan Panji Gumilang di Pesantren Al-Zaytun.

Kalau cara mengatasi apa yang telah dinyatakan sesat oleh berbagai pihak hanya dengan cara sowan lalu dialog dengan pentolannya, maka perlu diingat: bukankah Iblis pun berani membantah langsung di hadapan Allah Ta’ala, wahai Pak Menteri Agama?

Apakah berarti Iblis tidak sesat, wahai Pak Menteri?

Untuk menyimak masalah ini, berikut inilah berita-beritanya:

‘Aset NII Itu Ponpes Al Zaytun, Jadi Kembalikan Ke Umat Islam’

SERANG – Anak Kartosuwiryo pendiri Negara Islam Indonesia (NII), Sarjono Kartosuwiryo, meminta aset NII dikembalikan kepada umat Islam. Salah satu aset NII yang harus diserahkan ke umat Islam adalah pondok pesantren Ma’had Al Zaytun, Indramayu, Jawa Barat. “Karena Al Zaytun itu dibangun dari hasil menjual umat Islam,” kata Sarjono, di Serang, Banten, Senin (9/5).

Pengembalian aset menjadi salah satu poin nota kesepahaman yang ditandatangani oleh ratusan mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) di Banten. Sarjono juga mendesak Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang pencemaran nama baik yang dilakukan oleh NII terhadap umat Islam di Indonesia.

Sebab, dengan berkedok agama, NII menjaring anggotanya untuk mengeruk keuntungan. Menurut Sarjono, telah banyak korban yang terjaring NII karena berbagai faktor, antara lain faktor pendidikan, ekonomi, dan jaminan sosial. Mereka yang menjadi korban NII justru sebagian besar dari kalangan menegah ke bawah.

Karena itu, Sarjono mendesak pemerintah untuk lebih meningkatkan perhatian terhadap kelompok masyarakat menegah ke bawah yang selama ini menjadi sasaran empuk NII. “Pemerintah harus memperhatikan masyarakat menengah ke bawah, mereka itu hanya butuh diperhatikan dan dipenuhi kebutuhannya,” kata Sarjono.

Salah seorang mantan pengikut NII asal Serang, Banten, Solahudin, menilai tindakan yang dilakukan pengikut NII saat ini tidak benar dan sudah menyimpang dari ajaran Islam. Selain itu, dalam menyebarkan idiologinya banyak terjadi pemaksaan. “Ini sudah tidak benar dan melanggar ajaran Islam yang sesungguhnya,” kata Solahudin.

Solahudin mengaku sudah keluar NII sejak 1997, lantaran banyak penyimpangan yang dilakukan NII. Antara lain, pengelolaan dana yang dipungut sebesar 2, 5 persen dari penghasilan anggotanya. “Tidak jelas dasar pemungutan dan prosedur pemungutan dana tersebut,” kata Solahudin.

Redaktur: Djibril Muhammad

Reporter: Muhammad Fakhruddin

Monday, 09 May 2011 18:33 WIB

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID,

(nahimunkar.com)

***

MUI: Al Zaytun & NII KW 9 Berkaitan, Ajarannya Menyimpang

Jakarta – Tim Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2002 pernah meneliti kaitan antara Negara Islam Indonesia (NII) dengan Pesantren Al Zaytun, Indramayu. Hasilnya, memang ada penyimpangan dari ajaran Islam.

“Ya saya kira hasilnya itu ditemukan kaitan kepemimpinan antara Al Zaytun dengan NII KW 9, pemimpinnya yaitu Panji Gumilang,” jelas Ketua MUI Ma’ruf Amin ketika dihubungi detikcom.

Penelitian itu, jelas Ma’ruf dilakukan pada mantan pengajar Al Zaytun, informasi berbagai pihak dan sumber-sumber. Hasilnya, terdapat penyimpangan dalam ajarannya.

“Ada penyimpangan dalam pemahamannya, misalnya soal zakat, nabi,” jelas Ma’ruf.

Apakah dari penelitian soal penyimpangan ditemukan masalah kriminal? “Kita tidak sampai ke sana. Kita baru meneliti soal pemahaman dan ditemukan adanya pemahaman yang menyimpang,” jawab Ma’ruf.

Dari arsip 5 Oktober 2002, berikut hasil penelitian tim MUI:

1. Ditemukan indikasi kuat adanya relasi (hubungan) antara ma’had Al-Zaytun (MAZ) dengan organisasi NII KW IX. Hubungan tersebut bersifat historis, finansial, dan kepemimpinan.

a) Hubungan historis: kelahiran MAZ memiliki hubungan historis dengan organisasi NII KW IX.

b) Hubungan finansial: adanya aliran dana dari anggota dan aparat teritorial NII KW IX yang menjadi sumber dana signifikan bagi kelahiran dan perkembangan MAZ.

c) Hubungan kepemimpinan: kepemimpinan di MAZ terkait dengan kepemimpinan di organisasi NII KW IX, terutama pada figur AS Panji Gumilang dan sebagai pengurus yayasan.

2. Terdapat penyimpangan paham dan ajaran Islam yang dipraktikkan organisasi NII KW IX. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi antara lain dalam hal mobilisasi dana yang mengatasnamanakan ajaran Islam yang diselewengkan, penafsiran ayat-ayat Alquran yang menyimpang dan mengafirkan kelompok di luar organisasi mereka.

3. Ditemukan adanya indikasi penyimpangan paham keagamaan dalam masalah zakat fitrah dan kurban yang diterapkan pimpinan MAZ, sebagaimana dimuat dalam majalah Al-Zaytun.

4. Persoalan Al-Zaytun terletak pada aspek kepemimpinan yang kontroversial (AS Panji Gumilang dan sejumlah pengurus yayasan) yang terkait dengan organisasi NII KW IX.

5. Ada indikasi keterkaitan sebagian koordinator wilayah yang bertugas sebagai tempat rekrutmen santri MAZ dengan organisasi NII KW IX.

Berdasarkan kesimpulan di atas, Tim MUI merekomendasikan beberapa hal kepada Pimpinan Harian MUI:

1. Memanggil pimpinan MAZ untuk dimintai klarifikasi atas temuan-temuan yang didapat dari investigasi Tim Peneliti MAZ MUI.

2. Dikarenakan persoalan mendasar MAZ terletak pada kepemimpinannya, diharapkan Pimpinan Harian MUI dapat mengambil inisiatif dan langkah-langkah konkret untuk membenahi masalah kepemimpinan di MAZ.

3. Pimpinan Harian MUI agar mengambil keputusan yang sangat bijak dan arif menyelamatkan pondok pesantren Al-Zaytundengan berdasarkan pada prinsip kemaslahatan umat.

Demikian kesimpulan dan rekomendasi ini dibuat untuk dapat ditindaklanjuti dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua. Amin.

Jakarta, 28 Rajab 1423 H

Jakarta, 5 Oktober 2002 M

Hasil penelitian dan rekomendasi Tim MUI itu dibenarkan Ma’ruf Amin, “Ya memang seperti itu”.

Al Zaytun Menyangkal

Sementara itu, pengurus Pesantren Al Zaytun di Indramayu, Jabar, menyangkal lembaganya terkait NII. “Al Zaytun ini pusat pendidikan, pengembangan budaya toleransi, bukan yang lainnya. Dan Al Zaytun ini berdiri di atas legal formal di bawah Yayasan Pesantren Indonesia,” kata Sekretaris Pesantren Al Zaytun, Abdul Halim, kepada detikcom, Kamis (14/4/2011).

Siswa pesantren yang menanyakan isu keterkaitan Al Zaytun dengan NII secara langsung, kata Halim, tidak ada. Dia mengindikasikan, isu-isu justru merebak di luar pesantren itu. Anak didik di pesantren itu pun memahami Al Zaytun sebagai pusat pendidikan dan untuk mengembangkan budaya toleransi dan perdamaian.

(nwk/nrl)

Sumber: detiknews.com, Iin Yumiyanti – detikNews, Jumat, 15/04/2011 18:44 WIB

***

Apa yang disebut bahwa Al Zaytun sebagai pusat pendidikan dan untuk mengembangkan budaya toleransi dan perdamaian di antara hasinya seperti ini:

Berawal dari Natalan, Ustadz Al-Zaytun Jadi Penginjil

Hubungan Pesantren Al-Zaytun dengan para misionaris Kristen nampak terlalu berlebihan. Menyambut Natal tahun 2005, Al-Zaytun mengizinkan tamu dari Yayasan The Gideon International membagi-bagikan 1.400 Bibel secara cuma-cuma di pesantren.

Bermula dari hubungan dekat Al-Zaytun dengan pendeta dan misionaris Kristen inilah, berakibat murtadnya Saifuddin Ibrahim, salah seorang pengasuh ma’had. (baca artikel tentang Masuk Kristen di Pesantren Al-Zaytun).

Al Zaytun mengklaim sebagai pusat pendidikan dan untuk mengembangkan budaya toleransi dan perdamaian, ternyata di antara hasilnya adalah menjadikan orang sampai murtad bahkan kemudian jadi penginjil. Saifuddin Ibrahim yang murtad gara-gara system yang diberlakukan di Ma’had/ Pesantren Al-Zaytun mengembangkan toleransi yang tidak sesuai dengan aturan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia sampai murtad dan kemudian jadi penginjil. Padahal tadinya adalah ustadz atau guru di Al-Zaytun, itupun guru Al-Qur’an dan Hadits. Itu semua gara-gara toleransi yang diberlakukan di Al-Zaytun yang pada dasarnya faham kemusyrikan baru yang biasa disebut pluralism agama.

Dalam buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs diungkap pula faham pluralism agama alias kemusyrikan baru yang nyata di Pesantren Al-zaytun Indramayu Jawa Barat pimpinan Panji Gumilang ini. Mari kita simak cuplikannya:

Mengapa gagasan pluralisme agama disebut sebagai gagasan orang dungu? Cobalah simak kejadian berikut ini:

Seorang pemandu tamu Ma’had Al-Zaytun pimpinan AS Panjigumilang di Indramayu Jawa Barat menjelaskan kondisi pesantren megah itu kepada pengunjung dalam mobil ketika mengelilingi pergedungan dan kawasan pesantren ini. Pemandu mengatakan, pesantren ini menerima juga santri-santri yang non muslim. Lalu seorang bocah keturunan India dalam mobil ini bertanya, “Lho kok menerima santri non Muslim Pak, kan ini pesantren?”

“Ya, kami menerima murid yang non muslim pula, karena semua agama itu sama, semuanya dari Tuhan juga. Jadi semua agama sama,” jawab pemandu.

Mobil pun tetap berjalan pelan-pelan. Pemandu masih sering menjelaskan ini dan itu kepada pengunjung sekitar 10-an orang dalam mobil itu. Lalu mobil lewat di depan deretan kandang yang isinya banyak sapi. Bocah keturunan India itu bertanya lagi:

“Pak, itu banyak sapi, untuk apa pak, sapi-sapi itu?”

“Untuk disembelih, dijadikan lauk bagi para santri,” jawab pemandu.

“Lho, sapi kok disembelih Pak. Tadi bapak bilang, semua agama sama. Lha kok sapi boleh disembelih pak?” Tanya bocah keturunan India yang bagi agama dia sapi tak boleh disembelih itu.

Ditunggu bermenit-menit tidak ada jawaban dari pemandu. Adanya hanya diam. Padahal hanya menghadapi bocah yang dibawa oleh bapak dan ibunya dan belum dapat bepergian sendiri itu.

Baru menghadapi bocah saja, orang yang berfaham pluralisme agama alias menyamakan semua agama ini sudah tidak mampu menjawab. Padahal masih di dunia. Apalagi di akherat kelak.

Di dunia ini sudah ada tuntunannya, bahwa agama yang diridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah Islam. Yang lain tidak diridhoi. Maka jelas tidak sama antara yang diridhoi dan yang tidak. Yang bilang sama, itu hanya orang-orang yang tak menggunakan akalnya. (Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2010, halaman 48-49).

Apakah Iblis tidak sesat, wahai Pak Menteri?

Kenyataan dan bukti-bukti tentang sesatnya dan menyimpangnya ajaran di Pesantren al-Zaytun telah nyata. Kalau Pak Menteri Agama SDA (Surya Dharma Ali) kini ngotot bilang bahwa kurikulum Pesantren Al-Zaytun tidak menyimpang, bahkan mau datang ke pesantren megah dengan 8.000an murid dan mahasiswa itu dengan mengajak para wartawan untuk berdialog dengan Panji Gumilang, itu bukan memecahkan masalah. Karena yang namanya kesesatan dan penyimpangan tidak cukup hanya diatasi pakai “sowan munduk-munduk” lalu dialog.

Hanya orang yang tidak bisa berfikir saja yang mengatasi kesesatan yang sudah jelas nyata malah menepisnya dengan sowan dan dialog dengan pentolannya. Iblis pun di hadapan Allah Ta’ala berani membantah! Apakah Iblis tidak sesat wahai Pak Menteri Agama?

(nahimunkar.com)