KH. Tajul Muluk, Pemimpin Penganut Syiah Sampang. Foto seruu.com

  • Tajul Muluk sebagai pimpinan Syiah masih melenggang bebas. Padahal Tajul dituding oleh para ulama Madura sebagai tokoh yang memicu bentrok. Hal ini seperti ditegaskan oleh Ketua MUI Sampang KH Bukhori Maksum yang menjelaskan bahwa konflik antara umat Islam dan Syiah di Sampang terjadi berawal dari sikap Tajul Muluk, yang melanggar kesepakatannya sendiri tahun 2008 lalu, untuk tidak mengadakan ritual dan berdakwah tentang paham Syiahnya.

***

Tidak ada asap jika tidak ada api. Pada dasarnya, umat Islam di Indonesia tergolong moderat, tapi ketika terjadi pelecehan pada ranah akidah resistensinya akan menjadi sangat kuat.

Pernyataan tersebut ditegaskan Prof. Baharun pemerhati Syiah sekaligus Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat menanggapai pembakaran Ponpes Syiah di Sampang, Madura. “Kita sama sekali tidak membenarkan pembakaran dan kekerasan, tapi mungkin masyarakat sudah kesal. Tidak ada solusi terhadap sepak terjang Syiah merusak akidah,” tandasnya kepada Eramuslim.com, Selasa (03/01/2012).

Terkait proses hukum, Prof. Baharun mengatakan aparat haruslah bersikap adil. Jangan sampai tindakan hukum hanya menyentuh pelaku tapi tidak terhadap ajaran Syiah itu sendiri, “Dua-duanya harus diadili,” tegasnya

Hal ini rasanya akan terlihat adil. Karena, menurutnya, selama ini akar masalah dari bentrok terhadap kelompok Syiah tidak pernah berujung pada solusi, yakni melarang ajaran sesat Syiah sebagai biang keladi masalah, ”Meletup disana-disni, tapi tidak ada penyelesaian. Kita perlu solusi,” imbuhnya.

Sampai berita ini diturunkan, Kepolisian telah menangkap seorang pelaku serta dua kasus pembakaran Ponpes Islam Syiah di Desa Karang Gayam, Kabupaten Sampang, Madura. Selain itu, polisi juga masih memburu dua pelaku pembakaran lainnya.

Pelaku yang ditangkap diketahui bernama Musrikan, warga setempat. Sementara dua orang warga yang dinyatakan buron adalah Muhlis dan Saniwan.

“Tersangka Musrikan disinyalir sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam kasus pembakaran ini. Sementara Untuk yang buron, tersangka Muhlis dan Saniwan. Mohon doa nya semoga cepat tertangkap”, kata Kombes Rahmat Mulyana dalam konferensi press di hadapan wartawan, sabtu (31/12/2011).

Namun disisi lain, Tajul Muluk sebagai pimpinan Syiah masih melenggang bebas. Padahal Tajul dituding oleh para ulama Madura sebagai tokoh yang memicu bentrok. Hal ini seperti ditegaskan oleh Ketua MUI Sampang KH Bukhori Maksum yang menjelaskan bahwa konflik antara umat Islam dan Syiah di Sampang terjadi berawal dari sikap Tajul Muluk, yang melanggar kesepakatannya sendiri tahun 2008 lalu, untuk tidak mengadakan ritual dan berdakwah tentang paham Syiahnya.

Namun, tambah KH Bukhori, Tajul Muluk ternyata masih tetap mengadakan ritual dan menyebarkan paham Syiah kepada masyarakat sekitar.

Kyai Ali Karrar, Ulama kharismatik dari Madura juga mengamini itu. Kepada Eramuslim.com, beliau mengatakan Tajul memang tidak jera-jeranya melakukan tindak penodaan agama di Madura. Meski berjanji tidak akan lagi menyebarkan faham Syiah di Madura, hal tersebut dengan enteng diingkarinya sendiri. Terbukti Tajul masih terlihat mengunjungi Madura “Seminggu sekali Tajul itu masih sering mengunjungi Madura untuk bertemu para pengikutnya,” tambah Kyai Ali Karrar yang sudah berkali-kali mengajak Tajul taubat. (Pz)

ERAMUSLIM > BERITA NASIONAL

http://www.eramuslim.com/berita/nasional/aparat-diminta-usut-syiah-sebagai-pemicu-bentrok.htm
Publikasi: Selasa, 03/01/2012 16:41 WIB

(nahimunkar.com)