Arisan Lebaran dan Tipuan Aliran Sesat

Boleh jadi, masyarakat kita termasuk masyarakat yang malas menabung. Mereka baru mau menabung, kalau ada iming-iming, seperti hadiah mobil mewah atau iming-iming yang menjurus penipuan seperti Arisan Lebaran.

Faktanya, berbagai bank yang beroperasi di Indonesia, termasuk bank pemerintah, cenderung menyediakan hadiah besar-besaran bagi para penabungnya. Padahal, satu hingga dua dasawarsa sebelumnya, iming-iming dengan hadiah gede-gedean hanya dilakukan oleh bank swasta, antara lain diprakarsai oleh BCA (Bank Central Asia).

Kini, bank pemerintah pun tak mau kalah dengan iming-iming hadiah gede-gedean, seperti mobil mewah dan sebagainya. Padahal, iming-iming itu berpotensi merugikan konsumen (nasabah). Karena, hadiah itu diambil dari duit nasabah juga. Bank tentu saja tidak mau rugi dengan menyediakan hadiah gratis yang dipotong dari keuntungannya.

Setidaknya, nasabah dirugikan dalam bentuk interest rate yang lebih rendah. Seharusnya, bila bank penyelenggara tabungan tidak memberi iming-iming hadiah gede-gedean, maka bank tersebut bisa memberi interest rate yang lebih tinggi. Kenyataannya, karena terbebani dengan iming-iming hadiah gede-gedean, pihak bank memberi interest rate yang lebih rendah dari laju inflasi, sehinga future value dana nasabah pada tabungan tersebut justru mengalami penurunan.

Selain itu, dengan interest rate yang rendah, kemungkinan besar nasabah sulit memenuhi beban biaya yang dikenakan terhadap rekeningnya, karena uang simpanannya habis digerogoti biaya administrasi yang tinggi.

Apalagi, nasabah kecil yang jumlahnya banyak, peluangnya juga jauh lebih kecil dibandingkan dengan nasabah besar. Bagi nasabah kecil, iming-iming gede-gedean itu ibarat mimpi yang sulit terwujud. Mereka seperti orang-orang yang mengejar mimpi.

Seharusnya lembaga perbankan menjalani fungsinya tanpa iming-iming yang berlebihan. Pemerintah melalui lembaga terkait sudah seharusnya membatasi iming-iming yang menjurus kepada perjudian ini.

Arisan Lebaran

Penyelenggara penipuan berkedok Arisan Lebaran yang marak akhir-akhir ini, boleh jadi karena mereka paham betul dengan sifat sebagian masyarakat kita yang senang dengan iming-iming dan malas menabung.

Modus operandi penipuan berkedok arisan lebaran ini, biasanya korban diminta menyetorkan sejumlah uang kepada pengelola. Besarnya, amat terjangkau. Yaitu, antara Rp 1.000 hingga Rp 10.000 dan kelipatannya. Karena terjangkau, maka anggota masyarakat yang bisa dijadkan korban pun jumlahnya mencapai ribuan orang. Mereka umumnya rakyat kecil dari kelas menengah ke bawah.

Uang setoran itu diangap sebagai tabungan, yang baru dapat diambil bila sudah mencapai jumlah tertentu. Ketika sudah saatnya diambil kelak, penabung dijanjikan iming-iming berupa sembako, dan sebagainya.

Biasanya, ketika saat yang dijanjikan tiba, untuk menerima kembali uang setoran berikut iming-iming yang dijanjikan, realisasinya sering meleset. Bahkan wanprestasi alias gagal. Sehingga para ‘nasabah’ ini ketika mulai menyadari yang mereka alami sesungguhnya adalah sebuah penipuan, maka yang terjadi kemudian adalah aksi perusakan. Sebagaimana terjadi di Tambora, Jakarta Barat, Agustus 2009 lalu.

Sebagaimana diberitakan detikcom edisi Rabu, 26 Agustus 2009, para ‘nasabah’ korban Arisan Lebaran mengacak-acak dan merusak kediaman Nurhasanah (32 tahun), pengelola Arisan Lebaran, yang terletak di jalan Hanura VI RT 4/15 Tanah Sereal, Tambora, Jakarta Barat. Warga juga merusak warung tenda yang menyediakan ayam goreng dan pecel lele. Hal itu dilakukan para ‘nasabah’ karena uang mereka tidak kembali, padahal sudah sebulan lalu janji pengembalian itu didengungkan Nurhasanah. Diduga, Nurhasanah melarikan uang ‘nasabah’ senilai Rp 2 miliar.

Ketika Nurhasanah meluncurkan program Arisan Lebaran, warga tidak menaruh curiga, karena ia merupakan warga setempat yang sudah mukim sejak lahir di kawasan padat tersebut. Maka banyak warga yang tertarik menjadi ‘nasabah’ Arisan Lebaran versi Nurhasanah, antara lain Nung (45 tahun) yang telah menyetorkan dana senilai Rp 70 juta.

Sebagai pengelola, Nurhasanah ternyata menyalurkan dana ‘nasabah’ tersebut kepada pihak ketiga, dengan jumlah antara Rp 150 juta hingga Rp 500 juta. Sialnya, pihak ketiga tersebut wanprestasi, sehingga Nurhasanah pun kesulitan dana ketika harus mengembalikan dana para ‘nasabah’nya. Rupanya, Nurhasanah menjalankan peran sebagai rentenir yang ditipu. Ia dan seluruh anggota keluarganya kini hilang seperti ditelan bumi.

Di Bandung, September 2009, terjadi hal serupa. Sebagaimana diberitakan Poskota edisi 13 September 2009, sekitar 2.000 warga taman Cibaduyut Kabupaten Bandung mengamuk karena tertipu uang Rp 1,5 miliar dalam bentuk Arisan Lebaran. Mereka nyaris merusak rumah Ibrahim Wicandra (37 tahun), otak aksi penipuan dan penggelapan uang ‘nasabah’ Arisan Lebaran.

Pagi itu, Ahad, 13 September 2009, sepekan sebelum Lebaran, sejak jam 09:00 wib sejumlah ‘nasabah’ sudah merubungi rumah Ibrahim, di Kompleks Taman Cibaduyut Indah, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Dalam tempo empat jam, sudah berkumpul sekitar 2000 ‘nasabah’ di halaman rumah Ibrahim. Tujuan mereka sama, yaitu mencairkan paket lebaran yang dijanjikan Ibrahim. Namun, janji tinggal janji, paket lebaran tak juga terbayarkan.

Salah seorang korban bernama Rahman (45 tahun) mengatakan, setiap ‘nasabah’ diwajibkan membayar iuran sebesar Rp 5.000 setiap hari selama setahun. Dalam perjanjian tercantum klausul bahwa setiap ‘nasabah’ akan mendapat uang tabungan sesuai dengan peraturan yang disepakati kemudian diberi bonus berupa barang paket lebaran.

Pada saat yang dijanjikan, Ibrahim menolak melakukan pembayaran, dengan alasan uang simpanan masih berada di bank dan belum bisa dicairkan. Ternyata, para ‘nasabah’ menyadari bahwa mereka tertipu. Jumlah korban mencapai 2000 orang dengan nilai kerugian mencapai Rp 1,5 miliar.

Dalam melakuakn aksi penipuannya ini, Ibrahim dibantu 12 kolektor. Uang yang sudah ditagih kolektor dari ‘nasabah’ sebesar Rp 5.000 per orang per hari, diserahkan kepada Ibrahim. Selama setahun 12 kolektor mampu menyetorkan dana ‘nasabah’ kepada Ibrahim sekitar Rp 351 juta per kolektor.

Saat diperiksa di Mapolres Bandung, Ibrahim mengatakan, dana milik ‘nasabah’ yang besarnya miliaran rupiah itu sudah habis digunakan untuk bayar utang. Ketika lebaran hampir tiba, tersangka mengaku tak punya uang untuk membayar para ‘nasabah’. Ibrahim kini dijerat pasal 372 dan 378 KUH Pidana tentang penipuan dan penggelapan.

Dalam waktu yang hampir bersamaan dan di tempat yang berdekatan, terjadi hal serupa di Ciawitali, Cimahi, Bandung. Sebagaimana diberitakan detikcom edisi Sabtu 20 September 2009, sejumlah 200 warga Ciawitali Cimahi menjadi korban penipuan berkedok Arisan Lebaran yang diselenggarakan Alif.

Modus operandinya hampir sama, yaitu para ‘nasabah’ diwajibkan menyetorkan dana sebesar Rp 5 ribu per hari hingga mencapai target Rp 1,7 juta salam setahun. Setelah target tercapai dan tempo sudah jatuh, dana tersebut dapat diambil kembali berikut iming-iming kebutuhan lebaran. Namun pada saat yang dijanjikan tiba, Alif justru menghilang.

Setahun sebelumnya (2008), di Cimahi juga terjadi hal sejenis. Korbannya, sekitar 4.200 orang. Pelaku utamanya, Dewi Nuri Bintarti (41 tahun), di bawah bendera CV De Sam San mengelola sejumlah kegiatan keuangan yaitu Arisan Lebaran, tabungan berjangka, tabungan pendidikan, dan tabungan anggaran (Okezone Senin, 22 September 2008 – 12:01 wib). Modus operandinya sama, yaitu ‘nasabah’ diwajibkan menyetorkan sejumlah uang, kemudian setelah terkumpul dibawa kabur. Dana ‘nasabah’ yang berhasil dibawa kabur Dewi mencapai Rp 3,6 miliar

Sebulan sebelumnya, Agustus 2008, seorang lelaki bernama Maun (50 tahun) yang merupakan pengelola CV Eskrim Marindo, kabur dari kediamannya di Jalan Babakan Irigasi, Rt 3/Rw 7 Bandung, karena melakukan penipuan berkedok Arisan Lebaran. Maun membawa kabur uang ‘nasabah’ yang jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah. (Okezone, Kamis, 25 September 2008 – 10:23 wib).

***

Tuman menipu dan memelihara lahan tipuan

Di Indonesia ini ada firqoh sesat yang pemimpinnya tuman (kebiasaan) menipu namun tampak berhasil dalam memelihara lahan untuk ditipu. Walaupun dikecam sebagai pemungut harta secara tidak sah dan tak syar’I hingga doanya tak diterima, disejajarkan dengan doa pelacur yang menjajakan kemaluannya, namun praktek memungut harta itu dilangsungkan tiap bulan.

Orang-orang seperti itu mestinya menerapkan apa yang dikaji, bukan hanya bangga dengan mengaku bahwa mengajinya paling manqul, quran hadits jamaah. Namun haditsnya hanya dibanggakan manqulnya, bukan diamalkan dengan baik. Sehingga kecaman yang sangat tinggi pun dilanggar. Yatu hadits:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ نِصْفَ اللَّيْلِ فَيُنَادِي مُنَادٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَهُ ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى ؟ هَلْ مِنْ مَكْرُوبٍ فَيُفَرَّجُ عَنْهُ ؟ فَلَا يَبْقَى مُسْلِمٌ يَدْعُو دَعْوَةً إلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ إلَّا زَانِيَةً تَسْعَى بِفَرْجِهَا أَوْ عَشَّارًا } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ صحيح الترغيب والترهيب – (ج 2 / ص 305) 2391 – ( صحيح )

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pintu-pintu langit dibuka tengah malam maka pemanggil menyeru, adakah yang berdoa, maka (pasti) diijabahi baginya. Adakah yang meminta, maka (pasti) diberi. Adakah yang dirundung keruwetn, maka (pasti) dilapangkan darinya. Maka tidak tersisa seorang muslim pun yang berdoa dengan suatu doa kecuali Allah ‘Azza wa Jalla mengabulkan baginya kecuali pezina yang berusaha dengan farjinya (kemaluannya) atau pemungut (harta orang) persepuluhan. (HR Ahmad dan At-Thabarani, lafal ini bagi At-Thabrani, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib nomor 2391).

Nah, para pentolan Islam Jama’ah atau 354 dengan jajarannya itu tiap bulannya memungut sepersepuluh harta tiap orang yang dianggap sebagai jamaahnya. Bahkan kalau waktu-waktu tertentu seperti menjelang lebaran, khabarnya pemungutan pun bertambah tinggi. Apakah bukan عَشَّارًا yang doanya tertolak dan disejajarkan dengan pelacur, mereka itu?

Ketika dirasa masih kurang, kadang diadakan tipuan jenis lain. Ustadz Hasyim Rifai di Kediri Jawa Timur yang setia mengaji selama 17 tahun kepada Nur Hasan Ubaidah pendiri aliran sesat Islam Jama’ah atau Darul Hadits, mengisahkan: Pernah sampai pemimpinnya (Nur Hasan Ubaidah) beralasan untuk mengetes atau mencoba ketaatan pengikutnya (istilahnya taat amir, kalau tidak taat maka masuk neraka), dia mau menimbang badannya yang beratnya 86 kilogram itu dengan emas. Maka para pengikutnya pun mengumpulkan emas hingga seberat 86 kilogram, lalu untuk menimbang badan sang amir.

Setelah berjangka lama ternyata emas seberat 86 kilogram itu tidak dikembalikan, maka para pengikutnya menanyakan. Ya cukup dijawab dengan perkataan, tidak dikembalikan. Demikian kisah yang disampaikan Ustadz Hasyim Rifai yang kini sudah lama keluar dari aliran sesat itu dan mengasuh para santrinya bersama menantunya alumni Universitas Islam Madinah dan asatidz lainnya.

Kejadian semacam itu tampaknya menjadikan tergiurnya sebagian anak buah, hingga ingin pula menipu. Lahan tipuan sudah ada, kenapa tidak digunakan, kira-kira saja seperti itu kalau diungkap pakai perkataan. Maka terjadilah apa yang di kalangan mereka disebut Kasus Maryoso. Yaitu mengumpulkan dana, awalnya untuk pembayaran rekening listrik dan apa yang disebut untuk usaha bersama, dengan janji akan diberi keuntungan tiap bulannya sekian persen. Kemudian terkumpullah dana dari lahan-lahan yang sudah biasa diserap tiap bulannya itu, totalnya hampir sebelas triliun rupiah. Dan ternyata mak pletis…boro-boro keuntungan yang dijanjian perbulan. Modal yang disetor saja tidak bisa diambil. Itu hampir rata-rata. (Untuk lebih lengkapnya bisa dibaca buku LPPI berjudul Akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah, Jakarta, 2004).

Tampaknya firqoh LDII yang oleh Munas MUI 2005 dinyatakan sesat dan membahayakan aqidah sebagaimana bahayanya Ahmadiyah ini di samping masalah kesesatan, ada pula kasus-kasus lain. Makanya mereka yang sadar akan aneka tipuan itu akhir-akhir ini banyak yang keluar dari firqoh sesat ini. Bahkan di antaranya adalah petinggi yang dalam kasus Maryoso tidak terdengar ketersangkutannya, beliau kemudian keluar dari firqoh sesat ini dan sekarang khabarnya ada di pesantren yang sunnah di Jawa. Sebagaimana ustadz-ustadz yang lain sudah banyak yang membubarkan diri dari keikut sertaan mereka pada firqoh sesat itu di mana-mana.

Perlu ditangani

Para pemimpin umat sudah saatnya memberikan pencerahan kepada umatnya, agar tidak mudah terpesona dengan penipuan berkedok Arisan Lebaran, taat amir tetapi amirnya memungut dana secara tidak syar’I dan bahkan sebagian oknumnya menipu dengan meniru tingkah tipu pentolannya. Pemimpin umat juga sudah saatnya memberikan pencerahan kepada umat untuk gemar menabung meski tanpa iming-iming. Dan jangan sampai memakan riba dengan jalan apapun, termasuk dengan jalan menabung yakni memakan bunganya.

Dari kasus penipuan berkedok arisan lebaran sebenarnya dapat dilihat bahwa masyarakat cukup mempunyai kemampuan untuk menabung. Sayangnya, kemampuan itu baru muncul bila didorong oleh iming-iming yang menipu.

Penipuan berkedok arisan lebaran, korbannya masyarakat menengah ke bawah alias rakyat kecil. Berbeda dengan arisan lebaran, nasabah bank penyelenggara program undian berhadiah gede-gedean umumnya kalangan menengah ke atas. Jumlah nasabah bank seperti ini mencapai jutaan orang. Dari sekian juta nasabah tadi, hanya sebagian kecil saja yang berpeluang mendapat hadiah gede-gedean tadi.

Sebagian besar dari nasabah bank tadi, sudah pasti tidak berpeluang mendapatkan hadiah yang menggiurkan. Akibatnya, mereka dapatlah diposisikan sebagai ‘korban’ dari apa yang disebut ‘kenakalan’ perbankan, karena mereka dalam keadaan tidak berdaya ketika hanya diberi interest rate yang lebih rendah dari laju inflasi.

Bagi umat yang gemar menabung, barangkali sudah saatnya mulai mempelajari keberadaan bank syari’ah. Namun jangan lupa untuk tetap waspada, karena akhir-akhir ini sejumlah bank berlabel syari’ah mulai marak, dan belum tentu isinya benar-benar sesuai syari’ah. Pemimpin umat juga sudah saatnya menjelaskan kepada umat bank mana saja yang benar-benar sesuai syari’ah dan yang tidak. Jangan sampai umat kembali terkecoh oleh label syari’ah yang mentereng.

Kalau Ummat ini dibiarkan, maka dikhawatirkan akan lebih lagi menjadi mangsa aliran sesat, dikuras duitnya, diseret kepada iming-iming hadiah, lalu tergiur, dan hanya jadi korban, di samping tidak memperdulikan lagi apakah itu halal ataukah haram, yakni riba yang merupakan dosa sangat besar dan Allah Ta’ala telah mengumukan perang atasnya. (haji/tede)