Artis Bukan Nara Sumber yang Baik

Oleh: Mulyawati M.Yasin


Seorang artis dan penari salsa Venna Melinda ditanya oleh wartawan Republika tentang kapasitasnya sebagai seorang ibu yang mempunyai anak sudah meningkat remaja. Isinya sebagai berikut:

Venna Melinda dibuat pusing oleh perubahan perilaku Varrel Bramasta, anak sulungnya yang kini meningkat remaja.

Sebagai ibu dari anak yang tengah beranjak remaja, Vena sangat prihatin dengan kenakalan remaja saat ini. Ia berpendapat, merebaknya kenakalan remaja tak lain karena arus globalisasi yang tak terbendung. Untuk mencegahnya, kata dia, peran keluarga terutama ibu, sangat penting. “Semua itu harus dikontrol dengan komunikasi yang baik antara anak dan ibunya,” ujarnya.

Pada saat yang sama, lanjut Vena, peran lingkungan dan guru-guru di sekolah juga harus ditingkatkan. (Republika, Jum’at, 6 Maret 2009. Hal. 28. Rubrik WARNA)

Pernyataan di atas sebenarnya bagus, tidak salah, bahkan memang itulah kecemasan yang banyak menghantui ibu-ibu pada saat ini. Yang jadi persoalan, kenapa pernyataan itu keluar dari mulut seorang artis, walaupun dia adalah seorang ibu juga, kecemasan dia mewakili semua ibu-ibu. Tetapi apa memang di negeri ini sudah tidak ada lagi nara sumber yang layak atau yang baik.

Hampir semua wanita, terutama ibu-ibu tentunya tahu siapa Venna Melinda, ia seorang artis yang selalu berpakaian seksi dan terbuka dalam arti mengumbar aurat, ia pelopor yang mempopulerkan kembali tarian seksi dan vulgar dalam bahasa sehari-hari disebut jorok, yaitu tarian salsa, (tarian yang menonjolkan keseksian tubuh, menampakkan erotisme).

Apa masih pantas, orang semacam ini ditanyai tentang keprihatinannya terhadap kenakalan anak remaja sekarang?

Penulis bukan ingin merendahkan keberadaan Venna sebagai seorang ibu, tetapi jika ditinjau dari prilakunya selama ini, bukankah dia yang memberi contoh kepada khalayak, terutama wanita, untuk berpakaian terbuka dan seksi alias mengumbar aurat? Bukankah dia bahkan memberi contoh kepada para wanita muda supaya senang menari salsa?. Bukankah prilakunya bisa mempengaruhi wanita-wanita untuk membuka aurat yang seharusnya tidak pantas dilihat oleh orang, termasuk juga anak-anak? Bukankah prilakunya tidak pantas untuk dilihat orang lain?

Ia tampaknya sudah tidak punya rasa malu, berpakaian seksi dan terbuka, menari berpasangan dengan yang bukan mahramnya, dan pakaiannya seksi, sedang tariannya erotis dan vulgar. Padahal malu itu salah satu akhlak yang harus dijaga. Jika ya…., artinya dia sendiri sudah tidak menjaga dirinya, tidak berprilaku bagus yang dapat dicontoh; tapi kenapa dia jadi nara sumber?.

Sepantasnya, dia ditanya begini :”Bukankah kenakalan remaja itu salah satunya karena melihat dari kelakuan artis-artis yang selalu hidup tanpa aturan agama?”

Perkara ini tidak boleh main-main. Karena biasanya seorang yang menjadi nara sumber adalah orang-orang yang bisa diteladani prilakunya sehari-hari. Tetapi sekarang justru terbalik. Sudah banyak artis-artis yang dijadikan nara sumber suatu masalah yang bertolak belakang dengan prilaku sehari-harinya. Sepertinya mereka itu orang-orang terhormat yang dipuja-puji, yang diteladani, padahal kelakuannya banyak yang bertentangan dengan apa-apa yang Allah larang.

Kenakalan remaja yang sedang marak sekarang ini memang sangat merisaukan. Semua orang tua yang mempunyai anak-anak yang sedang tumbuh pasti mengalami kerisauan itu. Justru para orang tua sedang khawatir, kenakalan-kenakalan anak-anaknya yang menjurus kepada kerusakan moral adalah akibat dari contoh para artis yang kelakuannya itu dipertontonkan, baik itu melalui sinetron, atau infotaintmen maupun nyanyian musik, joget-joget dan lain-lain. Ya seperti Venna itu. Ia setiap tampil selalu berpakaian seksi dan mengumbar auratnya, selalu mempromosikan tariannya.

Memang artis-artis kan selalu mempromosikan keburukan akhlaq, supaya manusia ini tidak ada lagi rasa malu, hidup bebas dengan semaunya. Supaya wanita-wanita mau menghilangkan rasa malunya, hal itu terus digaungkan. Padahal malu itu cabang dari iman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً ، وَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَأَدْنَاهَا : إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ ، أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ ،

Artinya :”Iman itu ada tujuh puluh lebih cabangnya. Yang paling utama ialah perkataan Laa illaaha illallaah (tiada Tuhan –yang disembah dengan haq– selain Allah). Yang paling rendah adalah membuang duri dari jalan. Dan malu itu satu cabang dari iman.”(HR Bukhari dan Muslim, lafadh ini bagi Muslim dari Abu Hurairah).

Mengapa malu itu bagian dari iman? Karena keduanya menyeru kepada kebajikan dan menolak yang munkar. Iman merupakan daya pembangkit bagi orang mukmin untuk berbuat ketaatan dan meninggalkan maksiat.

Rasa malu selalu membimbing orang untuk bersyukur kepada Allah, dan mencegah berbuat buruk atau mengatakannya, sebab takut mendapat celaan dan cercaan. Dengan demikian ia akan mendatangkan kebaikan sebagaimana hadist yang menyebutkan.:

23 حَدِيثُ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ *

Al hayaau laa ya’ti illa bikhoiir.

Artinya:”Malu itu tidak datang, kecuali dengan kebaikan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Lawan malu itu adalah kotor dan keji (tidak punya rasa malu). Yaitu kotor dalam perkataan, perbuatan dan berkata kasar. Orang muslim tidak akan berkata kotor dan kasar, tidak pula keras dan bengis, karena sifat demikian adalah sifat-sifat ahli neraka, sedang orang muslim itu insya Allah ahli surga. (dikutip dari buku. Abu Bakr Jabir Al -Jazairi: Pedoman Hidup Muslim. Litera AntarNusa, Jakarta, .. Cet. Pertama 1996 ).


Artis Enggan Diatur Agama

Atris itu kebanyakan sudah tak punya rasa malu. Mereka hidup sangat bebas. Bebas berprilaku, bebas bergaul, bebas berpasangan, bebas berexpresi, dan enggan untuk diatur agama. Contohnya:

  • Agama melarang wanita menggugat cerai bila tidak ada sebab yang syar’i, tetapi artis-artis wanita malah berlomba menggugat cerai suaminya.
  • Agama melarang memperlihatkan aurat, tetapi artis wanita malah dengan bangga mempertontonkan kemulusan tubuhnya setiap penampilannya, dan masih banyak hal-hal yang bertentangan dengan agama yang mereka langgar.

Dalam kasus Venna atau artis-artis lain yang mempunyai kasus yang sama mengenai anak-anaknya, itu mungkin mereka anggap wajar-wajar saja. Ada pribahasa yang berbunyi: “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Artinya bila orang tuanya saja sudah hilang rasa malunya dan menganut kebebasan hidup, ya anaknyapun mungkin menirunya.

Lain hal bila orang tua yang prilakunya baik, menjalani agama dengan baik, akhlaknya baik, tetapi anaknya condong kepada kenakalan-kenakalan yang sekarang marak di mana-mana, itu baru yang namanya mereka (anak-anak yang meningkat remaja) terseret arus globalisasi. Lha itu orang tuanya saja sudah jadi pelopor mengumbar aurat dan berkahlaq memalukan, kok berlagak prihatin atas derasnya arus globalisasi yang menyeret anak-anak. Siapa sebenarnya yang menyeret ke buruknya akhlaq? Bukankah malah mereka-mereka itu?.

Jadi sekali lagi tak pantaslah seorang artis dijadikan nara sumber untuk hal-hal yang berhubungan dengan prilaku yang baik, atau akhlak yang baik, atau pendidikan yang baik, rasanya sangat bertolak belakang.


Kekhawatiran Orang Tua Terhadap Anak-Anaknya.

Sepertinya sekarang ini hampir setiap orang tua merasa khawatir terhadap perkembangan pergaulan anak-anaknya. Orang tua mana yang mau anak-anaknya rusak, baik rusak agamanya, rusak akhlaknya, maupun rusak badannya (karena merokok atau karena makan-makanan haram ataupun beracun).

Tetapi yang jadi masalah besar, justru para orang tua sekarang sebagian besar tidak mendidik anak-anak secara benar, tidak mendidik secara kontinyu atau terus-menerus. Kebanyakan orang tua sekarang sering mendiamkan anak-anaknya, tidak memberi contoh yang baik terhadap anak-anaknya. Menjauhkan anak dari pendididkan agama, bahkan membanggakan anak pada sekolah umum, dan tidak dididik tentang akhlak yang baik. Inilah kondisi sekarang. Anak dibiarkan tumbuh tanpa peraturan agama, tanpa mengerti agama; tetapi maunya anak menjadi orang baik. Padahal, “Buah jatuh tak juah dari pohonnya”.

Lain hal dengan para orang tua yang sudah bersusah payah memberi contoh yang baik kepada anaknya, mendidik anaknya dengan agama, mendidik akhlaknya. Lalu karena pertemanan, lingkungan yang jelek dan contoh-contoh yang bertebaran dari para artis dengan aneka polah tingkahnya, kemudian si anak bisa tercebur kepada kenakalan remaja yang sedang marak sekarang ini. Kejadian begini yang membuat orang tua menangis yang tiada henti, walau hanya dalam batinnya.


Orang tua mengkhawatiri anak-anaknya

Sesungguhnya para orang tua yang agamanya masih baik akan sangat takut kepada firman Allah Ta’ala yang berbunyi:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ(6)

Artinya: ”Hai orang-orang yang briman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNYA kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim. 6).

Kekhawatiran para orang tua yang mendasar terhadap kenakalan remaja adalah karena tanggung jawab orang tua kepada apa yang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serukan dalam hadist yang berbunyi.

1084 حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ *

Artinya :”Sahabat Umar ra berkata, aku telah mendengar, Rosulallah SAW, bersabda.:”Ingatlah setiap kamu adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungan jawab atas kepemimpinannya. Penguasa adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungan jawab atas kepemimpinannya. Seorang lelaki adalah pemimpin dalam rumah tangga, dan akan dimintai pertanggungan jawab atas kepemimpinanya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungan jawab atas kepemimpinanya. Dan hamba adalah pemimpin dalam menjaga harta kekayaan tuannya, dan akan dimintai pertanggungan jawab atas kepemimpinannya. Dan tiap kamu adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungan jawab atas kepemimpinannya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kekhawatiran ini sebenarnya justru karena banyaknya pengaruh dari para artis yang akhlaqnya bertentangan dengan agama. Hanya saja para orang tua tidak mampu untuk mencegah semuanya itu. Lha kok malah ada lagi media massa yang mestinya jadi rujukan Ummat Islam tahu-tahu kerjanya menjunjung-junjung artis dan mewawancarainya pula mengenai permasalahan kenakalan anak yang semakin mengkhawatirkan. Ini manusia di negeri ini sudah terbalik-balik otaknya jadi tidak waras. Tetapi malah mereka di barisan depan dalam mempengaruhi manusia. Mau ke mana kalian wahai para manusia?

Jakarta, Rabu 25 Maret 2009M/ 29 Rabi’ul Awwal 1430H