Artis Pengumbar Aurat “Hewan” Tak Punya Malu

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Para artis pengumbar aurat ibarat “hewan” tak punya malu. Perempuan seperti itu dan kebanyakan artis tampaknya adalah jenis orang-orang yang sudah tidak punya malu lagi. “Urat malunya sudah putus”, kata orang Betawi/ Jakarta.

Rasa tidak punya malu itu kemudian “dikampanyekan” kepada umum. Akibatnya, sebagian orang umum menirunya. Bahkan tidak sedikit “calon-calon artis” yang ingin menyusul atau malahan menandingi artis ngetop lantaran tak punya malu itu, kemudian sang calon artis lebih berani lagi untuk mempertontonkan ketidak punyaan malunya. Padahal menurut hadits, malu itu sebagian dari iman.

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ *.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Iman terdiri dari lebih dari tujuh puluh bahagian, dan malu adalah salah satu dari bahagian-bahagian iman. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ .

Diriwayatkan daripada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu katanya: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang menasihati saudaranya dalam hal malu, yaitu melarangnya dan menganggap perbuatan itu buruk, lalu Nabi s.a.w bersabda: Malu itu sebahagian dari iman . (HR Al-Bukhari dan Muslim).

حَدِيثُ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ * .

Diriwayatkan daripada Imran bin Husaini r.a katanya: Nabi s.a.w telah bersabda: Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Demikian penegasan-penegasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْت (أَخْرَجَهُ الْبُخَارِي(

Apabila kamu tidak malu maka perbuatlah apa yang kamu mau.” (HR Al-Bukhari, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari jalan Manshur).

Maksudnya, menurut Imam As-Suyuthi, apabila kamu tidak malu dari aib dan tidak takut cemar dari apa yang kamu kerjakan maka kerjakanlah apa yang membisiki dirimu berupa kebaikan ataupun kejahatan.. Perkataan فَاصْنَعْ “maka perbuatlah” (fashna’) itu adalah untuk mengancam (littahdiid), dan di dalamnya ada peringatan bahwa yang menahan dari perbuatan buruk itu adalah rasa malu, maka apabila tercerabut rasa malunya, jadinya seperti disuruh untuk berbuat segala hal yang sesat. (As-Suyuthi, Syarah Sunan Ibnu Majah, Juz 1 halaman 308)

Persoalan selanjutnya dalam hal para artis yang tak punya malu lagi itu, kita dengar orang-orang yang berpihak pada perintah hawa nafsu akan lego lilo (tulus ikhlas) mendukung “hewan-hewan” yang sudah tidak punya malu itu. Lalu mereka siap pasang badan untuk membentengi para “hewan” yang tak punya malu lagi itu. Mereka siap jadi “kandang hewan-hewan tak punya malu” itu. Sebagai “kandang”, mereka berdalih hak asasi untuk berekspresi dan sebagainya. Mereka katakan, tidak boleh orang mempengaruhi orang lain untuk tidak suka kepada orang yang tak punya malu. Kalau tidak suka ya cukup tidak suka saja, tidak usah mengkampanye orang lain untuk ikut tidak suka kepada “hewan yang tak punya malu itu”, sergah mereka.

Untuk menjawab mereka, sebenarnya mudah. Misalnya diucapi saja:

Kalau situ suka kepada “hewan yang tak punya malu itu” ya cukup suka saja, (itupun jelas sudah dosa, yaitu dosa dari dan untuk diri sendiri). Dan situ tidak usah membela, dong. Kenapa situ siap pasang badan untuk jadi pembela? Itu kan berarti situ berupaya agar isi dunia ini terdiri dari “hewan-hewan yang tak punya malu”. Kalau situ masih mengaku Islam, wajib yakin terhadap ayat dan hadits yang mengharamkan musik, berpakaian ketat, bahkan wanita yang lenggang-lenggok, goyang-goyang apalagi goyang ngebor yang menjijikkan itu di depan umum.

Maksiat dijadikan senjata melawan Islam

Maraknya kemaksiatan khususnya artis mengumbar aurat dengan aneka polah tingkah yang tidak nggenah yang menggoncang-goncang syahwat bukanlah kejadian yang berlangsung begitu saja. Tetapi diskenario, dikobarkan, dan didukung-dukung secara beramai-ramai. Tentu saja didanai dengan besar-besaran.

Seorang ulama dari Komisi Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengemukakan keprihatinannya kepada saya, bahwa begitu MUI mengeluarkan fatwa tentang haramnya kepornoan pada bulan Agustus 2001, maka langsung ada reaksi sangat mengejutkan, yaitu dimunculkanlah Inul jadi ratu goyang ngebor. Beritanya sangat heboh.

Penyanyi dangdut berpakaian sangat ketat itu beraksi di panggung di mana-mana dengan menggoyang-goyangkan seluruh tubuhnya, terutama yang sangat sensistif. Ketika ada reaksi kritikan dari ulama dan ummat Islam, aksi maksiat menggoncang syahwat itu justru lebih digencarkan lagi oleh orang-orang yang menjadikan maksiat sebagai alat melawan Islam.

Goyang maksiat Inul, penyanyi dangdut asal Gempol Pasuruan Jawa Timur yang disebut “ratu goyang ngebor”, mendapat kecaman dari para ulama dan ummat Islam. Bahkan pejabat dan MUI Jogjakarta bertekad mencekal Inul, tidak boleh manggung di wilayah Jogja. Karena goyang maksiat Inul Daratista (Ainur Rokhimah) yang pamer pantat (maaf) dan lekukan tubuh dengan pakaian ketat lagi memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh bahkan sebagian terbuka itu dinilai merusak moral. Sebaliknya, suami Presiden Megawati, Taufik Kiemas, malah memeluk Inul dan fotonya beredar dalam 3 pose, sedang Inul sendiri mengaku bangga dengan itu, lalu Taufik Kiemas hanya “cengengesan” (maaf) waktu ditanya para wartawan tentang keceroboannya itu. Menteri Negara Komunikasi dan Informasi malah jadi “menterinya Inul” dengan membanggakan bahwa tayangan Inul satu jam di televisi SCTV Februari 2003 menghasilkan iklan Rp900 juta.

Ungkapan orang seperti itu kita tidak heran, masih mewarisi kebusukan Orde Baru misalnya (mendiang) Ali Sadikin waktu jadi Gubernur DKI Jakarta membanggakan jalan-jalan raya di Jakarta yang dibangun dari duit hasil judi, sampai konon berani bilang, yang tidak setuju judi jangan lewat jalan-jalan raya yang mulus itu.

Gonjang-ganjing tentang goyang maksiat Inul itu marak sampai ke mana-mana. Anehnya, ada berita, aktivis PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang didirikan oleh orang-orang NU (Nahdlatul Ulama) justru siap membela Inul dari hujatan. Alasannya, karena itu urusan kecil, masih banyak urusan besar. Di samping itu, Gus Dur pun menyuara membela goyangan maksiat Inul itu, di antaranya sebagai berikut:

…pendapat Gus Dur tentang banyaknya kecaman pada Inul, si goyang ngebor, menurut Adhie Massardi (mantan juru bicara Gus Dur waktu jadi presiden, pen), Gus Dur tidak sependapat dengan opini sebagian masyarakat yang menghujat ekspresi goyang Inul dalam menyanyi dangdut. “Soal cara berekspresi, itu hak setiap individu, demikian juga hak untuk tidak suka. Menjadi masalah bila kita mengajak pihak lain untuk mengikuti sikap ketidaksukaan kita kepada cara berekspresi orang lain. Biarkan masyarakat menilai sendiri dengan netral. Kalau menyimpang dari norma-norma yang disepakati, akan dengan sendirinya ditinggalkan masyarakat,” tutur Adhie tentang sikap pribadi Gus Dur terhadap fenomena Inul Daratista. (Detik.com, 17/2 2002).

Membela wanita terlaknat

Masalah aktivis PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) siap untuk menjadi pembela Inul (penyanyi wanita yang menghebohkan karena goyangan pinggulnya yang disebut goyang ngebor, terkesan erotis/ porno, berpakaian ketat dan sebagian tubuhnya kelihatan); itu adalah masalah yang mengherankan. Sebab PKB itu adalah partai yang didirikan oleh orang-orang NU (Nahdlatul Ulama), yang tentunya maknanya adalah ulama Islam..(Saat uraian ini sedang ditulis, di koran 21/2 2003 diberitakan, para petinggi PKB sedang berperkara: Gus Dur/ Abdurrahman Wahid bersama Alwi Shihab dan Arifin Junaedi menggugat balik Matori Abdul Jalil seniali RP 1 triliun dalam perkara seputar rebutan PKB mana yang sah, PKB Alwi Shihab dukungan Gus Dur atau PKB Matori Abdul Jalil yang dulunya juga didukung Gus Dur. Belakangan, PKB berebut lagi, muncullah PKNU. Yang masih tersisa di PKB kemudian bentrok lagi, menjadi PKB Gus Dur dan PKB Muhaimin Iskandar).

Apabila konsekuen sebagai orang Islam saja, tidak usah aktivis apa-apa pun, seharusnya mengikuti aturan dari Allah dan Rasul-Nya. Ternyata terhadap wanita yang kaasiyaat ‘aariyaat (berpakaian tapi telanjang/ berpakaian ketat hingga lekuk-lekuk tubuhnya nampak bentuknya, atau pakaian tipis hingga tembus pandang) itu saja Nabi saw sudah memerintahkan al’inuuhunna fainnahunna mal’uunaat (laknatlah mereka –wanita yang demikian itu– karena mereka itu terlaknat). Apalagi sudah pakaiannya itu kaasiyaat ‘aariyaat, masih pula memutar-mutar pinggulnya secara erotis/ porno di depan umum, disertai iringan musik-musik yang serba haram, tentu saja lebih terlaknat. Hingga terlaknat pula orang yang bersuara untuk membelanya itu. Dan tambah terlaknat pula ketika dia sebagai aktivis partai yang didirikan oleh organisasi yang berlabel “ulama”.

Dikhawatirkan, orang-orang itu termasuk yang disebut oleh Nabi saw sebagai orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr (minuman keras), dan musik-musik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan:

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ. (البخاري).

Pasti akan ada di antara ummatku kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan musik-musik. (HR Al-Bukhari dari Abi Malik Al-Asy’ari).

Kerusakan yang amat serius seperti ini wajib diberantas. Kalau tidak, maka akan merajalela dan merusak masyarakat, tidak lain hanya akan mendatangkan kebejatan moral di dunia dan adzab, baik di dunia maupun di akherat kelak. Memberantas satu Inul sama dengan menyelamatkan sekian puluh juta manusia dari kebejatan moral yang diakibatkannya. Sedang mendukung kelanjutan beraksinya goyang maksiat Inul berarti akan menumbuhkan penggoyang-penggoyang iman yang jumlahnya puluhan, ratusan, bahkan jutaan, dengan korban-korban yang jumlahnya jutaan manusia dalam tempo yang entah sampai kapan berakhirnya. Renungkanlah dalam-dalam wahai para perusak! Stasiun-stasiun televisi dan sarana lainnya telah difungsikan oleh para perusak untuk menghancurkan ummat Islam, dengan dalih seni. Sadarkah mereka, betapa cepatnya ummat ini rusak gara-gara apa yang mereka sebut seni.

Dua bahaya besar telah melanda di kalangan kita:

1 “Kiblatnya” adalah wanita.

2. Timbangannya adalah nafsu.

Dari kenyataan itu, maka tidak mengherankan, dalam kasus “wanita-wanita terlaknat” (mal’uunaat, kata Nabi saw) ini mereka tetap membelanya, dan yang dijadikan senjata adalah nafsu. Maka tak mengherankan, Gus Dur menjadikan “suka dan tidak suka” menjadi ukurannya. Demikian pula para pendukung “wanita-wanita terlaknat” itu menjadikan nafsu sebagai tolok ukur, hingga diadakanlah pooling pendapat oleh Detik.com, yang hasilnya 47% responden menganggap goyang Inul itu tidak sopan, sedang yang 51% menganggapnya wajar. (Pos Kota, 19/2 2003).

Pengadaan pengumpulan pendapat dan sebagainya itu semua adalah rekayasa untuk menjadikan wanita sebagai kiblat, sedang nafsu sebagai timbangan. Padahal, Nabi saw telah mengingatkan secara tegas:

حَدِيثُ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ *.

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak ada fitnah yang paling membahayakan kaum lelaki setelah sepeninggalku kecuali fitnah dari kaum wanita . (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hal hawa nafsu, Allah telah memperingatkan lewat pernyataan Nabi Yusuf as yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي.

sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (QS Yusuf: 53).

Lebih sangat gawat keliwat-liwat, ketika yang kiblatnya adalah wanita dan timbangannya adalah nafsu, itu orang yang disebut dengan gelar kehormatan Kiai atau Ulama, bahkan dijadikan pemimpin, baik formal maupun non formal di kalangan organisasi yang berlabel ulama. Itulah puncak kerusakan yang bukan sekadar merusak diri sendiri namun merusak jutaan manusia dan entah sampai kapan bisa diperbaikinya.