Astaghfirullah! Mewah di Tengah Pedihnya Lapar dan Sakit Kaki Gajah

(Beben dan Kaki Gajah, Ahmad Dhani dan Mobil Mewah)

sakit-kaki-gajah1Penyakit kaki gajah

(juraganmedis.com)

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ (البخارى فى الأدب ، وأبو يعلى ، والطبرانى ، والحاكم ، والبيهقى ، والخطيب عن ابن عباس)

Bukanlah mukmin orang yang (perutnya) kenyang sedang tetangganya lapar di sampingnya. (HR Al-Bukhari dalam Al-Adab, Abu Ya’la, At-Thabran, Al-Hakim dengan berkata sanadnya shahih, Al-Baihaqi, dan Al-Khathib dari Ibnu Abbas. Al-Albani mengatakan, shahih karena lainnya dalam riwayat Al-Hakim dari Aisyah).

Mobil mewah

Jika materi yang menjadi ukuran, maka betapa beruntungnya ketiga anak Ahmad Dhani (Al, El dan Dul) ini. Karena, secara khusus, sang bapak (Ahmad Dhani) membeli sebuah mobil mewah berharga miliaran rupiah, demi mereka. Kepada cumicumi.com Ahmad Dhani berujar: “Mobil ini buat anak-anak, karena saya jarang pakai, yang pakai selalu anak-anak. Karena dari dulu si Al selalu minta dibeliin mobil baru…” (cumicumi.com edisi Sun, Nov 8, 2009 18:04)

Al adalah anak sulung Ahmad Dhani, buah pernikahannya dengan Maia Estianty. Pasangan ini sudah resmi bercerai sejak 23 September 2008. Nama lengkap Al adalah Ahmad Al Gazali, yang kini diperkirakan berusia sekitar 12 tahun. Dalam usia belia itu, Al sudah bisa mengendarai mobil mewah yang dibelikan bapaknya. Mobil mewah Chrysler berwarna hitam ini, konon di Indonesia belum ada yang punya, kecuali Ahmad Dhani satu-satunya.

Mobil mewah asal Amerika Serikat bernomor polisi B 1 RCM ini, menurut Dhani merupakan hasil kerja keras dirinya selama 10 tahun yang kemudian ia tabung. Mobil tersebut ia beli semata-mata untuk menyenangkan hati ketiga jagoan ciliknya. Dhani membeli mobil itu agar dapat dipakai untuk mengantar Al, El dan Dul kemana pun mereka pergi, termasuk ke sekolah.

Ironis, kemewahan di tengah parahnya kemelaratan dan sakit kaki gajah

Sekali lagi, bila materi yang dijadikan ukuran, maka betapa beruntungnya Dhani, Al, El, dan Dul. Apalagi bila dibandingkan dengan Beben, lelaki berusia 34 tahun penduduk Kampung Babakan Leuwi Dulang, Desa Sukamanah, RT 02 RW 02, Majalaya, Kabupaten Bandung. Karena, Beben sama sekali tidak pernah mampu menabung uang untuk dibelikan mobil mewah, ia malah ‘menabung’ penyakit.

Sejak Beben berusia 15 tahun, ia terkena penyakit kaki gajah. Selama sembilan belas tahun ia tidak mampu berobat. Padahal, biaya berobat untuk penyakitnya itu boleh jadi tidak sampai menghabiskan satu per seratus harga mobil mewah Ahmad Dhani. Saat ini, Beben tidak hanya mengidap penyakit kaki gajah, ia juga mengalami infeksi di bagian leher yang mengakibatkan pembusukan hingga mengeluarkan bau tak sedap.

Sebagaimana dikabarkan Metro TV News edisi 16 November 2009, beberapa tahun lalu pihak keluarga sempat membawa Beben ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung untuk diobati. Namun, keinginan tersebut harus kandas, karena pihak rumah sakit meminta biaya operasi sebesar Rp 10 juta. Dana sebesar itu tentu tidak mampu dikumpulkan Beben (dan keluarganya). Sehari-hari, Beben bekerja sebagai pengumpul barang-barang rongsokan di sekitar rumahnya.

Selama belasan tahun Beben mengurung diri di rumah, karena malu dengan kondisinya. Warga sekitar baru mengetahui kondisi Beben saat berlangsung pembagian obat antikaki gajah di desa tersebut pada hari Selasa, 10 November 2009. Pembagian obat gratis itu merupakan rangkaian program Departemen Kesehatan untuk mencegah meluasnya penyebaran filariasis atau kaki gajah di Indonesia. Dalam hal ini, Kabupaten Bandung menjadi daerah pertama yang melaksanakan pengobatan gratis kaki gajah ini di tahun 2009.

Menurut perkiraan Depkes, sekitar satu pertiga warga Indoensia menderita filariasis alias kaki gajah. Enam puluh persen di antaranya, perempuan. Di tahun ini, Depkes mencanangkan program Pengobatan Massal Filariasis Nasional Untuk 32 Juta Penduduk Indonesia Tahun 2009. Hingga saat ini, tiga belas kabupaten/kota sudah dinyatakan berstatus endemi. Di Jawa Barat, ada beberapa daerah di Jabar yang dinyatakan endemis yakni Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Bandung.

Selain Beben, ada Kimo di Bangka Barat (kini provinsi Babel) yang menderita kaki gajah sejak 2002. Dalam rangka menyembuhkan penyakitnya, Kimo harus menjual sebidang kebun karet miliknya, untuk biaya berobat secara tradisional. Tapi tak kunjung sembuh, meski ia sudah berkelana dari satu daerah ke daerah lain. Namun demikian, Kimo lebih beruntung dari Beben. Karena, pada tahun 2005, Tim Pelaksana Eliminasi (TPE) Puskesmas Kelapa dalam rangka program Pemberantasan dan Pengobatan Massal Filariasis Kabupaten Bangka Barat 2005, membagikan obat kaki gajah secara gratis.

Sejak itulah, selama beberapa tahun, Kimo dengan dorongan ingin sembuh, rutin mengkonsumsi obat filariasis. Perlahan-lahan kaki kiri Kimo yang terkena filariasis mulai mengempis, dan akhirnya dinyatakan sembuh total dari penyakit kaki gajah pada tahun 2007 lalu. Kini kaki kirinya kembali normal seperti sedia kala.

Selain di Kabupaten Bandung dan Babel, di Jawa Timur juga banyak ditemukan penderita filariasis. Berdasarkan hasil survei yang dilaksanakan oleh Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan (Depkes) RI, di 30 kota/kabupaten, ditemukan 300 kasus filariasis dengan tingkat keparahan berbeda, di Jawa Timur. (Antara, Jumat, 13 November 2009 19:39 WIB).

Menurut Helena (Staf Subdit Filariasis dan Schistosomiasis Depkes RI), jumlah temuan terbanyak ada di Kabupaten Lamongan dengan jumlah kasus filariasis pada 40 orang lebih, disusul Kabupaten Malang dengan jumlah 30 kasus, dan Kabupaten Trenggalek sebanyak 20 kasus lebih.

Lebih jauh Helena mengatakan, filariasis atau kaki gajah ini merupakan penyakit yang bisa menyebabkan terjadinya pembengkakan di beberapa bagian tubuh seperti kaki, tangan, dan beberapa organ vital tubuh bagian luar. Gejalanya biasanya ditandai dengan naiknya suhu tubuh secara drastis sebagaimana penyakit demam. Gejala itu kemudian berlanjut pada gejala panas pada bagian kelenjar di lipatan paha.

Menurut Helena pula, masuknya virus filariasis ke dalam tubuh manusia, tersebar melalui gigitan nyamuk infektif yang mengandung larva stadium III. Pada saat nyamuk menggigit manusia itulah larva di-transfer melalui probosis (belalai nyamuk yang digunakan untuk menghisap darah) masuk ke kulit manusia tepatnya di sekitar lubang bekas gigitan.

Di Tangerang Selatan (Provinsi Banten), menurut Dadang S. Epit (Kepala Dinkes Tangsel), tujuh kecamatan di kawasan ini, yakni Serpong, Serpong Utara, Pamulang, Ciputat, Ciputat Timur, Pondok Aren, dan Setu, merupakan daerah rawan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan gigitan nyamuk. Bahkan Tangsel dikategorikan sebagai zona merah, karena kawasan ini sebagian besar merupakan daerah rawa-rawa, yang cocok bagi berkembangnya nyamuk penyebab penyakit kaki gajah. Meski demikian, warga Tangsel yang dinyatakan positif kaki gajah hanya sekitar 18 hingga 20 orang.

Di Pekalongan, menurut dokter Dwi Herry Wibawa Mkes (Kepala Dinas Kesehatan setempat), lima Kelurahan di kota ini dinyatakan endemis kaki gajah. Yaitu, Pabean, Pasir sari, Tegalredjo, Bumiredjo serta Bandengan. Di kelima wilayah tersebut selama lima tahun berturut-turut ditemukan warga yang terserang penyakit kaki gajah. Oleh karena itu, di wilayah tersebut telah dilakukan pengobatan massal bagi seluruh warga, yaitu yang berusia kurang dari dua tahun dan lebih dari 55 tahun, dengan pemberian obat setahun satu kali dengan jenis obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC), Albendazole, paracet, dan Vitamin B6. (www.wawasandigital.com edisi Wednesday, 12 August 2009).

Menurut pemberitaan Liputan6.com edisi 15 November 2009, penyakit kaki gajah juga melanda Kota Ambon, Maluku. Setidaknya, ditemukan sekitar 150 kasus, yang tersebar di sebagian besar wilayah Taisapu, Kayu Putih, dan Waehaong. Dinas Kesehatan setempat juga telah menyatakan penyakit yang disebabkan cacing filaria dan ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk ini sudah endemis. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan setempat menggelar pengobatan secara gratis di seluruh pusat kesehatan masyarakat atau puskesmas yang ada di sana.

Di kawasan Sumatera Utara, khususnya di Tapanuli Selatan, Labuhanbatu, dan Nias dikategorikan sebagai daerah rawan penyakit kaki gajah. Menurut Suhardiono SKM Mkes (Kasi Pencegahan Penyakit Bersumber Binatang) Dinkes setempat, kerawanan ini terjadi karena masyarakat belum melakukan pola hidup sehat dan kurang menjaga kebersihan.

Menurut Suhardiono pula, di Kabupaten Labuhanbatu yang memiliki 22 kecamatan 242 desa di Desember 2007-Februari 2008 terdapat penyakit kaki gajah sebanyak 876.763 jiwa. Sedangkan di Nias pada bulan November 2007, di tiga kecamatan ditemukan penderita kaki gajah sebanyak 46.250 jiwa. (harian global.com edisi Thursday, 05 November 2009 09:08).

Dari sekian banyak upaya pengobatan gratis penyakit kaki gajah melalui pemberian obat secara cuma-cuma, hanya di wilayah Bandung yang membawa kabar kematian. Sebagaimana diwartakan tempointeraktif edisi Sabtu, 14 November 2009 | 07:19 WIB, setelah pengobatan massal anti kaki gajah pada 10 November lalu, sejumlah 8 warga meninggal dunia.

Delapan orang yang meninggal sesaat dan setelah masa pengobatan massal itu, adalah Danu (52 tahun) warga Desa Majakerta Kecamatan Majalaya, Toto (69 tahun) dan Nandang (47 tahun) warga Desa Banjaran Wetan Kecamatan Banjaran. Sedangkan Nonoh (40 tahun) penduduk Desa Cileunyi Kulon Kecamatan Cileunyi. Lainnya, Ahmad Juana (47 tahun) warga Kecamatan Bojongsoang, dan Lilis (52 tahun) warga Kecamatan Banjaran. Selain itu juga ada Omay Komarudin (64 tahun) warga Kampung Bojongsentul Kecamatan Banjaran, serta Apeng (40 tahun) warga Kampung Babakan Cebek Kecamatan Soreang.

Sejauh ini, jumlah peminum obat anti kaki gajah itu baru mencapai 70 persen dari 2,7 juta warga sasaran di seluruh kecamatan. Sedangkan yang sudah dirawat di sejumlah rumah sakit sejak Selasa lalu sampai Jumat pukul 9 pagi tadi sudah mencapai 800 orang lebih. Keluhan warga paling banyak adalah mual, muntah, disertai pusing.

(http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/11/14/brk,20091114-208309,id.html)

Dari data yang dihimpun dari 2 rumah sakit besar di Kabupaten Bandung, jumlah pasien yang berobat dan dirawat sampai Sabtu sore ini mencapai 700 orang lebih. Di RS Majalaya ada hampir 700 pasien, sedangkan di RSUD Soreang 102 orang. Sejauh ini dilaporkan ada 8 orang yang meninggal, 6 diantaranya diketahui wafat setelah meminum obat anti kaki gajah.

(http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/11/14/brk,20091114-208368,id.html)

Menurut dr. Suhardiman (Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung), dua diantara delapan yang meninggal, terjadi sebelum meminum obat anti kaki gajah, antara lain karena terjatuh dari pohon. Sedangkan enam orang lainnya dilaporkan sempat meminum obat itu. Dari hasil rontgen dan sampel darah pasien ketika sempat dirawat di RS Majalaya dan Soreang sebelum meninggal, mereka ternyata diketahui mengidap penyakit kronis seperti jantung dan darah tinggi.

Mewah di tengah kemiskinan dan ancamannya

Begitulah nasib orang yang “lapar”. Saking laparnya, jangankan nabung uang untuk beli mobil mewah, untuk beli obat saja tidak mampu. Untuk bisa sembuh hanya berharap dari pemberian obat gratis. Ketika obat gratis diperoleh, yang datang bukan kesembuhan, tetapi maut yang mencabut nyawa.

Berbeda dengan orang yang “kekenyangan” macam Ahmad Dhani. Saking kenyangnya, ia bisa menabung uang untuk beli mobil mewah. Dan hebatnya lagi, mobil mewah itu bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk membahagiakan anak-anaknya yang masih berusia belasan tahun.

Fenomena seperti di atas, konon bukan hal yang aneh dan asing bagi masyarakat Indonesia yang berpancasila ini. Ada yang tidur dalam keadaan perutnya kekenyangan, namun tak jauh darinya ada yang tak bisa tidur karena kelaparan. Ada yang mati karena kelaparan, namun tak jarang ada yang mati karena kekenyangan.

Benarlah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ (البخارى فى الأدب ، وأبو يعلى ، والطبرانى ، والحاكم ، والبيهقى ، والخطيب عن ابن عباس) أخرجه البخارى فى الأدب المفرد (1/52 ، رقم 112) ، وأبو يعلى (5/92 ، رقم 2699) ، والطبرانى (12/154 ، رقم 12741) ، قال الهيثمى (8/167) : رجاله ثقات . والحاكم (4/184 ، رقم 7307) ، وقال : صحيح الإسناد . والبيهقى (10/3 ، رقم 19452) ، والخطيب (10/391) . وأخرجه أيضًا : البيهقى فى شعب الإيمان (3/225 ، رقم 3389) .

Bukanlah mukmin orang yang (perutnya) kenyang sedang tetangganya lapar di sampingnya. (HR Al-Bukhari dalam Al-Adab, Abu Ya’la, At-Thabran, Al-Hakim dengan berkata sanadnya shahih, Al-Baihaqi, dan Al-Khathib dari Ibnu Abbas. Al-Albani mengatakan, shahih karena lainnya dalam riwayat Al-Hakim dari Aisyah).

Bahkan ada ancaman dari Allah Ta’ala:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ﴿٤٢﴾ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ﴿٤٣﴾ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ﴿٤٤﴾

042. “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”043. Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat,044. dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, (QS Al-Muddatstsir/74: 42, 43, 44).

وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ ﴿٢٧﴾ لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ ﴿٢٨﴾ لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ ﴿٢٩﴾

027. Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu?028. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. 029. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. (QS Al-Muddatstsir/ 74: 27, 28, 29).

(haji/tede)