Astaghfirullah! Nia Dinata Mempersilakan Anaknya untuk Berzina

Bapak-bapak dan ibu-ibu yang punya gadis abg (anak baru gede, perawan kecil) perlu hati-hati dan waspada. Karena ada seorang ibu yang mempersilakan puteranya (13 tahun) yang masih bersekolah kelas 9 untuk menzinai pacarnya. Saran sangat jahat itu pun masih pula dia kemukakan di media massa.

Pembaca yang kami hormati, bagaimana zina telah dipersilakan di negeri ini, sampai seorang ibu pun ada yang mempersilakan anaknya yang masih umur 13 tahun untuk berzina. Bahkan pembolehan zina bagi anaknya yang masih sekolah menengah pertama itu dia beberkan ke media massa. Berita buruk itu sebagai berikut:

Nia Dinata, sineas (orang yang ahli tentang cara dan teknik pembuatan film) yang kerap mengangkat tema perempuan menyatakan kepada anaknya (ABG lelaki 13 tahun), untuk melakukan seks tidak harus pergi jauh-jauh dari Indonesia. Silakan kamu lakukan di Tanah Air tapi kamu harus tahu tentang bagaimana penyakit menular, HIV/AIDS dan lain sebagainya.
“Silakan kamu melakukan itu dengan pacarmu tapi dengan syarat sama-sama
mau. Tapi kamu tahu dulu tentang sex education. Tentunya, satu sama lain
harus bisa bertanggung jawab atas perbuatannya,” katanya. (okezone, ABG Impikan ke Belanda Demi Seks Bebas >> Remaja & Seks Bebas, Senin, 6 Desember 2010 – 08:51 wib)

Astaghfirullahal ‘adhiem…! Seorang ibu telah mempersilakan puteranya, bahkan sejak anaknya itu masih umur 13 tahun, untuk menzinai pacarnya. Itu saja masih pula disampaikan kepada media massa. Kalau sarannya itu hanya membolehkan berhubungan ketika sudah sah menikah, maka itu bagus. Dan itulah salah satu fungsi orang tua untuk membimbing anaknya. Lha ini justru mempersilakan berzina dengan pacar. Na’udzubillah…

Ternyata di Indonesia ini memang ada manusia yang jahatnya seperti itu.

Untuk mengukur jahatnya sikap itu perlu dibuat perbandingan. Zina adalah perbuatan yang termasuk dosa besar. Sebagaimana membunuh jiwa juga dosa besar . Bahkan balasan zina pun jiwa, karena zina muhshon (yang sudah pernah menikah dan bersetubuh, kemudian melakukan zina), maka hukumannya dirajam yakni dilempari batu sampai mati.

Bagaimana seandainya seorang ibu menyarankan kepada anaknya yang masih duduk di bangku sekolah SMP: Kamu boleh saja membunuh musuhmu asal sama-sama memusuhi. Tapi kamu perlu tahu dulu tentang cara membunuh. Tentunya satu sama lain harus bisa bertanggung jawab atas perbuatannya.

Bila kemudian terjadi pembunuhan oleh anak yang disarani seperti itu, tentu sang ibu yang memberi saran tersebut ketika di pengadilan dan anaknya itu mengaku bahwa itu sesuai saran ibunya, maka ibunya akan diseret dalam perkara pembunuhan itu. Bahkan akan disebut sebagai otak pembunuhan.

Kita analisis kenyataan. Kemungkinan sangat sulit mencari ibu yang menyarankan anaknya agar membunuh orang seperti itu. Namun dalam kenyataan, pembunuhan terjadi di mana-mana. Artinya, tidak disarankan saja, perbuatan jahat itu terjadi di mana-mana. Apalagi kalau disarankan untuk melakukannya. Lha ini malah ada ibu yang menyarankan (mempersilakan) anaknya untuk berzina, sedangkan zina sudah merajalela, dan hukumannya pun tidak ada, maka betapa akan merajalelanya zina itu. Di sinilah otak kejahatan zina itu beroperasi menyebarkan misi syetannya. Maka betapa rusaknya keadaan ini.

Benarlah firman Allah Ta’ala dalam surat An-Nas, yang menyarankan untuk berlindung kepada Allah dari bisikan syetan di dada-dada manusia, (yang syetan itu adalah) dari (golongan) jin dan manusia.

Berhati-hatilah para orang tua yang memiliki puteri-puteri. Ternyata negeri ini ada manusia bahkan seorang ibu yang sejahat itu untuk memangsa puteri-puteri kita. Dan berhati-hatilah wahai para orang tua yang meimiliki putera-putera. Ternyata negeri ini ada manusia bahkan seorang ibu menyarankan lewat media dengan mempersilakan anak lelaki ABG (anak baru gede) untuk menzinai pacarnya. Betapa mengerikannya dan rusaknya keadaan bila saran itu dipraktekkan oleh anak-anak ABG laki maupun perempuan. Kalau itu terjadi, di kalangan ABG saja sudah berani berzina, tentunya akan meningkatkan keberanian bagi yang berumur dewasa.

Perlu diketahui, s

eorang ibu yang menyarankan puteranya untuk berzina itu ternyata dia adalah anak koruptor. Sedangkan negeri ini juga banyak koruptornya. Lha kalau satu koruptor saja sudah menelorkan seorang ibu yang s

eburuk itu, lantas ketika ditambah dengan koruptor-koruptor lain yang juga beranak pinak di negeri ini dengan kejahatan-kejahatan lainnya pula, betapa banyaknya ragam kejahatan nanti.

Na’udzubillahi min dzalik. Kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.

Dalam kenyataan, ketika orang sudah pro kejahatan, maka akan membela kejahatan itudengan aneka cara bahkan bersama teman-temannya. Dalam kasus Nia Dinata ini, ternyata dia juga membela kepornoan dan menyuara pula di media. Sosoknya seperti apa, inilah uraiannya.

Nia Dinata

Nama lengkap cewek yang satu ini adalah Nurkurniati Aisyah Dewi, namun lebih dikenal dengan panggilan Nia di Nata. Ia lebih tua empat tahun dari si Meong Diah Rieke Pitaloka.

Cewek kelahiran Jakarta, 4 Maret 1970 ini, merupakan cicit pahlawan nasional Oto Iskandar di Nata. Sedangkan Ayah Nia, Dicky Iskandar di Nata, merupakan cucu pahlawan nasional tersebut.

Oto Iskandar di Nata (kelahiran Bandung 31 Maret 1897, meninggal pada 20 Desember 1945), mempunyai julukan si Jalak Harupat. Pernah menjabat sebagai ketua organisasi Paguyuban Pasundan (1929-1942), pernah menjabat sebagai anggota Volksraad (semacam DPR) pada masa Hindia Belanda (1931-1941). Pada masa kemerdekaan, Oto menjabat sebagai menteri Negara pada kabinet yang pertama Republik Indonesia tahun 1945. Dalam kapasitas sebagai menteri negara inilah Oto diculik dan kemudian dihilangkan di daerah Banten. Ia menjadi korban “Laskar Hitam” di Pantai Mauk, Tangerang (kini menjadi bagian dari Provinsi Banten).

Menurut sebuah dokumen, Oto Iskandar di Nata dibunuh dengan cara dipancung di pantai Mauk Tangerang pada tanggal 20 Desember 1945. Sedangkan Laskar Hitam yang menculik dan mengeksekusi Oto, konon merupakan cikal bakal dari DI/TII pimpinan Kartosoewirjo. (http://forum.kafegaul.com/archive/index.php/t-137241.html)

Hal yang hampir sama juga nyaris menimpa cucu Oto, yakni Dicky Iskandar di Nata yang pernah dituntut hukuman mati oleh jaksa Sahat Sihombing, dalam kasus pembobolan Bank BNI Cabang Kebayoran Baru senilai Rp 1,2 triliun oleh perusahaan Grup Gramarindo di tahun 2002- 2003.

Ayah kandung Nia di Nata ini bernama lengkap Achmad Sidik Mauladi Iskandardinata, menjabat sebagai Direktur Utama PT Brocoli International. Selain dituntut hukuman mati, Dicky juga dituntut membayar denda Rp 500 juta subsider enam bulan kurungan.

Menurut Jaksa Sahat Sihombing, Dicky terbukti dengan sengaja menempatkan kekayaan yang diketahui atau diduga merupakan hasil pencairan surat kredit dengan dokumen fiktif di Bank BNI Cabang Kebayoran Baru oleh Grup Gramarindo ke dalam penyedia jasa keuangan. Tindakan tersebut dilakukan Dicky untuk menyamarkan asal-usul kekayaannya itu. Perbuatan Dicky ini, merupakan tindak pidana korupsi. Selain itu, Dicky juga merupakan residivis sebab sebelumnya pernah dihukum berdasarkan putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap dalam perkara pidana Bank Duta. Dalam perkara itu, Dicky tidak membayar uang pengganti. (Harian Kompas, edisi 7 Juni 2006).

Namun, pada 20 Juni 2006 Dicky divonis 20 tahun oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, juga didenda Rp 500 juta atau hukuman pengganti lima bulan. Menurut Efran Basuning, Ketua Majelis Hakim, berdasarkan fakta terbukti bahwa lalu lintas uang dalam PT Brocoli Internasional adalah bagian dari pembobolan BNI. Pada tahun 1991, Dicky pernah divonis penjara 10 tahun karena telah menyalahgunakan wewenang sebagai Wakil Direktur Bank Duta untuk bermain valuta asing, yang menyebabkan bank tersebut rugi Rp 780 miliar.

Dari benih Dicky inilah lahir sosok Nia di Nata yang pada tahun 2003 memproduseri sebuah film berjudul Arisan tentang kehidupan gay yang dibintangi oleh Tora Sudiro. Pada film ini terdapat adegan amoral, yaitu Tora Sudiro melakukan adegan berciuman dengan Surya Saputra (sesama lelaki). Adegan tersebut merupakan hal pertama di dalam perjalanan sejarah film Indonesia.

Disadari atau tidak oleh Nia, film yang diproduserinya itu telah menjadi media bottom line untuk mensosialisasikan penyakit masyarakat berbentuk gay. Dengan uangnya, Nia di Nata telah tolong-menolong di dalam kemunkaran, berupa menanamkan sisi humanis dari sebuah sosial patologis berwujud gay (homoseksualitas), kepada generasi muda kita. Sehingga, lambat laun orang akan terbiasa dengan keberadaan gay dengan segala kiprahnya.

Tahun 2007, Nia di Nata kembali mengulangi perannya sebagai sosialisator penyakit sosial berupa gigolo. Kali ini, ia memproduseri film berjudul Quickie Express tentang kehidupan gigolo yang diperankan oleh Tora Sudiro. (lihat tulisan berjudul Dari Artis Hingga Polisi Jadi Gigolo January 2, 2009 9:39 pm).

Kecenderungan Nia menjadi sosialisator penyakit sosial dan kemunkaran inilah yang nampaknya menjadi landasan genetis dan psikologis untuk menolak Undang-undang Pornografi. Buah yang baik, tentu lahir dari pohon yang baik. Begitu kata orang bijak. Demikian pula sebaliknya.

Di dalam menolak UU Pornografi, Nia beralasan, UU Pornografi merupakan bentuk ikut campur negara dalam urusan privat keluarganya, khususnya dalam soal etika dan moral anak-anaknya. “Terserah saya dong memilihkan tontonan apa saja buat anak-anak saya…” Padahal, Undang-undang pornografi tidak mengatur urusan privat seperti itu. Dalam hal Nia menyuguhkan tontonan Dora Emon atau Spongebob bagi anak-anaknya, itu urusan dia sendiri, dan tidak diatur dalam UU Pornografi. Bahkan ketika Nia menyuguhkan film-film yang tergolong porno menurut Undang-undang, kepada anak-anaknya di dalam rumah, dan tidak terlihat oleh umum, itu juga urusan Nia sendiri. Yang dilarang, membawanya ke ruang publik, menjajakannya secara meluas sehingga menjangkau target yang bukan semestinya. Inilah yang diatur.

Ketika ditanya bagian mana saja dari RUU Pornografi yang tidak disetujui oleh Nia dan para pekerja seni, Nia menjawab, “Keseluruhan pasal RUU Pornografi ini, sejak awal sampai akhir, kami tolak!”

Jawaban seperti itu jelas bukan jawaban seorang yang punya intelektual. Boleh jadi, ketika menjawab pertanyaan di atas, Nia dalam keadaan belum tahu apa-apa (belum membaca detil rancangan undang-undang tersebut), sehingga dengan jurus berkelit selagi sempat, maka meluncurlah jawaban seperti itu. Tidak argumentatif, sekedar ngeles.

Boleh jadi, ia memberikan jawaban seperti itu, karena benar-benar dengan kesadaran penuh, bahwa seluruh isi materi rancangan undang-udang itu semuanya tidak patut disahkan menjadi undang-undang. Kalau benar demikian, ini namanya arogan, sekaligus tidak menghargai kompetensi dan eksistensi orang lain yang berbeda bidang dengannya. Sebagai pekerja seni, Nia tidak berkompeten berbicara soal undang-undang dengan sikap seperti itu (apriori).

Bisa juga, ia menolak karena materi undang-undang pornografi mengganggu kecenderungannya mensosialisasikan patologi sosial, penyakit masyarakat berupa gay, gigolo dan sebagainya. Kalau ini yang sesungguhnya terjadi, maka yang harus dilakukan adalah menyembuhkan Nia, bukan menolak kehadiran UU Pornografi. “Kalian yang sakit kok undang-undang yang disalahkan.” Pepatah menyindirnya dengan ungkapan: Buruk muka cermin dibelah. (haji/tede)

Untuk lebih jelasnya, sosok yang memalukan namun belum tentu dirinya sendiri merasa malu itu dapat dibaca di (https://www.nahimunkar.com/cewek-cewek-penentang-uu-pornografi-buruk-muka-cermin-dibelah/#more-217 dapat juga dibaca di buku Pengkal Kekeliruan Golongan Sesat, oleh Hartono Ahmad Jaiz dkk, Pustaka Nahi Munkar, Jakarta, 2009, hal 331-334).

(nahimunkar.com)