Astaghfirullah, Taufiq Kiemas Jadi Ketua MPR

Judul di atas diambil dari salah satu komentar yang diberikan pembaca detik.com yang menyelenggarakan polling pro-kontra tentang Taufiq Kiemas jadi Ketua MPR. Sampai dengan hari Jumat tanggal 02 Oktober 2009 14:31 WIB, hasil polling menunjukkan bahwa dari 748 pengunjung detik.com yang merespon, sekitar 92% menyatakan kontra dan hanya 8% saja yang pro.

Kalau diperhatikan lebih seksama, dari yang bersikap pro sebenarnya bila disimak materi komentarnya secara serius, maka sesungguhnya ia tergolong kontra. Misalnya, komentar yang diberikan oleh Wawan, sebagai berikut: “MPR kan isinya orang ga tau malu, pemimpinnya harus yang paling ga tau malu.” Begitu juga dengan komentar yang diberikan oleh Oding, sebagai berikut: “memang cocok taufik kiemas jadi ketua mpr….waktu jadi anggota dpr saja jarang hadir rapat….jadi coco jadi ketua mpr….karena mpr sekarang kan nggak ada kerjaan….cocok pak tk, kalau anda tidak malu sama rakyat.”

Begitu juga dengan komentar Rizal Fadillah, yang justru bernada kontra, yaitu: “Persetan semuanya…. mau diriin negara pendusta x…. tonggak2nya orang bodoh ma penjilat.. POM bensin makin banyak j dah…rakyat digusur lagi…” (persetan semuanya, mau mendirikan negara pendusta barangkali. Tonggak-tongaknya orang bodoh sama penjilat. Pom bensin makin banyak saja dah… rakyat digusur lagi…”

Sedangkan komentar dari seseorang yang menamakan dirinya Setan, berisi sinisme sebagai berikut: “Akhirnya…jagoanku terpilih juga. Ayo, pergalak korupsi, tingkatin bolosnya…dan teruslah jual aset negara.”

Sinisme serupa juga diberikan oleh Joko Triyono, sebagai berikut: “Bagus sekali, Rakyat yang mayoritas tdk waras, sudah memilih wakil2nya sbg anggota DPR yg edan, Sekarang anggota DPR nya satu visi dgn rakyatnya memilih ketua MPR yg Bejat. SEMPURNA.”

Hal senada juga dilontarkan oleh Dhana, sebagai berikut: “saya dukung penjahat poitik itu untuk memperlihatkan ketidakbecusan dalam berpolitik dan memimpin, seperti halnya, kepemimpinan istrinya dalam memimpin negara di masa lampau ………………………… aw aw aw aw aw aw aw aw cpe dech betul betul betul (upin says).”

Arif Ajah yang dikelompokkan sebagai reponden yang pro, namun isi komentarnya justru kontra, sebagai berikut: “Siapa yang mau jdi ketua MPR..klo Pak Hidayat Nurwahid..setuju..tapi TK…apa kata dunia?..jalan saja sudah tidak kuat apalgi pimpin MPR????????????????cape dech..”

Ada juga yang menamakan dirinya Rakyat Indonesia, meski ia dikelompokkan sebagai yang pro, namun komentarnya sangatlah kontra, sebagai berikut: “TK jadi ketua MPR ?? berbobot banget tuh…. tapi badannya, otaknya ? nol besar . Memang politisi negara ini kagak ade otaknye. wong orang yang paling banyak absen kok malah dijadikan ketua…dasar setan semua…memang pantas negara ini dikutuk sama Allah SWT, wong wakil rakyatnya kayak setan……”

Sedangkan Kodul, secara lebh singkat mengatakan: “Klo TK jadi ketua MPR maka negeri ini ga akan ada di peta dunia (tenggelam oleh gempa).”

Begitu juga dengan seseorang yang menamakan dirinya Koruptor, ia pro TK jadi Ketua MPR dengan alasan: “Yess….sebagai sesama koruptor, saya dukung TK !!!! Biar korupsi semakin jaya di negeri ini ..”

Sedangkan seseorang yang menamakan dirinya Andalas, berkomentar cukup singkat, yaitu: “GEMPA…………….9,9 SR.”

Lain lagi dengan Keong Mas, yang memberikan komentar sebagai berikut: “Bangus deh biar lebih kelihatan bahwa perpolitikan indonesia adalah panggung sandiwara, yg tolol dan pemalas juga bisa jadi Ketua MPR. kehancuran kita semakin nyata oleh orang-orang rakus dan tolol.”

***

Pada hari Senin, 5 Oktober 2009, Bisnis Indonesia online menyelenggarakan polling, dengan materi pertanyaan: Siapakah pimpinan legislatif yang Anda ragukan untuk bekerja sesuai aspirasi rakyat?

Hasilnya, dari 158 partisipan, sebanyak 86,08 persen (136) memilih Taufiq Kiemas sebagai pimpinan legislatif yang diragukan untuk bekerja sesuai aspirasi rakyat. Sedangkan Ketua DPR RI Marzuki Ali dan Ketua DPD Irman Gusman masing-masing dinyatakan oleh angka yang sama yaitu 6.92 persen atau masing-masing dinyatakan oleh 11 partisipan

(http://web.bisnis.com/polling.php?poll_id=127).

Sebelumnya, pada tanggal 24 Agustus 2009, Bisnis Indonesia online juga menyelenggarakan polling, dengan materi pertanyaan: Apakah Taufik Kiemas layak jadi Ketua MPR?

Hasilnya, dari sejumlah 605 partisipan, hasilnya 57.19 persen menyatakan sangat tidak layak dan 33.39 persen menyatakan tidak layak. Bila keduanya digabung maka akan menghasilkan angka 90.58 persen. Sedangkan yang menyatakan sangat layak dan layak hanya mencapai 9.42 persen. Gambaran ketidak layakan TK menjadi Ketua MPR sebagaimana disajikan hasil polling Bisnis Indonesia online ini, nampaknya dipertajam oleh gambaran hasil polling Detik.com di atas.

***

Pemilihan Ketua MPR sama sekali tidak melibatkan rakyat Indonesia. Karena, Ketua MPR dipilih oleh fraksi-fraksi yang ada di DPR, merupakan pergulatan politik, merupakan kesepakatan politik, merupakan semacam politik dagang sapi. Rakyat bisa menilai kualitas seseorang atau sekelompok orang antara lain melalui apa atau siapa yang dipilihnya menjadi Ketua.

Dalam perspektif lain, seorang Ketua seharusnya merupakan sosok yang paling paripurna di antara anggota-anggotanya. Lha kalau ketuanya saja kayak gitu itu, bagaimana pula dengan para anggotanya? Kemungkinan lebih parah lagi. Sebab, orang sehat seharusnya sama sekali tidak mau dipimpin oleh orang yang mboten saras.

Menurut catatan, pada Mei 2009 lalu, Taufiq Kiemas mengalami serangan jantung, sehingga harus dirawat di RS MMC yang terletak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Taufiq Kiemas dilarikan ke MMC pukul 14.30 WIB, pada hari Rabu tanggal 13 Mei 2009, dan dirawat di ruang 301 (lantai 3 RS), untuk dipasangi alat pacu jantung.

Pada tahun 2004, tepatnya tanggal 31 Agustus 2004, Taufiq Kiemas dibawa ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita di Slipi Jakarta Barat, untuk menjalani pemeriksaan intensif di Lantai IV Pavilyun Sukarman. Taufiq Kiemas dan rombongan datang sekitar pukul 21.00 WIB.

Di tahun 2007, Taufieq Kiemas pernah mengatakan, agar presiden SBY jangan kekanak-kanakan lagi, sebagaimana diberitakan oleh Solopos edisi Sabtu tanggal 17 Maret 2007, halaman 2. Antara lain dituliskan: “Kamu (SBY-red) sudah presiden. Itu kan jabatan tertinggi. Jangan kekanak-kanakan lagi. Bertindaklah, nikmatilah jabatan presiden untuk kemaslahatan orang banyak,” tegas Ketua DPP PDIP itu di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (16/3).

Di tahun 2004, Taufiq Kiemas pernah menyindir SBY sebagai berikut: “Masak, jenderal bintang empat kayak anak kecil gitu…” untaian kalimat itu diucapkan Taufiq Kiemas kepada pers di sela-sela pembekalan para juru kampanye PDI Perjuangan (PDIP) di Jakarta, pada hari Selasa tanggal 2 Maret 2004. Ketika itu, SBY merasa diisolasi oleh Presiden Megawati akibat pencalonannya sebagai calon presiden (capres) di Pemilu 2004.

Kini, Tufiq Kiemas justru didukung Partai Demokrat menjadi Ketua MPR. Partai Demokrat adalah partai baru yang didirikan SBY dalam rangka ikut pemilu tahun 2004 lalu. Sosok paling menonjol dan berpengaruh di Partai Demokrat adalah SBY. Bahkan, SBY jauh lebih populer dan dikenal luas dibandingkan dengan Ketua Umum Partai Demokrat. Berbeda dengan Golkar, yang Ketua Umumnya (M. Jusuf Kalla) jauh lebih populer dan lebih dikenal dibandigkan dengan Ketua Dewan Penasihatnya.

Begitulah realitas politik. Ibarat orang meludah, Taufiq Kiemas sudah berkali-kali meludahi lawan politiknya. Kemudian, ia mendapat penghargaan dari sang lawan, barangkali agar kebisaannya meludah bisa dihentikan. (haji/tede)