شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ [البقرة/185[

Awal Ramadhan 1431H/ 2010

Menurut perhitungan, bulan sabit (hilal) tidak dapat dilihat, baik dengan mata telanjang maupun pakai teleskop di Benua Asia, Eropa, dan sebagian besar Afrika pada hari Selasa 10 Agustus 2010/ 29 Sya`ban 1431H. Satu-satunya tempat yang dapat dilihat hilal darinya dengan mata telanjang pada hari Selasa 10 Agustus 2010 adalah selatan barat benua Amerika Selatan. Demikian alarabiya.net memberitakan.

Sementara itu sumber lain memberitakan; Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Aceh H. A. Rahman TB di Banda Aceh, mengatakan, ketinggian hilal mar`iy di pantai Cemara Lhoknga Kabupaten Aceh Besar pada 29 Sya`ban atau 10 Agustus 2010 bertepatan hari Selasa. Yakni 5` 27` 59″ Lintang Utara (LU) – 95` 14` 32,2″ Bujur Timur (BT ) atau sama dengan 1 derajat, 54 menit, 25,28 detik di atas ufuk (garis antara laut dan langit).

Sesuai dengan BHR tersebut, hilal diperkirakan akan sulit terlihat dari tempat pengamatan di Lhoknga karena faktor cuaca dan rendahnya posisi hilal di bawah ufuk, katanya.

Menurut dia, di saat yang sama nantinya tim dari Kementerian Agama, Kominfo, Ormas Islam dan instansi terkait lainnya, akan melakukan pengamatan hilal di beberapa titik seperti di Ambon dan Makasar, untuk menentukan kepastian bulan Ramadhan.

Dunia Islam dan posisi hilal menjelang Ramadhan

Dengan bertemunya pandangan atas kondisi bulan pada hari selasa 10 Agustus di sebagian kota-kota Arab dan Islam menurut perhitungan permukaan bulan sabit (hilal) ketika tenggelamnya matahari, menjadi jelas bahwa melihat bulan (ru’yatul hilal) pada hari Selasa akan tidak mungkin, baik dengan mata telanjang maupun dengan menggunakan teleskop di seluruh bagian dua benua Asia dan Eropa dan sebagian besar bagian Afrika. Sementara itu kemungkinan bisa ru’yatul hilal dengan menggunakan teleskop dari selatan Benua Afrika dan Amerika Tengah dan Selatan, mengingat bahwa satu-satunya tempat yang dapat dilihat hilal darinya dengan mata telanjang pada hari Selasa adalah selatan barat benua Amerika Selatan.

Oleh karena tampaknya hilal akan dapat terjadi pada hari Selasa di beberapa bagian dunia maka diharapkan sebagian neger-negeri Islam akan memulai Bulan Ramadhan pada Hari Rabu 11 Agustus. Adapun mengenai Negara-negara yang mensyaratkan terlihatnya hilal dari dalam buminya dan yang tidak dapat melihat hilal dari negerinya pada Hari Selasa seperti Kesultanan Oman, maka diharapkan memulai Bulan Ramadhan pada Hari Kamis 12 Agustus. (alarabiya.net).

Kondisi Indonesia, beritanya sebagai berikut:

Awal Ramadan Diumumkan Hari Ini

JAKARTA (SI) – Penetapan awal puasa atau 1 Ramadan versi pemerintah akan ditentukan pada sore hari ini, melalui sidang isbat dengan melibatkan berbagai kelompok Umat Islam.

Berbeda dengan Muhammadiyah,awal puasa sudah ditetapkan besok, Rabu (11/8). Penetapan awal Ramadan sebenarnya diharapkan tidak terjadi perbedaan.Namun, karena perbedaan metode yang digunakan dalam menentukan awal puasa, bisa jadi tidak seragam.Apalagi, kondisi bulan pada saat ini cukup sulit untuk diamati atau di rukyat. ”Tinggi bulan 2–3 derajat secara astronomis terlalu rendah sehingga kemungkinan tidak dapat di rukyat. Kondisi cuaca kemarau basah yang cenderung banyak awan kemungkinan juga mengganggu pengamatan,” demikian dikatakan Thomas Djamaludin, profesor riset astronomi-astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang juga anggota badan hisab rukyat Kementerian Agama.

Ijtima’ awal Ramadan 1431 H, 10 Agustus 2010 pukul 10.09 WIB di Pelabuhan Ratu memang menyebutkan tinggi bulan saat magrib 2 derajat 36’ membuat kemungkinan awal Ramadan diperkirakan jatuh pada 11 Agustus 2010. Namun, Thomas mengingatkan bahwa kemungkinan perbedaan awal puasa masih bisa saja terjadi. Dikatakannya, potensi awal Ramadhan menjadi 12 Agustus bisa saja terjadi bagi kalangan yang mendasarkan pada rukyat. ”Untuk itu, bagi masyarakat umum, cara terbaik menghadapi potensi perbedaan adalah menunggu keputusan sidang isbat yang diumumkan Menteri Agama pada malam Rabu, 10 Agustus 2010,”ujarnya.

Meski demikian, Thomas menjelaskan, untuk awal Syawal 1431 H atau Idul Fitri 1431 H bisa berjalan seragam bertepatan dengan 10 September 2010. Itu mengingat, tinggi bulan pada 8 September 2010 (29 Ramadan 1431, bila memulai puasa 11 Agustus) yang masih di bawah ufuk menyebabkan Ramadan akan digenapkan 30 hari dan Idul Fitri bertepatan dengan 10 September 2010. Kalau pun ada kalangan yang mungkin memulai puasa 12 Agustus, pada akhir Ramadan (9 September) bulan akan cukup tinggi sekitar 10 derajat sehingga relatif sangat mudah di rukyat sehingga Idul Fitri pun akan bertepatan 10 September 2010.

Menteri Agama Suryadharma Ali berharap untuk tahun ini tidak ada perbedaan awal puasa seperti sering terjadi selama ini. Menag menyatakan bahwa sidang isbat akan dilakukan hari ini dengan melibatkan berbagai ormas Islam. “Harapan kita tentu tidak ada perbedaan dalam penetapan hari pertama pada bulan puasa,”ujarnya. Ketua PWNU Jateng Muhammad Adnan mengungkapkan, berdasarkan hasil hisab yang dilakukan pihaknya, posisi hilal baru berada sekitar 2 derajat di atas ufuk. Dengan demikian, kemungkinan bisa melihat bulan sangat kecil.

“Walaupun menggunakan hisab dan rukyat, keputusan akhir NU ada pada rukyat yang lebih sempurna. Jika besok (hari ini) hilal tidak bisa terlihat, tidak menutup kemungkinan warga NU baru akan melaksanakan puasa Kamis (12/8),” katanya di Semarang, kemarin. Sementara itu, Sekretaris Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Tengah Tafsir mengakui, ada kemungkinan terjadi perbedaan awal Ramadan antara NU dan Muhammadiyah, terkait perbedaan metode yang digunakan. Namun, pihaknya berharap, hal itu tidak sampai menjadikan konflik di masyarakat.

”Kami sudah menentukan 1 Ramadan 1431 Hijriah jatuh pada tanggal 11 Agustus 2010 dengan metode hisab sehingga sudah bisa memulai menjalankan ibadah puasa pada hari itu (11/8),”katanya. (sugeng wahyudi/ant) seputarindonesia.

Ayat-ayat kewajiban puasa Ramadhan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184) شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [البقرة/183-185]

183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan [114],maka.itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

[114]. Maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.

Ayat ini (S. 2: 184) turun berkenaan dengan maula (Budak yang sudah dimerdekakan) Qais bin Assa-ib yang memaksakan diri berpuasa, padahal ia sudah tua sekali. Dengan turunnya ayat ini (S. 2: 184), ia berbuka dan membayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin, selama ia tidak berpuasa itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam kitab at-Thabaqat yang bersumber dari Mujahid.)

185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS Al-Baqarah: 183, 184, 185). (nahimunkar.com)