Awas, Ada Calon Ketua Umum NU yang Mendukung Aliran Sesat LDII

Ketika orang jengak (kaget campur heran) mendengar ada calon ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) ada yang mendukung aliran sesat Ahmadiyah, yakni Shalahuddin Wahid dan Ulil Abshar Abdalla, kini ditambah lagi ada calon ketua umum NU yang mendukung aliran sesat LDII yakni Ahmad Bagdja.

Seperti berita sebelumnya (Hati-hati, Ada Calon Ketua Umum NU

yang Membela Ahmadiyah, nahimunkar.com 11:43), pemilihan ketua umum PBNU untuk menggantikan posisi KH Hasyim Muzadi akan dilaksanakan pada Muktamar ke-32 NU di Asrama Haji Makassar, Sulawesi Selatan, 22-27 Maret 2010.

Sejumlah kiai sepuh/senior Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur sepakat menolak faham liberalisme, karena itu mereka akan membendung terpilihnya kandidat Ketua Umum PBNU yang proliberal dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar, 22-27 Maret 2010 mendatang.

Penolakan faham liberal juga diawaki oleh para kiai muda NU hingga mereka telah menghadapi langsung dedengkot liberal yakni Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL. Maka telah dilangsungkan Tabayyun dan Dialog Terbuka Antara Jaringan Islam Liberal dan Forum Kiai Muda (FKM) NU Jawa Timur Di PP Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur Ahad, 11 Oktober 2009. Ada 8 butir kesimpulan, di antaranya:

Liberalisasi dalam bidang akidah yang diajarkan JIL, misalnya bahwa semua agama sama, dan tentang pluralisme, bertentangan dengan akidah Islam Ahlussunnah Waljamaah. (lebih lengkapnya lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs, Pustaka Al-kautsar, Jakarta, Februari 2010).

Dalam hal ini setidaknya ada beberapa tokoh liberal yang maju ke pemilihan ketua umum PBNU yakni Salahuddin Wahid, Said Aqiel Siradj (bahkan sampai mengkafirkan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyamakan aqidah Islam dengan Kristen), Ulil Abshar Abdalla, dan Masdar F Mas’udi. Mereka ini ada bukti-bukti liberal bahkan berkiprah semacam blusak-blusuk itu. (Lebih rincinya silakan baca buku Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs, Pustaka Al-kautsar, Jakarta, Februari 2010, dan artikel Catatan Kecil Tentang Para Calon Ketua Umum NU, nahimunkar.com 2:15 am).

Ahmad Bagdja mendukung aliran sesat LDII

Ahmad Bagdja telah bertungkus lumus (bersusah payah) menulis surat ditujukan kepada MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk mendukung LDII, namun ternyata tidak digubris oleh MUI karena surat itu tidak ada maknanya belaka. Bahkan MUI mengeluarkan rekomendasi dari MUNAS Ulama 2005 yang isinya LDII itu aliran sesat dan sangat meresahkan masyarakat, disejajarkan dengan Ahmadiyah.

MUI (Majelis Ulama Indonesia) telah mengeluarkan rekomendasi mengenai aliran sesat LDII:

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat.

Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Surat Ahmad Bagdja yang mendukung LDII tapi dinafikan begitu saja oleh MUI itu sebagai berikut:

SURAT SANGGAHAN UNTUK BUKU “BAHAYA ISLAM JAMAAH, LEMKARI / LDII” DARI SALAH SATU KETUA PBNU H. ACMAD BAGDJA, S.E, MM

Jakarta, 17 Agustus 2001.

Kepada Yth. :

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia

Masjid Istiqlal, Jakarta 10710.

Assalaamu ‘alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh.

Akhir-akhir ini telah beredar sebuah buku yang berjudul “Bahaya Islam Jamaah, Lemkari / LDII” yang diterbitkan oleh LPPI. Bahkan menurut pengakuan penerbitnya telah

mencapai cetakan ke sepuluh.

Dari segi kuantitas, apabila memang betul sebanyak itu, patut kita acungkan jempol dan patut pula kita nominasikan untuk dicatat di dalam “Guinnes Book Of Records”.
Namun dari segi ilmiyah sungguh tidak dapat dipertanggung jawabkan karena isinya sangat tendensius, emosional dan tidak mendukung obyektifitas.

Suatu kajian akan dinilai obyektif secara keilmuan apabila yang diteliti itu ditinjau dari berbagai sudut, dan tidak memihak.

Dari segi agama, jelas isinya hanya berdasarkan kedengkian terhadap suatu golongan.
Dari segi tata negara, buku tersebut dapat dikatakan mengandung unsur provokasi, tanpa memperhatikan lagi bahwa sekarang ini adalah era kebebasan bagi setiap warga negara untuk bersikap.

Dari segi pandangan hidup tampaknya penulis berpandangan “Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan terlihat jelas”, sang penulis mengabaikan realita di sekelilingnya dan hanya terfokus kepada motto “anti LDII”, terbukti dengan tidak adanya buku lain selain buku mengenai LDII tersebut yang diterbitkan.

Dari segi faktual, penulis hanya mencantumkan berita-berita negatif dari sebagian oknum dan menutup mata terhadap perkembangan LDII yang jauh lebih besar.
Dari segi etika jurnalistik, si penulis berusaha untuk menikmati hak kebebasan berpendapat, namun tidak memperhatikan etika dan integritas sebagai seorang peneliti (kebebasan yang kebablasan).

Saya bukanlah pengikut LDII, tetapi sebagian besar keluarga saya sudah lama mengaji di LDII.

Sudah lama saya mengamati setiap aktifitas LDII, jauh sebelum sang penulis buku tersebut mengamatinya.

Jika ternyata ada ajaran yang menyesatkan dari LDII sudah pasti saya akan melarang keras keluarga saya untuk mengikutinya, tetapi yang selama ini terjadi hanyalah berita-berita yang menyesatkan saja yang benyak beredar.

Sejauh ini memang kelihatannya LDII tidak menanggapi fitnah-fitnah yang ditulis di dalam buku tersebut.

Sangat disayangkan bahwa MUI memberikan dukungan atas terbitnya buku tersebut melalui surat (tanpa tanggal) yang ditandatangani oleh Bapak Ali Yafie dan Bapak Nazri Adlani.
Hingga pada cetakan terakhir (cetakan ke sepuluh – Februari 2001) surat MUI tersebut masih dicantumkan.

Saya tidak tahu apakah Bapak Ketua Umum MUI menyadari hal ini, yang jelas surat yang ditandatangani Bapak Ali Yafie tersebut sampai dengan cetakan terakhir buku tersebut masih dijadikan referensi oleh sang penulis.

Saya sangat meyakini bahwa salah satu fungsi MUI adalah membina ummat Islam, menaungi kepentingan ummat Islam secara keseluruhan termasuk golongan-golongan di dalam Islam selama tetap berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Untuk itu saya menyerukan kepada MUI untuk mecabut dukungan kepada buku yang berjudul “Bahaya Islam Jamaah, Lemkari / LDII” yang diterbitkan oleh LPPI karena isinya sangat provokatif, menyebarkan kedengkian dan bertendensi untuk memecah persatuan ummat Islam.

Innamal mu’minuuna ikhwatun fa-ashlihuu bayna akhowaykum wattaqullaaha la’allakum turhamuun.

Demikian dan terima kasih.

Wassalam,

H. Achmad Bagdja, S.E, MM

Ketua PBNU

e-mail : [email protected]

cc:
1.
Bapak H.M. amien jamaluddin / ketua LPPI

2. Bapak ketua Umum LDII

3. Toko-toko buku di seluruh Indonesia

sumber: http://ldiiwatch.wordpress.com/2006/03/19/kliping-surat-sanggahan/

Surat Ahmad Bagdja mendukung LDII tanpa argument dan dalil yang jelas

Surat Ahmad Bagdja itu tanpa dilandasi alasan yang kongkret, apalagi ilmiah. Poin-poin mana saja yang dia sanggah dari buku itu tidak dia jelaskan, dan tidak dia kemukakan alasan secara ilmu apalagi dalil. Dalilnya hanya kembali kepada dirinya:

“Jika ternyata ada ajaran yang menyesatkan dari LDII sudah pasti saya akan melarang keras keluarga saya untuk mengikutinya, tetapi yang selama ini terjadi hanyalah berita-berita yang menyesatkan saja yang benyak beredar.”

Menyanggah buku hanya dengan menulis surat yang isinya seperti itu justru menunjukkan seperti apa jati diri Ahmad Bagdja itu. Coba kita bandingkan dengan sikap Kyai NU yang berbicara dengan argument dan kenyataan yang dia amati, yang beritanya sebagai berikut:

Perubahan Paradigma LDII Dipertanyakan

Kamis, 8 Maret 2007 08:51

Surabaya, NU Online

Kabar bahwa Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) telah berubah paradigma dengan semisal tidak menajiskan muslim yang lain, juga mau menerima Pancasila, tidak memakai sistem hirarki keamiran, dan lain sebagainya seperti yang terjadi selama ini, mengundang tanda tanya masyarakat.

Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH A Masduqi Mahfudz justru mempertanyakan maksud di balik perubahan paradigma itu. “Itu kan baru pernyataan. Harus dilihat dulu apa yang mendorong mereka untuk berubah, motifnya apa?” kata Kiai Masduqi saat ditemui di Kanwil NU Jawa Timur Rabu (7/3). “Tidak bisa dipercaya langsung,” lanjutnya.

Menurut pengasuh Pesantren Nurul Huda Mergosono Malang itu, LDII butuh waktu yang relatif lama untuk bisa membuktikan pernyataan mereka. Paling tidak butuh waktu satu tahun untuk mengamati ceramah, sikap dan keyakinan mereka.

Citra LDII sudah terlanjur negatif di mata komunitas muslim yang lain. Ormas Islam yang tumbuh dari Kediri Jawa Timur ini dinilai tidak jauh beda dengan kelompok Darul Hadits dan Islam Jamaah yang pernah dilarang pemerintah. Bahkan disinyalir kuat hanya ganti nama. Toh prakteknya tetap sama. Hanya karena dalam berpolitik mendukung Golkar, ormas ini tidak dibubarkan.

“Terus terang, saya tidak seberapa percaya dengan ucapan mereka, sebab selama ini mereka suka merahasiakan sesuatu dari kelompok Islam yang lain,” tutur matan Ketua MUI Jawa Timur ini. “Justru kalau maksud perubahan itiu agar mereka bisa masuk ke dalam MUI, malah perlu dicurigai,” tandasnya.

Sementara di tengah masyarakat, kelompok ini tumbuh secara eksklusif. Para jamaahnya tidak mau bercampur dengan masyarakat lain non kelompok mereka. Kelompok LDII mendirikan masjid sendiri, meski dalam komunitas masyarakat itu sudah berdiri masjid. Di masjid itulah mereka mengadakan kegiatan. Bila ada orang dari kelompok lain masuk biasanya lantai masjid langsung dipel, tidak lama setelah orang itu pergi. (sbh)

Sumber: http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=8591

Sikap Kyai NU tersebut cukup jelas. Tidak seperti Ahmad Bagdja.

Para calon ketua umum NU ada yang membela aliran sesat LDII, ada yang membela aliran sesat Ahmadiyah, dan ada beberapa yang jelas-jelas liberal, malah menyamakan semua agama.. Bahkan ada yang mengkafirkan para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil pula menyamakan aqidah Islam dengan keyakinan Kristen. Siapa dia? Tidak lain adalah Said Aqiel Siradj.

Apakah sosok-sosok yang seperti itu yang akan dipilih untuk memimpin NU, Ormas Islam terbesar di Indonesia dengan banyak Kyai dan Ummat Islam yang polos-polos di berbagai pelosok Indonesia ini?

Para Ulama, Kyai, dan muktamirin NU tentunya akan banyak pertimbangan dalam menentukan pilihan mereka. Semoga Allah melindungi kita semuanya. Amien.

(nahimunkar.com).