Awas Ada Gerakan Mengacak-acak Al-Qur’an (2 dari 3 Tulisan)

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

 

Tanggapan terhadap pendustaan murninya Al-Qur’an.

      Itulah salah satu dampak buruk dari pengajaran atas nama pendidikian Islam di pasca sarjana IAIN/ UIN namun dengan materi kemusyrikan, yaitu metode hermeunetika (metode tafsir bible yang diadopsi dari Yunani) untuk menganalisis Al-Qur’an.

Kenapa hasilnya sangat berlainan bahkan membahayakan Islam?

 Karena, peraih gelar master agama di IAIN Jogja dengan tesisnya Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan  ini terngiang dalam otaknya, pelajaran hermeneutika. Hermeunetika itu diambil dari nama seorang dewa kepercayaan musyrik Yunani kuno, Hermes[1]. Hermes itu dewa penjudi dan pencuri, tetapi penerjemah dan penyampai wahyu dari dewa-dewa di kayangan/ langit, menurut kepercayaan musyrikin Yunani kuno.[2]

Jadi, tidak mengherankan, ketika Aksin Wijaya ini berbicara tentang Al-Qur’an, maka dia angan-angan, ketika pesan Tuhan masih dalam parole ((وعد شرف  Tuhan, itu masih utuh. Lalu, begitu disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (tidak disebut Malaikat Jibrilnya dan Nabi Muhammadnya dalam halaman 55 itu) sudah tidak utuh lagi, sudah berwujud bahasa Arab, dan tidak terjaga dari tahrif (penggantian/ penyelewengan). Ini tidak ada satu orang muslim pun yang akan berkata seperti itu, kalau meyakini Al-Qur’an itu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Kenapa Aksin Wijaya yang di pasca sarjana IAIN/ kini UIN Jogjakarta sampai seperti itu pernyataannya, dan diamini oleh para pemberi kata pengantar buku itu, dan diluluskan oleh para pengujinya sebagai mahasiswa S 2 yang lulus bergelar master agama dari perguruan tinggi Islam? Karena, sebagaimana latar belakang pelajaran kemusyrikan penuh mitos Yunani dalam metode hermeunetika, penyampai dan penerjemah wahyu dari dewa-dewa di kayangan itu adalah Hermes, yaitu dewa penjudi sekaligus pencuri. Jadi, wahyu yang dibawanya itu sudah dikorupsi, sudah tidak terjaga lagi. Yang masih terjaga itu yang masih belum disampaikan dan belum diterjemahkan oleh dewa pencuri dan penjudi, Hermes, yang masih di tangan dewa-dewa di kayangan/ langit.

n                   Betapa rusaknya ketika memahami turunnya wahyu Al-Qur’an secara hermeunetika, hingga sangat jauh dari keyakinan Islam. Akibatnya sangat fatal. Mafhum mukholafahnya (makna tersiratnya), Allah Subhanahu wa Ta’ala dianggap mengutus Malaikat Jibril itu sama dengan dewa-dewa Yunani mengutus Hermes yang tukang mencuri. Sehingga wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sudah tidak otentik lagi, sudah mengalami tahrif (perubahan/ penyelewengan). Pemahaman seperti ini betapa kurangajarnya. Berarti Allah Subhanahu wa Ta’ala dianggap mengutus penyeleweng, yaitu Malaikat Jibril. Lalu Malaikat Jibril dituduh sebagai penyeleweng wahyu. Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerima wahyu itu sama dengan dituduh menerima wahyu palsu. Karena Al-Qur’an telah dituduh sebagai wahyu palsu, maka Aksin Wijaya lebih bisa kurangajar lagi dengan manyatakan: Al-Qur’an diletakkan pada posisi setidak-tidaknya sederajat dengan akal dan akal berhak menganalisa al-Qur’an, kalau tidak justru ditempatkan di bawah akal. (halaman 29). Kesombongannya sudah benar-benar mengikuti para filosuf kafir yang tidak percaya kenabian dan wahyu, karena nabi dianggap lebih rendah dari filosuf, dan wahyu lebih rendah dari akal. Apalagi kalau bergabung dengan faham tasawuf sesat, maka menjadi lebih kental lagi, mengaku dirinya sebagai wali, sedang wali lebih tinggi daripada nabi. Maka tidak memerlukan syari’at lagi, tidak tunduk kepada syari’at yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mutar-mutar ke mana-mana ujung-ujungnya sama, yaitu kufur-kufur juga. Orang yang pemahamannya sebahaya itu, kabarnya kini jadi dosen di perguruan tinggi Islam di Ponorogo Jawa Timur. Pak Kiyai Syukri Zarkasyi, Mas Dr Hamid Fahmi Zarkasyi dan lainnya yang memberantas faham liberal lewat Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, monggo (tafaddhol) masalah itu dihadapi bersama, agar ummat Islam ini tidak disesatkan, bahkan dijerumuskan ke arah kekafiran. 

n        Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah secara tersirat dituduh mengutus pembawa wahyu yang tidak amanah, lalu Malaikat Jibril alaihis salam secara tersirat dituduh sebagai melakukan tahrif (perubahan) terhadap wahyu yang dibawanya, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh secara tersirat sebagai penerima wahyu yang sudah ditahrif (diadakan perubahan) alias wahyu palsu, tidak otentik lagi; maka kekurangajaran mahasiswa pasca sarjana IAIN/ UIN Jogjakarta yang diluluskan dan disahkan oleh para dosennya ini lebih berani lagi terang-terangan. Dia tulis sebagai berikut:

n       Dan yang tidak  boleh dilewatkan, perubahan itu lahir dari kebijakan seorang khalifah yang mempunyai otoritas formal, baik disadari atau tidak, sehingga tidak bisa disalahkan kiranya jika diasumsikan bahwa di balik keputusan khalifah Utsman tersebut mengandung adanya kepentingan tersembunyi. Lebih-lebih, Mushaf lain, seperti milik Ibnu Mas’ud atau Siti Hafsah, diminta untuk dibakar. Jika kita jeli melihatnya, jelas itu tindakan politis, yang bertujuan untuk mengunggulkan budaya dan ideology pemilik bahasa, budaya Quraisy, bakal terlihat jelas. (halaman 65).

n       Lagi-lagi kalimat-kalimat Aksin Wijaya itu berdasarkan tuduhan belaka, karena sudah dilatar belakangi pengajaran mitos tentang dewa pencuri, Hermes. Sehingga seorang Khalifah Utsman bin Affan yang sudah dijamin masuk surga (salah satu dari 10 orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), dituduh sangat keji dalam kaitan pengumpulan Al-Qur’an yang sudah dilaksanakan sejak zaman Abu Bakar Shiddiq, sebagai punya kepentingan tersembunyi, tindakan politis, untuk mengunggulkan budaya Quraisy. Orang ini justru tuduhannya sangat tidak jeli. Kalau ada orang yang berkesempatan menuduh Khalifah Ustman bin Affan dalam kaitan pembukuan Al-Qur’an (dikumpulkan menjadi satu mushaf) disebut Mushaf Utsmani, mestinya yang bertandang pertama kali adalah para orang yang melawannya yang sampai membunuh Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.. Kenapa dari pihak yang melawannya itu tidak ada yang menuduh Khalifah Utsman bin Affan sekeji tuduhan Aksin Wijaya? Apakah kurang keji, lawannya yang sampai membunuhnya itu?  Kenapa pula setelah sepeninggal Utsman radhiyallahu ‘anhu, Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang membela Utsman bin Affan, dan punya lawan yaitu kaum Khawarij, tidak ada yang menuduh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai orang yang mewarisi Mushaf Utsman yang ada kepentingan tersembunyi Utsman? Apakah Kaum Khawarij tidak tahu bahwa Al-Qur’an yang dipakai Ali bin Abi Thalib itu Mushaf Utsmani? Bahkan Abdullah bin Saba’ dengan pengikut-pengikutnya yang sampai menuhankan Ali radhiyallahu ‘anhu dalam kelompok Syi’ah / Rafidhoh yang kemudian sampai ratusan pengikut Abdullah bin Saba’ yang ghuluw (ekstrim) itu dihukum bakar oleh Ali radhiyallahu ‘anhu  (lihat hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Tarikh Al-Bidayah wan Nihayah oleh Ibnu Katsir dan lain-lain)  tidak pernah ada yang menuduh Ali radhiyallahu ‘anhu mewarisi Al-Qur’an Mushaf Utsmai yang mengandung kepentingan politik tersembunyi? Kenapa?

n       Pertanyaan yang perlu diajukan, lebih keji mana antara tuduhan-tuduhan Aksin Wijaya dengan lawan Utsman bin Affan?

n       Kalau Al-Qur’an yang berbahasa Arab, yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sudah tidak asli, tidak otentik lagi, dan yang otentik serta dijaga oleh Tuhan (ungkap Aksin Wijaya, tidak menyebut-Nya Allah) yang masih dalam parole Tuhan, belum berujud dengan Bahasa Arab, maka mana itu ujudnya? 

n       Kalau Aksin Wijaya bisa menunjukkan wujudnya, sungguh benar-benar berdusta. Kalau tidak mampu menunjukkan wujudnya, dan tentu saja tidak mampu, juga berdusta, karena mengaku mengerti apa yang masih ada di parole Tuhan, dengan membandingkan Al-Qur’an yang berbahasa Arab, ada bedanya. Yang masih di parole Tuhan itu asli, terjaga, sedang yang sudah berbahasa Arab itu tidak terjaga dari tahrif/ perubahan. Ini dua-duanya dusta yang sangat berbahaya, karena menganggap Al-Qur’an itu sudah palsu, di samping mengaku tahu yang ada di parole Tuhan.

n       Ayat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an dengan kebenaran, berbahasa Arab, tidak ada kebengkokan, dan Allah lah yang menjaganya, sudah tegas:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ(9)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS Al-Hijr/ 15: 9).

وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا(105)

Dan Kami turunkan (Al Qur’an) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (QS Al-Israa’: 105).

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَمَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا وَاقٍ(37)

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS Ar-Ra’d/ 13: 37).

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا(113)

Dan demikianlah Kami menurunkan Al Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka. (QS Thaahaa/ 20 : 113).

قُرْءَانًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ(28)

(Ialah) Al Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa. (QS Azzumar/ 39: 28).

 

    Mari kita bandingkan antara ayat-ayat yang telah jelas bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga Al-Qur’an, dan tidak ada kebengkokan di dalamnya; dengan pernyataan Aksin Wijaya yang menganggap wahyu yang masih terjaga itu sebelum berujud bahasa Arab, sedang ketika sudah berujud bahasa Arab atau telah menjadi Mushaf Utsmani maka tidak terjaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ungkapan Aksin Wijaya itu di Al-Qur’an sendiri sudah ada contoh kekufuran orang Yahudi, yang hanya mempercayai kalau neraka nanti tidak akan menimpa mereka kecuali beberapa hari saja. Artinya membuat batasan sendiri. Mana yang dipercayai? Aksin Wijaya membatasi bahwa wahyu yang masih murni itu sebelum Al-Qur’an berujud bahasa Arab. Yahudi membatasi bahwa neraka tidak akan menyentuh mereka kecuali beberapa hari saja.

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ(80)

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. (QS Al-Baqarah/ 2: 80).

 ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ(24)

Hal itu adalah karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. (QS Ali ‘Imran/ 3: 24).

Kepada Aksin Wijaya dan para dosen pendukungnya, yang menganggap bahwa Al-Qur’an yang masih wahyu murni itu yang masih di parole Tuhan, bukan yang sudah berujud bahasa Arab; perlu diimbau agar membaca ayat-ayat itu dan ini:

قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ(80)

Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. (QS Al-Baqarah/ 2: 80).

Betapa hebatnya Allah Subhanahu wa Ta’ala! Lakon orang sekarang yang membebek kepada orang kafir Ahli Kitab, ternyata sudah ada jawaban di dalam firman-Nya, mengenai lakon orang kafir Ahli Kitab masa lalu. Betapa persisnya. Betapa tepatnya dan benarnya ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu.

 

n       Aksin Wijaya dalam buku Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan (Kritik Atas Nalar Tafsir Gender) yang memuat tuduhan-tuduhan keji itu diberi kata pengantar oleh dua doctor dan diluluskan sebagai karya tulis untuk meraih gelar master agama di IAIN/ UIN Jogjakarta. Ini berarti  pendidikan tinggi Islam formal negeri telah dijadikan sarana sebagai alat kampanye merusak aqidah asasi Ummat Islam yang meyakini kemurnian Al-Qur’an, dan Al-Qur’an sebagai sumber utama Islam bersama hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau Al-Qur’annya sudah dirusak, tak dipercaya sebagai wahyu yang murni dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka berarti Islam ini agama yang rusak, palsu, bukan murni dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, justru buku yang mendudukkan dirinya sebagai mampu mengkritik wahyu dengan menyampaikan tuduhan-tuduhan terhadap wahyu Al-Qur’an, ini secara tersirat menduduki peringkat sebagai yang dari sisi Tuhan. Karena mampu menilai bahwa Al-Qur’an bukan wahyu murni. Sudah berbahasa Arab, sudah mengalami tahrif/ perubahan.

Buku Menggugat Otentisitas wahyu Tuhan (Kritik Atas Nalar Tafsir Gender) berisi tuduhan ngaco ini pada hakekatnya sama dengan mengaku lebih baik atau sebanding dengan  Al-Qur’an berbahasa Arab. Karena tidak ada yang membatalkan wahyu kecuali wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka yang berhak menyatakan bahwa wahyu Al-Qur’an yang sudah berujud bahasa Arab itu tidak terpelihara kemurniannya, itu hanya wahyu. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا نَنْسَخْ مِنْ ءَايَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(106)

Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (QS Al-Baqarah/ 2: 106).

Karena Aksin Wijaya tidak mendatangkan wahyu yang masih murni yang masih di parole Tuhan, berarti buku ngaconya ini benar-benar berdusta, namun sama dengan distatuskan dari sisi Allah. Dan itulah yang telah dikecam oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ(78)

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. (QS Ali ‘Imran/ 78).

Yang dibaca Aksin Wijaya dan doktor-doktor serta dosen-dosen yang mendukungnya itu bukan dari kitab wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi dari mitos Yunani tentang Hermes, dewa pencuri dan penjudi yang dipercayai kaum musyrikin Yunani kuno dijadikan nama metode hermeunetika. Kemudian ajaran kemusyrikan itu diadopsi kaum Yahudi, lalu kaum Nasrani untuk metode penafsiran Bible yang memang Bible itu bermasalah dalam hal keotentikannya/ kemurniannya, kemudian diajarkan oleh kaum orientalis, dipelajari dan kemudian diedarkan oleh orang yang divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir lalu minggat ke Belanda yaitu Dr Nasr Hamid Abu Zayd, lalu dibawa-bawa ke Indonesia oleh Amin Abdullah rector IAIN/ UIN Jogjakarta, Komaruddin Hidayat rector UIN Jakarta dan lain-lainnya, dan disuapkan kepada mahasiswa-mahasiswa IAIN/ UIN serta menjadi salah satu kurikulum dalam rangka merusak Islam.. Inilah buktinya. Orang-orangnya jelas ada, hasil karyanya ada, lembaganya ada, hasil perusakannya jelas ada, contohnya Muhammad Abdul Rachman alumni IAIN Jakarta 1997 yang mengaku dan diakui dirinya sebagai reinkarnasi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anehnya, pengaku reinkarnasi Nabi Muhammad ini yakni Abdul Rachman, lakonnya bagai lakon binatang, yaitu rangkulan dengan Lia Eden, janda pemimpin aliran sesat, dengan saling merapatkan anggota badan sensitive masing-masing, dan fotonya dipasang di buku Pledoi Abdul Rachman, dengan teks foto: Terlepas kerinduan dari penjara. Di saat Lia Eden keluar dari penjara akhir Oktober 2007 karena habis waktunya (vonis 2 tahun), setelah itu beberapa hari kemudian nabi palsunya yang jadi imam besar Lia Eden, yakni Abdul Rachman gantian masuk penjara atas vonis Mahkamah Agung, 3 tahun penjara.[3] Pertanyaan yang perlu diajukan sekarang, kenapa para penoda agama yang ada di kampus-kampus seperti yang diuraikan ini belum diseret ke pengadilan? Semoga Ummat Islam bersatu untuk membela agamanya dari aneka rongrongan yang sangat menyakitkan semacam itu. 

 

8.   Kalau Aksin Wijaya hanya mencukupkan tuduhan, tanpa menunjukkan bukti-bukti mana wahyu yang otentik, yang masih di parole Tuhan, maka Taufiq Adnan Amal dosen IAIN Makassar dalam bukunya yang berjudul Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an terbitan FKBA (Forum Kajian Budaya dan Agama), Jogjakarta, 2001, lebih mempercayai para orientalis, hingga dia mengutip-kutip dari para orientalis untuk menuduh bahwa seharusnya ayat-ayat Al-Qur’an itu seperti yang “ditemukan” para orientalis. Di antaranya disebutkan ayat-ayat yang seharusnya menurut para orientalis, terdapat salah satu ayat yang tidak berbunyi “innad dina ‘indallah al-Islam” tetapi “innad dina ‘inda Allah al-hanafiyyah”, yang sudah dibicarakan dustanya di atas.   

Kalau Aksin Wijaya dalam bukunya Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan lebih percaya kepada duga-duganya sendiri bahwa wahyu yang murni itu yang masih dalam parole Tuhan, bukan Al-Qur’an yang sudah berujud bahasa Arab, namun Aksin Wijaya tentu saja tidak mampu membuktikan, mana yang masih di parole Tuhan; maka Taufik Adnan Amal mencari yang lebih praktis saja, yaitu lebih percaya kepada duga-duga atas nama penelitian atau sebenarnya hanya membebek kepada orientalis Barat, bahwa ada ayat Al-Qur’an yang tidak seperti yang ada dalam Mushaf Utsmani. Bila Taufik Adnan Amal masih mempercayai ilmu dalam Islam, maka mestinya dia pernah mendengar istilah mutawatir (periwayatan oleh banyak orang dan tak mungkin bersepakat untuk berbohong), dan itulah periwayatan tentang ayat-ayat Al-Qur’an.  Semuanya mutawatir. Sedangkan dalam ilmu Islam, yang namanya hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tingkatannya mendampingi dan menjelaskan Al-Qur’an yang juga sebagai landasan dalam Islam, ketika periwayatannya mutawatir maka tidak mungkin ditolak kebenarannya secara ilmu. Kalau secara keyakinan, maka orang bisa menolaknya, dengan resiko menjadi ingkar Sunnah. Tetapi secara ilmu, baik yang mempercayai maupun tidak, tetap tidak bisa menolaknya sebagai sesuatu yang benar periwayatannya. Sehingga penolakan orang yang tidak percaya tidak punya makna apa-apa, kecuali hanya mendustai dirinya sendiri dan resiko dosa baginya lantaran ketidak percayaannya. Lantas, bagaimana mungkin seorang dosen ulumul Qur’an, menolak periwayatan yang mutawatir, dan sebaliknya lebih menerima periwayatan yang dari tuduhan orientalis yang jelas kebanyakan tidak suka kepada Islam? Secara keilmuan, apakah periwayatan duga-duga oleh para orientalis itu lebih rajih (kuat) dibanding yang mutawatir oleh para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala saja telah meridhoi mereka? Padahal kepada kaum orientalis yang kebanyakan adalah Yahudi dan Nasrani, jelas mereka itu sudah terkena ayat: maghdhub (dimurkai) dan dhoolliin (sesat); kenapa justru lebih dipercayai? Jadi secara keilmuan, sikap dosen Ulumul Qur’an di IAIN Makassar, Taufik Adnan Amal, itu sudah mengingkari ilmu Islam. Lantas secara keyakinan? Allah lah yang Maha Tahu keadaannya, dan balasan apa yang pantas untuknya.

 

Lihatlah permainan beberapa manusia dari tiga IAIN/ UIN

Lihatlah permainan beberapa manusia dari tiga IAIN/ UIN, Jogjakarta (Aksin Wijaya), Makassar (Taufik Adnan Amal), dan Jakarta (Prof Dr. Quraish Shihab) dalam menciptakan keraguan mengenai kemurnian Al-Qur’an dan disebarkan kepada Ummat Islam. Yang satu mengikuti dugaan tanpa bukti, bahwa yang masih murni terjaga itu wahyu yang masih dalam parole Tuhan (mana buktinya? Tak ada). Yang dua orang berdalih hilangnya sejarah, hingga diragukan kemurnian Al-Qur’an itu. Lalu solusinya, mesti diedit lagi (diperbaiki susunan dan bentuk-bentuk ayat-ayatnya), sehingga namanya Al-Qur’an Edisi Kritis.

   Orang mau memalsu Al-Qur’an, sudah merancang namanya yaitu Al-Qur’an Edisi Kritis, dan sudah membuat pengantarnya, yaitu buku Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an  untuk menyuntikkan keraguan tentang murninya Al-Qur’an kepada Ummat Islam, dan telah diberi kata pengantar oleh Prof Dr Quraish Shihab, orang yang telah menulis tafsiran menyendiri mengenai ayat walan tardho (QS 2: 120) bahwa yang tidak akan rela kepadamu (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ummatnya) itu hanya Yahudi dan Nasrani tertentu dan ketika itu di masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Lihat karya Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an bab Ahli Kitab dan Tafsir Al-Mishbah jilid satu, mengenai ayat 120 surat Al-Baqarah)[4].

   Perkara memalsukan, rupanya target berikutnya. Yang ditempuh secara beramai-ramai adalah membuat keraguan dan kekurang percayaan terhadap Al-Qur’an lebih dulu, baik secara wujud kemurnian wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala itu diragukan, maupun penafsirannya dibelokkan. Kalau sampai melangkah ke pemalsuan Al-Qur’an maka  tampaknya belum ditempuh dulu. Sebab, dengan cara membuat keraguan tentang kemurnian Al-Qur’an itu sendiri sudah dipetik sedikit sebagian hasilnya. Misalnya, ketika ada kasus Gus Dur (Abdurrahman Wahid diadukan) ke polisi oleh KH Abdul Hamid Baidhowi tokoh NU (Nahdlatul Ulama) dari Lasem Jawa Tengah, tahun 2005, karena Gus Dur dianggap melecehkan Al-Qur’an, dengan mengatakan Al-Qur’an kitab suci paling porno di dunia[5]; ternyata kabarnya yang ditanya polisi adalah beberapa orang yang model tersebut. Keruan saja kemudian perkara itu tidak ada kelanjutannya. (Bersambung, insya Allah)

 



 

[1] Hermes, dalam mythology Yunani , dewa Olympus, putra Zeus dan Maia. Dia mempunyai fungsi yang bermacam-macam sekali: dewa perdagangan, penipu, dan pencuri keuntungan (dan karena itu jadi penjudi) dari pertandingan-pertandingan atletik dan dari fasihat (eloquence), pesuruh dari dewa-dewa dan pengantar roh-roh ke Hades. (Prof Mister A. G. Pringgodigdo, Enisklopedi Umum, Kanisius, Yogyakarta, 1977, cetakan 1, halaman 405).

 

[2] Lafal Hermeneutika adalah derivasi (musytaq) dari Bahasa Yunani dari akar kata hermeneuin, artinya menafsirkan. Al-Farabi mengartikannya dengan lafal Arab al-ibaroh (ungkapan). Hermeneias dimaknakan oleh Aristotle dalam karyanya, Kategoriai, bermakna pembahasan tentang peran ungkapan dalam memahami pemikiran, juga tentang satuan-satuan bahasa seperti kata benda, kata kerja, kalimat, ungkapan (proposition) dan lain-lain yang berkaitan dengan tata bahasa. Jadi semula, Hermeneutika hanyalah melulu mengenai makna bahasa semata.

Kemudian Hermeneutika berubah dari makna bahasa ke makna teologi Yunani, kemudian teologi Yahudi dan Kristen, kemudian kini ke makna istilah filsafat, dan anehnya diusung oleh sebagian orang ke Islam. Tokoh utama pengusung hermeneutika di dunia Islam adalah Nasr Hamid Abu Zayd (Mesir) yang telah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996, juga Arkoun dari Afrika Utara yang kini di Eropa, serta Fazlur Rahman yang harus hengkang dari Pakistan ke Chicago Amerika, guru Nurcholish Madjid dan lainnya. Kalau di Indonesia pengagum teori hermeunetika itu di antaranya adalah rector UIN Jogjakarta Amin Abdullah dengan rekan-rekannya di JIL. Hermeneutika sendiri telah diajarkan di UIN Jakarta dan UIN Jogjakarta .

                The New Encyclopedia Britanica menulis, bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip general tentang interpretasi Bible (the study of the general principle of biblical interpretation). Tujuan dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bible. (Majalah Islamia, Jakarta, 2004, vol 1, hlm 13)

 

[3] Nabi Palsu dari Komunitas Lia Eden

Dijatuhi Hukuman 3 Tahun Penjara Oleh Mahkamah Agung

 

Lia Eden yang semula sebutannya Lia Aminuddin telah mendirikan agama baru, Salamullah. Lalu dia mengangkat imam besar, Abdul Rahman, alumni IAIN (Institut Agama Islam Negeri, sekarang UIN  –Universitas Islam Negeri) Jakarta. Kemudian Abdul Rahman itu diangkat pula sebagai sosok yang diklaim sebagai reinkarnasi (jelmaan kembali) Nabi Muhammad saw.

            Nabi palsu yang dianggap sebagai jelmaan Nabi Muhammad itu semula mendapatkan vonis bebas oleh Pengadilan Negeri Jakarta, setelah Lia Eden sendiri terkena hukuman 2 tahun atas tingkah polahnya yang terbukti menodai agama Islam, di antaranya sampai menghalalkan daging babi, atas nama apa yang Lia klaim sebagai wahyu dari Malaikat Jibril.

            Setelah menikmati putusan bebas, ternyata nabi palsu Abdul Rahman dikenai vonis hukuman selama 3 tahun oleh Mahkamah Agung,  9 November 2007.

            Berikut ini beritanya:

 

Nabi Palsu Disel 3 Tahun. Yang Lain Segera Menyusul

            Nabi Muhammad palsu dari komunitas Eden, Abdul Rahman divonis 3 tahun penjara oleh MA. Komunitas Eden pun mengutuk MA. Sebelumnya, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, sang nabi sempat divonis bebas.

            Tertanda kemarin, tanggal 9 November 2007, kami mendapatkan pemberitahuan dari pengacara Eden bahwa Mahkamah Agung telah mengabulkan kasasi tim jaksa penuntut umum,” seperti tertulis di komunitas Eden tertanggal 10 November 2007. (Non Stop, Minggu 11 November 2007, halaman 1 dan 10. Bukan karena saya biasa membaca Non Stop, tetapi ketika saya mencari koran di kios sebelah Masjid Muhammadiyah Cawang Jakarta Timur, saya bertanya kepada penjual, mana berita tentang nabi palsu, dia sodorkan Non Stop.). (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Pustaka Al-kautsar, Jakarta, 2008/ 1429H).

 

[4] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’I atas Berbagai Persoalan Umat, Mizan Pustaka, Bandung, cetakan XVII, 2006, halaman 350.

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an,  Lentera Hati kerjasama dengan perpustakaan umum Iman Jama’, Jakarta, cetakan VIII, 2006, halaman 309.

 

[5] Telah saya (HAJ) tulis buku berjudul Al-Qur’an Dihina Gus Dur, 2006.