Awas Ada Gerakan Mengacak-acak Al-Qur’an (3 dari 3 Tulisan)

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

 

Kita bandingkan antara mengedit Al-Qur’an dan berzina

Untuk mendekatkan pemahaman, mari kita bandingkan dengan dosa besar berupa zina, misalnya. Mau mengadakan Al-Qur’an edisi kritis, dengan cara sudah dibuat buku semacam pengantar, bahkan diberi kata pengantar oleh orang yang dianggap ahli tentang Al-Qur’an, dan sudah diumumkan bahwa mau membuat Al-Qur’an edisi kritis lewat artikel yang disebarkan lewat internet, majalah, dan buku; itu sudah sangat keterlaluan.

Kenapa?

Orang mau berzina, misalnya, kalau sampai diumum-umumkan bahwa dirinya mau berzina, bahkan dengan dikemukakan aneka alasan untuk memperkuat dalihnya, maka tindakan mengumumkan untuk berbuat dosa besar berzina dengan aneka alasan itu satu kejahatan tingkat tinggi dan ketidak normalan yang cukup serius. (Walaupun yang berhasrat untuk berzina secara diam-diam bukan berarti satu kenormalan. Di sini penulis kekurangan bahasa untuk menggambarkan tingkah yang sebenarnya tidak layak sama sekali dilakukan itu. Tidak layak karena berterang-terangan, bukan berarti layak bagi yang tidak terang-terangan. Kami rasa para pembaca memahami maksudnya). Apalagi mengenai dosa yang lebih lagi, yaitu mau mengedit Al-Qur’an, yaitu membuat Al-Qur’an edisi kritis. Dan yang mengumumkan untuk membuatnya itu justru orang yang mengajar ilmu tentang Al-Qur’an di perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia ini, yang nama perguruan tinggi itu sendiri adalah Islam, mahasiswanya orang-orang Islam, dan dia sendiri juga mengaku beragama Islam karena belum pernah diketahui bahwa dia mengumumkan dirinya keluar dari Islam. Namun tingkahnya itu sangat lancang, bahkan mengenai wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai landasan Islam, yaitu Al-Qur’an. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jelas diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala saja sama sekali tidak boleh lancang, bahkan hanya bersegera untuk menirukan bacaan Malaikat Jibril sebelum selesainya Malaikat ini membacakan wahyu saja sudah dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal sama sekali tidak ingin mengeditnya (memperbaiki susunan, lafal, dan kandungannya). Tidak. Namun telah dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan firman-Nya, yang mengingatkan:

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril alaihissalam kalimat demi kalimat, sebelum Jibril alaihissalam selesai membacakannya, agar  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan itu.

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْءَانِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا(114)

Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS Thaahaa/ 20: 114).

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ(16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ(17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ(18)ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ(19)

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya.

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.

Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya. (QS Al-Qiyamah/ 75: 16, 17, 18, 19).

     Bagaimana orang yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berani berbuat lancang, mau mengedit Al-Qur’an hingga mau membuat Al-Qur’an edisi kritis? Mesti lebih buruk dibanding orang mau berzina dan telah mengumumkan ke mana-mana bahwa dirinya mau berzina disertai alasan-alasan yang menentang syari’at.

 

9.          Nurcholish Madjid: Di dalam Alquran juga ada Bahasa Melayu: kafur

Rupanya yang bicara ngawur semaunya dan sangat serampangan pemikirannya padahal bicara mengenai Al-Qur’an bahkan Islam secara keseluruhan, bukan hanya orang-orang yang kurang dikenal dari kalangan sepilis (sekuler, pluralisme agama, dan liberalis); namun sampai dedengkotnya pun mencontohi pengawuran yang cukup menjerumuskan. Berikut ini ungkapan Nurcholish Madjid, dedengkot kaum sepilis:

 

Di dalam Alquran juga ada Bahasa Melayu: kafur. Dalam suatu lukisan ‘nanti kita

di surga akan diberi minuman yang campurannya kapur‘ (wayusqauna biha ka’san

kana mizajuha kafura). Yang dimaksud di situ adalah kapur dari barus, yang saat

itu sudah merupakan komoditi yang sangat penting di Timur Tengah, bahkan ada

indikasi sejak zaman Nabi Sulaiman.

Waktu itu yang disebut kapur barus tidak digunakan untuk kepinding seperti yang

sekarang kita lakukan, tapi sebagai tonic. Ia dimasak menjadi tonic, menjadi

minuman yang sangat menyegarkan, dan harganya mahal sekali karena harus diimpor

dari Barus. Maka ‘kapur‘ kemudian menjadi simbol dari sesuatu yang sangat mewah

dan sangat menyenangkan, sehingga di dalam Alquran dipakai untuk ilustrasi bahwa

nanti minuman orang yang di sorga adalah minuman dengan campuran kapur. Dan

banyak lagi yang seperti itu.

Jadi sebetulnya tidak ada budaya yang monolitik. Semuanya hibrida.

(Tulisan ini merupakan bagian dari orasi ilmiah Prof Dr. Nurcholish Madjid di

Taman Ismail Marzuki dalam rangka peresmian Islamic Culture Center (ICC)

pertengahan Ramadhan silam. (Islam Sebagai Agama Hibrida – Jaringan Islam Liberal (JIL) Sabtu, 26 Maret 2005 Edisi Bahasa Indonesia

 

Kolom, Islam Sebagai Agama Hibrida, Oleh Nurcholish Madjid, 11/12/2001)).

 

Bicara Al-Qur’an tanpa ilmu

   Nurcholish Madjid (mendiang) yang dianggap sebagai senior mereka sudah memberi contoh moyoki (bicara bernada merendahkan) Al-Qur’an dan Islam seperti itu. Tanpa berlandaskan dalil, bahkan tanpa bukti ilmiah. Secara ilmu agama ataupun ilmu umum, ungkapan-ungkapan Nurcholish Madjid yang ditikamkan ke Islam dan Al-Qur’an itu tidak ilmiah dan tidak Islami. Tidak ilmiahnya, karena tidak memberikan bukti-bukti secara nyata, apa memang benar, lafal kafuro di dalam Al-Qur’an itu dari kapur barus dari bahasa Melayu. Secara ilmu, kapur barus justru sejenis racun untuk mengusir kecoa dan semacamnya, bahkan kemungkinan kalau diminum menjadikan kepala sakit, keracunan. Apakah sesuatu yang menggiurkan untuk diminum, yang namanya kapur barus itu? Sama sekali tidak. Begitu disebut jenis kapur barus, orang akan mengerti bahwa itu bukan bahan minuman, bukan bahan untuk dicampurkan dalam minuman. Berbeda dengan susu atau madu, yang tentu saja orang langsung mengerti bahwa itu untuk diminum. Tetapi kapur barus? Sama sekali tidak untuk diminum.

   Dari segi ilmu Islam, untuk memaknai atau menafsiri Al-Qur’an itu harus ada riwayat yang jelas. Apakah itu pernyataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam memaknakan ayat dengan ayat yang lain, atau dengan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau ulama mengutipnya dari perkataan sahabat yang ahli Al-Qur’an/ tafsir seperti Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu? Atau hanya duga-duganya Nurcholish Madjid yang tidak ada juntrungannya? Itulah yang di dalam hadits disebut sebagai berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu, artinya tanpa landasan dalil yang kuat yang dia mengerti, maka diancam oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2950 عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. (رواه الترمذي وأحمد).

 Dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya yaitu neraka. (HR At-Tirmidzi no 2950, Abu Isa berkata, hadits ini hasan shahih, dan riwayat Ahmad).

3652 عَنْ جُنْدُبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ. (أبو داود والترمذي, ثقة)

Dari Jundub, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa berkata mengenai Kitab Allah ‘Azza wa Jalla (Al-Qur’an) dengan pendapatnya lalu benar maka sungguh telah salah. (HR Abu Daud no 3652 dan At-Tirmidzi, para periwayatnya tsiqoh, terpercaya).

   Di samping pernyataan Nurcholish Madjid mengenai Al-Qur’an itu tidak ilmiah dan tidak Islami, masih pula ada kelicikan yang luar biasa.

   Mari kita lihat kembali ungkapan Nurcholish Madjid. Betapa liciknya dia. Berbicara tentang Al-Qur’an, lalu memberi kata putus dengan ungkapan yang sangat mematikan Al-Qur’an: sehingga di dalam Alquran dipakai untuk ilustrasi bahwa

nanti minuman orang yang di sorga adalah minuman dengan campuran kapur. Dan

banyak lagi yang seperti itu.Jadi sebetulnya tidak ada budaya yang monolitik. Semuanya hibrida.`

  Ungkapan Nurcholish Madjid itu adalah berbicara tentang Al-Qur’an, tetapi dalam kata terakhirnya dia menegaskan, “tidak ada budaya monolitik. Semua hibrida.” Itu menganggap Al-Qur’an ini sekadar budaya. Inilah liciknya benar-benar. Karena Al-Qur’an dianggap sebagai budaya, sedang semua budaya itu hibrida,  tidak ada yang monolitik, maka Nurcholish memberi judul makalahnya itu, Islam Agama Hibrida. Inilah bentuk kelicikan yang luar biasa dalam menggiring otak manusia ke arah merendahkan martabat Al-Qur’an dan Islam.. Pantas saja Allah Subhanahu wa Ta’ala mentaqdirkan hati Nurcholish Madjid dihibrid/ dicangkok sebelum meninggalnya. Hati Nurcholish Madjid dicangkok dengan hati orang Cina di Tiongkok, yaitu kemungkinan besar hati orang kafir komunis yang bangsa itu dikenal suka makan babi.

   Setelah cara-cara Nurcholish Madjid dan pengikut-pengikutnya terkuak keroposnya, baik dilihat dari segi bukti-bukti keilmuan maupun dari dalil Islami, mari kita bandingkan dengan apa yang telah disinyalir oleh Dr Ugi Suharto dosen di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) IIUM Kuala Lumpur tentang bahaya dari penggunaan metode hermeunetika bila untuk mengkaji Al-Qur’an. Pernyataannya sebagai berikut:

   

Contoh kerancuan ketika hermeneutika diusung orang ke Islam

Hermeneutika falsafi itu bermacam-macam. Kalau diambil salah satunya berarti menolak yang lain, dan itu kalau untuk mengkaji / menafsiri Al-Qur’an, berarti telah masuk pula pada “madzhab hermeneutika” tertentu, yang artinya tidak akan obyektif pula.

Dr Ugi Suharto dosen di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) IIUM Kuala Lumpur secara cermat mengemukakan:

 Ambil contoh Fazlur Rahman. Dia lebih setuju kepada hermeneutika Betti ketimbang hermeneutika Gadamer. Namun dia juga tidak setuju dengan Betti yang mengatakan bahwa makna asli suatu teks itu terletak pada akal pengarang teks. Bagi Rahman, makna asli teks itu terletak pada konteks sejarah ketika teks itu ditulis. Kalau begitu, apa pula pendapat Fazlur Rahman mengenai kesimpulan filsafat hermeneutika yang mengesahkan adanya satu problem besar yang disebut “Hermeneutic circle”, yaitu sejenis lingkaran setan pemahaman obyek-obyek sejarah yang mengatakan bahwa “jika interpretasi itu sendiri juga berdasarkan interpretasi, maka lingkaran interpretasi itu tidak dapat dielakkan”.. Akibatnya adalah, pemahaman seseorang tentang teks-teks dan kasus-kasus sejarah yang tidak akan pernah sampai, karena apabila seseorang dapat memahami konteksnya, maka konteks sejarah itu pun adalah interpretasi juga. Apabila hal ini diterapkan untuk studi Al-Qur’an, maka selama-lamanya Al-Qur’an tidak akan pernah dapat dimengerti dan dipahami.[1]

Kemudian Dr Ugi Suharto menandaskan:

Di dalam Al-Qur’an ada ayat-ayat yang muhkamat, ada ushul ajaran Islam, ada hal-hal yang bersifat tsawabit, semua ayat-ayatnya adalah qoth’iy al-tsubut al-wurud.. Dan bagian-bagiannya ada yang menunjukkan qoth’iy al-dilalah ada perkara-perkara yang termasuk dalam al-ma’lum min al-din bi al-dhoruroh. Ada sesuatu yang ijma’ mengenai al-Qur’an, dan ada yang difahami sebagai Al-Qur’an yang disampaikan dengan jalan mutawatir, yang semuanya itu dapat difahami dan dimengerti oleh kaum Muslimin dengan derajat yakin bahwasanya itu adalah ajaran Al-Qur’an yang dikehendaki oleh Allah. Apabila filsafat hermeneutika digunakan kepada Al-Qur’an, maka yang muhkamat akan menjadi mutasyabihat, yang ushul menjadi furu’, yang tsawabit menjadi mutaghoyyarot, yang qoth’iy menjadi dhonniy, yang ma’lum menjadi majhul, yang ijma’ menjadi ikhtilaf, yang mutawatir menjadi ahad, dan yang yaqin menjadi dhonn bahkan syakk. Alasannya sederhana saja, yaitu filsafat hermeneutika tidak membuat pengecualian terhadap hal-hal yang axiomatic di atas. (Journal Islamia, vol 1, 2004, halaman 52).

Lebih jelas Dr Ugi mengemukakan:

Dalam posisi yang lebih ekstrim, filsafat hermeneutika telah memasuki dataran epistemologis yang berakhir pada pemahaman shophist yang bertentangan dengan pandangan hidup Islam. Filsafat hermeneutika berujung pada kesimpulan universal bahwa “all understanding is interpretation dan karena interpretasi itu tergantung kepada orangnya, maka hasil pemahaman (understanding, verstehen) itupun menjadi subyektif. Dengan perkataan lain, tidak ada orang yang dapat memahami apapun dengan secara objektif.

Selanjutnya, Ugi mengemukakan, “…Apabila semua ini dikaitkan dengan kajian al-Qur’an, maka akibatnya tidak ada kaum Muslimin yang mempunyai pemahaman yang sama mengenai Al-Qur’an, karena semua pemahaman itu tergantung pada interpretasi masing-masing.” (Islamia, vol 1, 2004, hlm 52).

Sebagai kesimpulan, ulas Ugi, hermeneutika itu berbeda dengan tafsir ataupun takwil dalam tradisi Islam. Hermeneutika tidak sesuai untuk kajian al-Qur’an, baik dalam arti teologis atau filosofis. Dalam arti teologis, hermeneutika akan berakhir dengan mempersoalkan ayat-ayat yang dhahir dari al-Qur’an dan menganggapnya sebagai problematic. Di antara kesan hermeneutika teologis ini adalah adanya keragu-raguan terhadap mushaf Utsmani yang telah disepakati oleh seluruh kaum Muslimin, baik oleh Muslim Sunni ataupun Syi’ah[2], sebagai “tekstus recheptus” (teks yang telah disepakati).

Keinginan Mohammad Arkoun, misalnya, untuk men-“deconstruct” Mushaf Utsmani adalah pengaruh dari hermeneutika teologis ini, selain dari pengaruh Jacques Derrida. Dalam artinya yang filosofis, hermenetika akan mementahkan kembali aqidah kaum Muslimin yang berpegang bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah.

Pendapat almarhum[3] Fazlur Rahman yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah “both the word of God and the word of Muhammad”  adalah kesan dari hermeneutika filosofis ini. Semua itu tidak menguntungkan kaum Muslimin dan hanya menurunkan derajat validitas Al-Qur’an seolah-olah sama dengan kitab yang lain.[4]

 

 

Membebek kepada orientalis

     Mereka ini secara sistematis dan terancang, di antaranya telah menulis secara tidak malu-malu membebek kepada orientalis seperti Jeffery, Wansbrough dan lain-lain. Padahal para orientalis itu kebohongan-kebohongannya telah terjawab oleh ulama terkemuka Prof  Muhammad Mustafa al-Azami (ulama India tinggal di Saudi Arabia) dalam buku terbarunya Sejarah Teks Al-Qur’an (2003) The History of  Quranic Text from Revelation to Compilation: A Comparative Study with  the Old and New Testaments. Buku itu membongkar kepalsuan yang dikemukakan  para orientalis. Meskipun para pemuka orientalis telah disingkap kebongan-kebohongannya, namun para pembebek orientalis di antara mereka seperti Luthfi Assyaukanie, Taufik Adnan Amal yang diamini oleh Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) dan lainnya rela menyebarkan racun-racun untuk meragukan kemurnian Al-Qur’an (Mushaf Utsmani) dengan tak malu-malu sebagai penyambung lidah dari orientalis, lalu membela diri dengan mengemukakan bahwa dia merujuk kitab para ulama terpercaya di bidang ilmu Al-Qur’an, misalnya Imam As-Suyuthi. Dengan demikian, Luthfi Assyaukanie telah secara sengaja melakukan kriminalitas di bidang ilmiah, sekaligus menyebarkan faham meragukan kemurnian Al-Qur’an model orientalis namun berdalih merujuk pada kitab ulama. Itu semua masih disertai kilah-kilah sebagaimana Luthfi tulis dalam salah satu pengakuannya di website JIL, islamlib.com, bahwa tidak dituliskannya sumber “jiplakannya” dari orientalis itu karena dirinya khawatir kalau nasib tulisannya akan seperti tulisan Taufiq Adnan Amal, lantaran rujukannya adalah para orientalis maka masyarakat mencampakkannya begitu saja.[5]

 

Kesimpulan dan saran

            Pentingnya membantah dengan tulisan

  1. Para ulama telah memberi contoh, betapa gigihnya mereka menghadapi para penyesat. Para ulama menulis kitab-kitab yang sangat bernilai tinggi dan diwarisi Ummat sampai beratus-ratus tahun.
  2. Para penyesat ada yang terpukul mundur sampai seribu tahun tidak muncul, setelah dijelaskan kesesatannya oleh ulama lewat tulisan yang dikaji Ummat secara turun temurun.
  3. Muncul gerakan penyesat yang secara beramai-ramai menghujat kemurnian Al-Qur’an, meragukannya, dengan aneka tulisan dan aneka sarana.
  4. Tulisan mereka yang menjajakan kesesatan itu sangat jauh dari kadar ilmiyah,  walau ditulis oleh orang-orang terpelajar bahkan bergelar dokot professor dalam ilmu Islam.
  5. Tulisan penyesat yang meragukan Al-Qur’an walau saling didukung oleh satu sama lain, namun tidak sulit untuk dibantah, ibarat rumah labah-labah yang gampang saja disapu oleh orang yang mau menyapunya. Namun bila ini dibiarkan berlalu maka Ummat akan terseret dan tertipu olehnya.
  6. Keberanian mereka yang sesat itu dalam menulis harus diimbangi dengan keberanian membantahnya. Kalau tidak, maka kesesatan akan merajalela.
  7. Penulis-penulis yang  membantah para penyesat, kebanyakan bukan dari yang berlatar belakang kuat ilmunya tentang turats Islam, sehingga dikhawatirkan akan hanya main logika, hingga dikhawatirkan membantah kesesatan dengan hal yang mirip pula.
  8. Contoh nyata, pergulatan tulisan antara kelompok liberal yang menyamakan semua agama dengan yang anti liberal, ada pihak yang menganggap bahwa hanya pergulatan antar wartawan. Karena pihak liberal bergelut di bidang kewartawanan, sedang pihak anti liberal juga. Ini memerlukan sekali dari ulama atau da’I atau ustadz yang menguasai bidangnya, untuk menulis bantahan terhadap kesesatan mereka.
  9. Bila kondisi itu berlanjut-lanjut, maka akan menimbulkan keadaan yang tidak baik. Sebagaimana di dalam Hadits:

18343حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن حَاتِمٍ الْمَرْوَزِيُّ، ثنا حَبَّانُ بن مُوسَى، وسُوَيْدُ بن نَصْرٍ، قَالا: ثنا عَبْدُ اللَّهِ بن الْمُبَارَكِ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بن عُقْبَةَ، حَدَّثَنِي بَكْرُ بن سَوَادَةَ، عَنْ أَبِي أُمَيَّةَ اللَّخْمِيِّ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ ثَلاثَةً: إِحْدَاهُنَّ أَنْ يَلْتَمِسَ الْعِلْمَ عِنْدَ الأَصَاغِرِ.- المعجم الكبير للطبراني – (ج 16 / ص 219) السلسلة الصحيحة – مختصرة –2 / ص 309) 695 – ( صحيح )

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat itu ada tiga: salah satunya kalau ilmu dicari dari al-ashoghir (ahli-ahli bid’ah, atau orang-orang yang kurang ilmu tapi bicara masalah besar/ umum). (HR At-Thabrani, dishahihkan oleh Al-Albani).

10.     Dakwah dengan tulisan, –khususnya membantah pemahaman-pemahaman yang menyesatkan–  sangat diperlukan dan efektif insya Allah, sedang hal itu sebenarnya bisa ditempuh, baik oleh lembaga maupun perorangan. Misal, sekarang ini dan kemungkinan yang akan datang pun demikian, banyak sekali buku-buku dan tulisan-tulisan, baik yang berbahasa Arab maupun Indonesia yang menyesatkan. Misalnya, gigihnya Jamal Al-Banna (Mesir) dan Quraish Shihab (Indonseia) dalam “meremehkan” hukum tentang pakaian muslimah lewat buku mereka masing-masing.  Lembaga atau perorangan bisa menulis secara singkat, daftar buku-buku yang menyesatkan disertai bukti singkat tentang sesatnya. Misal satu bulan bisa dihasilkan satu tulisan tentang buku yang terbukti menyesatkan, maka dalam setahun sudah terdaftar 12 buku. Itu baru satu lembaga yang mengerjakannya. Kalau ada beberapa lembaga masing-masing memiliki bagian yang khusus meneliti bacaan-bacaan atau ceramah-ceramah yang menyesatkan, kemudian ditulis secara singkat kesesatannya, maka insya Allah akan sangat bermanfaat. Sehingga dari daftar itu nanti bisa disebarkan, kemungkinan sekali ada yang meneliti secara intensif dan membahasnya lewat tulisan secara mendalam. Contoh nyata, Majalah Al-Furqon terbitan Gresik Jawa Timur biasanya setiap terbit ada ulasan tentang buku yang menyimpang atau bahkan sesat. Diulas dengan dalil-dalil. 

11.     Adapun yang mampu menerjemah, maka kitab-kitab rudud (bantahan) dari para ulama perlu diterjemah. Hanya saja mungkin dituntut kejelian dan ketelitian, karena kitab yang sifatnya membantah itu mesti ada segi-segi ketajamannya. Hingga bila tidak tepat maka akan hilang maknanya. Bahkan diperlukan mampu memahami dua pihak, yang dibantah dan yang membantah. Bahkan lebih dari itu, perlu mampu memahami yang dibantah dan pihak-pihak yang membantah. Contohnya kitab Fikr Sayid Quthb baina ro’yain karya Sa’ad Hushain. Di situ paling kurang ada tiga sosok pemikir yang disoroti, Sayid Quthb, Syaikh Rabi’ dan Syaikh Bakr Abu Zayd. Ini penerjemah perlu bisa memahami 4 sosok pemikir, yakni yang dibahas 3 orang dan yang membahas (penulis) satu orang. Kalau mampu menampilkan terjemah dengan baik, maka merupakan karya yang sangat berharga dan insya Allah bermanfaat sekali.

  1. Semua itu perlu dilaksanakan, agar dakwah lewat tulisan diisi oleh ahlinya, yakni yang memang faham Islam lagi sesuai dengan manhaj yang benar.

والله أعلم والحمد لله رب العالمين، وصلى الله على نبينا محمد وآله وسلم.

 (Tamat, al-hamdulillah)

ُCatatan:

Ketika tulisan ini dipresentasikan di depan para da’i dalam daurah syar’iyah yang diselenggarakan Yayasan Al-Sofwah Jakarta 2007 di Ciawi Bogor Jawa Barat, kemudian Syaikh Dr Muhammad bin Abdul Aziz Al-Khudhairi memberikan komentar untuk pemecahan problematika Ummat ini sebagai berikut:

  التعليق من الشيخ محمد بن عبد العزيز الخضيري :

       هذا العمل (الرد على المذاهب والفرق الضالة) من الجهاد في سبيل الله

الاقتراحات

1.     تكوين اللجنة

2.     إقامة الدعاوى في المحكمة (محامون متخصصون)

3.     المناصحة الشخصية

4.     يجب أن تتوحد الجهود للرد على هؤلاء ويجيس المسلمون لذلك

5.     إيجاد البديل (الموسوعة)

6.     إيجاد الموقع الخاص للرد

7.     وضع مسابقات لاستخراج هذه الأخطاء

8.     نشر فضائحهم لإسقاطهم

Perbuatan ini (membantah aliran-aliran dan firqoh-firqoh sesat) adalah termasuk jihad fi sabilillah.

Usulan-usulan:

  1. Membentuk lajnah
  2. Mengadakan pembela-pembela (advokat-advokat ahli) di pengadilan
  3. Nasihat secara perorangan
  4. Wajib menyatukan kegigihan untuk membantah mereka (yang merusak Islam) dan ummat Islam mendeteksi masalah itu.
  5. Mengadakan alternative (ensiklopedi)
  6. Mengadakan situs khusus untuk membantah (kesesatan dan penyelewengan).
  7. Mengadakan lomba untuk mengorek kesalahan-kesalahan itu.
  8. Menyebarkan kecemaran-kecemaran mereka untuk menjatuhkannya.

 

 

 

 



[1]  Ugi Suharto, Islamia, vol 1, 2004, halaman  51.

[2] Meskipun dalam kitab rujukan Syiah menganggap mushaf sekarang bukan yang murni, namun bukan mushafnya yang salah, justru syi’ahnya lah yang menyeleweng. Jadi tidak mengurangi keotentikan Al-Qur’an. Pen.

[3] Penulis (HAJ) lebih cenderung pakai lafal mendiang dalam kaitan ini, tetapi karena ini kutipan, maka dibiarkan seperti apa adanya.

[4]  Islamia, vol 1, 2004, halaman 52.

 

[5] Masalah ini bisa dibaca rangkaiannya di buku Hartono Ahmad Jaiz, Bunga Rampai Penyimpangan Agama di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Juli 2007.