Awas Ada Gerakan Mengacak-acak Al-Qur’an (1 dari 3 Tulisan)

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

 

Muqaddimah

Para ulama telah menulis kitab-kitab untuk membantah kesesatan-kesesatan para ahli bid’ah dan lainnya. Jihad lewat pena itu untuk menegakkan dan meninggikan kalimah Allah dan membentengi umat Islam dari aneka kesesatan yang menjerumuskan. Hal itu merupakan amal yang sangat berharga, dan sekaligus juga merupakan contoh yang sangat berharga pula untuk diteladani.

            Perlu sekali disadari, para penyesat kadang muncul dengan gagahnya, namun kadang bisa dibungkam seribu bahasa oleh ulama yang menulis tentang kesesatan pihak penyesat. Contoh nyata, gejala inkar sunnah sudah muncul sejak dahulu, namun begitu muncul tulisan Imam As-Syafi’I, Ar-Risalah, tampaknya pihak penyesat itu surut dan tenggelam hingga hampir seribu tahun. Baru pada abad 19 Masehi muncul lagi di saat kesesatan merajalela dan keilmuan umat menyusut. Masalah ini diakui, sampai Ensiklopedi Islam di Indonesia yang disusun orang-orang berbau sekuler dari IAIN Jakarta pun mengakui tiarapnya penyesat inkar Sunnah selama hampir seribu tahun akibat dihantam pena Imam As-Syafi’I itu.

            Untuk tidak bernostalgia belaka, maka tulisan ini justru akan memberikan gambaran kenyataan kesesatan yang dijajakan secara memuncak dan langsung menohok sumber utama Islam, yakni Al-Qur’anul Kariem. Betapa gigihnya kaum penyesat dalam menjajakan faham sesat yang meragukan kemurnian Al-Qur’anul Kariem. (Tulisan ini sengaja tidak mengemukakan teori-teori, tetapi contoh kongkret saja. Kasus berikut ini sebagai pelajaran nyata bahwa mereka yang menohok Islam saja sangat gigih menulis, padahal jelas membahayakan bagi diri mereka sendiri dan umat. Sebagaimana ungkapan, mereka yang dalam kejahatan saja sabar menghadapi aneka resiko, kenapa kita yang di dalam kebenaran tidak sabar).

            Berikut ini kenyataan yang perlu dihadapi, satu contoh penggerogotan yang sangat berbahaya dan dilakukan secara sistematis dengan berbagai tulisan, baik atas nama karya ilmiyah maupun artikel biasa. Mereka beramai-ramai ingin memporak- porandakan Islam dengan menjajakan faham keraguan terhadap murninya Al-Qur’an.

 

Menyikapi Gerakan Pembuat Keraguan

Tentang Kemurnian Al-Qur’an

 

   Sekarang ada Gerakan Sistematis yang di antara kerjanya membuat keraguan tentang kemurnian Al-Qur’an. Gerakan itu secara aktif menulis di berbagai media massa termasuk internet, di samping menyebarkan penghujatan akan kemurnian Al-Qur’an lewat buku.

Mereka bekerja secara sistematis, terprogram, terorganisir, bahkan lewat jalur intelektual tingkat akademis. Di antaranya mereka berada di lembaga-lembaga JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Paramadina, bahkan di IAIN-IAIN (Institut Agama Islam Negeri) atau UIN (Universitas Islam Negeri). Sedang jalur-jalur untuk menyebarkan faham tersebut di antaranya Majalah Syir’ah, Kantor Berita Radio 68H, Koran Jawa Pos dengan cabang-cabangnya (koran daerah sekitar 40-an koran), pencetakan buku, dan website Islamlib.com milik JIL.

 

Sebagai contoh bukti, di antaranya:

  1. Tulisan Luthfi Aassyaukanie dosen Paramadina Jakarta (Merenungkan Sejarah Al-Qur’an dimuat di website islamlib.com, 17 November 2003).
  2. Tulisan Luthfi Aassyaukanie dosen Paramadina Jakarta (Sejarah Al-Qur’an Rejoinder, dimuat di islamlib.com, 8 Desember 2003, sebagai pembelaannya terhadap tulisan no.1).
  3. Tulisan Taufiq Adnan Amal dosen IAIN Makassar  (Al-Quran Edisi Kritis, dimuat di islamlib.com, 28/10/ 2001, juga dimuat di buku tentang JIL)
  4. Tulisan Taufiq Adnan Amal dosen IAIN Makassar (Al-Quran Antara Fakta dan Fiksi, dimuat di islamlib.com, 25/11/ 2001).
  5. Buku karangan Taufiq Adnan Amal dosen IAIN Makassar berjudul Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an terbitan FKBA (Forum Kajian Budaya dan Agama), Jogjakarta, 2001.
  6. Laporan Majalah Syir’ah, Pembaruan al-Qur’an ala Indonesia (Syir’ah Vol 2, No 3, tanggal 25 Januari- 25 Februari 2002). Dalam laporan itu dikutip pendapat Taufik Adnan Amal, di antaranya sebagai berikut:

  “Berdasarkan temuan kontemporer yang diangkat beberapa pemikir terkemuka Timur Tengah, terdapat salah satu ayat yang tidak berbunyi “innad dina ‘indallah al-Islam” tetapi “innad dina ‘inda Allah al-hanafiyyah”.

“Pada versi pertama, kata Islam kan dimaknai sebagai yang bersifat antropologis atau sekadar Kartu Tanda Beragama (KTB) yang dari sini muncul klaim bahkan menyalahkan agama yang lain ataupun berbuntut kebencian dan pertikaian antara agama. Yang kedua, kata al-hanafiyyah yang berarti sikap kepatuhan dan kepasrahan lebih menunjukkan wajah Islam yang toleran dan damai, dan ini sangat kontekstual dengan kondisi masyarakat kita saat ini,”    ungkapnya.

   Walhasil, Mushaf al-Qur’an yang menjadi pegangan umat Islam secara luas termasuk yang disosialisasikan Depag sejak 1984 tidak lain adalah Mushaf hasil kodifikasi Khalifah Utsman. Dan apakah upaya Departemen Agama ini akan tidak berefek negatif bagi umat Islam seperti terjadi pada masa Utsman? (Majalah Syir’ah Vol 2 No 3,  25 Januari- 25 Februari 2002, halaman 7).

 

Tanggapan:

      Lafal al-hanafiyyah itu artinya adalah pengikut madzhab Imam Hanafi. Contoh kongkretnya:

إذَا كَانَتْ الزَّوْجَةُ حَنَفِيَّةً وَالزَّوْجُ مَالِكِيًّا فَهَلْ يُخْرِجُ عَنْهَا مُدَّيْنِ مِنْ الْقَمْحِ عَلَى مَذْهَبِهَا أَوْ أَرْبَعَةَ أَمْدَادٍ عَلَى مَذْهَبِهِ ؟ ذَكَرَ الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ الْبُحَيْرِيُّ فِي شَرْحِ الْإِرْشَادِ فِي ذَلِكَ قَوْلَيْنِ

Apabila isteri hanafiyyah (pengikut madzhab Hanafi) dan suami pengikut madzhab Maliki apakah suami mengeluarkan (nafkah) untuknya (istri) dua mud (1,25 Kg) gandum berdasarkan atas madzhabnya (isteri) atau 4 mud (2,5 Kg) berdasarkan atas madzhabnya (suami)? Syaikh Sulaiman al-Buhairi menuturkan dalam Syarah Al-Irsyad dalam hal itu ada dua pendapat.

) مواهب الجليل شرح مختصر خليل     : أبو عبد الله محمد بن محمد بن عبد الرحمن الرعيني                    المعروف بالحطاب 954 هـ- 1547م, ج 2(.

            Persoalan yang perlu diajukan ke Taufik Adnan Amal dosen IAIN Makassar dan Majalah Syir’ah yang sering menyuarakan faham liberal:

Di dalam Al-Qur’an, ayat itu berbunyi:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS Ali Imran/ 3: 19).

Kalian menyebutkan:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الحَنَفِيَّة

Artinya: Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah madzhab Hanafi.

Satu: Apakah ketika Nabi Muhammad saw dituruni Al-Qur’an sudah ada madzhab Hanafi?

Jelas belum ada. Oleh karena itu sudah jelas batilnya dan dustanya pernyataan dosen IAIN Makassar dan majalah Syir’ah itu.

Dua: Mungkin mereka yang berupaya membuat keraguan tentang kemurnian Al-Qur’an ini kemudian berkilah, itu hanya salah cetak, maksudnya adalah al-haniifiyyah.

Misalnya alasan itu kita terima, jadi kita mengalah sementara, terus kita tanyakan lagi: apakah mengenai masalah yang sangat prinsip, dibiarkan saja salah cetak? Kalau beralasan salah cetak, kenapa disebut beberapa kali dengan huruf yang sama, dan kenapa terbitan-terbitan selanjutnya tidak diperbaiki atau diralat?

Tiga:     Al-hanafiyyah telah dimaknakan “sikap kepatuhan dan kepasrahan lebih menunjukkan wajah Islam yang toleran dan damai, dan ini sangat kontekstual dengan kondisi masyarakat kita saat ini,”  pemaknaan seenak perutnya seperti itu jelas sangat menyesatkan. Al-hanafiyyah itu madzhab Hanafi atau pengikut madzhab Hanafi, salah satu dari empat madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hanbali, bisa disebut dengan Hanafiyyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanbaliyah.

Yang punya makna sikap kepatuhan dan kepasrahan justru lafal islam dari kata aslama yuslimu islaman. Kenapa lafal islam dalam ayat إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ justru dipojokkan dan dikotakkan, dengan ungkapan: “kata Islam kan dimaknai sebagai yang bersifat antropologis atau sekadar Kartu Tanda Beragama (KTB) yang dari sini muncul klaim bahkan menyalahkan agama yang lain ataupun berbuntut kebencian dan pertikaian antara agama.”

 

 Para perusak Islam ini perlu ditanya: Apa hubungannya tentang antropologi dan Kartu Tanda Beragama (KTB) dengan lafal islam dalam ayat 19 surat Ali ‘Imran itu?  Kenapa anda-anda ini memasukkan dua hal itu dikaitkan sebagai pemaknaan lafal islam dalam ayat Al-Qur’an? Ini jelas ngoyoworo (bicara tanpa landasan sama sekali).

Empat: kata Islam kan dimaknai sebagai yang bersifat antropologis atau sekadar Kartu Tanda Beragama (KTB) yang dari sini muncul klaim bahkan menyalahkan agama yang lain ataupun berbuntut kebencian dan pertikaian antara agama.” Ungkapan anda yang akhir, adalah kesimpulan dari ungkapan anda yang awal. Ketika anda telah bicara ngoyoworo,  dan itu mengenai firman Allah swt pada ungkapan yang awal, maka seandainya diteruskan tanpa membumbui tuduhan pun sudah cukup menambah ngoyoworo. Lantas anda tambahi tuduhan berdasarkan bicara anda yang ngoyoworo. Tuduhan itu berbunyi:dari sini muncul klaim bahkan menyalahkan agama yang lain ataupun berbuntut kebencian dan pertikaian antara agama.”

Di sini ada beberapa persoalan. Satu, anda mempersoalkan ayatnya, mestinya bukan islam tapi hanafiyyah. Itu sudah satu kesalahan fatal, sudah terbukti tadi. Kedua, anda memaknakan islam ditarik ke antropologis atau KTB. Itu sudah terbukti ngawurnya. Ketiga, menuduh, yang tuduhan itu berlandaskan kemauan mengganti ayat, dan memaknakan model yang anda mau yakni antropologis dan KTB. Padahal, anda yang dosen ulumul Qur’an bersama konco-konco yang sangat bersemangat untuk mengedit Al-Qur’an menjadi Al-Qur’an Edisi Kristis itu perlu berfikir kritis. Kalau anda mau menuduh pakai ayat itu dengan tuduhan seperti tersebut, justru artinya anda tidak kritis. Karena ada ayat-ayat yang jelas-jelas memerintahkan untuk memerangi orang-orang kafir, musyrikin, suruhan memerangi orang yang agamanya tidak benar dan tidak mengharamkan apa yang Allah haramkan yaitu Ahli Kitab. Ada ayat untuk membenci selama-lamanya selama tidak seiman. Berikut ini ayat-ayatnya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ(123)

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS At-taubah/ 9: 123).

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ(36)

dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ(29)

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (Qs At-taubah/ 9: 29).

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ(39)

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. (QS Al-Anfal: 39).

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS Al-Mumtahanah/ 60: 4).

 

 Kenapa bukan ayat-ayat itu yang anda jadikan titik tolak untuk menuduh? Itu artinya anda justru tidak kritis. Tetapi resikonya, kalau anda menuduh palsu ayat-ayat suruhan memerangi orang musyrik, kafir, ahli Kitab dan membencinya selamanya, berarti anda di pihak musyrikin. Hanya saja sebenarnya tingkatannya masih agak mending, karena tuduhannya masih urut di jalurnya. Daripada yang sekarang, sudah tuduhannya tidak pada jalurnya, sudah mendudukkan diri pula pada jalur yang membela orang kafir yang ingin membuat keraguan tentang murninya Al-Qur’an.

Lima: Kalau seandainya yang dimaksud itu bukan hanafiyyah tapi haniifiyyah, maka perlu bukti otentik, riwayat yang mutawatir (tiap jenjangnya terdiri dari banyak orang dan tidak mungkin bersepakat untuk berdusta). Haniifiyyah artinya: berpaling dari setiap agama yang batil. Sebagaimana dalam hadits:

 

رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله تعالى عليه وسلم { بُعِثْت بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ السَّهْلَةِ } ) فَشَرِيعَتُنَا حَنِيفِيَّةٌ أَيْ مَائِلَةٌ عَنْ كُلِّ دِينٍ بَاطِلٍ وَسَمْحَةٌ فِي بَابِ الْعَمَلِ

Diriwayatkan dari Nabi saw, aku diutus dengan haniifiyyah samhah sahlah/ lurus lapang dan mudah. (hadits ini dhoif menurut Al-Haitsami, al-Munawi, dan al-Albani. Riwayat Ahmad dan At-Thabrani, hanya ada satu yang disahihkan oleh Al-Albani, yang riwayat at-Thabrani, namun imam-imam lainnya menda’ifkan).

  Lafal al-haniifiyyah pun artinya tidak seperti yang dimaksud oleh Taufik Adnan Amal dan Majalah Syir’ah yang mengtakan:  ”… yang berarti sikap kepatuhan dan kepasrahan lebih menunjukkan wajah Islam yang toleran dan damai, dan ini sangat kontekstual dengan kondisi masyarakat kita saat ini.”  

Justru haniifiyyah أَيْ مَائِلَةٌ عَنْ كُلِّ دِينٍ بَاطِلٍ artinya berpaling dari setiap agama yang batil. Kalau anda ingin menggiring ke arah toleran dan damai model anda, seandainya tidak usah memaksa-maksa Al-Qur’an untuk diganti lafalnya, dan lafal gantian itu anda ganti maknanya; maka kesalahannya hanya memunculkan pemahaman tentang toleran dan damai yang pengertiannya tak sesuai dengan yang dikehendaki Islam. Anda hanya menyalahi Islam, tidak dengan mengganti ayat, lalu ayat gantiannya itu anda ubah maknanya. Tetapi ketika anda mengganti lafal ayat, dan lafal penggantinya itupun masih anda selewengkan lagi maknanya, ini hanya menambah payah bagi anda dan menambah kesalahan, masih pula sangat kelihatan bahwa itu meniru kafirin Yahudi yang telah dikecam Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an.

Cukup nyata benarnya peringatan Allah swt ini:

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ(79)

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. (QS Al-Baqarah/ 2: 79).

    Setelah terbukti aneka kesalahan dan kedustaannya, maka ancaman yang diancamkan Majalah Syir’ah berikut ini jelas tidak usah dijawab. Hanya sebuah ocehan:

Walhasil, Mushaf al-Qur’an yang menjadi pegangan umat Islam secara luas termasuk yang disosialisasikan Depag sejak 1984 tidak lain adalah Mushaf hasil kodifikasi Khalifah Utsman. Dan apakah upaya Departemen Agama ini akan tidak berefek negatif bagi umat Islam seperti terjadi pada masa Utsman? (Majalah Syir’ah Vol 2 No 3,  25 Januari- 25 Februari 2002, halaman 7).

Biarlah ocehan itu dikutip di sini, sekadar menambahi derita mereka sebagaimana ratapan Ulil Abshar Abdalla yang tampaknya dia menderita akibat uang Saudi Arabia sebagian digunakan untuk mencetak Al-Qur’an yang disumbangkan kepada umat Islam. Jadi seperti itulah mereka. Begitu tidak relanya terhadap beredarnya Al-Qur’an Mushaf Utsmani sedunia sejak 15-an abad, dan mau mereka ganti dengan Al-Qur’an edisi kritis. Padahal, terbukti otak mereka sendiri tidak kritis. Sampai senior mereka dan yang mereka agung-agungkan dengan bebagai cara yaitu Nurcholish Madjid pun tidak kritis.

 

7.  Buku berjudul Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan tulisan (tesis untuk meraih gelar MAg di IAIN Jogjakarta) Aksin Wijaya dengan kata pengantar dua dosen, Dr. Phil. M. Nur Kholis S., MA, dan Dr Hamim Ilyas, MA. Buku ini terbitan Safria Insani Press. Di antara isinya, sangat menggugat Al-Qur’an. Contohnya:

n       …Analisis ini juga dimaksudkan untuk melacak jejak budaya yang bersembunyi di balik Mushaf Utsmani. Dengan analsis ini pula diasumsikan bahwa pesan tuhan telah terdistorsi atau telah terpenjara oleh budaya Arab dengan  Mushaf sebagai rumah tahanannya. (halaman 17).

n       Al-Qur’an diletakkan pada posisi setidak-tidaknya sederajat dengan akal dan akal berhak menganalisa al-Qur’an, kalau tidak justru ditempatkan di bawah akal. (halaman 29).

n      Gambaran perjalanan pesan Tuhan di atas menunjukkan pada kita bahwa keberadaan pesan Tuhan yang mengalami berbagai variasi. Pertama pesan Tuhan sebagai wahyu, yaitu selama berada dalam parole (وعد شرف , pen) Tuhan dalam bentuk bahasa non-ilmiah dan belum dibahasakan ke dalam bahasa manusia. Kedua pesan Tuhan disebut Al-Qur’an, yaitu ketika pesan itu dibahasakan ke dalam bahasa oral manusia, khususnya bahasa Arab. Bentuk kedua ini telah mewujud dalam bahasa bentuk bahasa ilmiah. Ketiga, pesan Tuhan yang telah terbungkus dalam Mushaf  Utsmani. Artinya, pesan Tuhan yang semula berada dalam system oral bahasa Arab, diwujudkan kedalam bentuk bahasa tulisan. Dalam Mushaf Utsmani  inilah umat Islam belakangan mencari pesan Tuhan, dengan berbagai variasi dan pendekatan yang digunakannya. (halaman 55).

n       Apakah dalam system bahasa Arab, pesan Tuhan masih terpelihara atau tidak? (halaman 58).

n       Selama proses penyampaian dalam bentuk parole ini, kiranya pesan Tuhan masih terjamin otentik. Pesan Tuhan dalam proses itu masih berstatus wahyu. Wahyu dalam konteks inilah yang dijanjikan Tuhan untuk dijaga dan dipelihara, dari tahrif atau perubahan, bukan dalam arti wahyu yang telah dibahasakan ke dalam bahasa Arab atau telah dibukukan ke dalam Mushaf Utsmani. (halaman 59). (Bersambung, insya Allah).