Awas, Daging Celeng Beredar Meningkat

Ummat Islam kembali terusik. Daging babi dalam kemasan dendeng dan abon berlabel sapi di pasar-pasar belum terdengar dituntaskan pengusutannya, kini kembali merebak penyusupan daging celeng alias babi hutan dari Sumatera ke Jawa lagi. Kasus yang mengusik ketenteraman Ummat Islam dalam mengkonsumsi makanan itu terulang dan terulang lagi. Padahal semua orang tahu, babi ataupun celeng itu haram bagi Ummat Islam.

Allah Ta’ala berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ اْلمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ اْلخِنْزِيْرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ وَاْلمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَهُ وَاْلمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلىَ النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُواْ بِالأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الذِّيْنَ كَفَروُا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْْناً فَمَنِ اضْطُرَّ فيِ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لاِثْمٍ فَإِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

3. Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[394], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[395], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[396], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini[397] orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Maaidah: 3).

Juga Firman Allah Ta’ala:

وَيُحَلُ لَهُمُ الطَّيِّباَتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ اْلخَبَائِثَ

“…dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…” (QS Al-A’raf: 157).

Berikut ini berita tentang meningkatnya peredaran daging celeng yang didatangkan dari Sumatera ke Jawa. Juga tentang daging oplosan antara babi dan sapi di pasar. Kemudian kami kutipkan cirri-ciri perbedaan antara daging babi dan daging sapi. Inilah beritanya:

Awas! Peredaran Daging Celeng Meningkat

Tuesday, 28 July 2009 13:55

Pengiriman daging celeng illegal ke Jawa dikabarkan terus meningkat. Menjelang Ramadhan, makanan haram biasa menyebar

Hidayatullah.com–Petugas Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon dan Kepolisian Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Merak, kembali menyita sekitar satu kuintal daging babi hutan (celeng) di Pelabuhan Penyeberangan Merak.

“Daging yang dikemas dalam dua karung besar, disita petugas sekitar pukul 01.00 WIB saat melakukan razia pencegahan masuknya daging babi hutan dari Sumatera,” kata Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon Agus Sunanto di Cilegon, Senin (27/7) kemarin.
Dijelaskan Agus, kegiatan pengiriman daging celeng dari Sumatera ke Jawa semakin meningkat. Tiga hari lalu, Jumat (24/7), petugas berhasil menyita tujuh kuintal daging celeng. “Hari ini daging celeng tujuh kuintal tersebut kita musnahkan, tapi malah petugas menemukan kembali daging celeng sebanyak 100 kilogram yang akan dikirim ke Tangerang,” ujar dia.
Menurut ia, semakin ketat petugas melakukan razia, modus pengiriman juga berubah. Mereka mengirimkan daging celeng dengan menggunakan bus ekonomi. Petugas menyita dua paket daging celeng tersebut dari bagasi PO Rosalia Indah nomor kendaraan  AB 1408 DA jurusan Bengkulu-Solo.
Daging celeng yang berasal dari Kabupaten Lahat Sumatra Selatan itu dilengkapi dengan keterangan kesehatan hewan yang dikeluarkan oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Lahat No 5234.4/722/Nak.Kan/2009.
“Namun yang menjadi persoalan yang menandatangani pernyataan keterangan sehat hewan bukan oleh dokter hewan,” tegas Agus. Ditambahkan dia, surat kesehatan hewan harus dilampirkan hasil penelitian laboratorium bahwa daging hewan tersebut bebas penyakit.
Dalam surat keterangan dijelaskan, pemiliknya Dedi Marhen Saragih dengan alamat Desa Muara Siba Kecamatan P Binang Kabupaten Lahat Sumatra Selatan. “Rencananya kedua karung daging celeng tersebut akan diambil oleh seseorang bernama Erwin di daerah Bitung, Tangerang,” katanya.
Agus menjelaskan, dari sudut kesehatan daging celeng tersebut tidak layak dikonsumsi oleh manusia, sebab tidak diketahui proses pemotongannya. “Selama ini kalau ada pengiriman daging babi hutan dari Sumatera, biasanya dilakukan oleh pihak kebun binatang dan Taman Safari Indonesia untuk makanan hewan peliharaan,” katanya.
Daging celeng untuk makanan hewan pun harus ada rekomendasi dari tempat daerah pemasukan. Selama dua bulan terakhir Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon berhasil menangkap lima kali upaya penyeludupan daging celeng dari Pulau Sumatera. [ant/www.hidayatullah.com]

Sumber: http://www.hidayatullah.com/berita/lokal/8869-awas-peredaran-daging-celeng-meningkat-.html

Sudah seringkali di saat-saat masyarakat terutama Ummat Islam banyak membutuhkan daging, tahu-tahu daging celeng yang haram pun beredar, bahkan dioplos dengan daging sapi. Beritanya sebagai berikut:

Daging Celeng Beredar di Pasar

ndosiar.com, Bogor – Menjelang lebaran daging celeng atau babi hutan marak beredar di Bogor, Jawa Barat. Sepintas, tumpukan potongan daging ini tampak seperti daging sapi, penjualnya pun menawarkan daging ini sebagai daging sapi dengan harga miring. Tapi daging ini ternyata daging celeng atau babi hutan yang dicampur diantara potongan daging sapi asli.

Petugas dari tim khusus Dinas Agribisnis Rumah Potong Hewan Kota Bogor, Jawa Barat dalam razia yang dilakukan kesejumlah pasar tradisional Rabu (04/10/06) pagi, menemukan 10 kilogram daging celeng dijual sebagai daging sapi di Pasar Merdeka Bogor Tengah.

Daging celeng ini dioplos atau diletakkan diantara daging dan jerohan sapi. Petugas sendiri melakukan razia setelah mendapat laporan dari warga yang mengaku ada pedagang yang menawarkan daging sapi dengan harga murah yakni 35 hingga 40 ribu rupiah perkilgram. Padahal harga daging saat ini sekitar 45 ribu rupiah perkilogram. Sayangnya, petugas tidak berhasil menangkap pedagang yang bersangkutan karena keburu melarikan diri.

Selain Pasar Merdeka, petugas juga melakukan razia ke Pasar Anyar dan Pasar Baru Bogor.
Namun dikedua pasar itu tidak ditemukan daging celeng.

Hal mudah yang bisa dilihat masyarakat untuk membedakan daging celeng dengan daging sapi adalah daging celeng seratnya lebih kasar, aromanya lebih menyengat dan harganya jauh lebih murah. (Iwan Kurniawan/Sup)

Sumber: http://www.indosiar.com/fokus/55452/daging-celeng-beredar-di-pasar

Untuk mengenali perbedaan antara daging babi dengan daging sapi, berikut ini tulisan dan gambar-gambarnya yang menjelaskan perbedaan secara nyata:

Kenali Ciri-Ciri Daging BABI/CELENG !

Waspadai Daging Babi Oplosan

Oleh : M.T.Assyaukani* dkk


“Kepala Sub Dinas Kesehatan Hewan Propinsi DKI Jakarta , Drh. Adnan Ahmad menyatakan pihaknya akan mengintensifkan pengawasan terhadap peredaran daging babi hutan atau celeng di pasar-pasar di Jakarta, selama bulan Ramadhan dan menjelang idul fitri ini. Pengawasan ini merupakan tindak lanjut dari surat edaran Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Pemprov DKI Jakarta Edy Setiarto, tertanggal 20 September 2006 kemarin, yang mengingatkan warga Jakarta agar berhati-hati membeli daging dan jangan tergiur dengan harga daging yang lebih murah. Karena ada dugaan sudah beredar daging celeng yang dijual di pasaran dengan cara disamarkan atau dicampur dengan daging sapi biasa”
(Republika, Jumat 29 September 2006)

Kita patut mengelus-ngelus dada prihatin atas kenyataan diatas. Betapa perhatian terhadap nilai-nilai kehalalan semakin terdegradasi oleh nilai mata uang dan keserakahan. Demi sejumlah keuntungan materi, segelintir manusia ingin mengelabui umat muslimin dengan menyamarkan daging babi –makanan yang jelas keharamannya dalam islam- sehingga umat muslim dengan tanpa sengaja mengkonsumsinya.

Tentu saja kita sebagai umat muslim harus mewaspadainya dengan mengetahui karakteristik daging babi dan mencermati perbedaannya dengan daging sapi. Untuk itu kami dari Himpunan Mahasiswa Peduli Pangan Indonesia (HMPPI) LC. Himitepa mengadakan analisis sederhana terhadap karakteristik daging babi serta membandingkannya dengan daging sapi. Tim ini keseluruhan terdiri dari mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan IPB yang tergabung dalam wadah HMPPI LC Himitepa. Tim tersebut adalah : M.T.Assyaukani (Co.), Bima Sakti Aswan, Ihsaniati Nur Rahmatika, Sri sugiharti, Gema Buana Putra, Datoe M. Iqbal, Kurnia Ramadhan, Shinta Dewi, Eka Febrial, Jamal Zamrudi, Dyah Ayu dan Mustarofa Ahmad. Kegiatan ini dibawah bimbingan Bapak Dr. Ir. Joko Hermanto sebagai ahli ilmu daging di jurusan ITP. Kegiatan ini diadakan pada hari Kamis, tanggal 12 Oktober 2006 di Lab Evaluasi Sensori PAU dibawah pengawasan Ibu Sri. Kami berharap informasi ini bermanfaat bagi Anda khususnya menjelang hari Idul Fitri, hari ketika permintaan daging sangat tinggi sehingga bisa meningkatkan kewaspadaan kita. Kami berharap usaha ini dapat menjadi setitik usaha yang cukup berarti bagi tegaknya nilai kehalalan di Indonesia.

Ada beberapa perbedaan mendasar antara daging babi dan sapi. Dr. Ir. Joko Hermanto, Guru besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, mengatakan bahwa secara kasat mata ada lima aspek yang terlihat berbeda antara daging babi dan sapi yaitu warna, serat daging, tipe lemak, aroma dan textur. Atas dasar itu fokus pengamatan kami diarahkan pada lima aspek tersebut.

Dari segi warna, terlihat daging babi memiliki warna yang lebih pucat dari daging sapi (lihat gambar 1), warna daging babi mendekati warna daging ayam. Namun perbedaan ini tak dapat dijadikan pegangan, karena warna pada daging babi oplosan biasanya dikamuflase dengan pelumuran darah sapi, walau kamuflase in dapat dihilangkan dengan perendaman dengan air. Selain itu, ada bagian tertentu dari daging babi yang warnanya mirip sekali dengan daging sapi sehingga sangat sulit membedakannya.

Dari segi serat daging, perbedaan terlihat dengan jelas antara kedua daging. Pada sapi, serat-serat daging tampak padat dan garis-garis seratnya terlihat jelas. Sedangkan pada daging babi, serat-seratnya terlihat samar dan sangat renggang. Perbedaan ini semakin jelas ketika kedua daging direnggangkan bersama.

Dari penampakkan lemak, perbedaan terdapat pada tingkat keelastisannya. Daging babi memiliki tekstur lemak yang lebih elastis sementara lemak sapi lebih kaku dan berbentuk. Selain itu lemak pada babi sangat basah dan sulit dilepas dari dagingnya sementara lemak daging agak kering dan tampak berserat. . Namun kita harus hati-hati pula bahwa pada bagian tertentu seperti ginjal, penampakkan lemak babi hampir mirip dengan lemak sapi.

Dari segi tekstur, daging sapi memiliki tekstur yang lebih kaku dan padat dibanding dengan daging babi yang lembek dan mudah diregangkan. Melalui perbedaan ini sebenarnya ketika kita memegangnya pun sudah terasa perbedaan yang nyata antar keduanya karena terasa sekali daging babi sangat kenyal dan mudah di “biye” kan. Sementara daging sapi terasa solid dan keras sehingga cukup sulit untuk diregangkan

Dari segi aroma, terdapat sedikit perbedaan antara keduanya. Daging babi memiliki aroma khas tersendiri, sementara aroma daging sapi adalah anyir seperti yang telah kita ketahui. Segi bau inilah yang -menurut pak Joko- sebenarnya senjata paling ampuh untuk membedakan antar kedua daging ini. Karena walaupun warna telah dikamuflase dan dicampur antar keduanya, namun aroma kedua daging ini tetap dapat dibedakan. Sayangnya kemampuan membedakan melalui aromanya ini membutuhkan latihan yang berulang-ulang karena memang perbedaannya tidak terlalu signifikan.

Secara umum karakteristk daging babi ternak dan babi hutan (celeng) mirip satu sama lain, sementara daging babi memiliki perbedaan yang cukup banyak dengan daging sapi. Namun ketika kedua jenis daging tersebut telah dicampurkan, apalagi setelah dikamuflase dengan darah sapi, keduanya (daging babi dan sapi) menjadi sangat sulit untuk dibedakan. Penjualan daging babi oplosan merupakan kegiatan yang ilegal, sehingga biasanya daging ini tidak di display di meja penjualan. Daging ini biasanya dikeluarkan ketika ada pembeli yang menanyakan, “apakah ada daging murah pak?” sehingga kita pantas menaruh curiga bila ada penjual yang menjual daging dengan harga “miring”. Sifat yang lain juga adalah lokasi penjualan yang biasanya di tempat yang gelap dan cukup terpisah dari yang lainnya supaya daging tidak menjadi pusat perhatian orang banyak..

Pada akhirnya keputusan ada di tangan kita masing-masing, apakah kita ingin mencoba untuk lebih mencermati tiap daging yang kita beli atau acuh taj acuh saja. Perilaku kita akan menggambarkan seberapa besar kita menaruh perhatian terhadap aspek kehalalan terhadap pangan yang kita konsumsi dan juga sebagai parameter sejauh mana kita menghayati bulan ramadhan yang mulia ini. Allahu a’lam bisshawab.

*Penulis adalah kordinator wilayah Jawa Barat Himpunan Mahasiswa Peduli Pangan Indonesia (HMPPI), kritik saran dapat disampaikan ke: [email protected]

http://assyaukani.blogspot.com/2006/12/waspadai-daging-babi-oplosan.html

Sumber: http://www.blogcatalog.com/search.frame.php?term=daging+celeng&id=e60996f141c188c0786e52b9b9bec3c2 (tak dikutip gambarnya).

Ummat Islam wajib hati-hati terhadap makanan yang akan dimakan. Karena ada ancaman masuk neraka di akherat kelak bila dagingnya tumbuh dari makanan haram.

Dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

((كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ)). (رواه أحمد والترمذي والدارمي).

Kullu lahmin nabata min suhtin fannaaru awlaa bihi.

Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka lebih utama dengannya. (HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ad-Darimi). (haji/ nahimunkar.com).