Bagaimana Kita Berhubungan dengan Al-Qur’an

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

5. Kebaikan dan keutamaan-keutamaan yang tidak terbatas, karena Hadits:

{ إنَّ هَذَا الْقُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللَّهِ فَتَعَلَّمُوا مِنْ مَأْدُبَةِ اللَّهِ مَا اسْتَطَعْتُمْ , إنَّ هَذَا الْقُرْآنَ هُوَ حَبْلُ اللَّهِ وَهُوَ النُّورُ الْبَيِّنُ وَالشِّفَاءُ النَّافِعُ , عِصْمَةٌ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِهِ , وَنَجَاةٌ لِمَنْ تَبِعَهُ لَا يَعْوَجُّ فَيُقَوَّمُ , وَلَا يَزِيغُ فَيَسْتَعْتِبُ , وَلَا تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ , وَلَا يَخْلَقُ مِنْ كَثْرَةِ الرَّدِّ اتلوه فإن الله يأجركم على تلاوته} المستدرك على الصحيحين للحاكم مع تعليقات الذهبي في التلخيص – (ج 2 / ص 220) هذا حديث صحيح الإسناد و لم يخرجاه بصالح بن عمر

Sesungguhnya Al-Qur’an ini jamuan dari Allah, maka terimalah jamuannya semampumu. Sesungguhnya Al-Qur’an ini tali Allah dan cahaya yang kuat, dan obat yang bermanfaat. Terjagalah bagi orang yang memeganginya, dan selamatlah bagi yang mengikutinya. Dia tidak bengkok maka (tidak perlu) diluruskan, tidak melenceng maka tak diminta taubat, dan tidak habis-habisnya keajaiban-keajaibannya, dan tidak usang karena banyaknya penolakan (orang). Maka bacalah dia, karena sesungguhnya Allah memberi pahala kamu atas membacanya. (HR Al-Hakim, shahih isnadnya).

6. Larinya syetan dari rumah-rumah yang ramai / makmur dengan Al-Qur’an, karena hadits;

{ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتكُمْ مَقَابِرَ , إنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي يُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ }

Jangan kamu jadikan rumah-rumamu sebagai kuburan, maka bacalah surat al-Baqarah, karena sesungguhnya syetan itu lari dari rumah yang di dalamnya dibaca Surat al-Baqarah. (HR Muslim dan An-Nasai dari Abi Hurairah).

7. Mulia di akherat.

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ عَن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

( حسن ) انظر حديث رقم : 8030 في صحيح الجامع .

Al-Qur’an datang pada hari qiyamat lalu berkata; Ya Rabbi hiasilah dia, maka dia dipakaikan mahkota kemuliaan, kemudian dia berkata: Ya Rabbi tambahlah dia, maka dia dipakaikan perhiasan kemulian, kemudian dia berkata, Ya Rabbi ridhoilah dia, maka Dia ridho kepadanya, lalu dikatakan kepadanya, bacalah dan naiklah, dan ditambahlah setiap satu ayat satu kebaikan. (HR Tirimidzi/ Abu Isa, ia berkata ini hadits hasan shahih. Lihat Shahih Al-Jami’ no 8030, hasan). (diambil dari Fadzakkir bil Qur’ani man yakhofu wa’id juz 1 halaman 15-18, dipetik yang shahih).

Adab-Adab Membaca Al-Qur’an

1. Mengikhlaskan niat dalam membaca Al-Qur’an semata-mata karena Allah, sebagaimana juga yang dituntut dalam ibadah-ibadah yang lain.

2. Bersuci dan bersiwak sebelum membaca Al-Qur’an.

3. Jangan membaca Al-Qur’an di tempat-tempat kotor, seperti kamar mandi/tempat wudhu dan jangan membacanya dalam keadaan junub.

4. Berlindung kepada Allah dari syetan ketika memulai membacanya yaitu mengucap ta’awudz atau isti’adzah. (أَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ).

5. Membaca basmallah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) pada setiap permulaan surat, kecuali surat At-Taubah.

6. Membaguskan bacaan Al-Qur’an sesuai kemampuan, juga hendaknya membaca dengan memelas, khusyu’ dan disertai tangisan.

7. Bersujud ketika melewati ayat-ayat Sajadah.

8. Menghentikan bacaan ketika keluar angin, menguap dan merasa ngantuk.

9. Membaca Al-Qur’an dengan tartil dengan memperhatikan hukum-hukum dalam ilmu tajwid.

10. Membaca Al-Qur’an dengan niat untuk mengamalkannya.

11. Disunnahkan bagi yang membaca Al-Qur’an, ketika melewati ayat-ayat tentang rahmat supaya memohonnya kepada Allah, dan berlindung kepada-Nya tatkala melewati ayat-ayat adzab. (Sumber : Buletin, “Haluna Ma’al Qur’an, Al-Qism, Al-Ilmi Darul Wathan.( Abu Abdillah Tata) Artikel Buletin An-Nur :Kita Dan Al Qur’an, Rabu, 07 April 04, alsofwah.or.id, dengan sedikit tambahan keterangan).

Pentingnya Al-Qur’an dalam kehidupan

Berhubungan dengan Al-Qur’an adalah termasuk hal yang sangat penting dalam kehidupan Muslim. Hal itu karena Al-Qur’anul Karim memerintahkan muslim dengan segala kebaikan dan mencegahnya dari segala keburukan.

1. Al-Qur’an mengajari Muslimin bagaimana bermu’amalah dengan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala berfirman:

{ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا } (النساء:36).

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (QS An-Nisaa’: 36).

Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

2. Al-Qur’an mengajari Muslimin bagaimana bergaul dengan keluarganya, maka Allah Ta’ala berfirman:

{ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا } (النساء:36)

Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa (QS An-Nisaa’: 36).

Dan firman-Nya mengenai hak siteri:

{ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ } (النساء:19)

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. (QS An-Nisaa’: 19). Dan Dia berfirman tentang hak anak:

{ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ } (الأنعام: 151).

Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. (QS Al-An’am: 151).

3. Al-Qur’an mengajari Muslimin bagaimana bergaul dengan musuh-musuhnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ } (فصلت: 34).

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS Fusshilat: 34).

4. Al-Qur’an mengajari muslimin bagaimana jual beli, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا } (البقرة: 275) .

“…padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al-Baqarah: 275).

5. Al-Qur’an mengajari Muslimin bagaimana berinfaq/ membelanjakan harta:

{ وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا } (الفرقان: 67).

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS Al-Furqon: 67).

6. Al-Qur’an mengajari Muslimin bagaimana makan dan minum, maka Allah Ta’ala berfirman:

{ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا } (الأعراف: 31).

“…, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raf: 31).

7. Al-Qur’an mengajari Muslimin bagaimana berjalan di jalan, dalam Firman-Nya Ta’ala:

{ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا } (الإسراء: 37) .

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS Al-Isra’: 37).

8. Al-Qur’an mengajari Muslimin bagaimana berdialog dan memuaskan, maka Allah Ta’ala berfirman:

{ وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ } (البقرة : 23).

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu (QS Al-Baqarah: 23).

Sebagaimana Al-Qur’an juga mengajari Muslimin perkara-perkara agamanya, seperti melaksanakan sholat, zakat, pengelolaan zakat, puasa, dan haji yang hal itu diketahui oleh Muslimin baik umum maupun khusus. (sumber; Muhammad Habib Ahmad Mukhtar, Tadrisul Qur’an al-Karim fis sujun wa durul mulahadhoh al-ijtima’iyyah, http://www.al-islam.com).

Al-Quran sebagai pembela dan penuntut

Dalam Kitab Fat-hul Qawil Matien fie Syarhil Arba’ien wa Tatimmatil Khomsien juz 1 halaman 70

فتح القوي المتين في شرح الأربعين وتتمة الخمسين – (ج 1 / ص 70)

dijelaskan: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(( والقرآنُ حجَّةٌ لك أو عليك ))

Dan Al-Qur’an itu hujjah/ argumen (yang menguntungkan) bagimu atau (yang mencelakakan) atasmu (HR Muslim), artinya bahwa Al-Qur’an itu bisa jadi hujjah (yang menguntungkan) bagi manusia apabila dia menjalankan apa yang diwajibkan atasnya, dan apa yang dituntut darinya dalam Al-Qur’an. Yaitu meyakini benarnya khabar-khabar (dalam Al-Qur’an), mengikuti perintah-perintahnya, menjauhi larangan-larangannya, dan membacanya dengan sebenar-benarnya pembacaan. Dan bisa pula sebagai hujjah (yang mencelakakan) atas manusia apabila ia berpaling darinya, tidak menjalankan apa yang dituntut Al-Qur’an terhadapnya.

Hadits semisal dengan ini adalah hadits:

{ إنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ عُمَرَ (و أخرجه أحمد ، والدارمى ، وابن ماجه ، وأبو عوانة ، وابن حبان عن عمر)

Sesungguhnya Allah mengangkat suatu kaum dengan kitab (Al-Qur’an) ini, dan merendahkan kaum yang lainnya dengannya (pula). (HR Ahmad, Ad-Darimi, Muslim no 817, Ibnu Majah, Abu ‘Awanah, dan Ibnu Hibban dari Umar).

2019 -ا لْقُرْآنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ مَاحِلٌ مُصَدَّقٌ , فَمَنْ جَعَلَهُ إمَامَهُ قَادَهُ إلَى الْجَنَّةِ , وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَ ظَهْرِهِ قَادَهُ إلَى النَّارِ

Al-Qur’an itu mensyafa’ati orang yang disyafa’ati dan mengadzab/ memusuhi orang yang membantahnya/ menyia-nyiakannya, maka siapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai imamnya maka Al-Qur’an menuntunnya ke surga, dan siapa yang menjadikannya di belakang punggungnya maka Al-Qur’an menggiringnya ke neraka. (HR Ibnu Hibban 1793, At-Thabrani dalam Al-kabir 3/78/2, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 4/108, Al-Bazzar, dishohihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shohihah 5/31, no 2019). #