Bagaimana Kita Berhubungan dengan Al-Qur’an

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

{ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتكُمْ مَقَابِرَ , إنَّ الشَّيْطَانَ يَفِرُّ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي يُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ }

Jangan kamu jadikan rumah-rumamu sebagai kuburan, maka bacalah surat al-Baqarah, karena sesungguhnya syetan itu lari dari rumah yang di dalamnya dibaca Surat al-Baqarah. (HR Muslim dan An-Nasai dari Abi Hurairah).

Apakah Al-Qur’an itu?

Qur’an’ menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr Subhi Al-Salih berarti ‘bacaan’, asal kata qara’a (membaca). Kata Al-Qur’an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf’ul yaitu maqru’ (dibaca).

Di dalam Al-Qur’an sendiri ada pemakaian kata ‘Qur’an’ itu dalam arti demikian sebagai tersebut dalam ayat 17, 18 surat (75) Al-Qiyamah:

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ(17)فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ(18)

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.

Kemudian dipakai kata ‘Qur’an’ itu untuk Al-Qur’an yang dikenal sekarang ini.

Adapun definisi Al-Qur’an ialah: ‘Kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah.’

Dengan definisi ini, Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-nabi selain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, atau Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Dengan demikian pula Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak pula dinamakan Al-Qur’an.[1]

Untuk lebih memperjelas, perlu pula ditampilkan di sini beberapa definisi Al-Qur’an:

1. Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah) yang mengandung mu’jizat, yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul terakhir, dengan perantaraan Al-Amin Jibril ‘alaihis salam, yang tertulis dalam mushaf, yang disampaikan kepada kita secara mutawatir yang dianggap sebagai ibadah membacanya, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Naas.

2. Al-Qur’an adalah lafal berbahasa Arab yang diturunkan kepada pemimpin kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, yang dianggap sebagai ibadah membacanya, yang menentang setiap orang (untuk menyusun walaupun) dengan (membuat) surat yang terpendek daripadanya, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Naas.

3. Al-Qur’an (dengan nama apapun ia dinamakan) adalah perkataan yang mengandung mukjizat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tertulis dalam mushaf, yang disampaikan dengan mutawatir, yang dianggap sebagai ibadah, membacanya.[2]

Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri dalam Kitab Ushuluddin menjelaskan tentang Al-Qur’an sebagai berikut:

Al-Qur’anul Kariem adalah firman Rabbil ‘alamien, yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya.

هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ ءَايَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ(9)

Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al Qur’an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. (QS Al-hadiid/ 57: 9).

Al-Qur’anul Kariem itu kitab Allah kepada semua manusia.

إِنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ لِلنَّاسِ بِالْحَقِّ فَمَنِ اهْتَدَى فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ(41)

Sesungguhnya kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka. (QS Az-Zumar/ 39: 41).

Al-Qur’anul Kariem membenarkan kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat dan Injil; dan jadi ukuran benar tidaknya kitab-kitab sebelumnya itu. Firman Allah Ta’ala:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. (QS Al-Maaidah/ 5: 48).

Setelah turunnya Al-Qur’an maka jadilah dia (Al-Qur’an itu) kitab untuk manusia sampai tibanya hari qiyamat. Siapa yang tidak beriman kepadanya maka kafir, akan disiksa dengan adzab di hari qiyamat, sebagaimana firman Allah:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا يَمَسُّهُمُ الْعَذَابُ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ(49)

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (QS Al-An’aam/ 6 : 49).

Oleh karena agungnya Al-Qur’an dan apa-apa yang ada di dalamnya berupa ayat-ayat, mu’jizat, perumpamaan, ungkapan-ungkapan sampai pada segi kejelasan dan keindahan keterangannya, maka Allah Ta’ala berfirman:

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْءَانَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ(21)

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS Al-Hasyr/ 59 : 21).

Allah menantang manusia dan jin untuk mendatangkan yang seperti Al-Qur’an atau satu surat sepertinya atau satu ayat sepertinya, maka tidak dapat dan tidak akan dapat, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا(88)

Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain’. (QS Al-Israa’/ 17: 88).

Karena Al-Quranul kariem itu kitab samawi (yang turun dari langit) yang paling agung, paling sempurna, dan paling komplit dan paling akhir, maka Allah memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk menyampaikannya kepada seluruh manusia, dengan firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ(67)

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS Al-Maaidah/ 5: 67).

Karena pentingnya Al-Qur’an ini dan adanya kebutuhan umat kepadanya, maka Allah telah memuliakan kita dengan menurunkannya atas kita, dan Dia menjamin dengan menjaganya untuk kita, Dia berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ(9)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS Al-Hijr/ 15: 9).[3]

Al-Qur’an adalah Kitab Suci satu-satunya yang telah dijamin oleh Allah bebas dari kekurangan dan tambahan, selamat dari perobahan, dan telah dijamin keabadiannya hingga kelak diangkat pada akhir kehidupan ini.

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ(42)

Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (QS Fusshilat/ 41: 42).[4]

Itulah pensifatan-pensifatan tentang Al-Qur’anul Kariem, kitab suci umat Islam sedunia, sejak zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai akhir zaman.

Keuntungan orang yang membaca Al-Qur’an

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ(29)

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, (QS Father/ 35: 29).

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

…فَأَبْشِرُوا ، فَإِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ طَرْفُهُ بِيَدِ اللهِ وَطَرَفُهُ بِأَيْدِيكُمْ ، فَتَمَسَّكُوا بِهِ فَإِنَّكُمْ لَنْ تَهْلِكُوا وَلَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا. (صحيح ) انظر حديث رقم : 34 في صحيح الجامع

“…maka berilah kabar gembira, karena sesungguhnya Al-Qur’an ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu ujungnya di tangan-tangan kalian, maka berpegang teguhlah dengannya, maka sesungguhnya kalian tidak akan binasa dan takkan sesat setelahnya selama-lamanya. (Shahih, hadits nomor 34 dalam Shahih al-Jami’).

1. Kebaikan bagi ahli Al-Qur’an, karena Hadits:

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ. (الطيالسى ، وأحمد ، والبخارى ، وأبو داود ، والترمذى حسن صحيح وابن ماجه ، وابن حبان عن عثمان . البخارى ، والترمذى عن على . الخطيب عن ابن عمر . وابن مردويه فى كتاب أولاد المحدثين ، وابن النجار عن ابن مسعود)

Sebaik-baik kamu sekalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. (HR At-Thoyalisi, ahmad, Al-Bukhari, Abu Dawud, At-Tirmidzi hasan shahih, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan lainnya).

2. Ketinggian (derajat) bagi pembacanya, karena Hadits:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اقْرَأْهُ وَارْقَهْ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا ، فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرَ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an pada hari qiyamat; baca dan naiklah pada derajat-derajat (di surga), dan bacalah sebagaimana kamu membaca di dunia, maka tempatmu di sisi akhir ayat yang besertamu (Silisilah Hadits Shahihah nomor 2829).

3. Syafa’at bagi pembacanya, karena Hadits:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ .( صحيح ) انظر حديث رقم : 1165 في صحيح الجامع .

Bacalah Al-Qur’an karena dia datang pada hari qiyamat sebagai syafa’at bagi pembaca-pembacanya. (Hadits Shahih nomor 1165 dalam Shahih Al-Jami’).

4. Pahala yang besar bagi pembacanya, karena Hadits;

اقرءوا القرآن فإنكم تؤجرون عليه أما إني لا أقول { ألم } حرف و لكن ألف عشر و لام عشر و ميم عشر فتلك ثلاثون .( صحيح ) انظر حديث رقم : 1164 في صحيح الجامع .

Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya kamu sekalian diberi pahala atasnya, adapun aku tidak mengatakan “alif laam miim” itu satu huruf, tetapi alif itu sepuluh, lam itu sepuluh, dan mim itu sepuluh, maka itu 30. (Hadits Shahih nomor 1164 dalam Shahih al-Jami’).

من قرأ حرفا من كتاب الله فله به حسنة و الحسنة بعشر أمثالها لا أقول : { ألم } حرف و لكن : ألف حرف و لام حرف و ميم حرف .( صحيح ) انظر حديث رقم : 6469 في صحيح الجامع .

Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan karenanya, dan satu kebaikan itu dengan sepuluh perbandingannya, aku tidak mengatakan “alif laam miim” itu satu huruf, tetapi alif itu satu huruf, lam itu satu huruf, dan mim itu satu huruf. (Hadits Shahih nomor 6469 dalam Shahih al-jami’).


[1] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Mujamma’ Al-Malik Fahd, Madinah, 1422H, halaman 15.

[2] Dr Subhi Al-Salih, Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an, halaman 21, seperti dikutip Muqaddimah Al-Qur’an dan Tafsirnya, Departemen Agama RI, Jakarta, 1985/ 1986, halaman 20.

[3] Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri, Kitab Ushuluddin, dikutip dalam Fatawa al-‘Aqidah oleh Muhammad Shalih Al-Munajid, Maktabah At-Taufiqiyyah, Kairo, tt.

[4] Abu Bakar Jbir Al-Jazairi, Minhajul Muslim, Darul Fikr, Beirut, cetakan pertama 1995, halaman 25.