ilustrasi/ foto hardianimalscience


Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Tahun 1980-an saya membaca-baca buku-buku kuno dari zaman Belanda. Buku-buku itu adanya di Perpustakaan di Jogjakarta yang memang punya koleksi buku-buku kuno dari zaman Belanda. (Entah sekarang perpustakaan itu masih ada atau tidak).

Saya  baca sebuah buku mengenai kata-kata dari Bahasa Arab yang masuk ke dalam Bahasa Jawa. Misalnya kursi  diberi keterangan dalam kurung (كرسي). Saya lupa, yang bahasa Jawa ditulis pakai huruf Jawa (honocoroko) atau tidak.

Sebagai contoh, misalnya:

Wasit ( ﻭﺍﺳﻂ )

was was( ﻭﺳﻮﺍﺱ )
Wajah ( ﻭﺟﻪ )
Wajib ( ﻭﺍﺟﺐ )
Wakil (وكيل )
Waktu ( ﻭﻗﺖ )
Wali ( ﻭﺍﻟﻰ )
Warisan ( ﻭﺭﺍﺛﺔ )
Wilayah ( ﻭﻻﻳﺔ )
Wujud ( ﻭﺟﻮﺩ )(lihat artikel Tegar Alfianto Kata-Kata Serapan Dari Bahasa Arab).

Mengaji Kitab Arab Dimaknai dengan Bahasa Jawa di Sunda

Ternyata banyak juga bahasa Jawa yang asalnya dari Bahasa Arab. Di antara penyebabnya adalah para ulama dan kyai yang menyiarkan Islam di Jawa belajarnya di Kota Suci Makkah dan Madinah. Kemudian mereka di Jawa punya murid-murid dari berbagai daerah. Maka menyebarlah ilmu Islam yang disiarkannya dan termasuk pula bahasa pengantar yang diucapkan sehari-harinya.

Sekadar tambahan gambaran, saya pernah bersilaturrahim ke daerah Ciamis Jawa Barat yang bahasanya Sunda. Ternyata seorang ajengan (kyai) yang saya datangi bercerita, tiap sepekan sekali di rumahnya diadakan pengajian kitab fiqh (saya lupa judulnya) dihadiri oleh para pemuka agama dari desa itu dan sekitarnya. Dia katakan, kitabnya itu dibaca dan dimaknainya pakai bahasa Jawa sesuai dengan catatannya waktu dia mesantren di pesisir Uatara Jawa Tengah. (Cara pesantren di Jawa, kyai mengajar ngaji kitab, santri memegang kitab sambil menulisi maknanya perkata di bawah kata-kata Arab yang dibaca Kyai, memaknainya pakai huruf Arab pegon, hurufnya Arab tapi bahasanya Jawa). Misal lafal kursi bahasa Jawanya juga kursi ya tidak usah ditulis lagi.

Dari kenyataan seperti contoh adanya ajengan yang mengajar ngaji kitab Arab pakai makna bahasa Jawa, baru kemudian dijelaskan dengan bahasa Sunda itu, kemungkinan bahasa Arab paling banyak diserap adalah ke dalam Bahasa Jawa.

Oleh karena itu sejatinya buku semacam (Bahasa Arab yang masuk ke dalam Bahasa Jawa) itu penting. Bukan hanya sekadar sebagai pengetahuan latar belakang bahasa, namun insya Allah bermanfaat dalam lapangan dakwah. Karena di Jawa ada kebiasaan yang tidak bagus namun justru telah mendarah daging yaitu:

  1. Otha-athik mathuk, kotak katik gathuk alias cocokologi, mengait-ngaitkan sekenanya.
  2. Jarwo dhosok, pemaknaan per suku kata hingga sering merusak makna lafal aslinya itu sendiri. Masih ditambah lagi belakangan ada yang disebut plesetan.

Othak-athik dan Korban Jarwo Dhosok

Dalam hal othak athik mathuk, kadang orang membawa-bawa perkataan yang dicocok-cocokkan dan diklaim seakan merupakan kebenaran. Entah karena sebagian orang suka mendatangi dukun yang suka mengait-kaitkan aneka hal secara semaunya atas petunjuk syetan, atau karena hal lain, sikap suka mencocok-cocokkan semaunya seakan menjadi gejala yang sering dilakukan orang.

Misalnya, orang memainkan dan menjelaskan tentang tokoh wayang. Dikatakan, tokoh-tokoh ini dari Bahasa Arab, misalnya Petruk dari Bahasa arab fatruk (فاترك) artinya: maka tinggalkan. Lalu Bagong (adiknya Petruk) itu dari Bahasa Arab bagho (بغى ) artinya lacut, melampaui batas.

Dengan modal kotak katik gathuk, mencocok-cocokkan seperti itu, lalu pembicara menguraikan ini itu dengan landasan cocokologi itu tadi. Nah, kejadian semacam ini bisa ditangkal dengan merujuk pada buku yang terpercaya, mengenai bahasa serapan tersebut. Ternyata yang diuraikan secara cocokologi itu tadi tidak ada dalam buku yang terpercaya.

Cocokologi alias kutak katik gathuk memang di Jawa justru bisa subur karena Bahasa Jawa itu sendiri mengandung karakter “suka dikutak-katik”, bahkan punya istilah sendiri namanya jarwo dhosok (tafsir per suku kata).

Jarwo dhosok itu penfsiran per suku kata bermuatan dikait-kaitkan. Hingga justru menjauhka dari makna aslinya, walau kadang danggap untuk mendekatkan makna.

Misal, lafal ngelmu dari bahasa Arab (علم ) yang artinya ilmu, lalu dijarwo dhosokkan menjadi ngel =angel, mu=ketemu, jadi ngelmu/ ilmu artinya angel ketemu, sulit ketemu.

Ketika ada kalimat :

فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا» صحيح مسلم (4/ 2058)

Maka mereka ditanya, lalu mereka berfatwa  tanpa ilmu (tanpa ngelmu), maka mereka sesat dan menyesatkan. (HR Muslim).

Lafal tanpa ngelmu itu jarwo dhosoknya (tanpa angel ketemu, tanpa sulit ketemu). Kalau menuruti jarwo dhosok, maka rusaklah maknanya. “, lalu mereka berfatwa  tanpa ngelmu (tanpa angel ketemu/ tanpa sulit ketemu), maka mereka sesat dan menyesatkan.

Jadi rusak bukan?

Cantoh lain lagi, yang sampai mengakibatkan adanya korban. Misal lafal gedhang (pisang) jarwo dhosoknya adalah: ged (digeged/ digigit alias dimakan) dhang (sawise madhang, setelah makan nasi).

Jarwo dhosok yang aslinya hanya mengait-ngaitkan ini justru dipegangi oleh orang Jawa (dulu) hingga jadi adat yang akan menjadi memalukan bila dilanggar. Itu saya alami langsung. Ketika masih sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama) di Solo Jawa Tengah, saya ajak teman (asalnya dari Jawa Timur) ke rumah di sebuah desa di Jawa Tengah. Lalu dia saya ajak jagong (kondangan) di rumah kerabat yang punya hajat. Ketika disuguhi pasugatan (suguhan)   yang sampai memenuhi sederet meja (berhadap-hadapan 5 orang berhadapan dengan 5 orang), lalu dipersilakan makan suguhan itu. Teman saya langsung meraih gedhang (pisang) dan dimakannya.

Astaghfirullah, semua mata memandangnya dengan tak suka, dianggapnya teman saya itu tidak punya adab tata krama. Masa’ makan gedhang yang seharusnya baru boleh ketika sudah makan nasi, ko’ langsung dilahap sebelum makan nasi. Seakan teman saya itu melakukan pelanggaran besar…

Musibah. Jarwo dhosok-nya itu sendiri (gedhang = digeged sa’wise madhang, — baru boleh– dimakan setelah makan nasi) itulah yang harus dihapus dan dibuang, tapi malah dipegangi sebagai pedoman. Akibatnya, orang yang tidak bersalah dianggap salah besar.

Sayangnya, kini jarwo dhosok yang tidak kepuguhan itu bukannya dihapus tapi justru kadang dijadikan sarana oleh orang-orang tertentu. Misalnya ada budayawan yang sampai memaknai lafal canggih menjadi cangkeme inggah-inggih (mulutnya ya ya).  Apa ga’ rusak kalau gitu.

Jakarta, Ahad 16 Rabi’uts Tsani 1438H, 15 Januari 2017.

(nahimunkar.com)