Bangsa Banyak Bicara (B3)

(Yeni Wahid dkk dan media massa pembela Aliran Sesat Ahmadiyah contoh nyata)

ISTILAH B3 selama ini lebih populer di kalangan pecinta lingkungan sebagai limbah (sampah) beracun.

B3 kependekan dari Bahan Berbahaya dan Beracun, yang disematkan kepada keluarga sampah yang sering disebut limbah. Limbah merupakan bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi dalam berbagai skala (rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya).

Ternyata istilah B3 tidak hanya bisa ditemukan dalam konteks industri tetapi juga dalam konteks sosial. Yaitu, Bangsa Banyak Bicara (B3). Sosok yang layak disemati predikat B3 salah satu di antaranya adalah Yeni Wahid (kelahiran Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 1974). Antara lain ketika ia banyak bicara yang mengarah kepada pembelaan terhadap keberadaan aliran sesat Ahmadiyah.

Sekitar akhir Agustus 2010 lalu, Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan akan membahas soal pembubaran Ahmadiyah (detiknews, Selasa, 31/08/2010 22:16 WIB). Pernyataan itu mendapat reaksi antara lain dari Yeni Wahid. Menurut Yeni, pernyataan Menteri Aagama itu tidak tepat dan sangat salah. Karena, pernyataan itu menurut Yeni, bisa dijadikan pembenar dan alasan bagi kelompok garis keras untuk melakukan kekerasan bagi kelompok Ahmadiyah di lapangan nanti.

Menurut Yeni pula, masalah akidah adalah masalah pemeluk agama dan Tuhannya langsung, sedangkan negara hanya bertugas untuk mengamankan agar tidak terjadi gesekan antar pemeluk keyakinan.

Dari perkataannya itu, perlu kita tanyakan, apakah Yeni tahu persis akidah paham sesat Ahmadiyah? Ternyata tidak.

Menurut Yeni, “…saya juga tidak terlalu tahu akidah mereka seperti apa, tapi bahwa mereka berhak meyakini keyakinan mereka. Dan kita tidak bisa paksakan keyakinan kita pada mereka…” (lihat detiknews edisi Jumat, 17/09/2010 03:54 WIB).

Lha, kalau tahu saja tidak tapi sudah memberikan pembelaan, ini namanya asma alias asal mangap. Tidak sekedar asma, Yeni juga seperti sedang menyebarkan limbah B3 dengan pernyataannya yang seolah-olah humanis. Padahal di balik humanisme yang dijajakan ada bahan berbahaya dan beracun bagi akidah. Dengan kedok pluralisme, humanisme dan kebebasan beragama, ia sedang menyebarkan racun ke tengah-tengah masyarakat yang bodoh. Masyarakat yang tidak bodoh tentu tidak mudah begitu saja bisa diracuni oleh B3 yang diproduksi Yeni Wahid.

Sudah sering dipublikasikan media massa, bahwa pokok-pokok ajaran Ahmadiyah antara lain:

01. Mengimani dan meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad, laki-laki India 1835-1908 yang mengaku menjadi nabi, adalah nabinya.

02. Mengimani dan meyakini bahwa Tadzkirah yang merupakan kumpulan sajak buatan Mirza Ghulam Ahmad itu adalah kitab sucinya. Mereka menganggap bahwa wahyu adalah yang diturunkan kepada Mirza Ghulam Ahmad.

03. Mengimani dan meyakini bahwa kitab Tadzkirah derajatnya sama dengan Alquran.

04. Mengimani dan meyakini bahwa wahyu dan kenabian tidak terputus dengan diutusnya Nabi Muhammad saw. Mereka beranggapan bahwa risalah kenabian terus belanjut sampai hari kiamat.

05. Mengimani dan meyakini bahwa Rabwah dan Qadian di India adalah tempat suci sebagaimana Mekah dan Madinah.

06. Mengimani dan meyakini bahwa surga itu berada di Qadian dan Rabwah. Mereka menganggap bahwa keduanya sebagai tempat turunnya wahyu.

07. Wanita Ahmadiyah haram menikah dengan laki-laki di luar Ahmadiyah, namun laki-laki Ahmadiyah boleh menikah dengan wanita di luar Ahmadiyah.

08. Haram hukumnya shalat bermakmum dengan orang di luar Ahmadiyah.

Artinya, kalau Yeni anak perempua Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bukan warga Ahmadiyah, maka ia dan keluarganya haram menikah dengan warga Ahmadiyah, haram shalat berjamaah dengan warga Ahmadiyah. Jadi, warga Ahmadiyah mengharamkan Yeni (dan keluarganya) namun pada saat bersamaan Yeni (dan keluarganya) membela Ahmadiyah. Bagai sebuah interaksi antara orang pandai dengan pandir.

Sikap Yeni yang membela Ahmadiyah meski ia tidak tahu akidah Ahmadiyah, sama persis dengan sikap Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (bapaknya Yeni) yang semasa hidupnya pernah mengatakan mendukung Ahmadiyah semata-mata karena Ahmadiyah itu kaum minoritas yang perlu dilindungi dan Gus Dur sama sekali tidak peduli mengenai ajaran Ahmadiyah. Pernyataan Gus itu bisa ditemukan pada berbagai media edisi 4 Mei 2008.

Pernyataan Gus Dur (kelahiran Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940) membela Ahmadiyah saat itu (Mei 2008), disampaikan sebelum ia bertolak ke Amerika Serikat untuk menerima penghargaan dari Mebal Valor, sebuah LSM yang berbasis di Los Angeles. Mebal Valor menilai Gus Dur sebagai tokoh yang memiliki keberanian membela kelompok minoritas. Boleh jadi, pernyataan Yeni di atas merupakan salah satu manuver Yeni untuk mendapat penghargaan yang sama sebagaimana pernah diterima Gus Dur.

Selain Gus Dur, Shinta Nuriyah (ibunya Yeni) juga terkenal sebagai salah satu pembela Ahmadiyah yang gigih. Shinta Nuriyah (kelahiran Jombang, 8 Maret 1948) membela Ahmadiyah dengan dalih keyakinan penganut Ahmadiyah yang memposisikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad SAW, merupakan bagian dari kebebasan berkeyakinan dan berekspresi.

Namun alasan itu hanya berlaku ketika Shinta sedang membela Ahmadiyah. Di tempat lain, Shinta justru membela sekelompok orang yang punya uang untuk menekan kebebasan berkeyakinan dan berekspresi. Yaitu, ketika Shinta Nuriyah diminta menjadi ‘narasumber’ oleh pihak Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi (RSMKB) pada 2 Januari 2009, yang kala itu sedang berusaha terus menekan karyawatinya agar mengabaikan jilbab sesuai dengan keyakinan agamanya. Ketika itu, Shinta Nuriyah justru berpihak kepada pengelola rumah sakit yang dalam posisi menekan.

Bila Shinta benar-benar konsisten mendukung kebebasan beragama dan berkeyakinan, seharusnya yang ia bela adalah para karyawati dan tenaga paramedis yang berkeyakinan bahwa menutup aurat menurut pemahaman mereka adalah seperti yang mereka sedang perjuangkan, bukan membela pengelola rumah sakit yang hendak memaksakan pemahamannya secara sepihak.

Ketika itu Shinta justru ‘menjejalkan’ pemahamannya soal menutup aurat. Menurut salah seorang karyawati RSMKB, saat itu Shinta Nuriyah mengatakan bahwa leher, lengan, dan betis bukan termasuk aurat. Bahkan Shinta Nuriyah menyatakan bahwa jilbab bukan ketentuan Islam, melainkan hanya busana Arab yang tidak perlu ditiru. Lebih jauh, Shinta Nuriyah juga mengatakan, ucapan Assalamu’alaikum boleh diganti dengan ucapan ‘selamat pagi’. Pernyataan Shinta ibarat limbah B3.

Bila tiga sosok di atas kelahiran Jombang, ada lagi sosok kelahiran Borneo yang juga tergolong B3. Namanya Fadjroel Rachman, kelahiran Banjarmasin (Kalimantan Selatan), pada tanggal 17 Januari 1964.

Dalam rangka menanggapi pernyataan Menteri Agama soal rencana pembubaran Ahmadiyah di atas, Fadjroel Rachman bereaksi keras: “Ini teror terhadap agama dan keyakinan. Ketika Menag mencampuri Ahmadiyah berarti itu mencampuri iman…” Fadjroel tidak sekedar mengekspresikan ketidak-setujuannya dengan pernyataan Menteri Agama, ia bahkan meminta Menteri Agama mundur dari Kabinet Indonesi Bersatu (KIB) Jilid II.

Bila Fadjroel Rachman dirasakan cocok menjadi bagian dari B3, itu karena ia telah bersikap melampaui batas. Disebut melampaui batas, karena ia sebagaimana juga Yeni Wahid bukan ahli di bidangnya. Ia juga bukan berasal dari kelompok masyarakat yang punya concern terhadap masalah ini. Selama ini Fadjroel dikenal sebagai aktivis Kompak (Koalisi Masyarakat untuk Antikorupsi). Apa hubungan anti korupsi dengan Ahmadiyah?

Begitulah faktanya. Di Indonesia, seseorang bisa mengibarkan bendera apa saja, meski tema perjuangan yang diusung tak sejalan dengan benderanya. Bisa saja seseorang dalam rangka mencari popularitas mengusung bendera cabe rawit, karena saat itu sedang digemari masyarakat. Namun, dalam kesehariannya ia lebih banyak menyuarakan soal Bajaj. Apa relevansi Bajaj dengan cabe rawit? Nggak jelas. Yang penting, Bicara Banyak-banyak (B3) untuk kemudian ditanggapi media massa yang punya karakter sama (B3).

Cobalah ajukan pertanyaan kepada Fadjroel, apakah ia tahu isi perut Ahmadiyah? Jawabannya pasti senada dengan jawaban Yeni Wahid. Meski tidak tahu banyak, tapi ia sudah berani berkomentar bahkan berpihak. Beginilah perwajahan Bangsa Banyak Bicara (B3): yang penting ngomong sebanyak-banyaknya meski tidak relevan, tidak proporsional dan tidak konsisten.

Apakah Fadjroel punya dasar yang kuat dan beralasan untuk membela Ahmadiyah dan meminta seorang menteri mundur dari jabatannya? Pastinya tidak. Ia sekedar berani ngomong. Sedangkan Menteri Agama, ia punya dasar hukum, yaitu SKB tiga menteri serta UU No 1 PNPS/1965. “Membiarkan tidak ada dasar hukumnya, tapi membubarkan ada dasar hukumnya…” Demikian alasan Menteri Agama.

Kalau memang demikian, tentu pak Menteri tidak perlu ragu-ragu membubarkan Ahmadiyah sampai ke akar-akarnya, supaya kekerasan demi kekerasan tidak terjadi lagi, sebab hanya akan merugikan banyak pihak. Rasanya, pak Menteri sama sekali tidak akan pernah takut dengan suara limbah B3 yang nyaring bagai tong kosong yang ditabuh bertalu-talu. (haji/tede)

(nahimunkar.com)