Bangsa Yang Kalah

Ada yang menarik di final piala AFF Suzuki 2010 di Stadion Gelora Bung Karno. Bukan permainan antara Tim Nasional Garuda Indonesia dengan tim Malaysia. Tetapi menyaksikan ekspresi wajah Presiden SBY. Nampak wajah Presiden SBY yang di ‘close up’ oleh kamera telivisi, begitu tegang, gelisah, dan menahan emosi. Tidak dapat tertawa.

Tim Indonesia kalah melawan Malaysia. Di hadapan puluhan ribu suporters yang memadati Gelora Bung Karno. Jutaan lainnya yang menyaksikan melalui siaran langsung telivisi. Di rumah-rumah mereka. Tak kurang do’a para kiai dan ulama. Para pemimpin partai politik. Para pejabat dan menteri. Para pejabat di daerah-daerah. Mereka yang tidak dapat melihat langsung di Gelora Bung Karno, membikin acara ‘nobar’ (nonton bareng) dengan menggunakan telivisi layar lebar.

Tak kurang-kurang Presiden SBY dan Ibu Ani, sangat mementingkan pergi ke tempat pertandingan, dan ikut langsung memberikan dukungan. Tetap saja Indonesia kalah. Melawan tim sepak nasional dari negeri jiran Malaysia. Sepak bola Indonesia yang diharapkan dapat memberikan kegembiraan itu, tak mampu mengalahkan Malaysia.

Sayang seribu sayang. Energi yang begitu besar dari bangsa ini, hanya digunakan untuk menggunakan sebuah tim sepakbola. Seluruh elemen bangsa yang begitu besar dan sangat luar biasa hanya digunakan untuk bereforia dengan bola.

Seharusnya Presiden SBY menggunakan seluruh elemen dan kekuatan bangsa ini diarahkan, dan memimpin langsung untuk melawan musuh bersama bernama: korupsi dan koruptor, yang sudah menjadi aqidah di Indonesia. Presiden SBY seharusnya sedih, marah, dan gelisah, ketika para koruptor sudah berubah menjadi ‘habit’ para pejabat di negeri. Koruptor sudah berhasil mengalahkan para pejabat penegak hukum. Polisi, jaksa, dan hakim dikalahkan para koruptor. Sekarang bukan hanya polisi, jaksa hakim, yang terkena wabah korupsi, bahkan lembaga yang dianggap sakral yang dipimpin seorang tokoh yang ‘alim’, seperti Mahfud MD, sudah terkena wabah ‘korupsi’. Tidak ada lagi di negeri ini yang kalis dari korupsi.

Sayang seribu sayang, Presiden SBY hanya sedih saat melihat Tim Nasional Indonesia kalah melawan Malaysia. Begitu pentingnya bola?

Presiden SBY seharusnya sedih, marah, dan gelisah, di mana negeri yang memiliki kekayaan yang begitu melimpah ini sudah dikuasai asing. Indonesia telah kalah melawan kepentingan asing. Indonesia telah di ‘take over’ oleh asing secara diam-diam. Bangsa ini hanya menjadi ‘kuli’ di negerinya sendiri. Sumber daya alam yang begitu melimpah itu, tak membawa berkah bagi penduduknya, tetapi justru menjadi malapetaka. Seperti terjadinya bencana yang berulang-ulang. Tak lain, karena alam Indonesia, hutannya sudah dibabat habis. Rakyat hanya menerima bagian dalam bentuk : musibah. Sudah lebih 60 tahun merdeka, nasib rakyat tak berubah, tetap saja mayoritas miskin.

Sayang seribu sayang, Presiden SBY hanya sedih saat melihat Tim Nasional Indonesia kalah melawan Malahysia. Begitu pentingya bola?

Presiden SBY, seharusnya sedih, marah, dan gelisah, di mana moral bangsa ini sudah runtuh. Kemungkaran, dan kehidupan jahiliyah, merasuk ke dalam jiwa kehidupan bangsa Indonesia. Bangsa ini telah kehilangan watak (karakter) dan jatidirinya. Bangsa Indonesia telah dikalahkan oleh budaya asing. Budahya materialisme yang meluluh-lantakkan bangsa Indonesia. Budaya materialisme yang ditransfer melalui media di Indonesia telah benar-benar merubah watak, jati diri, dan sifat-sifat mulia, dan sekarang budaya yang hidup budaya hedonis. Mirip binatang. Mirip kehidupan di abad pertengahan. Tak ada lagi kemuliaan yang dimilikinya. Karena itu, ketika terjadi berbagai penyimpangan dan kerusakan dalam kehidupan di masyarakat, tak ada lagi, yang memiliki kepedulian. Semua larut dalam dimensi budaya Barat.

Presiden seharusnya menggunakan seluruh elemen bangsa ini, mengembalikan jati diri bangsa, mengembalikan kemuliaan yang pernah ada, dan mengajak rakyat menghentikan kehidupan yang tanpa moral. Bangas akan menjadi hilang,kalau sudah tidak memiliki lagi nilai-nilai moral. Keberadaannya tidak memiliki apapun. Sama seperti binatang. Makan, senang-senang, dan sex. Inilah yang saat ini terjadi. Bangsa ini telah dikalahkan dengan ideologi baru yang sekarang merambah dengan begitu cepat, masuk ke relung-relung kehidupan bangsa.

Sejatinya Presiden untuk berkuasa dengan kekuasaan yang dimilikinya,jika rakyat yang dipimpinnya sudah tidak lagi bernilai. Kumpulan manusia yang banyak, tetapi tidak lagi memiliki nilai kemanusiaan, yang memiliki kemuliaan? Kesesatan, kemungkaran, penyimpangan, dan berbagai bentuk perbuatan atau tindakan yang sudah sangat menyimpang, sekarang ini, seharunsya menjadi fokus perhatian Presiden.

Sayang seribu sayang, Presiden SBY hanya sedih saat melihat Tim Nasional Indonesia kalah melawan Malaysia. Begitu tingginya nilai sepak bola?

Presiden SBY seharusnya sedih, marah, dan gelisah, di mana hari-hari ini semakin banyak orang yang semakin miskin. Presiden SBY seharusnya marah kepada para pembantunya, yang tidak mampu menyejahterakan rakyat. Membuat kebijakan yang terus menghimpit rakyat. Bagaimana Presiden SBY bisa tidur dengan nyenyak, sementara itu harga beras terus naik. Harga cabe saja sekarang sudah Rp 80,- ribu rupiah/kg. Kebutuhan pokok untuk rakyat terus naik. Sementara itu, tingkat pendapatan rakyat tidak pernah berubah, bahkan menurun, diakibatkan oleh inflasi yang tinggi.

Kenaikan demi kenaikan tak henti. Pemerintah akan mengurangi subsidi BBM, dan dengan cara mengurangi penjualan premium. Semuanya itu akhirnya yang akan memikul dan menanggung kenaikan itu tak lain, rakyat. Kapan para pejabat di negeri dapat membuat rakyatya dapat bergembira dan tertawa?

PDB (Produk Domestik Bruto) naik, berlipat-lipat, tetapi siapa yang semakin kaya, di negeri ini? Tak banyak, hanya 40 orang yang kaya di negeri ini. Dan kebanyakan mereka adalah para mata ‘sipit’, yang memiliki kekayaan puluhan miliar dolar. Rakyat tetap miskin. Hanya menjadi kuli. Menerima beban berbaik kenaikan.

Seharusnya Presiden SBY mengarahkan seluruh elemen bangsa ini, seperti ketika mendukung Tim Nasional Indonesia menghadapi Malaysia. Seluruh elemen bangsa termasuk mereka yang ‘kaya’ yang memiliki modal besar, diarahkan untuk menciptakan keadilan ekonomi. Jangan membiarkan kesenjangan yang semakin melebar, dan terus menyisihkan orang-orang miskin. Sungguh sangat sedih. Bapak Presiden.

Seharusnya Presiden SBY mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya para pejabat untuk mulai hidup dengan hemat. Tidak berfoya-foya dengan menggunakan anggaran negara. Betapa banyak dana negara yang digunakan untuk membiaya ‘plesiran’ para pejabat negara yang dilegitimasi dengan aturan. Berapa banyak uang negara yang digunakan untuk ‘Studi Banding’ oleh para anggota DPR/DPRD?

Bandingkan berapa banyak dana negara yang digunakan untuk membantu para kaum papa, miskin, yatim, piatu, dan mereka yang sekarang terkena musibah.Seperti gunung merapi, banjir, tsunami, kecelakaan, dan lainnya. Pasti masih lebih banyak yang digunakan para pejabat.

Seharusnya Presiden SBY sebagai pemimpin bangsa Indonesia, yang sekarang terkena krisis, mengajak para pejabat negeri ini meningkatkan ‘senses of crisis’ mereka, tidak lagi berfoya-foya, menjelang tahun baru Masehi.

Berapa banyak para pejabat dari tingkat pusat sampai daerah, yang akan berlibur di tempat liburan, di hotel-hotel, pulau-pulau terpencil, di luar negeri, yang pasti akan menghabiskan uang yang banyak. Semuanya pasti akan dikeluarkan dari uang negara.
Sungguh sangat ironis bangsa ini. Ketika di angkot (angkutan kota) penulis mendengarkan seorang pedagang sayur keliling, yang berkeluh kesah, dan tidak pernah lagi bisa mendapatkan keuntungan yang lebih sekarang ini. “Bagaimana Pak bisa menjualkan dagangan saya untuk laku. Semuanya mahal. Cabe saja harganya sekarang di toko pasar sudah Rp 80,- ribu rupiah/kg. Saya membawa satu on saja, sudah susah menjualnya”, ucapnya.

Tetapi, para pejabat negara dengan enteng pergi berlibur di tempat-tempat mewah, bersama keluarganya, atau mungkin para ‘gundiknya’, menikmati akhir tahun. Sementara itu, rakyat jelata yang miskin, hidup di pinggir jalan, meminta-minta sambil menahan lilitan perutnya yang sakit, karena lapar.

Bangsa ini sudah kalah. Bukan hanya dikalahkan oleh Malaysia. Tetapi bangsa ini sudah kalah melawan dirinya sendiri. Melawan nafsunya. Sehingga akal dan hati-nuraninya menjadi tumpul.Wallahu’alam.

eramuslim, editorial, Kamis, 30/12/2010 10:54 WIB

(nahimunkar.com)