Bank Century Ibarat Bus Tak Laik Jalan

Kalau pemerintah objektif, seharusnya sosok seperti Siti Chalimah Fadjrijah lah yang layak dijadikan Gubernur BI, bukan sosok seperti Boediono, Miranda, dan lain-lainnya yang lebih berpihak kepada bankir nakal. Watak mereka jauh lebih buruk dari Yahudi.

Parahnya lagi, justru Boediono dijadikan tandem SBY (sebagai wakil presiden), dan menang dengan meraup sekitar 60% suara pada pilpres tempo hari. Untuk mengetahui watak asli seseorang, bisa dilihat dari: kepada siapa hatinya cenderung berteman atau berpasangan.

Ternyata, George Soros yang selama ini dikesankan sebagai sosok neolib, masih kalah bila dibandingkan dengan sosok Boediono, Miranda dan Sri Mulyani. Karena, Soros saja menganggap bailout terhadap Century tidak perlu, tetapi ketiga neolib Indonesia ini menganggap perlu dan harus demi menyelamatkan industri perbankan.

***

Insinyur Sipud, Koordinator Nasional Forum Nasabah Korban Bank Century –yang hingga kini tidak bisa memperoleh kembali dananya– pada rapat Pansus Century di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (10 Februari 2010), mengibaratkan Bank Century sebagai sebuah bus yang tidak layak jalan, namun tetap dibiarkan beroperasi oleh Bank Indonesia dan otoritas moneter terkait. Ketika bus masuk jurang, karena memang kondisinya tidak laik jalan, yang ditolong justru busnya. Bahkan dijadikan bancakan. Sementara itu, nasabah yang menjadi korban justru disalah-salahkan.

Rapat Pansus Century kala itu menjadi ajang konfrontasi antara manajemen Bank Mutiara, LPS, dan nasabah Bank Century. Ketika itu, Ir. Sipud ditemani oleh Sri Gayatri, Edo Rachman, dan beberapa wakil korban Century lainnya.

Sejak mula pertama diberi kesempatan bicara, Sipud sudah mencaci-maki Sri Mulyani dan Boediono yang dinilai harus bertanggung jawab atas kasus Century. Bahkan, Sipud mengaku pernah mengadu ke Bank Indonesia (BI), dan bertemu dengan Gubernur BI saat itu Boediono. Dia meminta BI bertanggungjawab karena telah mengizinkan Bank Century menjual produk ilegal reksadana bernama Antaboga. Menurut Sipud, penjualan produk ilegal itu tak akan terjadi tanpa peran BI. Namun saat itu, Boediono hanya mengatakan, nanti akan diperbaiki.

Sejauh ini, menurut penuturan Sipud di hadapan Pansus Century, para nasabah korban Century telah memperjuangkan hak-haknya, termasuk menempuh jalur hukum yang dimenangkan nasabah korban Century. Namun, pihak Management Bank Mutiara (setelah bailout, Bank Century menjadi Bank Mutiara), LPS, Bank Indonesia, dan Departemen Keuangan lepas tangan, tidak cenderung menyelamatkan nasabah yang dirugikan.

Menurut Maryono (Direktur Utama Bank Mutiara), Sipud dan kawan-kawan adalah nasbah Reksadana Antaboga yang tidak tercatat sebagai nasabah Bank Century, sehingga di dalam neraca tidak tercantum.

Pernyataan Maryono kemudian disanggah Gayatri, “…jangan sembarang ngomong, saya bukan penipu, bapaklah yang menipu kami.” Gayatri tak sekedar marah-marah, tetapi juga menyerahkan bukti buku nasabah Century ke pimpinan pansus, Gayus Lumbuun. Di hadapan anggota pansus, Gayatri juga mempertanyakan dokumen asli depositonya yang ditahan manajemen bank. Akibat tak memiliki dokumen asli, ia tidak bisa mencairkan depositonya. Menurut pengakuan Gayatri, ia memiliki simpanan di Century sebesar Rp 2,8 miliar sedangkan keluarga besarnya sebesar Rp 67 miliar.

Menurut Gayatri, sebelum bank diambil alih, ia masih tetap mendapatkan bunga deposito dan membayar pajaknya sebanyak 20 persen. Sri Gayatri merupakan salah satu deposan terbesar Bank Century, bahkan menjadi icon perjuangan nasabah Bank Century. Dalam memperjuangkan hak-haknya, Gayatri sering tampil dengan gaya dan sikap yang ‘teaterikal’ dan menarik perhatian.

Tidak hanya bergaya, Gayatri pada kesempatan itu (10 Feb 2010) mengatakan akan membelikan Presiden SBY pesawat terbang apabila uang miliknya dikembalikan. “Kalau uang kita dibayar, nanti Presiden tidak usah berpolemik soal pesawat. Nanti, uang masing-masing nasabah dipotong 10 persen. Itu cukup belikan Presiden pesawat pribadi. Gayatri yang jamin. Pokoknya, Presiden tidak usah ribut-ribut soal pesawat. Biar nasabah Century yang belikan pesawat…”

Pansus Century pada kesempatan itu mendesak Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan manajemen Bank Century untuk mengembalikan uang milik nasabah Century korban penipuan reksadana Antaboga. Sikap pansus tersebut sesuai dengan permintaan para korban Century. Menurut Gayatri, nasabah sama sekali tidak kenal Robert Tantular, dan yang mereka kenal hanya Bank Century. “Kita tahu Bank Century diambil alih oleh pemerintah. Maka pemerintah harus bertanggung jawab, bukan tidak bertanggung jawab.” Tegas Gayatri.

Dalam rangka memperjuangkan dana miliknya cair, Gayatri mengaku pernah menemui Menteri Keuangan Sri Mulyani. Namun, ia hanya ditemui pejabat dari Biro Humas dan Biro Hukum. Salah satu yang mendorong Gayatri memperjuangkan dana nasabah adalah karena faktor kemanusiaan. Salah seorang temannya meninggal lantaran tidak sanggup berobat karena tabungan di Bank Century sebesar Rp 450 juta hilang.

Menurut Fahri Hamzah dari PKS, Bank Mutiara (nama baru Bank Century) harus mempertanggungjawabkan hak nasabah Century. Karena, nasabah menyetorkan dananya di loket Bank Century. Apalagi menurut UU LPS (Undang-undang Lembaga Penjamin Simpanan) dikatakan bahwa terhitung setelah LPS mengambil alih sebuah Bank sebagai bank gagal, LPS harus bertanggung jawab. “Kalau orang nipu pakai loket bank ya nggak bener dong. Bikin clear-lah, bereskanlah ini, ini masalah kecil kok,” tegas Fahri.

Selama ini sudah pernah terjadi forum mediasi antara nasabah dengan manajemen Bank Century (Bank Mutiara). Bahkan sudah disampaikan kemungkinan uang nasabah diganti. Namun, realisasinya itu hingga kini belum terwujud.

Menurut Sipud, pak Maryono (Dirut Bank Mutiara yang pernah menjadi anggota Dewan Direksi Bank Century) pernah mengatakan, “…Bank Century ingin mengganti tetapi gantinya pakai apa…” Sedangkan pak Erwin Prasetyo (salah satu direksi Century) juga pernah mengatakan, “… manajemen tidak bisa mengembalikan tanpa perintah atasan Pak.” Demikian penjelasan Sipud kepada pansus.

Sipud dan kawan-kawan juga pernah menmui LPS. Kesimpulannya, LPS tidak bisa berbuat apa-apa tanpa perintah atasan. Firdaus Djaelani dari LPS pernah mengatakan kepada Sipud, “… kami tidak bisa bayar begitu saja. Tapi harus nunggu perintah atasan kami Menkeu…”

Bail-out Tidak Perlu

Menurut George Soros, kucuran dana talangan atau bailout untuk Bank Century, sesungguhnya tidak perlu dilakukan. Pernyataan itu disampaikan Soros kepada wartawan usai menemui Wakil Presiden Boediono, yang diduga bertangung jawab terhadap pengucuran dana sebesar Rp 6,7 trilyun.

Pertemuan Soros-Boediono berlangsung pada hari Selasa, tanggal 10 Februari 2010, dalam rangka menelaah kinerja Yayasan TIFA, salah satu mitra Soros di Indonesia dalam menjalankan program terciptanya masyarakat terbuka. Sehingga, ia sama sekali tidak menyinggung soal bailout Century di hadapan Boediono.

Nada tidak setuju bailout jauh sebelumnya sudah dinyatakan oleh Siti Chalimah Fadjrijah yang saat itu, 2008, menjabat sebagai Deputi Gubernur BI Bidang Pengawasan.

Hal itu terungkap setelah diputarnya rekaman hasil rapat pembahasan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek pada 13 November 2008 di Bank Indonesia (BI) oleh pansus Century tanggal 4 Februari 2010 lalu.

Dari hasil rapat itu terungkap perdebatan serius antara Siti Chalimah Fadjrijah dengan Miranda Swaray Goeltom (Deputi Gubernur Senior BI). Bahkan, Fadjrijah terdengar sewot dan menahan tangis. Terungkap dalam rekaman itu bahwa Fadjrijah seperti menghendaki agar jika ada bank gagal dibiarkan saja. Namun, Miranda menekankan pentingnya penyelamatan industri perbankan.

Selama ini publik menduga pengawasan BI demikian lemah. Namun dari fakta di atas, publik dapat lebih tahu bahwa pengawasan BI dapat berubah akibat ‘tekanan’ atasan.

Kalau pemerintah objektif, seharusnya sosok seperti Siti Chalimah Fadjrijah lah yang layak dijadikan Gubernur BI, bukan sosok seperti Boediono, Miranda, dan lain-lainnya yang lebih berpihak kepada bankir nakal. Watak mereka jauh lebih buruk dari Yahudi.

Parahnya lagi, justru Boediono dijadikan tandem SBY (sebagai wakil presiden), dan menang dengan meraup sekitar 60% suara pada pilpres tempo hari. Untuk mengetahui watak asli seseorang, bisa dilihat dari kepada siapa hatinya cenderung berteman atau berpasangan.

Ternyata, George Soros yang selama ini dikesankan sebagai sosok neolib, masih kalah bila dibandingkan dengan sosok Boediono, Miranda dan Sri Mulyani. Karena, Soros saja menganggap bailout terhadap Century tidak perlu, tetapi ketiga neolib Indonesia ini menganggap perlu dan harus demi menyelamatkan industri perbankan.

Di bidang ekonomi, masyarakat kita sudah sedemikian liberal. Begitu juga di bidang kebebasan seks dan narkoba. Masih lagi mau diliberalkan agamanya oleh Ulil dan kawan-kawan dari JIL (Jaringan Islam Liberal).

Akibat diterapkannya paham ekonomi liberal, dampak negatifnya sudah bisa dirasakan tidak hanya oleh para korban nasabah Bank Century, tetapi oleh rakyat kebanyakan. Lha, kalau akidahnya mau turut diliberalkan juga, dampak negatif apa lagi yang akan dirasakan rakyat Indonesia? (haji/tede)