Sekolahan hancur. Foto TEMPO Interaktif. Kanan: Mujahidah FPI laporkan Nadine ke Polda Metro Jaya atas keikut-sertaannya di ajang Miss Universe 2006. Ia dituduh melanggar pasal 281 KUHP tentang kesusilaan. (foto dari google). (ilustrasi)

***

Di tengah kesulitan warga menyekolahkan anak-anak mereka di bangku sekolah dan banyak sekolah roboh karena tak ada dana, tapi ironisnya, banyak orang tak menjadikan hal ini sebagai kepekaan bersama.

Keluhan ini disampaikan Ketua Hotline Pendidikan Jawa Timur (Jatim), Isa Ansori menanggapi berita kehadiran Miss Universe 2011 Leila Lopes dalam kunjungan resmi selama 10 hari di Indonesia sejak Senin (3/10/2011).

“Akal sehat saya tidak bisa menerima ini, “ ujarnya dalam pesan singkatnya kepada redaksi hidayatullah.com, Selasa, (04/10/2011).

Kedatangan Miss Universe 2011 Leila Lopes sempat menjadi kontroversi di publik setelah ditengarai membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Seperti dikutip berbagai media,  untuk menghadirkan Miss Universe 2011 Leila Lopes ke berbagai Kota, setidaknya pihak-pihak tertentu harus merogoh kocek kurang atau lebih dari Rp 100 juta per jam.

Bagi pemerhati pendidikan asal Surabaya ini, peristiwa ini sungguh ironi. Apalagi, banyak pihak selama ini diminta untuk membangun pendidikan karakter dan menumbuhkan semangat kearifan budaya lokal.

“Di tengah bangsa Indonesia diminta menumbuhkan pendidikan karakter dan menumbuhkan kearifan lokal, bisa-bisanya menghabiskan uang banyak untuk mendatangkan Miss Universe,” tulisnya.

“Apakah kehadirannya begitu penting untuk pendidikan anak bangsa?”

Ia tak lupa meminta komponen masyarakat belajar peka diri. Banyak anak tak bisa sekokah akibat biaya pendidikan yang begitu mahal dan sekolah-sekolah rusak berat. Apalagi, baru saja Menteri Pendidikan Nasional Dr. Mohammad Nuh, melalui Kemendiknas sedang berusaha mengkampanyekan rehabilitasi gedung sekolah rusak yang jumlahnya 153. 026 unit di seluruh Indonesia.

Sementara itu Direktur Event Organizer (EO) Esa Communication, Dadan Hendaya, yang mendatangkan Miss Universe ke Bandung membenarkan bahwa tarif Miss Universe Rp 100 juta per jam. Bahkan, pengeluaran pihak pengundang dipastikan lebih besar, karena juga meliputi konsumsi hingga akomodasi sang tamu.

“Namun, saya rasa hal itu setimpal dengan hasilnya,” kata Dadan dikutip laman Surya (04/10/2011).

Menurut Dadan, tarif Rp 100 juta per jam tersebut sudah aturan dari Yayasan Putri Indonesia selaku pihak yang mengagendakan kedatangan Miss Universe.Megi.*

Rep: Panji Islam

Red: Cholis Akbar,  Selasa, 04 Oktober 2011

Hidayatullah.com—

***

Masalah hukum

Pada 19 Juli 2006, Nadine dilaporkan oleh Mujahidah (anggota FPI) ke Polda Metro Jaya atas keikut-sertaannya di ajang Miss Universe 2006. Ia dituduh melanggar pasal 281 KUHP tentang kesusilaan. Kuasa hukum Mujahidah FPI, Sugito SH tak hanya melaporkan dia saja tetapi juga orang-orang yang terlibat dalam acara itu. Sugito juga menyatakan, pemberangkatan Nadine ke ajang Miss Universe telah melanggar surat keputusan Mendikbud RI nomor 02/U/1984 tentang pengadaan kontes pemilihan ratu dan sejenisnya. “Dalam surat itu jelas disebutkan, bahwa acara pemilihan ratu bertentangan dengan nilai agama dan sosial. Dan surat ini masih berlaku,” jelas Sugito.

Selain hal itu Sugito juga menganggap pengirman Nadine telah melanggar pasal 281 tentang pelanggaran kesusilaan dan 169 KUHP tentang perkumpulan untuk maksud jahat. Selain Nadine beberapa nama orang-orang yang juga dilaporkan adalah Mooryati Soedibyo, Wardiman Djojonegoro, Mega Angkasa, Kusuma Dewi, dan Putri Indonesia 2004 Artika Sari Devi. nuramid.bgdtk

(nahimunkar.com)