Beberapa Kekeliruan Aqidah Syi’ah

 

 

A. Syirik Terhadap Allah

 

Disebut oleh Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini dalam kitab Ushul Kafi, (khususnya pada bab yang berjudul Bumi seluruhnya adalah milik Imam): Dari Abi Abdullah as berpesan; sesungguhnya dunia dan akhirat adalah kepunyaan Imam, diberikannya kepada yang dikehendakinya dan ditolaknya bagi yang tak diingininya. Ini kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepada Imam. [1] Kitab Ushul Kafi. hal. 259 oleh Kulaini. cet. India.

 

Jelas sekali bagi kita kaum Muslimin untuk mengambil kesimpulan bahwa ajaran mereka tidak benar. Allah SWT mengatakan dalam al-Quran, surat al-A’raf:

إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya bumi adalah kepunyaan Allah, diwariskan kepada orang yang dikehendaki-Nya”. (QS Al-A’raf: 128)

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ

Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah?(Al-Baqarah: 107).

فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَى(25)

“Bagi Allah kesemuanya, akhirat dan dunia,” (an-Najm:  25).

 

لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Dialah yang memiliki langit dan bumi”. (al-Hadid: 2).

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(1)

“Maha Suci Allah yang di tangan-Nya semua kekuasaan, dan Dia berkuasa atas segalanya”. (al-Mulk: 1).

 

Kitab-kitab Syiah menulis, bahwa Ali mengatakan, “Sayalah yang pertama dan sayalah yang terakhir, saya yang dhahir dan saya yang batin serta sayalah pewaris bumi .” [2] Kitab Rijal Kashi, hal. 138

 

Kepercayaan seperti ini jelas salah. Ali bin Abi Thalib tidak pernah mengatakan demikian. Ini jelas dibuat-buat oleh orang Syiah. Ali bin Abi Thalib akan mengatakan apa yang dikatakan Allah SWT. datam al-Quran:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ

 “Dialah yang Pertama dan Terakhir, Yang Dhahir dan yang Bathin”. (al-Hadid: 3).

 

وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah yang mewariskan langit dan bumi”. (al-Hadid: 10).

 

Menuruf tafsiran ulama Syiah yang terkenal, Maqbul Ahmad dalam penafsiran ayat surat az-Zumar:  ayat 69:

وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ(69)

Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan.

 

Jakfar as-Shadiq mengatakan: Yang punya bumi adalah Imam, maka apabila Imam keluar kepadamu cukuplah akan menjadi cahaya (nur). Manusia tidak akan memerlukan matahari dan bulan. [3] Tarjumah Maqbul Ahmad. (bahasa Urdu) hal. 339. Diterjemahkan secara harfiyah

 

Cobalah bayangkan ajaran Syiah yang mengatakan Imam sebagai Tuhan dan makna kalimat:

بِنُورِ رَبِّهَا

yang bermaknakan bahwa Imam adalah Tuhan yang memiliki bumi.

 

Demikian pula pemutarbalikkan mereka tentang tafsiran ayat az-Zumar dalam al-Quran:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ(65)

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ(66)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.  (QS Az-Zumar: 65).

Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.  (QS Az-Zumar: 66).

 

Diriwayatkan dari Jakfar ash-Shadiq dalam kitab Kafi bahwa pengertian syirik, adalah syirik terhadap kekuasaan Ali. Siapa yang syirik kepada Ali akan hapus segala amalannya.

 

Disebutkan dalam menafsirkan:

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ(66)

Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.  (QS Az-Zumar: 66).

 

Sembahlah Nabi dengan taat dan berterima kasihlah kepada saudara dan anak pamanmu itu yang telah menguatkan segala ototmu. [4]  Tarjumah Maqbul Ahmad. hal. 932.

 

 

Perhatikanlah, bagaimana orang-orang Syiah mengada-adakan sesuatu tentang Jakfar as-Shadiq dalam menafsirkan ayat-ayat Tauhid yang seharusnya memperhambakan diri kepada Allah semata, diputarbalikkan menjadi pemahaman yang syirik terhadap Allah.

 

Lihatlah bagaimana mereka menafsirkan firman Allah dalam al-Qur’an:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(56)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS Adz-Dzariyat: 56).

Jakfar ash-Shadiq menafsirkan dari Husein ra, bahwa dijadikan Jin dan Manusia untuk dikenal dan apabila mereka telah kenal dan tahu, itulah ibadat. Waktu ditanyakan apa maksud “kenal”? Dijawab: agar setiap manusia mengenal Imam di zamannya.” [5] Tarjumah Maqbul Ahmad. hal. 1043.

 

Disebut oleh Kulaini dalam kitab Ushul Kafi, bahwa Imam Muhammad al-Baqir pernah menyampaikan: Kamilah wajah Allah, kamilah mata Allah di alam makhluk-Nya. Dan kami tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi hamba-Nya. [6] Ushul Kafi, hal. 83.

 

Dalam kesempatan lain dikatakan: Kamilah lidah Tuhan, kamilah muka Tuhan dan kamilah mata dari Tuhan di alam ini. [7] Ushul Kafi, hal. 84

 

Dari  Abdillah as, Jakfar ash-Shadiq mengatakan bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib pernah menyebut bahwa dia adalah wakil Allah yang menentukan surga dan neraka. Dia mendapatkan sesuatu yang tidak pernah didapat oleh orang sebelumnya, tahu yang baik dan yang tidak baik, tahu bangsa dan keturunan, dan memahami segala sesuatu dengan terperinci baik yang terdahulu maupun yang gaib. [8] Ushul Kafi, hal. 117.

 

Demikianlah mereka, kaum Syiah, menetapkan sifat ketuhanan (uluhiyah) bagi Ali.

 

Maqbul Ahmad, ahli tafsir Syiah menafsirkan ayat:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

 Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. (QS Al-Qashash: 88).

Jakfar as-Shadiq mengatakan: Kamilah wajhullah. Mereka menetapkan Imam sebagai sesuatu yang kekal. Maha Suci Allah, dari segenap penafsiran mereka.

 

Kulaini menyebutkan bahwa: Para Imam mengetahui yang telah berlalu dan yang akan terjadi, Imam tahu segala yang gaib. Diriwayatkan dari Abi Abdillah Jakfar as-Shadiq bahwa dia mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi, mengetahui apa yang di surga dan apa yang di neraka, mengetahui apa yang telah lalu dan apa yang akan terjadi. [9] Ushul Kafi, hal. 160.

 

Demikian pula disebut dalam kitab Ushul Kafi; mereka menghalalkan apa yang mereka ingini dan mengharamkan sesuatu menurut kemauannya. Keinginan Para Imam adalah keinginan Allah. [10] Ushul Kafi. hal. 278.

 

Padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ

“Wahai Nabi, kenapa engkau menghararnkan apa yang telah dihalalkanoleh Allah kepadamu?” )At-Tahrim: 1).

 

Kalau kepada Nabi Muhammad saw, Allah menegur mengapa Nabi mengharamkan yang halal, bagaimana kalau perbuatan itu diperbuat oleh orang yang bukan Nabi.

 

Kulaini juga mengatakan: Para Imam tahu kapan akan datang ajalnya, dan mereka mati atas kehendak Imam sendiri. Abi Abdillah Jakfar mengatakan, apabila Imam tidak tahu apa yang akan menimpanya dan ke mana dia akan pergi, tidaklah berhak menjadi Imam.” [11] Ushul Kafi, hal. 158.

 

Allah subhanahu wa ta’ala.berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah (Muhammad). Tidak ada yang mengetahui langit dan bumi serta yang gaib kecuali Allah”.  (QS An-Naml: 65)

 

Dalam ayat lain dikatakan:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

“Allah-lah yang memiliki kunci-kunci yang gaib, tidak seorang pun yang tahu kecuali Allah SWT”.  (QS Al-An‘aam: 59).

 

Orang Syiah mempersyarikatkan Imam-imam mereka mengetahui yang gaib bersama Allah. Disebutkan pula oleh Kulaini bahwa, apa yang disembunyikan kepada Imam akan diketahuinya semua apabila kita tanyakan. [12] Kitab Ushul Kafi. hal. 193.

 

Selanjutnya dikatakan dalam kitab Ushul Kafi, buku pegangan Syiah yang ditulis oleh Muhammad bin Ya’kub Kulaini bahwa Para Imam mengetahui segala ilmu yang diketahui oleh Para Malaikat, Nabi-nabi dan Rasul-rasul. Abi Abdillah Jakfar as-Shidiq mengatakan bahwa Allah mempunyai dua macam ilmu: Ilmu yang diajarkan kepada para Malaikat, Nabi dan Rasul yang kesemuanya sudah kami ketahui. Dan ilmu yang akan dimulai oleh Allah (bada-a) terlebih dahulu diajarkannya kepada Para Imam Syiah.

 

Demikianlah mereka mendakwakan lebih tahu dari para Malaikat, Nabi dan Rasul. Dan mengetahui apa yang diketahui oleh Allah SWT. Sungguh satu kebohongan besar serta satu kekufuran.

 

Kitab Ushul Kafi dan lainnya berupa buku pegangan Syiah penuh dengan ungkapan-ungkapan dan cerita seperti di atas, kami di sini hanya menyebut beberapa contoh belaka atas kebohongan akidah Syiah.

 

Dalam bahasa Urdu banyak sekali nyanyian yang kesemuanya menunjukkan kesyirikan ajaran Syiah dan pemujaan yang berlebihan terhadap para Imam mereka. Bahkan disebutkan bahwa para Nabi dan Rasul di saat menghadapi kesusahan meminta bantuan dan pertolongan kepada Ali bin Abi Thalib, Nabi Nuh di waktu topan meminta bantuan kepada Ali, Nabi Ibrahim, Luth, Hud dan Syits kesernuanya pernah meminta tolong kepada Ali dan Ali membantu mereka. Ali mempunyai mukjizat yang luar biasa dan sanggup melakukan apa saja.

 

Apakah orang yang mempunyai kepercayaan seperti ini masih pantas kita sebut sebagai orang Muslim? Allah SWT. berfirman:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ(62)

“Allah-lah yang menjadikan segala sesuatu, dan Dia pula yang Berkuasa”.  (QS Az-Zumar: 62).

 

Dan firman Allah:

وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“Tidak ada satu pun yang bersyarikat dalam kekuasaan Tuhan”.  (QS Al-Kahfi: 26).

 

Firman Allah:

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

“Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Hidup dan Berdiri, tidak pernah mengantuk ataupun tidur. Kepunyaan-Nya-lah segala apa yang di langit dan di bumi.” (Qs Al-Baqarah: 255).

 

Firman Allah:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ(65)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.  (QS Az-Zumar: 65).

Firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni orang yang musyrik dan akan memberi ampunan kepada selain dari musyrik daripada orang yang Dia ingini”. (QS An-Nisaa’: 48).

 

Firman Allah:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

“Siapa yang musyrik kepada Allah, tidak akan mendapat (dihararnkan) surga dan mereka akan menemui api neraka”. (QS Al-Maaidah: 72).

 

Firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ(5)

“Tidak satu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di langit maupun di bumi”.  (QS Ali ‘Imran: 5).

 

Inilah ayat-ayat yang secara tegas-tegas menyatakan bahwa sesungguhnya Allah sendiri yang menjadikan segala sesuatu. Dialah yang mengatur langit dan bumi, Dialah Yang Berkuasa serta Mengetahui segala sesuatu.

 

Orang-orang Syiah menetapkan sifat-sifat Tuhan bagi Imam-imam mereka, apakah ini tidak dinamakan syirik? Sungguh suatu syirik besar dan orang-orang yang mempercayai paham Syiah ini adalah musyrik yang nyata.

 

Judul: Beberapa Kekeliruan Aqidah Syi’ah

Penulis: MUHAMMAD ABDUL SATTAR AL-TUNSAWY

Alih Bahasa: A. Radzafatzi

Penerbit: PT Bina Ilmu, Jl. Tunjungan 53-E, Surabaya

Tahun: 1985 (4-11-1403 H).

 

[1] Kitab Ushul Kafi. hal. 259 oleh Kulaini. cet. India.

[2] Kitab Rijal Kashi, hal. 138

[3] Tarjumah Maqbul Ahmad. (bahasa Urdu) hal. 339. Diterjemahkan secara harfiyah.

[4] Tarjumah Maqbul Ahmad. hal. 932.

[5] Tarjumah Maqbul Ahmad. hal. 1043.

[6] Ushul Kafi, hal. 83.

[7] Ushul Kafi, hal. 84

[8] Ushul Kafi, hal. 117.

[9] Ushul Kafi, hal. 160.

[10] Ushul Kafi. hal. 278.

[11] Ushul Kafi, hal. 158.

[12] Kitab Ushul Kafi. hal. 193.