Beda Komentar Pidato Kenegaraan Masa Lalu dan Sekarang

Pidato kenegaraan sekitar HUT RI (Hari Ulang Tahun Kemerdekaan) masa lalu terutama masa Presdien Soeharto sering menjadi momen pintar-pintaran untuk berkomentar. Begitu Presiden turun dari mimbar, tokoh-tokoh yang pintar-pintar berkomentar biasanya dikerubungi wartawan. Muncullah komentar-komentar yang cantik-cantik dan canggih-canggih yang kurang lebihnya berisi pujian. Di antara yang pintar bicara dan komentarnya cantik dan canggih, tahu-tahu nantinya bisa duduk jadi menteri.

Tersenyumlah Bapak-bapak yang merasa dengan tulisan ini. Hitung-hitung mengenang kesuksesan masa lalu….

Beda lagi di zaman Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Ada pengamat yang tadinya wartawan senior yang sudah habis-habisan memuji Gus Dur namun tidak mendapatkan apa-apa…

Maaf Pak Pengamat, ini sekadar perbandingan saja… hidup ini kan ada sejarahnya, jadi kalau sejarah hidup ada yang menulis ya tidak apa-apa kan?

Kini cara-cara memuji pidato kenegaraan (demi mendapatkan jabatan) itu tampaknya sudah kurang njamani (kurang musim) lagi. Kurang ngetrend, mungkin. Bahkan sebaliknya, terhadap pidato kenegaraan, orang berkomentar ada yang sesengit-sengitnya… Malahan entah sopan entah tidak, orang mau menyemprotkan komentar ya disemprotkan saja. Bahkan wartawan yang menulis ya tulis saja.

Sekadar untuk bukti, ini ada buktinya:

Presiden SBY Tidak Mau Akui Kegagalannya

Senin, 16 Agustus 2010 18:02 WIB

JAKARTA–MI: Pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di hadapan seluruh anggota DPR dan DPD pada Senin (16/8) dimaknai Koordinator Petisi 28 tidak mengakui kegagalan-kegagalan pemerintahannya.

Haris memaknai Presiden SBY sudah memasuki tahap narsis sehingga tidak mau mengakui kelemahan-kelemahannya.

“Saya melihatnya ini bukan strategi SBY lagi. Ini sudah menyangkut psikologi SBY yang hanya senang melihat hal-hal positif dari dirinya tanpa melihat hal-hal negatif,” ungkap Haris melalui sambungam telepon, Senin (16/8) siang.

“Mungkin tepat juga bila kita katakan SBY narsis,” tegas Haris. Menurutnya, Presiden SBY jelas mengabaikan beberapa hal yang seharusnya menjadi perhatian utama pemerintahannya.

Hal pertama adalah ketidakmampuan pemerintah mengatasi kekacauan dan benturan antar institusinya sendiri. Hal itu menurutnya terlihat dari pernah terjadinya konflik antara Polri dan Komisi Pemberantasan Koruspi.

“Juga masalah ancaman kebebasan beragama, naiknya tarif dasar listrik, ledakan LPG 3kg, naiknya harga sembilan bahan pokok,” paparnya.

“Namun yang terpenting, harusnya dibahas mengenai tindak lanjut kasus Century dan upaya mengkriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi,” tambahnya.

Disimpulkan Haris, pidato kenegaraan Presiden SBY bersifat 5-N, yakni Ngambang, Ngawang, Ngarang, Ngawur, dan Ngebohongin.

“Presiden SBY telah mengidap penyakit buta mata, telinga tuli, dan hati yang bebal. Pidato yang tidak jujur terhadap kekacauan kenegaraan dan ancaman perpecahan bangsa, akibat reformasi demokrasi liberal ekstrim,” tegasnya juga. (Mar/X-11)

http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2010/08/16/162562/3/1/Presiden_SBY_Tidak_Mau_Akui_Kegagalannya

(nahimunkar.com)