Beda Menteri Agama Malaysia dan Menag RI dalam Menyikapi Pesantren Al-Zaytun

“Di salah satu surat kabar, Menteri Agama menyatakan, Pesantren Al Zaytun tidak sesat dengan bukti dirinya disambut nyanyian dan musik. Pernyataan Menteri Agama itu menurut kami sangat gegabah,” tegas Ketua FUUI (Forum Ulama Ummat Islam) M. Athian Ali Da’i kepada wartawan dalam jumpa pers di Masjid Al-Fajr, Jln. Situsari Cijagra, Buahbatu, Bandung, Kamis (12/5 2011).

“Kementerian Agama Malaysia saja sudah mencium adanya gerakan dari NII di negara mereka. Bahkan, mereka memerintahkan orangtua dari 111 anak yang disekolahkan di Pesantren Al Zaytun untuk ditarik kembali,” ujarnya.

Menurutnya, apabila ada anak-anak yang disekolahkan di sana, maka mereka tidak akan diakui oleh pemerintah Malaysia. “Menteri Agama Malaysia saja langsung melakukan langkah untuk mengantisipasi masalah tersebut. Tapi Menteri Agama di Indonesia malah mengatakan pesantren itu tidak sesat,” ungkapnya.

Sebab itu, Athian bersama FUUI berharap, Menag menarik kembali pernyataannya yang dinilai mengundang kontroversi tersebut. “Kita sesama orang Islam harus menasihati, karena itu saya menasihati Menteri Agama tentang pernyataan yang dilontarkannya,” katanya.

Ketua FUUI M. Athian Ali mengatakan, pernyataan Menag itu bertentangan dengan pihak Mabes Polri, pesantren di Indonesia, MUI, dan Kementerian Agama Malaysia, yang menyebutkan Pondok Pesantren Al Zaytun sesat.

Protes terhadap kunjungan Menag ke pesantren Al-Zaytun bahkan cipika cipiki (cium pipi kanan dan cium pipi kiri) dengan Panji Gumilang pemimpin pesasntren itu dan pemimpin aliran sesat NII KW 9 banyak menuai kecaman dari para tokoh di Indonesia. Sampai-sampai ada media, di antaranya hidayatullah.com menulis:

Mungkinkah rombongan Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali termasuk bagian korban ‘politik kemunafikan’ Panji Gumilang sebagaimana disebut nii-crisis-center.com?

***

Berita-berita mengenai kunjungan Menag ke Al-Zaytun dan reaksi tokoh masyarakat, sebagai berikut.

Terkait Pernyataannya Saat Berkunjung ke Pontren Al Zaytun

FUUI Menilai Menteri Agama Gegabah!

SITUSARI,(GM)-
Pernyataan Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali yang menyatakan, Pondok Pesantren (Pontren) Al Zaytun tidak sesat, membuat Forum Ulama Umat Islam (FUUI) angkat bicara.

Pernyataan Menag saat berkunjung ke Al Zaytun tersebut, dinilai gegabah dan mengganggu upaya pihak yang hendak membongkar kelompok Negara Islam Indonesia (NII) Komandemen Wilayah (KW) 9, yang diduga dipimpin Panji Gumilang, pimpinan pontren tersebut.

Ketua FUUI M. Athian Ali mengatakan, pernyataan Menag bertentangan dengan pihak Mabes Polri, pesantren di Indonesia, MUI, dan Kementerian Agama Malaysia, yang menyebutkan Pontren Al Zaytun sesat.

“Di salah satu surat kabar Menteri Agama menyatakan, Pesantren Al Zaytun tidak sesat dengan bukti dirinya disambut nyanyian dan musik. Pernyataan Menteri itu menurut kami sangat gegabah,” tegasnya kepada wartawan dalam jumpa pers di Masjid Al-Fajr, Jln. Situsari Cijagra, Buahbatu, Bandung, Kamis (12/5).

Athian bahkan balik bertanya, bagaimana dengan pihak-pihak yang sudah melakukan investigasi selama bertahun-tahun terhadap pesantren tersebut. Sementara Menag membuat pernyataan tersebut dengan hanya melakukan kunjungan beberapa saat saja.

“Kementerian Agama Malaysia saja sudah mencium adanya gerakan dari NII di negara mereka. Bahkan, mereka memerintahkan orangtua dari 111 anak yang disekolahkan di Pesantren Al Zaytun untuk ditarik kembali,” ujarnya.

Menurutnya, apabila ada anak-anak yang disekolahkan di sana, maka mereka tidak akan diakui oleh pemerintah Malaysia. “Menteri Agama Malaysia saja langsung melakukan langkah untuk mengantisipasi masalah tersebut. Tapi Menteri Agama di Indonesia malah mengatakan pesantren itu tidak sesat,” ungkapnya.

Sebab itu, Athian bersama FUUI berharap, Menag menarik kembali pernyataannya yang dinilai mengundang kontroversi tersebut. “Kita sesama orang Islam harus menasihati, karena itu saya menasihati Menteri Agama tentang pernyataan yang dilontarkannya,” katanya.

Athian mengakui, FUUI memiliki saksi yaitu mantan guru di Pontren Al Zaytun, yang juga menjabat sebagai mantan bupati teritorial di NII KW 9. Dikatakannya, semua guru yang berada di pontren itu menjabat sebagai bupati teritorial.

“Menurut saksi itu, anak yang masih di tingkat 1 sampai 3 belum mendapatkan doktrin tentang ajaran mereka. Setelah di tingkat 4, baru anak itu mendapatkan ajaran-ajaran sesat mereka,” tuturnya.

Selain itu, tambah Athian, para pengajar atau guru tersebut dapat serapi mungkin menyembunyikan data-data dan berkas-berkas kurikulum ajaran mereka ketika ada tamu yang mengunjungi pesantren. “Karena mereka sangat rapi, maka kelompok ini sangat sulit disentuh oleh pihak yang ingin membongkarnya,” katanya.

Ada di Mabes Polri

Hingga kemarin belum ada tanda-tanda Mabes Polri bergerak memeriksa orang-orang terkait NII KW 9. Padahal MUI telah merilis rekomendasi, terkait keberadaan Pontren Al Zaytun dan perlunya penggantian Panji Gumilang.

“Kini, kunci penyelesaian NII KW 9 tinggal di Mabes Polri,” ujar Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B. Nahrawardaya terkait isu NII KW 9.

Mustofa menuturkan, dari kacamata ideologi keagamaan, MUI memiliki pendapatnya berdasarkan penelitian mereka. Namun dari segi hukum maupun potensi radikalisme dan legalitas aliran dananya, tentu bukan ranah MUI untuk menentukan.

“Mabes Polrilah yang kini memegang peranan. Dengan kata lain, kunci penanganan isu NII kini tinggal di Mabes Polri. Semakin cepat Mabes Polri bekerja, semakin banyak manfaat yang diperoleh masyarakat,” ujar Mustofa.

Di antaranya pertama kejelasan apakah NII yang selama ini didengung-dengungkan pihak-pihak tertentu benar-benar ada dan berpusat di Pontren Al Zaytun. Kedua kejelasan Pontren Al Zaytun melakukan pengerahan “pasukan khusus” untuk pencari dana ilegal, untuk membangun pembangunan fisik pesantren yang megah itu. Ketiga, kejelasan kaitan isu perekrutan di kampus-kampus dengan Pontren Al Zaytun. Keempat, kejelasan hubungan Pontren Al Zaytun dengan gerakan-gerakan radikalisme selama ini.

Mustofa menuturkan, Mabes Polri memiliki wewenang memeriksa dan menyidik dan menyelidiki Pontren Al Zaytun. Selain Mabes Polri, tidak ada lagi. Karena untuk bisa masuk ke sana, tentu polisilah yang memiliki kewenangan.

“Korban kabarnya sudah banyak ditemukan oleh NII Crisis Centre. Lembaga penerima korban NII tersebut, bahkan sudah nyata-nyata menuduh Al Zaytun sebagai sarang NII KW 9 berdasar korban yang ditangani maupun hasil penelitian berbagai LSM, meski secara teknis masih dangkal,” kata pengurus Majelis Pustaka & Informasi PP Muhammadiyah ini.

Jika semua unsur masyarakat sudah melakukan pelaporan secara terbuka dan bahkan telah melaporkannya secara hukum kepada pihak berwajib, maka kini mereka tidak lagi memiliki kewenangan lebih jauh lagi.

“Polisi akan dengan mudah menemukan fakta di sana, sejauh mana kaitan ribuan murid di dalam pesantren dengan kabar-kabar miring perekrutan NII di luar pesantren. Apakah ribuan santri tersebut murni belajar agama atau mereka itu hasil rekrutan seperti yang selama ini diberitakan banyak media,” bebernya.

Terhadap rekomendasi MUI untuk mengganti Panji Gumilang, menurut Mustofa, belum tentu pilihan terbaik. Sebab, kebesaran Pontren Al Zaytun bisa saja karena sentuhan Panji Gumilang. Mustofa mengkhawatirkan nasib anak-anak yang bersekolah di sana.

Golkar selidiki

Nama anggota DPRD Chairunnisa yang berasal dari Partai Golkar disebut mantan petinggi NII KW 9, Imam Supriyanto, merupakan putri Panji Gumilang. Untuk memastikan apakah Chairunnisa ada keterkaitan dengan NII KW 9, Golkar masih terus menyelidiki. “Kita sekarang masih melakukan evaluasi,” ujar Bendahara Umum Partai Golkar Setya Novanto.

Menurut Setya, hingga saat ini Golkar masih terus melakukan pemeriksaan pada kadernya itu. Apa hasilnya, Setya belum bisa mengutarakannya saat ini. “Kita ada prosedur dan ada protap di partai dan DPP, kalau terbukti akan kita lakukan evaluasi,” katanya.

Setya belum bisa memastikan apakah akan ada pemecatan jika nantinya Chairunnisa terbukti terlibat dalam kelompok kejahatan yang mengatasnamakan doktrin agama tersebut. “Dalam waktu dekat dan tidak lama ini bisa diselesaikan secara baik,” elak Setya.

Setya pun memastikan Golkar sangat concern dengan masalah ini. Menurutnya, segala bentuk kegiatan yang merusak tatanan negara harus ditindak tegas.

“Intinya tentang masalah NII itu kalau memang melanggar tatanan NKRI dan hukum kita minta segera diberantas melalui penegak hukum. Selain itu kita juga harus melakukan pendidikan dan tindakan upaya pencerahan-pencerahan ke arah yang lebih baik,” katanya.

Eks petinggi NII KW 9, Imam Supriyanto, mengungkap pergerakan politik terbaru bos NII KW 9, Panji Gumilang. Panji disebut-sebut akan membawa suara Pontren Al Zaytun, Indramayu ke Partai Demokrat. Hal ini dilakukan dengan menjadikan putra Panji Gumilang sebagai kader Demokrat.

“Yang saya dengar di Al Zaytun, putra Pak Panji, Imam Prawoto akan disodorkan ke Partai Demokrat,” ujar Imam kepada wartawan di gedung DPR Senayan, Jakarta, Kamis (5/5) lalu.

Imam juga menuturkan, belakangan ini Panji Gumilang memang kecewa dengan Golkar. Utamanya menyangkut sikap Golkar yang menjauhi Al Zaytun. “Meskipun salah seorang anaknya Chairunnisa juga anggota DPRD dari Golkar,” tuturnya. (adit/detik.com)**

Sumber: galamedia.com, Jumat, 13 Mei 2011

Berkunjung, Menag Memuji Kemewahan Al Zaitun

(Nii)

Mungkinkah rombongan Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali termasuk bagian korban ‘politik kemunafikan’ Panji Gumilang sebagaimana disebut nii-crisis-center.com?

***

Kamis, 12 Mei 2011

Hidayatullah.com—Hari Rabu (11/5), Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengunjungi Ponpes Al Zaitun di Indramayu, Jabar,. Kedatangan rombongan Menag ini untuk mengecek kebenaran apakah pesantren pimpinan Panji Gumilang itu ada kaitannya dengan NII KW 9 dengan gerakan cuci otaknya yang telah menjadi perbincangan publik.

Kedatangannya di ponpes tersebut disambut ribuan santri yang mengibarkan bendera kecil Merah Putih. Saat tiba di ruang penerimaan tamu, Suryadharma disambut pimpinan Ponpes Al Zaytun AS Panji Gumilang dengan iringan musik rebana dan gamelan.  Ia juga  disambut dengan lagu Bangun Pemuda Pemudi.

Nampaknya, Menag  tercengang dengan kemegahan dan kemewahan Ponpes Al Zaitun. Menurut Menag, dari berbagai tempat pendidikan yang pernah dikunjungi, menurut Suryadharma, Al Zaitun adalah yang terbaik.

“Bagaikan kota di tengah hutan,” begitu kesan Menteri Agama.

“Saya beri apresiasi pada Syekh Panji Gumilang. Kalau saya katakan bagus, lebih dari bagus. Kalau mewah, melebihi mewah. Kalau lengkap, melebihi lengkap. Al Zaitun adalah kebanggaan,” ujar Suryadharma dikutip detik.com, Rabu, (11/5).

Hal itu disampaikannya saat memberi pembekalan pendidikan pada santriwan-santriwati Ma`had Al Zaitun di Gantar, Mekarjaya, Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (11/5).

Menag berpendapat, Al Zaitun sukses memadukan pendidikan dan kenyataan hidup atau realitas sesungguhnya. Hal ini menjadi bekal berharga saat anak-anak kembali ke masyarakat.

“Di Al Zaitun, dari aspek ekonomi ada produksi yang mengolah hasil produksi, menjual hingga menjadi end user,” imbuh Suryadharma.

Dengan pendidikan yang telah diberikan kepada para siswa, di mata politisi PPP itu, Al Zaitun memberi harapan untuk melahirkan pemimpin di panggung lokal maupun nasional.

Padahal sebelumnya, Menag mengatakan, gerakan NII KW 9 yang mengarah disintegarasi bangsa harus disikapi. Ketua Umum PPP ini juga berpendapat,  gerakan ini ingin memecah belah bangsa.

Situs nii-crisis-center.com, laman yang memuat kisah dan korban-korban kasus NII mengungkapkan  tentang ‘politik kemunafikan’ di Pondok Pesantrean Al Zaitun.

Menurutnya, apa yang terjadi antara penyataan biasanya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Antara di depan dengan dibelakang tidak sejalan, antara mulut dan hati tidak sama dan kontrandiksi – kontradiksi itu terus dijaga dan dipelihara demi kepentingan – kepentingan diri dan kelompoknya tetap aman.

“Panji Gumilang yang menjalankan politik kemunafikan secara rapi, namun politik kemunafikan yang dijalankannya sudah cepat tercium gelagatnya (karena jejak– jejak hitamnya dan memang Allah juga telah menempatkan orang – orangnya sebagai saksi dan pembukti ) baik ketika dia masih di teritorial maupun saat terkini di Al Zaitun, “ tulisnya. Mungkinkah rombongan Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali termasuk bagian korban ‘politik kemunafikan’ Panji Gumilang sebagaimana disebut nii-crisis-center.com? Waktu yang akan menjawabnya.*

Sumber : dtn/okz/pkt

Rep: CR-3

Red: Cholis Akbar

Hidayatullah.com

KOMENTAR

Arief Husni Majid , Kamis, 12 Mei 2011

Masya Allah!.. seorang mentri Agama saja dalam tempo sesingkat-singkatnya langsung otaknya tercuci!.. dahsyat Panji!!.. apalagi orang awam!!.. smg sepulang dari az-Zaitun pa Mentri baca Qur`an “waminan naasi man yu`jibuka qouluhu fil hayatid dunya”… dan akhirnya siuman dari hipnotis/tipudayanya seh Panji… Ingat!! orang MUNAFIQ itu biasa bikin smua Ta`jub!.. Kita berlindung kepada Allah dari tipu-daya seh Panji berikutnya? (Na`udzubillah!)..

Hidayatullah.com, Kamis, 12 Mei 2011

(nahimunkar.com)