Biadab, Israel Serang Kapal Bantuan Kemanusiaan ke Gaza

Pasukan Israel secara brutal menyerang armada kapal bantuan kemanusiaan bagi penduduk Palestina di Gaza, Senin (31/5), telah menewaskan 19 dan melukai 50-an relawan kemanusiaan yang ada di kapal itu.

Penyerangan terjadi di perairan internasional, 65 kilometer lepas pantai Gaza.

Situs kantor Berita Al Jazeera melaporkan pasukan Israel meluncur menggunakan tali dari helikopter dan mulai menembaki penumpang di geladak dengan peluru tajam.

Detikcom memberitakan, kabar terakhir menyebutkan sudah 19 orang tewas dalam serangan Israel ke kapal Mavi Marmara. Sementara 12 WNI di kapal tersebut tidak bisa dihubungi. Sedangkan pemerintah Israel mengklaim cuma 9 orang saja yang tewas.
Sementara itu kantor berita Antara memberitakan, sebanyak 12 WNI dikabarkan ikut menjadi relawan di kapal tersebut dan hingga kini belum diketahui nasibnya.

Ke-12 orang tersebut adalah empat relawan Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA), empat relawan Medical Emergency Recue Committe (MER-C), seorang wartawan TVOne dan tiga relawan dari Sahabat Al Aqsha-Hidayatullah

Berdasarkan informasi dari masing-masing lembaga itu, dari MER-C adalah Nurfitri Taher (Upi) yang merupakan “project officer MER-C”, tenaga medis dr Arief Rachman, tenaga mekanik Nur Ikhwan Abadi, tenaga nonmedis Abdillah Onim yang akan ikut mendirikan rumah sakit di Gaza, serta wartawan TVOne Muhammad Yasin.

Empat relawan KISPA yang ikut dalam Kapal Mavi Marmara adalah Ketua KISPA H Ferry Nur SSi, Wakil Ketua Muhendri Muchtar, Humas Hardjito Warno, serta relawan KISPA Okvianto Baharuddin.

Sedangkan tiga relawan dari Sahabat Al Aqsha-Hidayatullah adalah Surya Fahrizal (jurnalis www.hidayatullah.com), Santi Soekanto, dan suami Santi Wisnu Dzikrullah Pramudya.

Inilah berita-berita serangan brutal Israel terhadap kapal kemanusiaan yang menimbulkan reaksi keras dari mana-mana:

Selasa, 01/06/2010 07:01 WIB

Israel Serang Kapal Kemanusiaan

Momentum bagi Negara Muslim Bersatu Dukung Perjuangan Palestina

Mega Putra Ratya – detikNews

Jakarta – Korban jiwa berjatuhan dalam penyerangan pasukan Israel terhadap kapal-kapal kemanusiaan internasional yang bertujuan ke Gaza. Berbagai pihak pun mengecam tindakan brutal tersebut. Ini adalah sebuah momentum bagi negara Islam untuk bersatu mendukung perjuangan rakyat Palestina.

“Semestinya ini jadi suatu momentum bagi negara muslim untuk bersatu mendukung perjuangan Palestina. Bagaimana pun di dunia ini masih ada bangsa yang terzalimi dan itu sudah berlangsung cukup lama,” kata pengamat politik Timur Tengah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hamdan Basyar kepada detikcom, Selasa (1/6/2010).

Namun Hamdan pesimistis aksi keji tersebut dapat menjadi momentum persatuan umat Islam. Sebab saat ini negara-negara muslim lebih mementingkan kepentingan nasionalnya tanpa ada tindakan konkret dalam membantu menyelesaikan masalah ini.

“Saya pesimis ini jadi momen persatuan umat Islam. Beberapa negara muslim sulit bersatu karena kepentingan nasional lebih menonjol, kalau mengecam semua mengecam, tapi tindakan nyatanya tidak ada,” paparnya.

Hamdan mengatakan masyarakat dunia tidak hanya melakukan kecaman terhadap serangan Israel tersebut. Masyarakat dunia sebaiknya mendorong masalah ini ke Mahkamah Internasional.

“Lembaga formal seperti PBB sudah mandul untuk menekan Israel yang selalu bandel. Semestinya dunia tidak hanya mengecam tapi membawa masalah ini ke Mahkamah Internasional,” jelas Hamdan.

Kabar terakhir menyebutkan sudah 19 orang tewas dalam serangan Israel ke kapal Mavi Marmara. Sementara 12 WNI di kapal tersebut tidak bisa dihubungi. Sedangkan pemerintah Israel mengklaim cuma 9 orang saja yang tewas.

Sebelumnya Ketua Presidum Mer-C Jose Rizal Jurnalis mengatakan 1 WNI meninggal dunia dan 3 lainnya luka-luka. Jose mengatakan, informasi tersebut dia peroleh dari media Al Alam, Iran. Jose belum bisa memastikan identitas korban meninggal dan luka-luka tersebut.

12 WNI yang berada di kapal Mavi Marmara terdiri dari wakil tiga lembaga swadaya masyarakat KISPA, MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), dan Sahabat Al-Aqsa. Dari 12 orang itu, juga ada lima wartawan, yaitu Aljazeera Indonesia, TVOne, Hidayatullah.com, Majalah Alia, dan Sahabat Al Aqsha.
(mpr/anw)

http://www.detiknews.com/read/2010/06/01/070123/1367123/10/momentum-bagi-negara-muslim-bersatu-dukung-perjuangan-palestina?991101605

Kecaman dari pejabat di Indonesia:

Menkumham Kecam Aksi Bar-bar Tentara Israel

Santi Andriani

31/05/2010 – 16:01

INILAH.COM, Jakarta – Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Patrialis Akbar mengecam aksi penyerangan tentara Israel ke kapal aktivis perdamaian di Palestina. Penumpang diantaranya adalah aktivis asal warga negara Indonesia (WNI).

“Israel itu biadab, penjajah, Israel itu melanggar HAM. Karena banyak sekali orang mati dengan tanpa proses yang jelas,” cetus Patrialis di kantornya di Kemenkumham, Jakarta, Senin(31/5).

Aksi biadab Israel menurut Patrialis, sangat tidak sesuai dengan asas perikemanusiaan. Karenanya, lanjut Patrialis, tidak mengherankan jika pemerintah sangat tidak mendukung Israel.

“Maka Indonesia menentang habis kebijakan Israel. Dari dulu kita menentang, dari dulu sampai sekarang. Kita tidak menyetujui kebijakan Israel yang anti kemanusiaan,” ujar Patrilias.

Patrialis menambahkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah Israel atas aksi penyerangan yang dilakukan terhadap WNI yang turut dalam kapal perdamaian itu. [bar]

http://inilah.com/news/read/politik/2010/05/31/568221/menkumham-kecam-aksi-bar-bar-tentara-israel/

Para relawan Ditahan Israel:

Aktivis Kemanusiaan Diserang

Israel Masih Tahan Ratusan Aktivis Kemanusiaan

Tribunnews.com – Selasa, 1 Juni 2010 05:49 WIB

TRIBUNNEWS.COM- Enam dari delapan kapal Freedom Flotilla, termasuk Mavi Marmara, telah berlabuh di Pelabuhan Ashdod yang dikuasai Israel.

Status kapal-kapal tersebut seluruhnya berada dalam kontrol tentara Israel sejak mereka menyerang konvoi Freedom Flotilla menjelang subuh Senin dini hari kemarin.

Pemerintah Israel menahan dan memenjarakan para aktivis yang ikut dalam rombongan misi kemanusiaan tersebut jika mereka tidak mau dideportasi ke negara asalnya. Sedikitnya 600 orang aktivis berada di atas kapal yang ditahan Israel tersebut.

Televisi Al-Jazeera menyiarkan hingga malam ini belum jelas, apakah para aktivis yang memilih untuk pulang akan langsung dibawa ke bandara udara di Tel Aviv malam ini juga (waktu setempat) atau menunggu Selasa (1/6) ini.

Sebagian aktivis yang telah ditahan ini dipindahkan ke beberapa tahanan yang telah mereka sediakan di Bi’r As Sabi’ di Ashdod. Israel mengambil langkah ini karena para aktivis menolak untuk dideportasi ke negara asal. (hid)

Editor : widodo

Kapal Israel menggiring dan menahan konvoi Freedom Flotilla yang ditumpangi aktivis kemanusiaan dan membawa bantuan 20.000 ton untuk Gaza. Kapal kapal tersebut kini ditahan di pelabuhan Ashdod yang dikuasai Israel.

http://www.tribunnews.com/2010/06/01/israel-masih-menahan-ratusan-aktivis-kemanusiaan

Inilah nasib bantuan kemanusiaan yang dihalangi Israel yang tidak punya rasa kemanusiaan:

Aktivis Kemanusiaan Diserang

Misi Kemanusiaan Itu Kandas

Tribunnews.com – Selasa, 1 Juni 2010 07:45 WIB

TRIBUNNEWS.COM – Perjalanan armada kapal kebebasan dari Siprus menuju Jalur Gaza ternyata kandas di tengah jalan. Israel tidak kompromi, bahkan menggunakan kekerasan untuk mencegah konvoi kapal kebebasan itu mencapai pelabuhan Jalur Gaza.

Armada kapal kebebasan terbesar itu sudah dipersiapkan lama, sejak akhir tahun 2009. Anggota parlemen Inggris pro-Palestina, George Ghalawi, pada Desember 2009 mengungkapkan, kelompok loyalis Palestina mancanegara mempersiapkan konvoi perjalanan terbesar menuju Jalur Gaza melawan blokade Israel yang melanggar hukum internasional.

Ghalawi sendiri pernah menggalang konvoi 250 kendaraan yang disebut ”konvoi penyambung hidup 3” untuk menembus blokade Jalur Gaza pada Desember 2009. Konvoi pimpinan Ghalawi itu sempat bermasalah dengan Pemerintah Mesir karena Mesir tidak setuju dengan rute konvoi itu yang akan melalui Pelabuhan Aqaba di Jordania, kemudian masuk ke gurun Sinai Selatan, lalu menuju Jalur Gaza. Mesir saat itu meminta konvoi itu masuk lewat pelabuhan kota Al Arish di Sinai Utara, lalu ke Jalur Gaza. Ghalawi saat itu menyetujui permintaan Mesir.

Ada empat misi melawan blokade Jalur Gaza melalui laut sejak wilayah berpenduduk 1,5 juta jiwa itu dikenai blokade total, menyusul Hamas mengambil alih kekuasaan secara penuh pada bulan Juni 2007.

Misi pertama yang dilakukan pada masa pemerintah PM Israel Ehud Olmert sukses memasuki Jalur Gaza. Namun, pemerintah PM Benjamin Netanyahu yang didukung kubu garis keras kini tidak mau kompromi dengan misi serupa berikutnya.

Adapun konvoi kapal kebebasan itu memang dirancang menembus Jalur Gaza melalui laut. Pemerintah Turki dan lembaga-lembaga kemanusiaan di berbagai negara Eropa mendukung pembentukan konvoi kapal kebebasan itu.

Dalam persiapan yang memakan waktu sekitar 6 bulan itu akhirnya terbentuk misi melawan blokade Jalur Gaza dengan nama ”armada kapal kebebasan” yang didukung berbagai lembaga kemanusiaan dari mancanegara.

Anggota inti dari armada kapal kebebasan itu, di antaranya Koalisi Gerakan Pembebasan Gaza (FG); gerakan kampanye Eropa untuk mengakhiri blokade Gaza (ECESG) yang berbasis di Brussel, Belgia; Insani Yardim Vakfi Turki (IHH); organisasi kapal perdamaian Perdana Global Yunani; Gerakan Kapal Menuju Gaza Swedia, Komite Internasional bagi Pencabutan Blokade atas Gaza yang berbasis di Swiss; dan beberapa lembaga kemanusiaan dari Kuwait dan Aljazair.

Belakangan ada MER-C dari Indonesia yang ikut bergabung dengan armada kebebasan itu. Delegasi Kuwait membawa dana bantuan sebanyak 1,1 juta dollar AS untuk misi armada kapal kebebasan itu.

Armada kapal kebebasan itu mulai berlayar menuju Jalur Gaza pada hari Jumat (28/5). Armada kapal tersebut bertolak dari kota Antolia, Turki, dan Yunani. Perjalanan armada kapal kebebasan itu sempat terhenti selama dua hari di lepas pantai Siprus karena masalah teknis.

Armada kapal kebebasan itu sedianya dicanangkan terdiri dari delapan kapal, yaitu kapal kargo yang didanai Kuwait, kapal kargo yang didanai Aljazair, kapal kargo yang didanai Swedia dan Yunani, kapal kargo yang didanai Irlandia, serta empat kapal penumpang yang membawa sekitar 700 aktivis dari 40 negara.

Anggota parlemen ikut

Namun, dua kapal yang disewa dari Irlandia mengalami kerusakan sehingga tidak bisa datang. Akhirnya konvoi kapal kebebasan itu terdiri dari enam kapal. Dari kapal-kapal yang berangkat itu adalah kapal Mavi Marmara berbendera Turki yang terbesar dan mengangkut sekitar 600 aktivis.

Adapun kapal-kapal kargo itu membawa lebih dari 10 ton bahan medis, bahan bangunan, serta kayu dan rumah jadi untuk membantu penduduk yang kehilangan rumah akibat invasi Israel ke Jalur Gaza, 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009.

Para aktivis yang ikut serta dalam konvoi kapal kebebasan itu adalah 44 anggota parlemen dan tokoh politik dari Eropa dan Arab, di antaranya anggota parlemen dari Aljazair dan Kuwait.

Ada pula Wakil Ketua Gerakan Islam di Israel Sheikh Raid Salah yang diberitakan mengalami luka-luka, 16 delegasi Kuwait, dan diberitakan ada juga 12 WNI.

Menurut berita yang dikutip situs internet berbagai media dari Indonesia, ke-12 WNI itu terdiri dari tiga lembaga swadaya masyarakat, yakni Kispa, MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), dan Sahabat Al-Aqsha. Bergabung pula dalam rombongan itu lima wartawan Indonesia dari Al Jazeera Indonesia, TV One, Hidayatullah.com, majalah Alia, dan Sahabat Al-Aqsha. (mth/Kompas cetak)

Editor : iwan_ogan/ tribunnews.com