Bila Indonesia Raya Didangdutkan

Sedang Al-Qur’an Ditadzkirahkan

Kalau ada seorang penyanyi yang membawakan lagu Indonesia Raya, lagu kebangsaan kita, dalam versi dangdut, syairnya pun diputar balikkan, kemudian penyanyinya memperkaya penampilannya di pangggung dengan goyang ngebor ala Inul Daratista, apa yang terjadi?

Penonton yang tidak mengerti etika dan kaidah memperlakukan sebuah lagu kebangsaan, pasti akan tertawa geli karena ini merupakan sesuatu yang lucu dan menghibur. Kemungkinan lain, ada yang menilai ini merupakan sebuah terobosan yang melawan kejumudan, sebuah kreativitas berkesenian yang tinggi dan perlu diapresiasi.

Tapi bagaimana dengan sang pencipta lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman bila mendengar lagu ciptaannya dibawakan dalam langgam dangdut plus ngebor, masih pula syairnya diputar balikkan? Kemungkinan ia akan jengkel, marah, dan melaporkan pelakunya kepada aparat kepolisian.

Aparat kepolisian sendiri, sebagai alat negara, yang seharusnya menjaga simbol-simbol negara, tentu akan dengan sigap menangkap penyanyinya, pemain orkes, dan membubarkan penonton.

Sebuah lagu kebangsaan, pada dasarnya adalah rangkaian nada do re mi yang dikomposisi sedemikian rupa. Isi syairnya pun sudah tertata. Hingga seseorang atau sekelompok orang tidak boleh begitu saja membawakan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam versi dangdut, rock atau jazz dan sebagainya. Juga tidak boleh memutar balikkan isi syairnya.

Sekarang, kalau ada seseorang yang ‘memodifikasi’ Kitab Suci Al-Qur’an, memutar balikkan ayat-ayatnya, kemudian mengumpulkan hasil kerja ‘kreatifnya’ itu dalam bentuk sebuah kitab suci baru, apakah hal ini bisa dibenarkan?

Itulah yang dilakukan Mirza Ghulam Ahmad (MGA) terhadap Al-Qur’an. LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam), Jakarta, pernah menerbitkan buku berjudul Ahmadiyah dan Pembajakan Al-Qur’an (Mei 1992, cetakan pertama). Di dalam buku itu disajikan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibajak MGA sang nabi palsu laknatullah.

Misalnya, surat Ash-Shaff (61) ayat 9: Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama.”

Surat tersebut dimodifikasi, dijiplak, dibajak oleh MGA sehingga menjadi: Dialah yang mengutus Rasul-Nya (Mirza Ghulam Ahmad) dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas segala agama-agama semuanya. (Haqiqatul Wahyi hal. 71)

Pengertian arsala rosuulahu dalam Ash-Shaff (61) ayat 9 seharusnya berarti mengutus Rasul-Nya (Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wasallam), oleh MGA diartikan sebagai dirinya sendiri (Mirza Ghulam Ahmad) yang diutus oleh Allah sebagai rasul.

Dari satu contoh ayat yang dijiplak oleh MGA ini saja, kita sudah bisa memastikan betapa sesatnya MGA ini. Dengan terang-terangan dia menjadikan dirinya sebagai nabi. Lha, kalau sosok penjiplak Al-Qur’an yang mengaku-aku sebagai nabi ini diposisikan sebagai mujaddid (pembaharu) oleh Ahmadyah Lahore, jelas Ahmadiyah Lahore juga sesat.

Apa-apa yang dilakukan MGA terhadap kitab suci Al-Qur’an jelas sebuah perbuatan yang melanggar hukum. Dia menipu sejumlah orang yang lemah akal dan lemah iman untuk disesatkan; juga untuk mengakui dirinya sebagai nabi yang menerima wahyu sebagaimana terangkum di dalam Tadzkirah, padahal Tadzkirah merupakan hasil jiplakan Al-Qur’an yang sudah diputar balikkan, dan aneka karangan MGA tetapi atas nama wahyu suci dari Allah subhanahu wa ta’ala. Pantaskah terhadap pengikutnya dibela dan dikatakan punya hak mempertahankan keyakinannya?

Seharusnya, para pejuang HAM (hak Asasi manusia) tidak bodoh memposisikan diri. Karena, mengentas para pengikut MGA dari kesesatan, itu jauh lebih berarti, ketimbang membela mereka dengan alasan HAM. Sebab, hak yang paling asasi bagi seorang muslim adalah mendapat ajaran agama (Islam) yang sesuai dengan wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan mengikuti wahyu-wahyuan hasil kerja ‘kreatif’ MGA.

Kalau toh MGA dan pengikutnya menggunakan nama berbeda dengan Islam, persoalannya belum selesai. Karena kasus bajak-membajak Al-Qur’an yang kemudian dikumpulkan ke dalam sebuah kitab suci baru bernama Tadzkirah, tetap menjadi persoalan tersendiri. Kalau mau, mereka bikin nama sendiri dan susun kitab suci sendiri yang tidak ada kaitannya dengan kitab suci umat Islam, dan jangan kait-kaitkan Nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam dengan Nabi Mirza Ghulam Ahmad. Tetapi ungkapan inipun bukan berarti kami menyuruh, hanya sekadar perbandingan dalam analisa.

Bila ketiga hal itu sudah dilakukan, maka persoalan dengan umat Islam sudah selesai. Selanjutnya menjadi urusan pemerintah, apakah mau diakui sebagai agama dan keyakinan yang hidup di lingkungan NKRI atau tidak, itu wewenang pemerintah.

Selama Ahmadiyah masih mengaitkan dengan Islam, dengan Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wasallam, dengan Al-Qur’an (membajak, menjiplak, mengacak-acak Al-Qur’an), maka selama itu pulalah mereka masih berurusan dengan umat Islam.

Pengadu domba

Pernyataan sikap yang disampaikan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), berupa penolakan terhadap rekomendasi Bakor Pakem soal Ahmadiyah pada 16 April 2008 lalu, bukan sekedar mencari-cari popularitas semata, tetapi ada unsur memprovokasi dan mengadu domba antara umat Islam dengan penganut Ahmadiyah. Begitu juga dengan sikap dan pernyataan yang ditunjukkan sejumlah oknum ‘pendekar’ hukum dan HAM termasuk orang yang disebut-sebut di media sebagai si rambut putih yakni Buyung Nasution.

Kalau mereka bermaksud baik, tentu sebelum memutuskan untuk memposisikan diri membela Ahmadiyah, pelajari dulu dengan seksama sejarah dan ajaran Ahmadiyah, barulah menentukan pilihan dalam bersikap. Bila setelah tahu secara mendalam tentang Ahmadiyah, kemudian tetap memberikan pembelaan, ya sudah kita semua bisa dengan cepat mengerti bahwa mereka memang pendukung aliran dan paham sesat, sehingga umat Islam akan memasukkannya sebagai kelompok yang memerangi Islam. Cepat atau lambat akan disikapi dengan balasan yang setimpal.

Kalau belum paham tapi sudah memberikan pembelaan, itu namanya bahlul. Bukan hanya bahlul, tapi juga diskriminatif. Ahli hukum yang membela kesesatan, bahkan pembelaannya itu berlandaskan kebahlulannya, maka sangat keterlaluan. Memborong kengawuran dan kesalahan.

Dalam hadits ditegaskan:

عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : {الْقُضَاةُ ثَلاَثَةٌ : اثْنَانِ فِي النَّارِ، وَوَاحِدٌ فِي الْجَنَّةِ، رَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ، وَرَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ فَلَمْ يَقْضِ بِهِ وَجَارَ فِي الْحُكْمِ فَهُوَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ لَمْ يَعْرِفْ الْحَقَّ فَقَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِ} رَوَاهُ الأَرْبَعَةُ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ .

ُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hakim itu ada tiga: dua di neraka, dan satu di surga. Lelaki yang mengenal kebenaran lalu menghakimi dengannya maka dia di surga, dan lelaki yang mengenal kebenaran lalu tidak menghakimi dengannya dan menyeleweng dalam menghukumi maka dia di neraka. Dan lelaki yang tidak tahu kebenaran lalu menghakimi manusia berlandaskan atas kebodohan maka dia di neraka.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Thabrani, Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Al-Hakim, dari Buraidah ra, dishahihkan oleh Al-Albani)

Lebih buruk dari itu bila mereka justru memancing di air keruh, mencari keuntungan sambil mengadu domba. Sedang aliran sesat sebagai tunggangannya. (haji/tede)