iyaa.com | Jakarta: Pergantian Tahun Baru Cina sudah di depan mata. Sebentar lagi warga Tionghoa akan merayakan Imlek. Lalu, muncul pertanyaan bolehkah seorang Muslim memberikan ucapan selamat Imlek?

Kontroversi mengucapkan selamat Imlek memang tak setajam dengan ucapan Selamat Natal. Pasalnya, beberapa pendapat menyebut perayaan Imlek hanya sekedar tradisi. Sehingga tidak ada hubungannya dengan ajaran suatu agama dalam hal ini Konghucu.

Konon, warga Tionghoa sudah merayakan Imlek sudah sejak ribuan tahun yang lalu secara turun temurun. Dimulai sejak Dinasti Huang Ti. Imlek pun sebagai perayaan para petani pada musim semi.

Namun sebelum membahas boleh tidaknya mengucapakan selamat Imlek, ada baiknya kita mengetahui sejarah perayaan Tahun Baru Cina di Indonesia. Pada periode tahun 1968 hingga 1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang untuk dirayakan di depan umum.

Presiden Soeharto saat itu menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967, yang melarang segala hal yang berbau Tionghoa, termasuk di antaranya tahun baru Imlek.

Namun sejak masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, pada tahun 2000 inpres tersebut dicabut. Alhasil, warga Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan dalam merayakan tahun baru Imlek.

Tak hanya itu, kebijakan tersebut dilengkapi oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada tahun 2002, dengan menjadikan hari Imlek sebagai salah satu Hari Libur Nasional.

Kembali ke ucapan boleh tidaknya seorang muslim mengucapakan selamat Imlek, sejauh ini belum ada larangan dari lembaga dan organisasi keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), maupun Muhammdiyah.

Hanya saja, seorang muslim sebaiknya tidak terpengaruh dengan perayaan hari besar keagamaan atau peringatan non muslim lainnya karena dikhawatirkan terjadi 4 hal berikut ini, seperti yang iyaacom kutip dari berbagai sumber, Senin (23/1):

1. Ada unsur memuliakan (ta’dzim) kepada non Muslim.

2. Ada unsur menyerupai mereka (tasybbuh bil kuffar).

3. Akan menimbulkan persepsi positif pada agama/kepercayaan itu terhadap khalayak umum (taghrir).

4. Dan, dikhawatirkan bisa kufur kalau disertai kerelaan (ridho) atas parayaan/kekufuran mereka.

Dalam Islam sendiri hanya mengenal dua peringatan hari raya besar. Yaitu hari raya Idul Fitri (1 Syawal) dan hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah). Jadi, boleh tidaknya mengucapkan selamat Imlek menjadi pilihan dan tanggungjawab individu masing-masing.

http://media.iyaa.com 23 January 2017, 13:27 | Editor : Risnawati Avin

***

Haram Ucapkan Selamat Berkaitan dengan Hari Raya Kekafiran

Posisinya setara dengan ucapan selamat kepada yang sujud kepada berhala.

Dalam hal mengucapkan selamat berkaitan dengan hari-hari besar orang kafir saja dinilai setara dengan mengucapi selamat kepada orang yang sujud kepada berhala. Apalagi menjadi penyelenggara acara perayaan orang kafir. Ibn al-Qayyim sampai menyatakan bahwa mengucapkan selamat kepada orang-orang Kafir berkenaan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan mereka haram dan posisinya demikian (setara dengan ucapannya terhadap perbuatan sujud terhadap Salib bahkan lebih besar dari itu dosanya di sisi Allah. Dan itu lebih amat dimurkai dibanding memberikan selamat atas minum-minum khamar, membunuh jiwa, melakukan perzinaan dan sebagainya), karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan dan meridhai hal itu dilakukan mereka sekalipun dirinya sendiri tidak rela terhadap kekufuran itu, akan tetapi adalah HARAM bagi seorang Muslim meridhai syi’ar-syi’ar kekufuran atau mengucapkan selamat kepada orang lain berkenaan dengannya, karena Allah Ta’ala tidak meridhai hal itu,sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.”[Az-Zumar:7].( Fatwa Syeikh ‘Utsaimin Tentang Hukum Ucapan Happy Christmas [Selamat Natal] By nahimunkar.com on 21 December 2009, https://www.nahimunkar.com/fatwa-syeikh-utsaimin-tentang-hukum-ucapan-happy-christmas-selamat-natal-2/ ).

Bagaimana pula bila mereka itu tercatat sebagai orang-orang yang tergabung dalam penyembahan berhala seperti dalam hadits ini?

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تُعبَد الأَوْثَان

َ“…Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhala pun disembah…” (Shahih Ibni Hibban Juz XVI hal. 209 no. 7237 dan hal. 220 no. 7238 Juz XXX no. 7361 hal 6, Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanad-sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim)

Ancaman bagi orang yang musyrik dan sampai mati belum bertaubat.

Badrul Tamam seorang penulis di laman voaislam.com mengemukakan ayat-ayat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

 ”Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-Zumar: 65)

Khitab ayat ini ditujukan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, hamba pilihan Allah yang paling dicintai oleh-Nya. Jika beliau sampai berbuat syirik, maka tidak ada ampun bagi beliau. Semua amal-amal shalih yang sudah dikerjakannya akan terhapus dan harus merasakan azab dahsyat di akhirat. Lalu bagaimana kalau yang berbuat syirik adalah orang yang derajatnya di bawah beliau?

Tentang haramnya seorang musyrik masuk surga dijelaskan oleh firman Allah,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.(QS. Al-Maidah: 72)

Imam Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan ayat, “(maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka), maksudnya: sungguh Allah mengharuskan neraka baginya dan mengharamkan surga atasnya.”

Tentang dalil tidak adanya ampunan untuk orang musyrik di akhirat ditunjukkan firman Allah Ta’ala,

 إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.  Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS. Al-Nisa’: 48)

Perlu dipahami, ayat-ayat di atas yang menerangkan ancaman perbuatan syirik berlaku di akhriat. Yakni orang yang bertemu Allah Ta’ala dengan membawa dosa syirik dan belum bertaubat darinya, maka ia tidak akan disucikan, tidak diampuni dosa dan kesalahannya, dan diharamkan atasnya masuk surga sehingga ia kekal di neraka.

Umat Islam perlu waspada, semakin banyak propaganda yang menyeret ke neraka jahannam. Dan itu sudah diingatkan dalam hadits, disebut dengan

 دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا

para da’i (penyeru) kepada pintu-pintu neraka jahannam. Maka barangsiapa yang memenuhi panggilan mereka, niscaya mereka akan mencampakkannya ke dalam neraka jahannam itu.” (Hadits Shohiih Riwayat Imam Al Bukhoori no: 3606).

(nahimunkar.com)