Bom JIL Menurut Tulisan di Voa-islam.com dan Eramuslim.com

Di tengah-tengah meledaknya kasus Koran The Sydney Morning Herald Tribune dan The Age, yang mencerca Presiden SBY, tiba-tiba meledak “paket bom”  di Utan kayu, di kantor Radio 68 H, yang merupakan tempat “Mas Gun” (Gunawan Muhamad) dan dedengkot JIL (Jaringan Islam Leberal), Ulil Abshor yang sekarang menjadi nakhoda (ketua) di Partai Demokrat.

Dua situs Islam terkemuka di Jakarta menulis masalah itu. Inilah tulisan mereka:

bom-jil-menurut-tulisan

Ada Apa dengan Bom JIL, Kasus SBY- Wikileaks dan Impor Daging?

Oleh: Hanif Abdullah

Indonesia benar-benar negeri penuh dengan intrik dan konspirasi tingkat tinggi. Belum selesai heboh berita soal bocoran tentang SBY oleh Wikileaks, sudah menunggu kasus import daging sapi yang melibatkan anggota dari partai koalisi pemerintahan SBY, disusul dengan bom yang menghebohkan di markas JIL (Jaringan Islam Liberal) dan di kantor BNN (Badan Narkotika Nasional). Pertanyaannya apakah bom yang meledak itu hanya akal-akalan untuk menutupi kasus yang sempat heboh tersebut?.

Ibarat borok, tubuh pemerintahan SBY sudah dipenuhi dengan bermacam-macam borok dan penyakit kulit. Permasalahannya borok-borok tersebut tidak ditangani dan diobati agar sembuh dan tidak menjalar ke tubuh yang lain malah hanya ditutupi dengan isu-isu murahan seperti teroris, penangkapan ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang penuh rekayasa dan yang terakhir adalah bom yang meledak pada hari Selasa, 15 Maret 2011 di markas JIL dan BNN.

Mungkin terlalu kekanak-kanakan bila kita selalu menghubungkan setiap masalah dengan teori konspirasi yang efeknya membuat masyarakat malas berpikir dan menimbulkan sikap apatis yang akut. Tapi bila melihat perjalanan kasus teroris, bom dan yang berhubungan dengan konflik horizontal di masyarakat selalu didahului dengan kasus yang cukup menampar pemerintah yang berkuasa sekarang. Tidak berlebihan bila banyak pakar yang berpendapat demikian, salah satu contoh adalah pendapat Munarman yang dilansir oleh situs Suara Islam Online (15/3/2011). Munarman berpendapat bahwa bom rekayasa itu dilakukan agar dana operasional JIL yang selama ini sudah tersendat kembali mengucur deras. “JIL itu sudah hampir bubar karena kehabisan dana. Begitu juga Kantor Berita 68H adalah perusahaan rugi milik si Goen (Gunawan Mohammad, red)” katanya melalui pesan singkat.

Yang lebih menggelikan adalah pernyataan Ulil di berbagai media bahwa bom yang meledak di markas JIL bermuatan politis dan dikarenakan posisi dia sebagai pengurus di salah satu parpol penguasa dan seorang aktivis kebebasan. Ini adalah sikap yang timbul dari kepengecutan seorang Ulil. Berlindung di balik partai agar terlihat terzalimi dan mendapat simpati dari masyarakat. Padahal polisi pun belum mengetahui motif pengiriman paket bom tersebut. Bila bom itu memang ditujukan kepada dirinya yang notabene adalah aktivis terdepan pluralisme,sekulerisme dan liberalisme seharusnya dia harus membuka mata bahwa bom yang meledak bisa jadi adalah motifnya juga kebebasan, kebebasan orang untuk menebar terror. Sama dengan sikap dia yang meneror Islam dengan pemikiran yang rancu dan sakit.

Menyelesaikan Masalah dengan Masalah

Ini adalah wajah Indonesia masa kini yang tidak mampu mengatasi setiap permasalahan dan problema yang menimpanya. Selalu ada rekayasa pengambinghitaman kepada salah satu kelompok masyarakat untuk mengalihkan isu yang menimpa pemerintah. Tapi sampai kapan hal seperti ini akan terus dipertahankan yang lama-lama akan menjadi gunung berapi, ujung-ujungnya akan membawa suram kembali Indonesia untuk ke depannya.

Masyarakat butuh solusi dan jawaban bukan pengalihan isu ke isu yang lainnya. Menebar ketakutan untuk menutupi kebobrokan rezim yang berkuasa dengan lagu andalan terorisme adalah bumerang yang suatu saat akan terbongkar, cepat atau lambat.

Yang lebih menggelikan lagi adalah bila ada sebuah tindakan terorisme, bom dan kekacauan di masyarakat dengan fasihnya para pejabat elite negeri ini langsung menunjuk hidung umat Islam sebagai pelakunya. Ini adalah intimidasi tersistematis oleh Negara untuk membungkam aspirasi umat, salah satunya adalah penegakan syariat Islam.

Mari kita bersatu dalam satu kalimat agar negeri ini menjadi negeri yang dicita-citakan bersama, adil, makmur dan sejahtera. Tidak cukupkah setiap permasalahan yang menimpa negeri ini sebagai pelajaran untuk kembali kepada Dien Allah yang MahaTinggi. Tak cukupkah sejarah yang panjang derita negeri ini karena penduduknya tidak menerapkan apa yang mereka yakini. Wallahu A’lam

Voaislam, Rabu, 16 Mar 2011

Berikut ini ulasan eramuslim.com:

Antara The Sydney Morning Herald, The Age dan Bom Utan Kayu

Jakarta menjadi kalang kabut. Marah dan kecewa. Sampai-sampai Ibu Ani menitikkan air mata. Semuanya itu gara-gara pemberitaan dua Koran Australia The Sydney Morning Herald dan The Age, yang membuat head line dengan tuduhan bahwa Presiden SBY, melakukan “abused of power”. Sebutan Presiden SBY melakukan “abused of power” itu membuat Jakarta mendidih.

Betapa tidak. Kunjungan Wakil Presiden Boediono ke Australia disuguhi dengan suguhan yang sangat menyakitkan tenggorokan. Di mana Presiden SBY dituduh dengan melakukan “abused of power”, yaitu melakukan internvensi terhadap jaksa dan hakim, isterinya memperkaya diri, dan mantan Wapres Yusuf Kalla, juga dituduh menggunakan uang jutaan dolar untuk mendapatkan dukungan dari partai Golkar, yang kemudian Golkar menjadi alat pemerintah selama periode 2004-2009.

Tetapi, sesungguhnya dari mana sumber berita yang digunakan oleh dua Koran Australia itu? Sumbernya dari Wikileaks, dan Wikileaks mendapatkan bocoran dari kawat diplomatik kedutaan Amerika di Jakarta. Inilah yang menjadi persoalan.

Mengapa isi kawat Wikileaks itu harus dibocorkan oleh The Syddney Morning Herald dan The Age, dan menjadi sebuah ‘head line’? Keruan saja berita itu menjadi masalah besar, dan selama ini tidak ada media di Jakarta, yang pernah menyentuh sampai ke pusat kekuasaan. Apalagi, Presiden dikonotasikan dengan korupsi dan penyalah gunaan kekuasaan.

Pemberitaan dua media Australia itu membuat krisis politik, khususnya hubungan antara Jakarta-Washington, bahkan Presiden Barack Obama yang dijadwalkan akan berbicara melalui telpon dengan Presiden SBY pun, akhirnya dibatalkan. Tak kalah penting lagi, seorang pejabat Deplu AS di Washington, berkaitan dengan peristiwa itu mengundurkan diri. Presiden Obama yang akan berbicara dengan Presiden SBY, berkaitan dengan konferensi East Asia Summits akhirnya dibatalkan. Inilah insiden diplomatik antara Jakarta-Washington, yang akan mempengaruhi hubungan dua negara.

Adakah pembocoran yang dilakukan Wikileaks terhadap isi kawat diplomatik itu, karena memang terjadi perubahan sikap Washinton terhadap Presiden SBY? Adakah pemerintahan SBY sudah dianggap tidak lagi dapat membawa misi kepentingan AS? Sehingga, harus dibocorkan kawat diplomatik yang sangat sensitip itu? Pembocoran isi kawat diplomatik oleh Wikileaks itu, sejatinya dapat memicu krisis politik, dan akan semakin memerosotkan kredibelitas pemerintahan dan pribadi SBY, yang belakangan ini terus merosot dukungannya.

Situasi politik di Jakarta belakangan ini memang semakin tidak nyaman. Hiruk pikuk dengan reshuffle yang merupakan ‘the battle field’ antara kekuatan politik yang ada dalam koalisi sangat berhawa panas. Meskipun, sampai sekarang Presiden tidak berani mengambil tindakan reshuffle untuk melakukan perubahan yang dituntut Partai Demokrat.

Indonesia memang tidak terlalu penting bagi AS, dilihat dari segi ukuran ekonominya, yang masih dibawah prediksi sebagai kekuatan ekonomi  ‘middle’, yang akan dapat menjadi mitra strategis ekonomi AS. Mungkin AS juga tidak melihat posisi penting Indonesia dalam mengatasi krisis regional yang ada sekarang ini, khususnya dengan kepemimpinan Presiden SBY. Washington secara dini seakan memberikan ‘warning’, kemungkinan pergantian kekuasaan yang akan dapat memberikan kenyamanan bagi Washinton, khususnya di Asean ini.

Di tengah-tengah meledaknya kasus Koran The Sydney Morning Herald Tribune dan The Age, yang mencerca Presiden SBY, tiba-tiba meledak “paket bom”  di Utan kayu, di kantor Radio 68 H, yang merupakan tempat “Mas Gun” (Gunawan Muhamad) dan dedengkot JIL (Jaringan Islam Leberal), Ulil Abshor yang sekarang menjadi nakhoda (ketua) di Partai Demokrat. Kemudian Kapolda DKI Jakarta, Irjen Pol  Sutarman, mengatakan perang melawan teroris belum berakhir.

Kemudian hingar bingar tentang berita yang memojokkan Presiden SBY dari The Sydney Morning Herald dan The Age terkubur, orang sibuk lagi memikirkan ancaman teroris. Wallahu’alam.

Eramuslim, editorial. Rabu, 16/03/2011 10:43 WIB

(nahimunkar.com)