Buah Kebijakan Tak Bijak,

Wanita Indonesia Sengsara di Negeri Orang (1)

MEREKA (Nirmala Bonat, Ceriyati, Manohara, Siti Hajar, Onis dan Nurul Widayanti) merupakan warga negara Indonesia yang mendapat perlakuan tidak manusiawi di negeri jiran Malaysia. Bedanya, Manohara dianiaya oleh Pangeran Kelantan, yang juga suaminya sendiri. Sedangkan Siti Hajar, Nurul Widayanti, Onis, Ceriyati, dan Nirmala Bonat, diperlakukan tidak manusiawi oleh majikannya.

Perbedaan lain, Manohara keturunan bangsawan Bugis (dari pihak ibunya), dan bapaknya Reiner Pinot Noack berkebangsaan Perancis. Sedangkan kelima tenaga kerja Indonesia yang mendapat perlakuan buruk dari majikannya, adalah rakyat kebanyakan yang mesti kurang pendidikan namun punya tekad kuat mendapatkan lapangan pekerjaan, punya tekad kuat untuk mensejahterakan anggota keluarganya; mereka tidak mau menyusahkan negara yang sesungguhnya punya kewajiban mensejahterakan rakyatnya dan menyediakan lapangan pekerjaan kepada warganya.

Masih ada perbedaan lainnya, yaitu berkenaan dengan pelaku kekerasan. Manohara mendapat perlakuan tidak manusiawi dari suaminya sendiri, orang terhormat, Pangeran Kelantan. Sedangkan Siti Hajar mendapat siksaan amat berat dari majikannya bernama Hau Yuang Tyng alias Michelle. Majikan Ceriyati adalah Siew Tan Kui alias Ivone Siew. Sedangkan Nirmala Bonat mendapat perlakukan tidak manusiawi dari majikannya yang bernama Yim Pek Ha. Semuanya warga negara Malaysia keturunan Cina. Begitu juga dengan Nurul Widiyanti yang dikabarkan tewas bunuh diri, ditemukan jasadnya tergantung di rumah Sia Fook Chai orangtua dari Tan Seng Woo yang secara resmi (berdasarkan kontrak) merupakan majikan Nurul.

Muslimah jadi sasaran

Kebijakan tentang mengirim tkw (tenaga kerja wanita) itu sendiri sejak semula sudah ditengarai sebagai rekayasa untuk menghadapi Islam. Saat jaya-jayanya rezim Soeharto masa yang sering disebut tirani minoritas Nasrani (25 tahun dari 32 tahun: 1966-1998) kebijakan untuk mengirimkan tkw itu dimulai. Yang dijadikan menteri tenaga kerja adalah Laksamana Soedomo beragama Nasrani. Begitu diangkat jadi menteri tenaga kerja 1983, langsung tahun 1984 sudah ada aneka gegeran tentang berbagai kasus TKW di Saudi Arabia.

Berita-berita dan opini berikut ini memberi gambaran masalah itu.

(Bahasa Sunda) Sakainget kuring, budaya ngirim babu eh tkw ka Arab teh ti mimiti anu jadi menteri tenaga kerja urang anu namina Sudomo, marinir tea bawahan bang Ali alm, patengahan dasawarsa 80-an (inyana diangkat menteri tenaga kerja tgl 19 Maret 1983). Malah harita, waktu menaker Sudomo ngaluarkeun kawijakan tkw ka arab kungsi oge mucunghul polemik alias pro jeung kontra. Sababaraha golongan Islam nuduh Sudomo ngahaja nyieun kawijakan sarupa kitu pikeun ngarendahkeun umat Islam (khususna para muslimah). Kabeneran deuih harita Sudomo teh agamana nasrasni (atawa: lain Islam). (2009/5/26 oman abdurahman <[email protected]… </group/kisunda/post?postID=xo6luCH-Cc2nm9wDje63RUEbO–JGVbNYYLVHSi0VrVY2ohBiIAG2OAOVwma8ern_Wuni-bIH3XFGL2e)

(Seingat saya, budaya mengirim babu eh TKW ke Arab tuh pada awalnya yang jadi menteri tenaga kerja kita yang namanya Sudomo, mariner bawahan bang Ali alm, pertengahan dasawarsa 80-an (dianya diangkat menteri tenaga kerja tanggal 19 Maret 1983). Malah saat itu, waktu menaker Sudomo mengeluarkan kebijakan tkw ke Arab langsung juga muncul polemik alias pro dan kontra. Seberapa golongan Islam menuduh Sudomo sengaja membikin kebijakan seperti itu untuk merendahkan umat Islam (khususnya para muslimah). Kebetulan dia saat itu Sudomo tuh agamanya Nasrani (atau: bukan Islam). )

Tahun 1984 tkw sudah jadi masalah.

Tidak hanya itu cerita pilu para “budak-belian” kita. Tahun 1984, kasus ini
mulai merebak di Saudi Arabia. Tepatnya di Jeddah. Pada waktu itu Duta Besar kita di sana adalah Ahmad Tirtosudiro, seorang Jenderal (Purnawirawan) yang, katanya, “banyak tahu” soal Islam dan Arab, dan lalu bergabung dengan ICMI yang, katanya juga, mau membangun “sumberdaya manusia muslim” itu. Ketika itu, banyak budak-budak TKW kita yang berkumpul di Kedutaan Besar kita di Jeddah sana. Mereka lari dari tempat majikannya untuk melaporkan ke Kedutaan tentang perlakuan “jahat” para majikan mereka.

(From: [email protected]
Subject: [INDONESIA-L] PUDI – TKW dan TKI …
Sender: [email protected] To: [email protected]
Subject: Daulat Rakyat : TKW Dan TKI : Perdagangan Resmi Budak-Belian
Terbesar Dalam Sejarah Dunia Maju Date: Tue, 28 Oct 1997 ).

Ketika umat Islam prihatin dengan kebijakan Soedomo itu, kemudian di antaranya ada yang mengkritiknya lewat pidato, maka diajukan ke pengadilan. Beritanya sebagai berikut:

20 Juli 1985, dimulailah persidangan kasus dua orang muballigh di pengadilan Jakarta Utara. Masing-masing tertuduh disidang diruangan tersendiri, tetapi saksi- saksinya sama. Kedua terdakwa ini adalah Salim Qadar dan Hendrayana. Salim menjadi saksi utk terdakwa Hendra, dan sebaliknya Hendra dijadikan saksi bagi terdakwa Salim.

Nama : Hendrayana

Umur : 36 tahun

Asal : Majalaya

Jabatan : Sekretaris umum KMI cabang Jakarta Utara, dan asisten

dosen PTDI, mata kuliah dakwah Islam.

Keterangan : Dia termasuk penandatangan petisi umat Islam Jakarta. Dia ikut memberikan ceramah dlm pengajian di Tanjung Priok, 12 Sept. 1984.

Dia juga dituduh melakukan tindak pidana karena mengkritik

Laksamana Soedomo yg menjadi menteri tenaga kerja. Soedomo telah mengirim TKW ke Arab Saudi sbg tenaga kerja murah. (/From/: SiaR News Service <[email protected] <mailto:[email protected]>>

* /Date/: Mon, 21 Sep 1998 16:47:07 -0700)

Ghazwul fikri, invasi pemikiran

Tekanan dan kebijakan yang menekan Islam itu sering disebut ghazwul fikri, invasi atau serangan pemikiran. Bukan hanya ummat Islam dibantai di Tanjung Priok 1984, namun aneka tekanan dan intimidasi mewarnai bahkan diderita oleh ummat Islam Indonesia. Secara norma, Islam telah dicabik-cabik. Karena Islam menegaskan:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33)

33. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu[1215] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS Al-Ahzab/ 33: 33).

[1215] Maksudnya: isteri-isteri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara’. Perintah ini juga meliputi segenap mukminat. (Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI).

Sayid Thanthawi menjelaskan:

والمعنى : الْزَمْنَ يا نساء النبى صلى الله عليه وسلم بيوتكن ، ولا تخرجن منها إلا لحاجة مشروعة ، ومثلهن فى ذلك جميع النساء المسلمات ، لأن الخطاب لهن فى مثل هذه الأمور ، هو خطاب لغيرهن من النساء المؤمنات من باب أولى ، وإنما خاطب – سبحانه – أمهات المؤمنين على سبيل التشريف ، واقتداء غيرهن بهن .

Artinya: Tetaplah wahai isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah-rumah kalian, dan jangan keluar darinya kecuali karena hajat syar’i. Dan (perintah) seperti mereka dalam hal (tetap di rumah tidak keluar) itu (untuk) seluruh wanita muslimah, karena khithob (pembicaraan) untuk mereka (isteri-isteri Nabi saw) dalam perkara-perkara seperti ini adalah khithob (pembicaraan) kepada selain mereka dari wanita-wanita mukminat justru lebih lagi. Allah Subhanahu wa Ta’ala (menujukan) khithob (percakapan) kepada ummahatul mu’minin (ibu-ibu mukminin/ isteri-isteri Nabi saw) hanyalah dalam rangka pemuliaan, dan agar yang lain mencontoh kepada mereka.

قال بعض العلماء : والحكمة فى هذا الأمر : أن ينصرفن إلى رعاية شئون بيوتهن ، وتوفير وسائل الحياة المنزلية التى هى من خصائصهن ، ولا يحسنها الرجال ، وإلى تربية الأولاد فى عهد الطفوة وهى من شأنهن . وقد جرت السنة الإِلهية بأن أمر الزوجين قسمة بينهما ، فللرجل أعمال من خصائصهم لا يحسنها النساء ، وللنساء أعمال خصائصهن لا يحسنها الرجال ، فإذا تعدى أحد الفريقين عمله ، اختل النظام فى البيت والمعيشة .) الوسيط لسيد طنطاوي – (ج 1 / ص 3418)(

Sebagian ulama berkata: Hikmah dari perkara ini, hendaknya wanita Muslimah mengkonsentrasikan kepada penjagaan urusan rumah-rumah mereka, dan memperbanyak sarana kehidupan rumah yang hal itu adalah termasuk spesifik (kekhusususan) wanita dan tidak dikuasai dengan baik oleh lelaki. Dan agar mengkonsentrasikan kepada pendidikan anak-anak pada masa kanak-kanak dan itu termasuk urusan wanita. Sungguh telah berjalan sunnah Ilahiyah bahwa urusan suami isteri adalah bagian di antara keduanya, maka bagi lelaki pekerjaan-pekerjaan khusus lelaki yang tidak dikuasai dengan baik oleh wanita, dan bagi isteri pekerjaan-pekerjaan khusus wanita yang tidak dikuasai dengan baik oleh lelaki. Maka apabila salah satu dari dua belah pihak itu melanggar pekerjaannya maka rusaklah aturan dalam rumah dan kehidupan. (Sayid Thanthawi, Al-Wasith, juz 1 halaman 3418).

Ketika Allah Ta’ala menggariskan dalam Al-Qur’an agar isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dan juga seluruh muslimat) tetap di rumah, tidak keluar kecuali ada hajat syar’i, sementara itu penguasa di negeri yang saat itu sedang menjalankan rezim tirani minoritas Nasrani, maka dialihkanlah aturan Al-Qur’an itu ke arah lain. Wanita-wanita dipacu untuk keluar rumah: bahkan dikirim ke luar negeri jadi babu di mana-mana. Yang lain dipacu agar pamer aurat dengan diadakan aneka kontes ratu-ratuan, agar jadi penyanyi, penjoget (ledek, yang semula hamper identik dengan pelacur tetapi lama-lama disanjung). Wanita dikerahkan untuk merebut pekerjaan-pekerjaan. Hingga kini tahun 2009 sampai-sampai penjaga pompa bensin yang tadinya kaum lelaki pun diganti dengan wanita. Maka lebih menambah jumlah penganggur lelaki.

Akibatnya, di saat Indonesia bangkrut (?) atau krisis tahun 1998-an, beredar berita bahwa banyak pabrik-pabrik garment dan lainnya mengalami bangkrut. Banyak tenaga kerja yang kena phk (pemutusan hubungan kerja), sebagian banyak buruhnya adalah wanita, dan dikhabarkan banyak yang jadi pelacur.

Di saat lapangan kerja untuk lelaki sudah banyak direbut wanita, akibatnya kacau, banyak lelaki yang jadi copet, jambret, maling, pemalsu-pemalsu ini dan itu. Jumlah penipu pun meningkat. Kemudian wanita-wanita tkw yang pulang dari berbagai negeri pun jadi sasaran para penipu. Hingga hancurlah luar dalam. Wanita tkw itu banyak yang dizinai orang, pulang kadang hamil, membawa anak dan sebagainya. Sedang uang yang dibawa pulang pun sering dirampok orang.

Dipacunya wanita untuk bekerja keluar rumah, bahkan dikirim sebagai babu di berbagai negara, serta diperbanyak wanita yang jadi pekerja maksiat dari nyanyi, model, bintang film, penjoget dan semacamnya; bukannya menjadikan masyarakat makmur, tetapi amburadul. Ekonominya maupun apalagi moralnya. Di antara buahnya adalah banyaknya babu-babu yang disiksa di mana-mana. Sedang bangsa ini pun sama sekali tidak dihargai lagi.

Berikut ini di antara beritanya, khusus yang dari Malaysia saja.

Nirmala Bonat

Ketika kasus Nirmala Bonat mencuat di pertengahan tahun 2004, kita semua berharap kasus kekerasan itu akan menjadi hal yang terakhir kalinya. Ternyata tidak, tahun 2007 terjadi kasus Ceriyati, kemudian di tahun 2008 ada kasus Manohara yang baru mencuat ke permukaan sejak April 2009. Di tahun 2009, masih pula dilengkapi dengan kasus dugaan gantung diri yang dilakukan oleh Onis (26 Mei 2009) dan Nurul Widayanti (13 Juni 2009).

Nirmala Bonat adalah tenaga kerja Indonesia asal NTT, yang mendapat perlakuan tidak manusiawi dari majikannya Yim Pek Ha. Nirmala Bonat yang saat itu berusia 19 tahun, disiram air panas, disetrika tubuhnya, dan dipukul dengan cawan besi oleh majikannya. Yim Pek Ha diancam hukuman maksimal 80 tahun penjara. Namun, dengan alasan menderita penyakit tekanan darah tinggi, Yim Pek Ha hanya menjalani tahanan kota setelah dibebaskan dengan uang jaminan sebesar 85 ribu ringgit dari Penjara Wanita, Selangor, Malaysia sejak 19 Juli 2004. Akhirnya, Yim Pek Ha divonis menjalani hukuman 18 tahun penjara (sejak 2008).

Dari kasus Nirmala Bonat ini saja, kita sudah demikian merasakan bahwa betapa wibawa dan harga diri pemerintah Republik Indonesia sangat rendah. Mengingat, kasus Nirmala Bonat mencuat hanya dua pekan setelah Menteri Tenaga Kerja Indonesia –kala itu– Jacob Nuwa Wea menandatangani nota kesepahaman dengan rekannya dari Malaysia, Datuk Wira Fong Chan Oan, tentang penempatan tenaga kerja Indonesia di Malaysia.

Apalagi, Pesiden SBY pernah berkunjung ke Malaysia (10-12 Januari 2008), menemui Nirmala Bonat, dan meminta perhatian serius Malaysia untuk melindungi warga negara Indonesia yang bekerja di Malaysia. Ketika itu, SBY dan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi selain membicarakan tentang kasus tenaga kerja Indonesia antara lain juga membicarakan masalah perbatasan, kebudayaan, perdagangan, dan perekonomian secara umum. Hasilnya? Justru terjadi kasus Ambalat (Malaysia melakukan provokasi atas wilayah perairan Indonesia dengan mengirim kapal-kapal perangnya melewati perairan Indonesia di Blok Ambalat, Kalimantan Timur), kasus Manohara, kasus Siti Hajar, Onis dan Nurul Widayanti. Apakah ini merupakan sebuah indikasi bahwa pemerintahan Malaysia sudah semakin berani melecehkan pemerintah Indonesia? Ada yang bilang, sepertinya Malaysia tidak takut dengan Indonesia yang presidennya berbadan tinggi besar dan pensiunan jenderal bintang empat, serta pernah menjabat sebagai Menkopolkam.

Ceriyati binti Dapin

Tenaga kerja bernama Ceriyati asal Brebes (Jawa Tengah) ini, pada hari Sabtu tanggal 16 Juni 2007, nekat kabur melalui jendela dari tempat majikannya di lantai 15 Apartemen Tamarind, Sentul, Kuala Lumpur, Malaysia. Dari lantai lima belas itu, Ceriyati meluncur dengan menggunakan tali yang terbuat dari lilitan kain gorden, selimut, baju, dan lain-lain. Tapi baru mencapai lantai 12, Ceriyati ketakutan melihat bawah, dan panik. Dia tidak meneruskan aksinya hingga akhirnya dia ditolong oleh petugas pemadam kebakaran setempat. Keberadaannya di lantai 12 itu, menyedot perhatian penghuni apartemen lainnya, yang kemudian melapor polisi. Ceriyati lalu diselamatkan oleh petugas pemadam kebakaran dan polisi setempat.

Ceriyati nekat kabur dengan cara-cara yang belum tentu mampu dilakukan oleh kaum pria sekalipun, karena ia tak tahan disiksa majikannya, apalagi selama lima bulan bekerja ia tidak menerima gaji sepeser pun. Bahkan hak beribadah pun diabaikan sang majikan Ceriyati. “Saya memang tak tahan lagi siksaan itu, bukan saja dia (majikan) cekik dan tumbuk mata saya sehingga lebam malah gaji bulanan RM500 pun tidak pernah dibayar sejak mula kerja Februari lalu…

Ceriyati mendapat siksaan dari majikannya, seringkali hanya karena persoalan sepele. Misalnya, karena lupa mematikan lampu, atau majikan menemukan sehelai rambut di lantai. Hanya karena kesalahan kecil seperti itu, sang majikan tega memberi hukuman berat antara lain berupa tidak diberi makan nasi selama lima hari. “Bayangkan saja, saya hanya diberi makan nasi sekali sehari, tidur dari pukul 2 pagi dan bangun 5.30 pagi…” Selain itu, Ceriyati juga harus menyusun rapi semua dokumen yang dibawa majikannya pulang dari kantor.

Ceriyati yang ketika itu berusia 34 tahun, mempunyai seorang suami yang berprofesi sebagai petani dan ketika itu berusia 37 tahun. Dari hasil perkawinannya, mereka dikaruniai anak-anak yang kala itu berusia tujuh tahun (laki-laki) dan 15 tahun (perempuan).

Ceriyati tentu tidak menyangka, jika nasib buruk pembantu rumah tangga (PRT) yang sering ia baca dan lihat di televisi, justru menimpa dirinya. Ceriyati juga tentu tidak menyangka, bila ia akan menjadi bintang iklan sebuah perusahaan jamu. Namun ia tidak sendiri. Ceriyati menjadi bintang iklan bersama Nurhayati, tenaga kerja asal Brebes yang cacat (patah kaki) setelah disiksa majikannya di Arab Saudi. (haji/ tede). (Bersambung, insya Allah).