Oleh Abu ‘Uyun

Sebenarnya aku sedang menulis sesuatu yang penting. Namun di tengah-tengah menulis itu aku memilih untuk menulis masalah lain yang mungkin akan menjadi kenangan bagi anak-anak dan cucu-cucuku kelak. Sehingga aku tulislah judul ini, yaitu Buku dan Perkawinan Anakku.

Saya berharap anak-anakku yang lain tidak merasa iri bila kisah ini aku fokuskan pada satu anakku dari delapan anak kandungku. Karena peristiwanya lebih banyak menyangkut satu anakku. Ini bukan karena pilih kasih, namun hanya perjalanan hidup yang akan dikisahkan terfokus pada satu anakku, lantaran peristiwanya memang menyangkut dia, dan semoga jadi pelajaran bagi semuanya.

Anak perempuanku yang pertama ini lahir dalam keadaan normal, alhamdulillah. Baru saja lahir, kami langsung pindah dari rumah kontrakan ke rumah mertuaku, karena daripada ngontrak maka lebih baik ikut saja, katanya. Namun mertuaku yang satu lagi (wow… mertuanya bukan hanya satu? Ya. Karena qadarullah mereka pisah) tampaknya kurang setuju. Hanya saja aku harus membuat keputusan yang pasti, maka kemauan mertua yang mengajakku bergabung dengannya itupun tidak kutolak.

Hartaku saat itu hanyalah buku-buku yang aku boyong dari Jogjakarta ke Jakarta, ditambah dengan buku-buku yang saya beli atau diberi hadiah oleh lembaga yang rupanya punya kepedulian kepada penuntut ilmu. Anakku yang bayi masih merah itu begitu melek dari tidurnya dan mau menyusu, tentu matanya (ketika sudah mulai awas) melihat pemandangan di kamar dalam, maupun di ruang tamu tak lain adalah buku-buku. Kumpulan buku atau tumpukan buku.

Di saat umur 7 bulan, puteriku yang masih baru mulai merangkak ini sudah harus kutinggalkan. Dia bersama ibunya aku tinggalkan untuk menunaikan ibadah haji. Bayi umur 7 bulan ini sudah kenal benar dengan ayahnya yakni aku. Setiap aku bacakan ayat-ayat, biasanya kalau surat Al-Fatihah, begitu saya ucapkan iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’ien, langsung berubah rona mukanya seolah berkonsentrasi penuh. Yang tadinya gerak-gerak, langsung diam dan jadi serius. Jadi sejak semula, kalau dibacakan Al-Fatihah maka tampak sangat girang, riang gembira pada mulanya, namun begitu sampai iyyaaka na’budu, dia langsung berhenti bergerak dan jadi serius.

Selama 35 hari saya berada di Tanah Suci Makkah dan Madinah menunaikan ibadah haji. Saat itu tahun 1986 belum ada alat komunikasi berupa hp (telepon genggam) apalagi email, surat elektronik dan internet. Apakah memang sudah ada, aku belum tahu. Jadi cukup saya kirim surat lewat pos, dan tidak pernah menelepon, walaupun ada sarana telepon. Kenapa? Karena cukup mahal. Daripada untuk menelepon, lebih baik duit untuk beli buku, pikirku.

Benar. Seusai ibadah haji, dan kemudian menjelang pulang, maka aku ke toko-toko buku untuk memborong buku. Teman-temanku ada yang beli hambal, bahkan sejak rangkaian ibadah haji belum tuntas. Hingga dia direpotkan oleh hambal yang dia beli itu, ke mana-mana pindah harus membawa-bawanya. Teman yang lain bilang, haji hambali nih ye? Namun justru pemandangan itu menjadikan temanku yang lain yang sudah agak tua iri atau kepingin, hingga aku diajak jalan-jalan setelah selesai berhaji. Aku kira mau ke mana, ternyata ke toko-toko hambal. Aku tidak mengamati, apakah di Indonesia sudah banyak atau belum, hambal-hambal seperti yang ada di Arab Saudi, karena aku tidak tertarik, malah merasa heran. Kenapa jauh-jauh beribadah haji hanya kesengsem hamparan lantai? Sebagaimana aku heran pula, ketika naik ke atas Masjidil Haram, tahu-tahu aku lihat ada orang kelihatannya dari India, dia menggelar kain putih panjang (gulungan bermeter-meter). Saya bertanya kepada orang, kenapa orang itu menggelar kain putih panjang bermeter-meter? Dijawab, katanya itu kain diberi air zamzam, lalu dijemur biar dibawa pulang sudah kering, nantinya dijual di negerinya untuk kafan mayit. Astaghfirullahal ‘adhiem.

Aku jadi teringat, pamanku di desa di Jawa Tengah bercerita, Pak Kaji (Haji) Anu, dulu katanya berhaji membawa gunting kecil. Dia pura-pura menangis di dinding Ka’bah, tetapi tangannya menggunting kiswah (selimut Ka’bah), untuk dikantongi dibawa pulang.

Untuk apa? Tanyaku

Untuk aji-aji (jimat) perdukunan, jawab pamanku.

Astaghfirullahal ‘adhiem.  Pantas saja, kiswah di saat musim haji disingkap ke atas, sampai tidak dapat diraih. Padahal kiswah adalah selimut Ka’bah tetapi malah disingkap ke atas. Ooo, ternyata ada tangan-tangan nakal … masih pula berkaitan dengan keyakinan batil lagi.

Mengenai diriku, alhamdulillah, ibadah haji telah selesai, dan akupun pulang bersama rombongan kloter 23 saat itu, rata-rata berasal dari Kebumen Jawa Tengah. Yang dari Jakarta hanya aku dan beberapa temanku. Saat itu jama’ah haji dari Indonesia baru 40.000-an orang tahun 1986 itu. Seluruhnya, sedunia 800 ribu orang menurut data resmi, tetapi kalau orang bilang ya dua juta orang.

Kenapa dari Indonesia baru 40.000 orang? Apakah karena mereka saat itu (1986) belum kaya-kaya?

Wallahu a’lam. Kenyataannya, sebelum Presiden Soeharto dan isterinya, Tien, serta keluarga cendana (rumah presiden di Jl Cendana) Jakarta berhaji, biasanya jumlah jama’ah haji hanya sekitar 40.000 orang. Dan baru pernah melonjak menjadi 81.000 orang ketika diperkirakan akan haji akbar menurut kepercayaan orang, yakni musim haji yang wuqufnya tanggal 9 Dzulhijjah pada hari Jum’at. Tetapi setelah tahun 1990-an, yakni setelah Presiden Soeharto berhaji, langsung jumlah jama’ah haji Indonesia melonjak, dari 40.000-an orang tadi langsung menjadi 125.000 orang, bahkan naik-naik terus, bahkan kini quota 210.000 orang untuk Indonesia selalu habis, hingga mengantri. Apakah karena sekarang kaya-kaya, atau kesadarannya naik? Wallahu a’lam.

Kalau boleh diperkirakan, sebelum Presiden Soeharto berhaji, sebagian orang merasa takut untuk berhaji. Khawatir kalau dicap sebagai orang hijau, artinya dekat dengan Islam. Tetapi begitu masyarakat tahu bahwa Presiden Soeharto berhaji, maka ketakutan itu jadi hilang, sehingga banyak orang yang ‘berani’ berhaji. Tidak seperti sebelumnya.

Di lapangan udara Jeddah dalam proses penimbangan barang-barang bawaan untuk pulang, aku dan teman-teman melihat, Pak Irjen Departemen Agama yang pakai pakaian biasa, bukan berpakaian pejabat, didenda oleh petugas Garuda karena barang bawaannya over weight, kelebihan beratnya. Teman-teman pun deg-degan, jangan-jangan kena denda, karena bawaan mereka banyak-banyak. Tetapi teman-teman itu kemudian mencopot jaketnya, menunjukkan baju seragam kerjanya bahwa diri mereka dari TVRI yang ada logonya TVRI. Waktu itu TVRI baru jaya-jayanya, dan di dalam maupun di luar negeri di lingkungan pejabat Indonesia sangat dihormati. Akibatnya, timbangan-timbangan bawaan yang berat-berat pun lolos saja. Maka saya yang bukan dari TVRI pun karena termasuk rombongan mereka, jadinya tidak kena denda apa-apa. Padahal buku-buku yang saya bawa itu jauh lebih berat dibanding bawaan Pak Irjen Depag. Alhamdulillah, aku tidak kena denda.

Sesampai di rumah, puteriku yang aku tinggalkan 35 hari itu langsung saya kudang-kudang, saya bacakan Al-Fatihah, agar mendengar suaraku lagi seperti dulu yang dia hafal. Tetapi anehnya, puteriku itu diam saja, melihatku dengan mata penuh tanda keanehan, tidak menyambutku dengan ramah dan gembira ataupun gerak-gerak yang menunjukkan kegirangan. Rupanya puteriku ini pangling terhadap penampilan ayahnya ini. Baru setelah lafal iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’ien aku ucapkan, dia mulai reaksinya seperti dulu. Setelah itu kemudian menunjukkan betapa bahagianya, bertemu dengan ayahnya lagi. Sudah tidak pangling lagi.   

Pulang haji bawaannya buku

Biasanya orang pulang haji bawaannya korma, kacang, air zamzam, bahkan cerek, teko cangkir, jam tangan, dan sebagainya. Tetapi aku… justru sesampai di rumah, membongkar-bongkar koper-koper dan tas-tas… isinya kitab… kitab… kitab… alias buku….  

Wajah-wajah yang memenuhi rumah itu (12 orang dalam keluarga itu) tampaknya mereka heran. Tetapi tidak demikian, puteriku yang masih umur delapan bulan sekian hari itu. Dia sangat gembira melihat kitab-kitab yang aku keluarkan dari koper-koper dan tas-tas itu. Seakan-akan bayi ini justru yang paling faham terhadap keadaan. Yang lain merasa aneh, tetapi bayiku ini merasa bahagia.

Dalam pemandangan sehari-hari, bagi bayiku itu sangat lekat dengan kitab-kitab atau buku-buku. Maka begitu dia mulai merangkak ke mana-mana, langsung yang dia raih adalah kitab-kitab atau buku-buku itu. Berantakan lah kitab-kitab itu dibuatnya. Tersebar ke mana-mana. Dia obrak abrik semaunya. Dikemut-kemut dan sebagainya lembaran-lembarannya.

Oh anakku… kitab-kitab ini aku beli dari negeri yang jauh, dari Tanah Suci… kenapa sampai di sini kamu berantakin setiap hari nduuk…. nduk… (nduk, dari kata genduk, panggilan Jawa untuk anak perempuan. Kalau lelaki panggilannya le, dari  kata tole yang kalau di kalangan tertentu dipanggil gus. Jadi secara bahasa, orang sudah tua dipanggil gus itu tidak kena. Gus itu ya  dari kecil sampai kira-kira umur 13-an tahun lah. Makanya kalau ada orang sudah kakek-kakek tapi panggilannya gus dan kemudian tampak cara berfikirnya juga tidak dewasa, itu entah salah siapa).

Kalau aku pulang dari kerja kemudian kitab-kitab dan buku-buku itu berantakan, maka kadang yang jadi sasaran adalah ibunya si anak. Bagaimana ini, anakmu selalu mberantakin  buku-buku itu. Ibunya pun merasa kewalahan, tidak enak sana-sini. Kadang-kadang si ibunya bocah ini berkilah, ya nanti mungkin akan ada manfaatnya. Sekarang memang mberantakin, tetapi siapa tahu ini ada manfaatnya. Ya sabarlah…

Kebiasaan mengobrak-abrik buku-buku itu senantiasa berlangsung. Apalagi puteriku ini sering melihatku, kalau aku pergi dari mana-mana, kemudian membuka tas, dia hafal, aku akan mengeluarkan buku. Kemudian aku taruh di rak. Kemudian besoknya dia berantakin.

Dalam perkembangannya, di saat puteriku ini sekolah TK (Taman Kanak-kanak), aku sering mengantarnya, naik angkot. Kira-kira dua kilometer jaraknya dari rumah, karena saat itu belum ada TK Islam yang bagus di dekat rumah. Pagi-pagi aku sudah menuntunnnya, naik angkot, kemudian turun, jalan sedikit melalui empang tempat memelihara bibit-bibit ikan di Pejaten Jakarta Selatan, baru kemudian sampai di sekolahan. Aku tunggui anakku itu. Aku lelaki, sedangkan para pengantar anak-anak itu kebanyakan perempuan. Jadi aku harus mencari tempat lain, dan mengkhususkan untuk membaca buku yang aku bawa. Sehari-hari anakku itu melihat bahwa ayahnya yakni aku selalu klontang buku, artinya ke mana-mana membawa buku. Rupanya doaku ketika berhaji memang terkabul, alhamdulillah. Yaitu diberi kelonggaran waktu, hingga aku sempat membuka-buka buku. Di Jakarta biasanya orang pontang-panting dari pagi sampai malam. Tetapi aku alhamdulillah, masih sempat membuka-buka buku.

Tahun ganti tahun anak-anakku bertambah banyak. Puteriku pun sudah makin besar, dan sekolah dengan membimbing adik-adiknya. Dia menjadi seakan kebapakan menirukan orang yang mengantarnya waktu di TK dulu yakni aku. 

Waktu pun bergulir terus. Suatu ketika aku mengalami sakit hingga harus dirawat di lain tempat. Di tempat aku sakit tidak ada buku-buku di sana. Sepi. Aku minta dibawakan Al-Qur’an, kitab suci yang mulia. Orang-orang tidak faham bahwa aku perlu buku. Tetapi dengan dibawakan Al-Qur’an, ya sudah cukup bagiku.

Setibanya di rumah lagi setelah beberapa waktu aku dirawat, keadaan rumah sudah sangat berubah. Rak buku yang jadi tempat menyimpan buku-bukuku telah tiada. Bentuk rumah sudah berbeda. Aku lihat rak buku itu jadi etalase di warung orang yang baru buka, tidak jauh dari rumahku. Aku mau marah. Tidak ada yang tahu perasaanku, bahwa buku itu hartaku yang berharga, sedang rak tempat menyimpannya itupun berharga bagiku. Kenapa tahu-tahu dibuang ke tempat orang?

Pergolakan dalam jiwaku pun menggumpal-gumpal. Anehnya, kenapa tahu-tahu sebelum marah itu meluap-luap, malah ada dua Ustadz (Ustadz Syafei dan Ustadz Didi) datang dari Semarang, yang entah dari mana mereka dapat khabar, mereka sengaja mendatangiku. Datang dengan  memberi nasihat, agar aku jangan sampai marah. Mereka datang untuk membezukku tetapi nasihatnya seperti itu. Khusus, aku tidak boleh marah. Apakah aku memang pemarah?  Sehingga orang Semarang jauh-jauh ke Jakarta untuk menasihatiku agar aku jangan sampai marah?

Bagaimanapun, nasihat itu sangat berharga. Aku menghargai mereka dan menghargai nasihatnya pula.

Begitu aku beranjak sembuh, aku lagi butuh-butuhnya buku ini dan itu. Letak-letaknya aku sudah tidak tahu lagi. Aku mau marah… tetapi, tamu yang kemarin datang dari jauh, mereka hanya menasihati: jangan marah.

Bagaimana ini.

Kalau dulu yang mberantakin buku-buku itu adalah puteriku, kini aku tidak tahu lagi. Sebenarnya siapa yang mberantakin  buku-bukuku dan kondisinya lebih parah ini. Maka dengan kenyataan itu, akupun memberi aba-aba kepada orang serumah. Ketika aku mencari buku, maka saya sebut buku itu judulnya ini, karangan si Anu, sampulnya warna begini, besarnya segini. Maka orang serumah pun berlomba untuk mencari-cari buku yang saya perlukan itu.

Dalam jangka yang tidak lama, buku itu pun ketemu. Alhamdulillah.

Lain kali, aku perlu buku lagi, jumlahnya sekian, dalam masalah tertentu. Buku-buku itupun mereka cari dan dikumpulkan kemudian disajikan kepadaku. Ketika masih ada kekurangan, maka aku sebut judulnya dan sebagainya. Lalu mereka pun mencarinya, dan biasanya ketemu.

Siapa yang menemukan dan sampai dapat mengumpulkannya? Ternyata  tidak lain adalah puteriku yang sejak bayi telah mberantakin buku-buku itu.

“Itulah gunanya… sekarang baru terasa…” begitu seru ibunya dengan nada yakin bahwa ucapannya dulu itu terwujud, setiap kali puteriku menemukan buku-buku yang sedang kucari ketika perlu.

Akupun ingat masa lalu….

Dalam perjalanan hidup, pada tanggal 11-16 September 2005 lalu, aku diajak Pak Tohir Bawazir ke Mesir (Cairo dan Iskandariyah) untuk membahas  sekitar Buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia serta buku Ada Pemurtadan di IAIN dalam acara diskusi publik bertema Liberalisasi Pemikiran Islam di Indonesia: Mitos atau Realitas? Acara ini merupakan kerja sama antara Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, dengan empat organisasi mahasiswa Indonesia di Mesir: PCI NU (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama), PCI Muhammadiyah, Pwk Persis (Perwakilan Persatuan Islam), dan PCI Al-Washliyah. Aku ditemani oleh Pak Tohir Bawazier (Direktur Pustaka Al-Kautsar) dan Nur Ihsan (Redaktur Pustaka Al-Kautsar).

Dari Mesir, aku dan rombongan (minus Nur Ihsan) melanjutkan perjalanan ke Jeddah, yang ternyata diminta oleh anggota ICMI Jeddah untuk bedah buku Ada Pemurtadan di IAIN. Perjalanan itu dilanjutkan dengan melaksanakan ibadah umroh, dan kembali ke tanah air 24 September 2005.

Alhamdulillah, aku dibawa rombongan hingga sempat melihat perpustakaan sangat besar di Iskandariyah Mesir. Juga ketika di Cairo, Jeddah, Makkah, dan Madinah; aku bersama Pak Tohir sempat ke toko-toko buku dan mencari-cari kitab-kitab. Sampai-sampai, ketika mau pulang berdua dengan diantar oleh Pak Ahmad adik Pak Tohir yang tinggal di Riyadh namun menemui dan senantiasa mengantar kami di Jeddah, ternyata kitab-kitab yang aku bawa dalam koper-koper itu begitu beratnya. Maka semuanya diurus oleh Pak Ahmad, dan dikirim dari Jeddah ke Jakarta. Syukron jazila, terimakasih sekali, semoga Allah membalas kebaikannya.

Begitu paket kitab-kitab itu sampai di Jakarta, bahkan diantar oleh karyawan Pak Tohir ke rumah, –sekali lagi terimakasih— maka keadaannya seperti dulu lagi. Kalau dulu pulang haji bawaannya kitab-kitab, kini pulang umroh, paket yang didatangkan dari sana juga kitab-kitab.

Di rumah, mulailah kitab-kitab dalam koper-koper itu dibuka satu persatu. Puteriku membukanya satu persatu. Dia apakah mengenang masa bayinya atau tidak, mungkin tidak ingat, karena waktu itu dia masih bayi. Kalau dulu dia berbakti kepadaku dengan cara mberantakin kitab-kitab itu setiap hari, kini justru dialah yang menyusun kitab-kitab itu, merapikannya, setelah menulisinya dengan tanda-tanda yang telah saya beri aba-aba kepadanya.

Dia baca sebagian isinya, dia nikmati, dan kapan-kapan aku butuhkan maka dia ambilkan dari tempatnya.  

Aku memandang puteriku seakan di masa kecilnya. Siklusnya senantiasa seperti itu yang membuat perasaan ini unik sekali bagiku.

Dan ketika ada tamu malam tadi (kemudian siangnya aku menulis ini) tamu itu adalah calon mertua puteriku ini. Tamu itu mengatakan mau melamar puteriku untuk puteranya. Puteranya baru kenal puteriku ketika bertamu ke rumahku pekan lalu untuk nadhor (nontoni, melihat kalau cocok maka mau melamar). Rupanya dari nadhor itu kemudian bicara dengan orang tuanya, kemudian orang tuanya datang ke rumah. Mereka bertanya, mahar (maskawinnya) nanti apa?

Aku tentu saja tidak mau meminta apa-apa sebagai orang tua. Dan aku tanyalah puteriku, kamu maunya diberi maskawin apa?

Dengan tersipu-sipu, dia bilang, apa boleh punya permintaan?

Calon mertua menjawab, boleh. Mau minta apa?

Puteriku bertanya kepadaku, apa pantas punya permintaan, dan permintaannya itu aneh?

Jawabku, apa itu permintaannya?

Puteriku menjawab: Buku!

Ha? Buku?

Buku apa?

Buku (dia sebut satu buku, yang hanya dicetak di Timur Tengah, maka harus dibeli di sana).

Calon mertua bilang, ya nanti kita titip jamaah haji, atau berusaha bagaimana caranya. Sambil dia bertanya, berapa jilid itu buku.

Aku ke ruang kerja, aku buka file di computer untuk mengecek, berapa jilid itu buku. Kemudian aku khabarkan bahwa buku itu 15 jilid.

Calon mertua menyanggupi dan aku agar mencarikan barang itu adanya di mana.

Pagi-pagi aku hubungi teman yang punya toko buku dan menjual kitab-kitab terbitan Timur Tengah. Katanya, buku itu lagi habis, dan akan dipesankan, kira-kira sebulan mendatang insya Allah sudah sampai.

Berapa harganya?

Tidak sampai 5 gram emas. Padahal itu sudah 15 jilid, dan aku katakan kepada calon mertua, kitab 15 jilid (data di computer saya 15 jilid, tetapi dari toko buku ternyata 9 jilid sudah komplit) itu insya Allah akan bermanfaat sampai anak cucu. Ada ayat, ada haditsnya dan pengetahuan yang banyak.

Calon mertua yang tadinya tampak kaget, kemudian tampaknya justru bersyukur. Kami pun bernafas lega.

Oh puteriku, kamu ketika bayi kerjaannya mberantakin buku, begitu mau nikah, minta maskawinnya buku juga.

Itulah di antara manfaatnya, kata ibunya mengulangi lagi.

Puteriku itu tiba-tiba berkata kepadaku: “Di hari perkawinanku nanti, insya Allah aku diserahi maskawin berupa buku. Dan kemudian seminggu setelah itu insya Allah kami (maksudnya dia dan suaminya) akan ke pameran buku, Islamic Book Fair, di Istora Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, 28 Februari- 8 Maret 2009. Aku akan melihat buku-buku ayah di pameran itu seperti biasanya. Hanya saja yang mengantar bukan ayah, ya Yah…”

“Oh, ya Nduk…”  jawabku sambil tersenyum.

Aku baru sadar bahwa perbuatanku sebagai orang tua sehari-hari bahkan sekecil-kecilnya pun membekas pada anakku. Dan itu masih pula dicatat oleh malaikat untuk dipertanggung jawabkan di akherat kelak. Maka sebagai orang tua mesti hati-hati dalam segala tindakan, agar tidak mewariskan keburukan kepada anak cucu yang dampaknya akan menimpa di akherat kelak. Sebaliknya, kalau yang diwariskan itu kebaikan dan ditiru oleh anak cucu dan lainnya, maka insya Allah akan bermanfaat baik di dunia maupun di akherat.

Jakarta, Dzulqo’dah 1429H/ November 2008M.